Sriiingg - taang - srriiiingg
Suara pedang Liam beradu dengan Moonspears milikku begitu nyaring terdengar di telinga. Aku memutar tubuhku, menghunus tepat ke perut Liam, tapi kakakku yang tampan itu memundurkan tubuhnya dengan cepat untuk menghindari serangan dan membuat aku meleset. Senyum mengejek terpasang di wajah Liam.
Liam bertumpu pada kakinya membuat kuda-kuda, kemudian ia maju lagi dengan gerakan yang cepat, tangannya meraih bagian tengah tombakku, memutar tubuhku lalu kini aku berada di antara ia dan tombakku. Tak ku sadari, Liam telah menghunuskan pedang tepat ke perutku. Mengancam, jika aku bergerak sedikit saja perutku akan terurai isinya.
Prok prok prookk
Suara tepuk tangan itu begitu meriah, aku tidak sadar bahwa mereka sedang menikmati pertarungan kami. Liam melepaskanku dengan seringai jail di wajahnya. Ia kemudian mengacak rambutku.
"Kau meningkat pesat, piggy."
"Kurasa kau yang menjadi lemah." balasku tak mau kalah sembari menjulurkan lidahku padanya, lalu aku berlari pergi, “DAN AKU BUKAN BABI, SIALAN!!” teriakku dengan kesal.
Bruukkh
Sial, aku menabrak seseorang dengan sangat keras dan tubuhku terpelanting ke tanah. Aku merasa tubuhku sudah mulai tumbuh, tapi jika dibandingkan dengan pria dari semua pack yang ada aku hanyalah gadis kecil yang rapuh.
Lihat saja kakakku, tingginya 6'5 inchi, bentuk tubuhnya sangat atletis dan proporsional. Ia memiliki otot lengan dan perut yang kuat. Buka saja pakaiannya, maka akan terlihat bentuk perutnya yang seperti roti sobek. Apalagi kakakku adalah seorang Alpha dari pack kami, Lightshade Pack, menggantikan ayahku. Karena ketampanannya itu banyak wanita yang mengelilingi Liam, mencoba peruntungan siapa tau ia mereka adalah calon Luna-nya Liam. Tapi, anehnya Liam belum menemukan mate-nya sampai sekarang.
Dan sekarang aku menabrak... aku mengintip dari cela bulu mataku. Hanya saja aku tak bisa melihatnya dengan jelas.
"Apa kau tidak bisa menggunakan matamu!" Suaranya mirip seperti geraman. Aku tau siapa orang ini, aromanya ini sungguh membuatku mabuk kepayang. Aku ingin bangkit lalu memeluknya, menjilatnya dan entahlah apalagi yang bisa aku bayangkan. Namun, segera saja aku mengenyahkan pikiran jorokku.
Dia adalah Aeghar Black. Seorang Alpha dari Goldennight pack. Dia adalah mateku (kurasa), tapi hanya aku yang tahu, ayahku atau Liam tidak mengetahuinya, tepatnya tidak seorang pun tahu bahwa Jade Alexander menemukan mate-nya saat dia berusia 10 tahun. Sebisa mungkin, selama ini aku mencoba menghindarinya. Aku tidak ingin menjadi pasangannya! Meski aku tau, di dalam sana Nymeria sudah merongrongku, memengariku, menghasutku, untuk mendekati Aeghar. Aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak tahu bagaimana wujud serigalaku, tapi sejak aku mendengar suaranya enam tahun yang lalu, kuputuskan untuk memberinya nama, Nymeria.
"Kenapa kau diam saja?" Suara Aeghar begitu berat, terdengar sangat mengintimidasi.
"Hai, Alpha Aeghar!" Demi Dewi Bulan, suara lain telah menyelamatkanku. Aku menoleh dan melihat Lee Sun mendekat. Sahabatku, aku akan sangat berterimakasih padanya karena muncul di saat yang sangat tepat.
Lee Sun juga seorang Alpha, dari Sundawn Pack. Ia berasal dari Korea Selatan. Wajahnya, tampan seperti artis-artis korea pada umumnya. Tapi dia tidak melakukan operasi plastik atau semacamnya, dia terlahir dengan wajah yang tampan. Betapa itu menjadi anugerah baginya.
"Hai Jade, kulihat kau sangat baik bertarung dengan kakakmu." Lee Sun seumuran denganku, tapi ia sudah menjadi Alpha semenjak ia kecil. Ia adalah sahabatku juga selain Lionel. "Tapi kuharap kau bisa memukul kakakmu dengan Moonspears," lanjutnya dengan senyum sumringahnya yang menawan.
"Alexander, temui aku di ruanganku setelah matahari tenggelam!" Suara bariton milik Aeghar sungguh mengusikku. Aku hanya melihatnya sekilas sebelum dia beranjak pergi, lalu beralih pada Lee Sun.
