Chapter 2: The Night Of Bloodmoon

3272 Words
[JADE'S POV] Cahaya mulai menyeruak kedalam kegelapan yang sempat menenggelamkanku beberapa saat yang lalu. Badan ini terasa remuk, persendianku seolah lepas dari tempatnya, anehnya itu membuatku lebih baik, seolah-olah energiku yang terkuras habis kembali terisi dengan energi yang bari Ingatanku kembali pada momen dimana aku mulai tidak sadarkan diri, sepasang mata emas menatapku ramah, taringnya yang lancip berkilauan, dan sosok tersebut begitu tampak cantik dengan surainya yang putih bersih, dia adalah Nymeria, shewolf-ku. Ada satu hal yang membuat Nymeria cukup berbeda dari kebanyakan shewolf lainnya, tepat di tenga-tengah dahinya terdapat sebuah simbol berbentuk bulan sabit, itu membuatnya semakin menawan. "Apa dia sudah bangun?" Telingaku bisa mendengar suara Liam jelas. Perlahan aku berusaha membuka mataku dengan sepenuhnya, tidak sabar lagi untuk menceritakan pengalaman yang baru saja kualami ini. "Belum, kurasa sebentar lagi, aku mendengar denyut jantungnya mulai berdetak normal." Suara Aeghar begitu nyaring terdengar pula olehku, keningku berkerut bingung. Mengapa dia ada disini? Berusaha keras aku mengumpulkan kembali kepingan-kepingan ingatan tentang pengalamanku, dan akhirnya aku menemukannya, dia adalah  laki-laki yang memberiku energinya untuk bertahan melewati fase shift  pertamaku. Dalam ingatanku, dia tanpa ragu menggenggam tanganku, dan menuntunku, aku juga merasakan bahwa aliran energinya melalui pembuluh darahku sehingga rasa sakit yang kurasakan berkurang. "Terimakasih sudah menjaganya." Liam tidak harus berterimakasih kepadanya, dia adalah mate-ku, meski aku sudah menolaknya. Rasanya juga sangat aneh, aku sudah menolaknya dan seharusnya ikatanku dengannya putus. Tapi mengapa? Mengapa dia masih bisa membantuku? Mungkin aku harus mencari jawabannya nanti. "Tidak masalah, aku bisa menjaganya kapanpun itu." Meski begitu aku harus tetap mengatakan terimakasih kepadanya. Dia telah menolongku melewati masa tersulit. Mungkin aku tidak akan bertahan tanpa bantuan darinya. "Boleh aku bertanya satu hal padamu?" Apa yang ingin ditanyakan Liam?? Aku tak bisa menahan debaran jantungku yang semakin kencang. Semoga Liam tidak bertanya yang aneh-aneh pada Aeghar. "Tentu saja." "Bagaimana bisa kau melakukan itu, maksudku adikku bukan Mate-mu dan tidak berasal dari Packmu, jadi sangat beresiko akibatnya. Akan tetapi nyatanya kau masih sehat dan terlihat lebih segar, hal itu hanya bisa terjadi apabila kau adalah...." "Hauuss." Sungguh ini adalah hal terkonyol yang aku lakukan. Aku hanya ingin menghentikan Aeghar menjawab pertanyaan itu. Jika kakakku tau yang sebenarnya bahwa kami adalah Mate, akan lebih rumit urusannya. Aku mencoba bergerak meski rasanya badanku remuk. "Hey, jangan dipaksakan" Liam menahan badanku. "Kau masih demam," katanya lagi, aku tau yang dimaksud olehnya. Bahwa tubuhku masih 'panas'. Mataku beralih pada Aeghar, pria itu duduk dengan tenang di sudut ruangan sembari mengamatiku. Tampak kelegaan dari matanya, apakah itu untukku?? Entahlah, tapi yang lebih aneh, aroma tubuhnya melingkupiku? Tersadar bahwa aku mengenakan kemeja warna burgundy yang cukup besar untuk ukuran tubuhku. Jelas sekali ini adalah milik Aeghar. "Berterimakasihlah padanya, Little Princess, dia yang membantumu." Liam mengingatkan. "Ehmm," Aku membersihkan tenggorokanku, dan mengumpulkan keberanianku untuk mengatakannya, "Terimakasih." kataku sambil menatap wajahnya. Tatapan Aeghar tampak melembut ketika dua mata kami saling beradu. Hanya karena pandangan matanya jantungku berdebar dengan irama yang kacau, Nymeria juga lebih kacau. Dia ingin bersama 'Ghost'nya. Tapi aku belum yakin sepenuhnya. Aku butuh lebih banyak pembuktian, apalagi dengan umur kami yang terpaut cukup jauh. "Tidak masalah, anggap saja kau berhutang padaku." "Oh, apapun itu terserah saja." balasku dengan suara yang lemah. "Aku akan segera mengembalikan kemejamu." lanjutku lagi. "Tidak perlu, aku suka kau mengenakan pakaianku seperti itu...terlihat cantik."  