"Dimana Hae Min? Apa dia kemari bersamamu?" Tanyaku, Hae Min adalah seorang Beta di Pack milik Lee Sun. Gadis yang yang tangguh dan cantik, sungguh. Kami bersahabat, aku, Lionel, Haemin, dan Lee Sun dan Xin Yue.
"Ohh, dia sedang menjaga pack kami, ada beberapa masalah internal, jadi kuminta dia menyelesaikannya."
"Dan kau kabur kemari?" godaku.
"Tentu saja, aku kan ingin menemuimu, Piggy." Dia membalasku dengan seringaian lebar diwajahnya. Lee Sun tahu, aku sangat tidak menyukai panggilan itu. Tapi semua karena Liam, dan aku tidak bisa membalasnya. Julukan apa memangnya yang harus ku berikan? Entahlah.
"Errgh, berhenti memanggilku begitu!" protesku dengan geram
Lee Sun tertawa dengan keras, hingga menarik perhatian semua orang, tak hanya itu aku juga merasa bahwa ada tatapan tajam dari seseorang tapi aku tidak peduli. Karena tawa Lee Sun tak berhenti aku berjinjit dan menutup mulut Lee Sun menggunakan telapak tanganku agar ia berhenti menertawakanku.
"Berhenti tertawa, Lee Sun!" Aku memperingatkannya dengan memelototinya. Ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, aku mengampuninya dan menarik kembali tanganku.
"Aku menyerah, Jade!" katanya dengan nafas yang terengah
"Baiklah terserah padamu!"
"Sudahlah, bersihkan dirimu, ayo kita nonton film." Ajak Lee Sun bersemangat. Dia memang selalu bersemangat seperti ini, "Lionel yang memberitahuku, dia akan menyusul."
"Baiklah, aku akan mandi."
Kami berpisah jalan, Aku segera pergi menuju ke ruanganku dan Lee Sun entah kemana. Saat berjalan di lorong menuju kamarku, aku berpapasan dengan wanita yang jauh lebih tua daripada aku, dengan rambut pirang strawberry, ia tampak begitu cantik, sangat cantik. Wanita itu yang kulihat enam tahun yang lalu di hutan, wanita yang menunggangi pria Aeghar. Aku masih mengingatnya dengan detail, setiap gerakannya yang e****s, desahannya yang merdu, dan setiap kali aku mengingatnya dadaku terasa sesak.
Nymeria mengerang didalam sana. Jika saja dia mengambil alih diriku, ia mungkin sudah menyerang wanita itu. Beruntungnya aku karena belum bisa melakukan shift.
"Hai, Jade." Ia menyapaku dengan senyumannya yang lebih mirip seringaian itu. Meski dia terlihat menawan, tapi aku sangat kesal hanya dengan melihat senyumannya yang tampak seperti sudah dilatih itu.
"Oh, Hai Clare, apa kabar?" balasku dengan asal, sementara aku mendengar Nymeria menggeram di alam bawah sadarku.
Kadang aku merasa ini sangat janggal, aku belum bisa melakukan shift tapi jiwa serigalaku sudah muncul. Pernah sekali aku bertanya kepada ayah, mengapa Nymeria muncul sebelum aku bisa melakukan shift. Dia hanya menjawab memang ada beberapa kasus yang sangat istimewa seperti yang ku alami, tapi sangat jarang. Katanya terakhir kali ada orang yang sepertiku, terjadi ratusan tahun yang lalu di alami oleh Luna pertama dari Bloodmon Kingdom. Apakah aku istimewa? Kurasa tidak. Jelas tidak.
Tenanglah Nym! Aku memperingatkan Nymeria menggunakan mindlink yang telah aku asah beberapa tahun ini, dia hanya mendengus kesal. Aku tahu, dia sangat kesal, aku bisa merasakan tubuhku mendidih bukan karena keinginanku.
"Baik, tentu saja, aku melihat pertandinganmu dengan Liam." dia berbasa-basi, dan aku cukup jengah dengan semua basa-basi.
"Ohh, hanya latihan saja tidak ada yang istimewa." jawabku seadanya.
"Liam sangat hebat, tapi tetap saja Aeghar lebih baik." Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Clarrise. Apakah dia ingin memuji Liam sekaligus mengejeknya? Untuk apa dia melakukan itu? Tanganku mengepal, aku sungguh ingin menjambak rambut pirang strawberrynya, kenapa dia tidak bisa menjaga mulutnya. Dia fikir dia itu siapa? Luna?
"Oiya, Jade. Kudengar kau belum mendapatkan shift pertamamu??"
"Iya begitulah, kenapa?" Tanyaku balik, kali ini aku tak bisa menyembunyikan suaraku yang begitu kesal.
"Kau tau sendiri, shift pertama itu sangat menyakitkan, jika shewolf belum menemukan matenya disaat shift pertamanya, dan dia shift sendiri itu akan menyakitkan, apakah kau sudah menemukan mate-mu?" Ujar Clare dengan pongah, kurasa dia mentertawakanku di dalam hatinya.
Aku sungguh lupa pada kenyataan ini. Tapi, aku juga tidak lupa pada satu hal.
"Aku bisa melaluinya dengan bantuan Ayahku, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Lagipula kita tidak pernah tahu apakah dia benar-benar mate kita sebelum bisa melakukan shift, " Bodohnya aku lupa saat ini, Ayahku sedang pergi ke Blackdawn Pack, karena terjadi perselisihan untuk mendapatkan gelar Alpha, karena Alpha mereka tidak memiliki keturunan.
"Oh terserah saja, aku hanya mengingatkan." balas Clare kemudian ia berjalan melewatiku dengan menyenggol bahuku.
Sungguh mengherankan, kenapa orang-orang dari Goldennight tidak menyenangkan sama sekali. Aku bahkan tidak memiliki teman sama sekali dari pack itu. Ah, siapa yang peduli. Aku hanya ingin membersihkan diriku dan bersiap untuk menonton film dengan Lee sun dan Lionel.
Sampainya di ruanganku, aku segera meletakkan Moonspears di tempatnya. Kemudian membuka pakaianku satu persatu, lalu aku masuk kedalam kamar mandi. Mengguyur tubuhku dibawah pancuran adalah hal terbaik yang kurasakan saat ini. Semua lelahku rasanya menguap begitu saja. Akan tetapi, tiba-tiba saja terlintas dalam benakku ucapan Aeghar.
"Alexander, temui aku di ruanganku setelah matahari tenggelam."
Dia sangat mengusik benakku, Demi Dewi! Aku menggigit bibir bawahku, perutku melilit membayangkan aku harus pergi menemuinya tapi di sisi lain, aku benar-benar tidak ingin menemuinya. Lagipula ada urusan apa dia menemuiku? Dia disini hanya untuk berlatih, tidak perlu terusik denganku kan?
Aku memejamkan mataku sejenak. Kebanyakan dari kaum kami, memiliki sifat natural yaitu sensitif, mudah sekali tersinggung. Bagaimana jika Aeghar tersinggung, dan membuat hubungannya dengan Ayah memburuk?
Sial sial sial. Aku sudah mencoba menghindarinya semampuku tapi malah aku terjebak seperti ini. Sial!!!
•••••
Sudah aku putuskan, karena terlalu enggan untuk pergi menemui Aeghar. Jadi kuputuskan langsung pergi dengan Lee Sun dan juga Lionel. Sekedar menggunakan Jeans dan juga t-shirt, aku langsung keluar dari kamarku. Berjalan melewati lorong, hingga aku harus menuruni tangga.
Aroma ini...
Langkahku terhenti seketika, jantungku berdebar dengan kencang. Ini pasti hari sialku, mengapa disaat seperti ini kenapa aku harus menghadapi situasi yang selama hidupku ingin kuhindari.
"Ehm." suara deheman itu membuatku terperanjat. Jantungku semakin berdetak dengan kencang hingga dadaku terasa nyeri seolah-seolah ada sesuatu yang berharap untuk merobek dadaku. Sedangkan di sisi lain, Nymeria menggeram padaku memintaku untuk tetap tinggal.
"Kenapa kau begitu terkejut melihatku. Aku ini bukan hantu!" hardiknya. Tentu saja bukan karena dia lebih menakutkan dari hantu. Aku hanya tidak ingin berhadapan dengannya. "Mau kemana?" Lanjutnya ,kali ini suaranya melembut. Sungguh aneh, satu detik sebelumnya dia berkata dengan kasar, akan tetapi pada detik berikutnya dia berubah menjadi lebih lembut. Harusnya dia pergi ke dokter jiwa untuk memeriksakan kejiwaannya.
"Bukan urusanmu." balasku dengan ketus, aku tidak bisa membalas kelembutannya. Yasudahlah, dia pasti menerimanya.
"Bukankan aku menyuruhmu datang ke ruanganku?"
Tidak kusangka dia akan mengungkit hal. Aku menggigit bibir bawahku, aku ingin kabur tapi malah dia muncul tepat dihadapanku.
"Kenapa kau tidak menjawabku, Alexander?"
"Aku ingin pergi dengan teman-temanku." jawabku seadanya sambil mengangkat bahu dengan gugup, dan itu kenyataannya. "Jadi biarkan aku pergi,” pintaku.
Aku melihat sebuah kilatan muncul di matanya. Sangat tajam, dan menakutkan. Tanpa sadar aku mundur selangkah. Akan tetapi dengan cepat, tangan Aeghar menyambar lenganku. Ia menyeretku dan aku hanya diam dalam rasa takut.