Mataku melebar, apa yang baru saja ia katakan? Di depan Liam? Pria ini benar-benar kehilangan akal sehatnya. Mungkin aku harus memukulnya menggunakan sesuatu agar pikirannya kembali normal. "Tunggu, tunggu, aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi." Liam menyela, aku yakin dia merasakannya sekarang bahwa sesuatu terjadi antara aku dan Aeghar. Beruntungnya aku karena memiliki kakak yang cukup bodoh untuk menyadarinya. Jika itu orang lain, mereka pasti akan langsung mengetahuinya tanpa bertanya. "Bukankah sudah jelas, kami adalah mate!" Aeghar mengumumkannya begitu saja, membuat wajahku memerah antara malu, marah dan senang. Perasaan yang aku rasakan ini sangat rumit, ada satu sisi hatiku yang begitu gembira karena dia mengumumkannya tapi di sisi lain aku marah dan jengkel. Aku belum bisa melupakan apa yang kulihat malam itu di dalam hutan. "Apa??!" Liam memekik karena terkejut, ia menatapku lalu menatap Aeghar lalu menatapku lagi untuk memastikan yang dia dengar bukanlah lelucon. "Ceritanya panjang Liam, bisakah kita bicarakan ini nanti, aku lelah." balasku, aku tidak sepenuhnya berbohong. Aku memang lelah dan ingin tidur kembali. "Well, baiklah kau harus beristirahat." balasnya sambil mengangkat bahu. "Bisakah aku pindah ke ruanganku?" Tanyaku, aku tidak ingin berlama-lama di ruang kesehatan. Penciumanku terhalang oleh semua obat-obatan dan herba. "Yeah, tentu saja kau bisa." Jawab Liam, ia mendekat hendak membantuku. Namun, sang Alpha lainnya malah mendahului Liam, tanpa aba-aba ia mengangkat tubuhku ala bridal style. Tentu saja ini membuat Liam terkejut dan, ya bisa dilihat bagaimana caranya menatap kami. Dia tak terbiasa tergantikan posisinya sebagai kakak terbaik! "Kenapa kau melakukan ini, Liam bisa membantuku?" protesku pada Aeghar. "Jangan mendebatku!" Geram Aeghar, ia tak menatapku dan hanya lurus berjalan begitu saja. Menggendongku seperti ini, melewati lorong dan berpapasan dengan banyak werewolf yang lain, seolah Aeghar sedang mengumumkan pada dunia bahwa kami adalah mate. Apakah dia sebegitu inginnya menjadi mate-ku? Tentu saja jawabannya TIDAK!! Aku yakin itu. "Kenapa kau seyakin itu, Jade??" Nymeria mulai protes, sementara aku hanya bisa menggeram kesal. "Kau tidak merasakannya Nymeria? Dia sama sekali tidak menginginkan kita!" balasku dengan ketus. "Apakah dia mengatakannya padamu?" "Tidak, belum." Aku mulai ragu dengan argumenku, Aeghar memang tidak menolakku, bahkan ia terkesan ingin menjadi mate-ku. Tapi, bayangan 6 tahun yang lalu masih membayangiku. Sekeras apapun aku berusaha melupakan kejadian malam itu, aku hanya berakhir mengingat detailnya dengan sangat jelas. "Jaadeee!!!" Seru suara Lee Sun dan Lionel, kedua lelaki itu berjalan kearah kami. Saat itu juga kudengar geraman Aeghar yang tertahan. "Kau sudah sadar? Aku dan Lee baru saja aku mengunjungimu." Lionel mengatakannya dengan semangat, ia bahkan mengulurkan tangannya untuk menyentuh keningku, tapi si Besar Aeghar malah mundur dan membuatku terhindar dari tangan Lionel. "Hey!" Protesku padanya "Kenapa kau bersama dengan Jade?" Lee Sun terlihat kesal. "Bukan urusanmu, bocah!" Balas Aeghar yang tampak jengah. "Bisakah kalian tidak berdebat disini, aku ingin segera kembali ke kamarku." kataku, aku benar-benar letih dan mereka malah mulai bertengkar. "Maafkan aku, tapi aku bingung kenapa dia tiba-tiba ingin menjadi pahlawan untukmu." tukas Lionel. “Kau tidak meng—“ Aku memotong ucapan Aeghar dan merangsek turun dari gendongannya. Aeghar tampak terkejut, sedangkan Lionel dan Lee Sun bergerak cepat untuk