Blammm
Fikiranku kembali ketika aku mendengar suara pintu yang dibanting dengan sangat keras. Tanganku terasa nyeri, tepat di tempat Aeghar tadi mencengkramnya. Terlihat punggung Aeghar membelakangiku, ia menyisir rambut dengan tangannya, tampak frustasi, bisa kurasakan dari caranya bernafas dengan berat. Ada apa dengannya? Kenapa ia terlihat frustasi?
"Kenapa kau menghindariku?"
Aku tercengang, maksudku pertanyaan macam apa itu yang dilontarkan olehnya? Ia pun tak melihatku saat bertanya. Aku tidak yakin, apakah dia benar-benar bertanya padaku atau entahlah!
"Jade!" Dia menggeram, astaga itu sangat mengerikan.
"Ah? Maaf, kenapa kau menanyakan hal itu?" balasku, anehnya saat aku bicara, aku tidak gagap selayaknya seseorang yang ketakutan.
Ia berbalik, kulihat rambutnya acak-acakan. Matanya menggelap, rahangnya mengatup rapat. Aeghar melangkah, mulai mendekat padaku. tubuhku sedikit gemetar mengantisipasi apa yang akan terjadi, aku ketakutan tentu saja. Secara fisik, dia jauh lebih tinggi dan besar seperti seorang raksasa yang aku lihat enam tahun yang lalu, menurut cerita ayah, Aeghar sekarang mungkin berusia 24 Tahun, sedangkan aku masih 16 tahun. Berarti saat aku menemukan kenyataan bahwa Aeghar adalah Mate-ku saat ia berusia 18tahun, kami terpaut 8 tahun, 8 tahun sialan! Di saat dia sudah bebas b******a dengan siapapun, dan aku masih seorang gadis ceroboh yang saat jalan saja masih tersangkut kayu!
"Kau adalah mateku!" dia mendeklarasikannya dengan tatapan penuh amarah. Aku menggeleng perlahan, tapi sebenarnya hatiku dan juga Nymeria berusaha meraih nalarku. Karena ternyata dia juga merasakannya. Tapi kenapa selama ini ia tidak berusaha bicara padaku? Oh aku salah, aku selalu bersembunyi darinya.
"YOU ARE MY f*****g MATE!!"
Kedua tangan besarnya merengkuh kedua lenganku. Ia mencengkramnya dengan sangat kuat hingga rasanya tulangku seperti remuk. Aku hanya bisa menatapnya dengan nanar, dia sama sekali bukan lelaki yang aku inginkan menjadi mate. Bagaimana aku bisa bersama dengan orang yang telah menyakitiku sejak pertemuan pertama kami?
"Lepaskan aku!" Aku meronta, aku tidak ingin jadi mate-nya, aku tidak ingin bersama dengan seorang lelaki yang kupergoki b******a dengan wanita lain, dan membuatku tersiksa. Dia tidak pernah tahu rasanya, jika mate-mu b******a dengan orang lain maka tubuhmu akan tersiksa, rasa sakit menyebar melalui setiap aliran nadi. Itulah yang aku rasakan malam itu, aku tak ingin merasakannya lagi.
"Jade!" Suaranya menampark telingaku. Aku mengumpulkan kekuatanku dan menatapnya dengan tajam
"Kau salah!" Aku mencoba untuk bertahan, meski Nymeria menggeram padaku. "i. Am. Not. Your. f*****g. Mate!" kataku dengan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutku. Aku melihat matanya dan sekilas terbesit tatapan sedih dari mata Aeghar. Ku fikir dia akan senang, dia tidak perlu terikat denganku dalam takdir ini. Dia bisa b******a dengan siapapun ya dia mau. Dan, ya disini aku lah yang me-reject mate -ku. Aku tidak peduli, apakah aku akan mati nantinya, atau menemukan second chance mate atau yang lainnya, yang aku fikirkan. Aku tidak ingin menjadi pasangan AEGHAR BLACK.
"Dengar." suara Aeghar serak, "Jade, kau belum mendapatkan shift pertamamu, aku hanya ingin membantumu." Apa urusannya dengan dia jika aku belum bisa melakukan shift pertamaku? Dia tidak perlu memperdulikanku.
"Baiklah." aku menghela nafasku berat, " Dengarkan aku Alpha Aeghar James Black, kau tahu aku belum mendapatkan shift pertamaku, dan bagaimana kau yakin jika aku adalah Mate-mu?" Aku ingin mengalahkan Aeghar dengan segala cara. Aku tidak akan jatuh untuknya.
"Aku tahu dan aku yakin karena Ghost sangat yakin jika kalian adalah mate kami." Aku melihat ekspresinya menjadi lebih lembut.
"Tidak!” jawabku dengan sangat tegas, “Tidak sampai aku benar-benar mendapatkan Shift pertamaku." Kemudian kutampik tangan Aeghar dan aku berbalik pergi. Anehnya, Pria itu tidak berusaha menghentikanku, dan siapa yang peduli?
Aku terus melangkah dengan kepala yang pusing, karena Nyimeria terus meraung-raung seperti serigala gila. Tapi aku berusaha menampiknya, aku ingin bersenang-senang dengan sahabatku dan tidak memikirkan tentang itu lagi.
Cukup Nymeria!
Aku memblokir mindlink kami, setidaknya aku bisa tenang untuk beberapa saat.
Lee Sun dan Lionel sudah menungguku di gerbang. Mereka menggunakan pakaian yang sangat casual. Saat aku mendekat aku bisa melihat senyum konyol di wajah Lee Sun dan Lionel, ahh andai saja Hae Min dan Xin Yue juga ada di sini kami akan lengkap.
"Bagaimana? Siap.??" Tanya Lionel.
"Tentu saja!!"
Kedua sahabatku itu dengan girangnya melakukan shift mereka dan tertawa mengejekku. Terlihat hewolf milik Lee Sun Berbulu Hitam dengan aksen abu-abu, dengan manik mata bermata cokelat. Sedangkan Lionel, bersurai cokelat terang dengan mata biru, sangat indah, menurutku. Aku jadi membayangkan, bagaimana wujud Nymeria yang sebenarnya.
Karena aku satu-satunya yang belum bisa bershift, maka aku harus naik kesalah satu punggung mereka untuk sampai di Pack House milik Pack kami, karena itu adalah Pack yang terdekat. Aku tidak bisa memilih, tapi karena hewolf milik Lionel lebih besar, jadi tanpa ragu aku menungganginya.
Melewati hutan, gerakan Lionel dan Lee Sun sangat cepat. Aku pernah menunggangi wolf Ayah, dia jauh lebih cepat dan lebih besar. Jadi tidak masalah dengan kecepatan seperti ini. Setelah sampai di Pack House, mereka segera memakai baju mereka kembali. Lalu kami ke pusat kota menggunakan SUV milik Ayah Lionel.
Di depan bioskop, kami saling pandang. Ya tentu saja kedua sahabatku itu belum memutuskan ingin menonton film apa. Mereka sangat payah dalam menentukan sesuatu, harus ada aku atau Hae Min yang menentukannya.
"Jadi?" Aku tanya pada mereka, berharap mereka jadi lebih dewasa.
"Bagaimana kalau The Nun saja, kurasa itu bagus.?" Lionel menawarkan. Aku menahan senyum, karena tidak ada dari kami yang tidak mengetahui kelemahan sang Alpha Lee Sun. Dia memang tampan, dan sangat gagah karena ototnya sudah terbentuk, dan aku yakin 2 sampai 3 tahun lagi penampilannya paling tidak sudah mirip dengan Liam. Tapi, asal tahu saja, Lee Sun sangat tidak menyukai film horor.
Terakhir kali menonton film horor berjudul Annabelle, ia menutupi wajahnya dengan bantal, dan berteriak seperti wanita. Aku tidak yakin jika dia benar-benar seorang Alpha.
"Oh, C'mon Lee, kau tidak akan mengatakan bahwa setelah kau menjadi seorang Alpha kau masih tetap saja takut dengan film horor kan?" Goda Lionel, untung saja Lee Sun bukanlah Alpha dari pack kami, atau dia bisa menggunakan Alpha Tone-nnya pada kami, dan memerintahkan kami untuk mengganti filmnya.
"Tentu saja aku tidak takut, itu hanya film." Balasnya dengan sok angkuh. Aku hanya tertawa dalam hati, wajahnya saja sudah pucat seperti mayat.
"Baiklah, aku sudah beli!" Ternyata Lionel begitu cepat, ia mengacungkan 3 tiket dihadapan kami. Dan dia benar-benar membeli tiket film The Nun.
"Sialan." desis Lee Sun dengan suara yang lirih, tapi anehnya aku bisa mendengarnya lebih jelas.
Benar saja kataku, sepanjang film Lee Sun berteriak-teriak. Kadang kala, ia bersembunyi dibalik punggungku. Dia sungguh sangat mengganggu sekali. Hingga filmnya usai, aku bisa melihat keringat membasahi tubuh sang Alpha.
"Kenapa wajah biarawati itu sangat mengerikan" Ujar Lee Sun dengan bibir yang gemetar.
"Itu masih wajah Iblis di Film, bagaimana jika kau menghadapi Orc??" Timpal Lionel, aku tahu dia sangat menikmati menggoda Lee Sun
"Makhluk itu sudah mati" balas Lee Sun kesal.
"Kau tidak mengompolkan?" Tanyaku lagi.
"Diamlah, Little Piggy!!" hardiknya kesal, dan kami hanya bisa tertawa.
Uhukk
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh, dadaku terasa panas seperti terbakar, menjalar keseluruh tubuhku, rasa sakitnya mengalir dari ujung kepala hingga ke kakiku. Tiap detik kurasakan tulang-tulangku seperti dicabut dengan paksa. Ini sangat menyakitkan.
"Jade?" suara Lee Sun terdengar seperti teriakan di telingaku, aku bisa melihat gerak bibirnya melambat. Keanehan apa lagi ini.
"Kenapa kau pucat sekali?" Lionel memegang keningku berusaha untuk mengecek suhu badanku.
"S.s saakiithh." rintihku yang hampir tak bisa menahan rasa sakitnya. Aku ingin ini segera berakhir.
"Sialan, dia akan mengalami shift pertamanya" Ujar Lionel, mata kedua pria itu saling berhadapan. Aku yakin keadaan ini adalah keadaan yang genting. Karena perubahan shift di sembarang tempat bisa membahayakan, apalagi di tempat umum.
"Saakit sekaalii." Rintihanku semakin keras, kurasakan rasa sakit itu semakin menjalar dan semakin dalam. Tubuhku lalu terjatuh, aku meringkuk dan memeluk tubuhku yang rasanya semakin menyakitkan, aku merasakan kulitku seperti terkoyak-koyak, tulang-tulangku seolah patah di semua tempat. “Arrrghhh!!”
"Kita harus segera membawanya kembali hanya ayahnya atau Liam yang bisa membantunya melewati ini." Lionel memberitahu Lee Sun.
Tidak banyak bicara lagi, Lee Sun menggendongku di balik punggungnya. Aku merasa seluruh tubuhku seperti mendidih, tulang-tulangku sangat sakit seperti sedang di patahkan. Entah berapa kali aku berteriak. Dan semakin lama aku tidak bisa mendengar dengan jelas, penglihatanku juga semakin buram, dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.
•••••
[Aeghar's POV]
Siapa yang akan menyangka bahwa aku di tolak. Aku di-reject oleh pasanganku? Seorang gadis yang berusia tak lebih dari 17 tahun, yang aku temukan ia adalah mate-ku saat usianya tak lebih dari 10 tahun, dan dia me-rejectku! SIALAN.
Aku tidak akan pernah lupa, saat pertama kali aku merasakannya. Aroma yang sangat unik, perpaduan antara Bunga mawar dan Vanilla, manis dan menggairahkan itu mengusik penciumanku. Tapi, aku masih ingin melanjutkan kegiatanku dengan Clarisse, dia sudah memohon padaku untuk memenuhi hasratnya, dan sebagai lelaki normal aku tidak akan menolaknya. Apalagi Clarisse memiliki tubuh yang sexy, dia juga cantik dengan rambut pirang strawberrynya, apalagi mata birunya itu bisa memikat siapapun yang melihatnya.
Ketika aku sedang menikmati surgaku, aroma yang mengusikku semakin tajam, disaat yang bersamaan pendengaranku menangkap langkah seseorang menginjak dedaunan keringmendekat. Siapa pula yang berani berjalan sendirian di hutan? Aku menoleh, dan saat itulah kulihat dia.
'Mate'
Begitulah Ghost, hewolfku berbisik padaku. Saat itu kulihat dia, tingginya bahkan tak lebih dari igaku, rambut cokelatnya berantakan, tapi mata hijau hazelnya memerangkapku, aroma dari tubuhnya begitu memabukkan, dimataku, dia adalah gadis tercantik yang pernah kutemui. Tapi sialnya, dia masih 10 tahun!
Aku melihatnya berkomat-kamit lalu pergi lari terbirit-b***t, seolah aku ini hantu. Tentu saja aku langsung mengejarnya, selain karena Ghost sangat bersemangat karena menemukan mate-nya, aku ingin tahu apa yang ada di fikiran gadis kecil itu, anehnya aku melihatnya ketakutan ketika aku berdiri di depannya. Dia pasti takut padaku saat itu. Hingga kuketahui, bahwa Gadis itu adalah Putri Alpha King kami, Jade Alexander.
Melihatnya ketakutan melihatku saat itu, aku meyakini bahwa aku harus memberinya waktu. Selama ini aku menahan diriku untuk tidak mendekatinya, aku hanya memerhatikan gadis itu secara diam-diam saat ia berlatih. Saat ini, enam tahun sudah berlalu dan aku tak ingin menunggu lagi. Aku harus mendapatkannya, karena demi apapun dia tumbuh dengan sangat cantik dan menawan, dan dia sangat kuat. Kemampuannya bertarung bisa mengimbangiku, caranya menggunakan tombak pun sangat sempurna.
Namun, siapa sangka gadis itu menghindariku. Dan saat aku ingin menjelaskan padanya tentang hubungan antara aku dan dia, dia malah mengelak dan menolakku. Aku seorang Alpha ditolak?!! Menggelikan sekali. Dia telah menghinaku, demi Dewi Bulan. Aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Aku akan membuatnya bertekuk lutut dihadapanku!
"Panggil Alpha Liam, keadaan darurat!"
Suara si sipit Lee Sun melalui mindlink antara Alpha cukup menggangguku, memangnya keadaan darurat seperti apa yang terjadi di sini? Kenapa tidak memanggil Ben dan memanggil Liam?
"Apa yang terjadi??" Liam membalasnya, kami semua menunggu penjelasan dari Lee Sun.
"Jade mengalami shift Pertamanya, kemarilah. Hanya kau yang bisa menolongnya, atau dia akan mati"
Dia fikir, dia siapa? Akulah orang yang bisa membantu Jade melewati shift pertamanya! Dan itu harus aku. Namun, gadis itu sudah menolakku, apakah aku masih bisa membantunya? Keraguan ini mengganggu pikiranku tapi aku tak bisa memikirkan hal yang lainnya. Aku akan mencoba untuk membantunya, jika ikatan kami belum terputus maka dia akan segera baik-baik setelah aku menolongnya.
"Sial, dimana kalian? Aku sedang berpatroli dan berada diperbatasan" balas Liam, ia terdengar begitu khawatir.
"Aku di lapangan berlatin, sialan aku takut setengah mati, apa aku bisa menggantikanmu untuknya?" Lee Sun memberikan usulan yang sangat tidak masuk akal. Hanya orang yang memiliki hubungan sedarah, mate atau orang yang memiliki kekuatan besar bisa membantu orang lain melewati masa pergantian pertamanya.
"TIDAK!" Teriakku melalui mindlink, aku hanya spontan. Selain dia adalah mate-ku, si sipit itu akan hanya menguras seluruh tenaganya, selain itu dia bisa membahayakan hidupnya sendiri dan Jade, karena membantu orang yang bukan mate-nya.
"Apa maksudmu?"
Aku memutuskan mindlink dan bergegas menuju Trainefield. Disana aku melihat orang-orang tengah berkumpul membentuk lingkaran, di tengah mereka pasti Jade. Aku menembus kerumunan itu dan melihat Jade-ku berada dipangkuan Si sipit dan Lionel memegang tangannya. Hatiku terasa sakit, melihat gadis itu sedang 'mendidih' dan 'membentuk' tulangnya. Itu adalah fase yang menyakitkan
"Aaarrgghhhh." Dia mengerang kesakitan. Tanpa fikir panjang aku mendorong Lionel kesamping.
"Serahkan padaku, aku akan menanganinya."
"Aeghar kau tidak bisa melakukannya, atau." suara Ben mengusikku, dia adalah pamanku yang baik hati. Ia pasti memikirkan resiko apa yang akan aku alami. Tapi aku matenya, selama aku Matenya, maka tidak akan ada yang terjadi.
"Jangan halangi aku, atau dia akan mati. Lagipula disini aku yang paling kuat," balasku.
Aku mengambil alih Jade dari si sipit itu. Gadis itu kesadarannya sudah hilang, tubuhnya sangat panas. Ia memelukku dengan sangat erat.
"Please, jangan pergi aku, ini sangat menyakitkan." dia berucap dengan sangat jelas. Dan ucapannya membuat hatiku membuncah penuh kebahagiaan. Dia memintaku untuk tidak meninggalkannya, meskipun itu dia katakan tanpa sadar.
"Aargghh."
"Sssshhhhhh tenanglah, aku disini, aku tau kau pasti bisa melewati fase ini." Aku menggenggam tangannya, mengalirkan tenaga untuknya, berbagi rasa sakit dengannya. "Dengarkan aku, ambil nafas dan keluarkan lagi perlahan, kau bisa!!" kataku berbisik di telinganya. Dia mulai tenang dan mulai menurutiku, kurasa rasa sakitnya pun mulai berkurang karena aku. Aku melihat, orang-orang disekitar keheranan. Karena mereka tidak berfikir bahwa kami adalah mate. Atau mungkin sebagian berpikir sebaliknya, aku sama sekali tidak peduli.
Tak lama kemudian, Jade melompat dan sepenuhnya ia telah berubah menjadi seekor serigala. Cukup besar, hampir seukuran dengan Ghost, bersurai putih, dengan matanya yang keemasan, satulagi yang membuatnya sangat unik, di kening Serigala itu terdapat symbol berbentuk bulan sabit berpendar kebiruan, sungguh cantik sekali. belum pernah aku melihat shewolf secantik ini.
"Sshhh tenang, tenang, ini aku." Aku melihat kegelisahan dimatanya. Ia berkali-kali mengedipkan matanya, lalu mundur.
"Jade, sekarang shift lagi" Kataku, karena jika dia tidak segera berubah kembali menjadi manusia, maka akan sulit baginya.
Mata Emas milik Jade itu mengawasi sekitarnya. Aku tau apa yang di fikirkannya, kebanyakan dari kami adalah pria. Dan jika ia kembali bertranformasi menjadi manusia maka ia akan telanjang. Aku mengisyaratkan pada Ben ,untuk memerintahkan semua orang kembali.
"Aku tidak akan pergi, aku khawatir dengannya." Kata si sipit.
"aku juga, dia pasti sedang merasakan kesakitan." imbuh Lionel.
"Kembalilah kalian, dia akan baik-baik saja bersamaku," balasku dengan tegas.
"Aku bahkan tidak bisa mempercayaimu, Aeghar." Lee Sun cukup keras kepala.
"Pergilah sebelum kupatahkan leher kecilmu itu" Aku menggeram siap menerkam Lee Sun.
"Aku tidak akan pergi." Lee Sun lebih keras kepala dari kelihatannya. Jika aku tidak mengingat bahwa dia adalah sahabat Jade, aku sudah mengajaknya berduel.
"Anak-Anak, ayo kembali"
"Lalu aku harus membiarkannya melihat tubuh Jade.?" Lee Sun mendebat lagi.
Aku menghela nafas, kemudian aku melepaskan kemejaku yang aku yakini jika di gunakan oleh Jade akan menutupi seluruh tubuhnya. Aku memakaikannya di punggung serigala cantik yang tampak lemas itu.
"Apa kau puas?" tanyaku pada Lee Sun. " Sudah, kau bisa kembali, bayangkan wujud manusiamu agar lebih mudah" aku memberi tahu Jade.
Gadis itu nampaknya menurut, kemudian perlahan ia kembali dalam wujud manusianya, dan kemejaku terlihat seperti selimut untuk tubuhnya karena itu cukup menutupi seluruhnya. Gadis itu terlihat pucat, dan sempoyongan. Segera aku menangkap tubuhnya yang masih sangat panas itu. Gadis itu tak sadarkan diri. Memang perubahan menjadi serigala itu sangat menguras tenaga apalagi untuk wanita. Aku masih ingat saat adikku yang mengalaminya, ia tidak sadarkan diri selama satu bulan. Tapi, Jade adalah gadis yang kuat.
Aku menggendongnya ala bridal style, dan membuat para mereka bertiga bingung. Tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin menyelamatkan mate-ku.
"Ben, aku tunggu di ruanganku"
"Kenapa kau membawanya ke ruanganmu?" Tanya Si sipit.
"Bukan urusanmu, aku akan mengurusnya"
"Kenapa kau melakukan semua hal, itu bukan tanggung jawabmu!!"
"Cukup!!" Suara Liam menengahi kami. Aku melihat dirinya berlari kecil kearah kami. Melihat adiknya dalam gendonganku pun keningnya berkerut penuh tanda tanya.
"Apa yang terjadi? Bagaimana prosesnya?" Tanyanya, ia lebih mengkhawatirkan adiknya dibanding dengan pertikaian kami.
"Dia kelelahan, aku berniat membawanya tapi mereka menghalangiku," Aku menunjuk pada si sipit dan Lionel dengan mataku.
"Dia berniat membawa Jade kekamarnya!" desisi Lee Sun
"Kurasa, aku yang akan membawanya. Dia adalah adikku dan masih menjadi tanggung jawabku"
Sialan. Aku benar-benar kesal, aku ingin berteriak dan memberitahu semua orang jika Jade adalah Mate ku, tapi aku tidak bisa menanggung malu karena Jade telah menolakku. Harga diriku terlalu tinggi untuk menerimanya.
"Itu salahmu!" Ghost mendesis, apa yang salah dariku? "Kau pasti tidak menyadarinya, kenapa dia menolakmu?? Demi Dewi Bulan, dia masih bocah saat melihatmu akan b******a dengan jalang itu!" Entah kenapa Ghost menjadi sangat cerewet. Tapi dia ada benarnya juga. Memangnya apa yang difikirkan gadis berusia 10 tahun saat melihat orang yang harusnya menjadi pasangannya sedang mencumbui wanita lain??
"Aku memang bersalah" balasku tak berdaya.
Aku memindah tangankan tubuh Jade pada Liam, dan merasakan kehilangan. Sialan, aku benar-benar menginginkan gadisku kembali. Memilikinya di pelukanku, membuatku merasa lengkap, aku merasa dia adalah bagian puzzleku yang hilang.