membopongku. Tanganku terangkat ke udara untuk menghentikan mereka. "Kalian lanjutkan saja, aku mau ke kamarku." ujarku kesal lalu aku mulai berjalan pelan. "Setidaknya biarkan aku membantumu," rengek Lee Sun, aku tahu dia sangat khawatir. Tapi aku lebih dari kesal saat ini. Sepenuhnya aku mengabaikan Lee Sun, aku benar-benar lelah dan ingin segera membersihkan diri, selain itu aku tidak ingin menggunakan pakaian Aeghar terlalu lama. ••••• Entah sudah berapa lama aku tertidur, melihat kamarku yang remang-remang sepertinya hari sudah mulai gelap. Segera bangkit untuk duduk kemudian meregangkan kedua tanganku untuk melemaskan otot-otot tubuhku yang terasa sangat kaku. Setelah tidur sekian lama, aku mulai merasa kekuatanku kembali sepenunya. Namun, tampaknya Nymeria masih terlelap di dalam sana. Biarkan saja, daripada ia bangun dan hanya mengomeliku soal Ghost dan mate, bisa-bisa aku sakit kepala dibuatnya. Suasana diluar kamar menarik rasa penasaranku, aku berjalan ke arah jendela dan memperhatikan sekeliling. Kamarku terletak di lantai dua dan paling ujung, pemandangan dari sini akan mengarah langsung ke arena latihan. Dari sini, aku bisa melihat siapa saja yang sedang berlatih. Seharusnya, sudah tidak ada yang berlatih lagi. Tapi di tengah lapangan aku melihat seseroang, dengan tubuh tinggi tegap dan bentuk tubuh yang sempurna. Ia hanya mengenakan celana tanpa atasan, jadi bisa terlihat jelas keringat membuat tubuhnya tampak lebih mengkilap, dari aromanya aku tahu dia adalah Aeghar. Melihatnya seperti itu, memegang Tombak berwarna hitam, dan berlatih membuatku, eerr terpesona?? Aku tersadar indera penciumanku semakin tajam. Jika aku wanita normal, aku sudah tergila-gila padanya. Dia adalah laki-laki yang sangat sempurna secara fisik. Sangat tampan dengan wajah yang simetris, mata cokelatnya yang hangat, bibirnya yang berwarna plum pucat, sangat maskulin dengan bentuk sixpack perutnya, dan rahang yang kuat, tangan dan bahu yang kokoh. Dia sempurna! Bagaikan dewa. Tapi, aku bukan wanita normal itu. Tenggorokanku terasa tercekat, saat kulihat wanita berambut pirang itu menghampiri Aeghar. Ia membawakan handuk ditangannya, lalu mengusap wajah, bahu, perut! Agrh, sialan. "Semua itu salahmu, kau membiarkan wanita itu mengambil mate kita!!" Nymeria terbangung dan mulai meraung. Aku hanya bisa terpaku, saat wanita itu mulai mengalungkan tangannya di leher kokoh Aeghar, lalu mencium bibirnya. Jantungku serasa berhenti berdetak dan terasa sakit, rasanya sangat panas dan perih sekali. "Nymeria, kenapa aku merasakan ini?" "Itu adalah konsekuensinya, kau akan merasakan sakit luar biasa saat mate kita bersama orang lain.” "Aku tak pernah mengalaminya selama ini." Protesku sembari memegangi dadaku, aku kembali keranjangku dan meringkuk. Rasanya seperti di tusuk pisau berlapis perak. Rasa seperti ini hanya aku rasakan saat pertama kali melihat Aeghar, dan mengapa baru sekarang aku merasakannya lagi? bukankah aneh? "Mulai saat ini, jangan pernah merengek untuk menjadi matenya, apa kau mengerti Nymeria. Jika dia mencintai kita, dia tidak akan pernah menyakitiku seperti ini.” Sakit ini berangsur-angsur menghilang. Aku mencoba untuk memejamkan mataku kembali, karena tubuhku memang belum kembali pulih sebelumnya. Dan disaat seperti ini, aku merindukan ayah. Aku ingin membagi cerita pengalamanku saat shiftku terjadi. Nyatanya, aku ingin ayahku yang membantuku saat shiftku terjadi, tapi sebagai Alpha King tugas sudah menantinya. Tiba-tiba, terdengar suara gaduh di luar. Aku mendengar orang-orang berlarian. Awalnya aku menghiraukannya, mungkin pasukan ayahku sedang akan berpatroli sampai Liam memanggilku melalui mindlink. "Ayah terluka, kemarilah!!" Aku melompat dari ranjangku, dan berlari sekencang mungkin ketempat ayahku berada. Bagaimana mungkin ayahku terluka? Dan kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah seharusnya ia berada di Blackdawn Pack?? Aku menembus kerumunan orang yang berdiri di lorong, hingga aku sampai pada ruangan Paman Ben. Disana ada Aeghar dengan si rambut pirang di sampingnya, lalu Lee Sun dan Lionel, dan Liam yang duduk disamping ayahku memegangi tanganya. Ayahku terlihat sangat lemah, darah mengalir melalui perutnya. Beberapa luka diwajahnya membuat Ayah tidak terlihat tampan seperti biasanya. Kakiku sangat lemas, dan aku terjatuh tepat disamping ranjang ayahku. "Ayah, Kenapa? Siapa yang menyebabkanmu seperti ini?" tanyaku, airmataku tak bisa terbendung lagi. Ayahku hanya diam dan meringis kesakitan. Aku tahu rasanya pasti sangat menyakitkan. Aku ingin sekali membagi rasa sakit itu dari ayahku, tidak ingin ayahku menahan semuanya sendiri. "Liam, apa yang terjadi???" Aku masih penasaran, apa yang terjadi dengan Ayah sebenarnya. "Blackdawn Pack sangat kacau." Aku menoleh melihat seorang Gamma yang pakaiannya berlumuran darah.  "Terjadi p*********n mendadak, informanku mengatakan bahwa salah satu kandidat Alpha telah bekerja sama dengan Rogue Pack, mereka menyerang kita dengan membabi buta, dan Alpha Edward terluka.” jelas Gamma tersebut. Rogue Pack adalah Pack dari werewolf yang di keluarkan dari pack-pack resmi. Mereka kemudian menggerombol dan menjadi kawanan pemberontak. "Kau harus menenangkan dirimu, Jade" Suara Paman Ben memecah lamunanku. Aku kembali menatap Ayahku, bagaimana mungkin aku bisa tenang jika ayahku sedang berjuang melawan rasa sakitnya. "Kenapa lukanya tidak segera sembuh paman?" "Terdapat racun wolfsbane di aliran darah Ayahmu, itu yang membuatnya lemah, dia tidak bisa bertranformasi atau menyembuhkan diri." "Errghhhh." Ayahku mengerang, wajahnya tampak kesakitan. Aku sungguh tidak tega melihatnya, dan hanya bisa menutup mataku. "Alpha Edward pasti bisa melalui ini semua, Jade" Lee Sun merangkulku. Tiba-tiba saja terdengar suara terompet dibunyikan, tanda bahaya sedang mengintai di sekitar kami. Kami tampak bingung dan saling memandang, hingga sesaat kemudian seorang Enforce atau pasukan khusus kingdom berlari masuk ke ruang kesehatan. "Ada Apa Bree?" Tanya Paman Ben pada Brian sang Enforce. "Kita dikepung!! Banyak Pasukan Rogue yang mengepung kita, pasukan yang sedang berpatroli pun sepertinya sudah dikalahkan, mereka akan tiba dalam beberapa menit." Jelasnya dengan cepat. Paman Ben langsung memandangi kami satu persatu dengan cepat. Ia kemudian memberikan perintah. "Kumpulkan semua orang dan bawa senjata kalian!" Perintah paman Ben, dan semua orang bergegas keluar dari ruang kesehatan. Aku beranjak hendak pergi, namun Paman Ben menghadangku. Ia menatapku sejenak, lalu menatap ayahku. "Kau harus menjaga Ayahmu disini, Princess." "Tidak, aku harus melawan mereka! Mereka sudah membuat ayahku terluka, mereka harus membayarnya." ujarku bersikeras. Paman Ben menyentuh pundakku, ia menatapku mencoba meyakinkanku bahwa aku harus tetap tinggal. Selain untuk menjaga ayahku, aku paham maksud Paman Ben. Ia hanya ingin melindungiku. "Please, Little Princess, hanya kau yang bisa menjaga Alpha King kita." Akhirnya aku menuruti Paman Ben, aku kembali duduk disamping ayahku dengan gelisah. Selama hidupku, ini kali pertama aku melihat ayahku tak berdaya, dan kami berada dalam keadaan terdesak sedangkan aku tidak bisa melakukan apapun untuk sekedar membantu. Suara gaduh di luar semakin kencang, aku mendengar geraman, sepertinya Para Rogue itu sudah berhasil menembus pintu gerbang. Apa yang harus aku lakukan sekarang?? Diam saja? Astaga, aku berjalan kearah jendela, dan melihat kekacauan yang terjadi. Banyak sekali serigala yang saling bertarung, tak hanya itu beberapa lelaki masih dalam wujud manusianya, dan termasuk Liam. Ya Tuhan, dia sedang berhadapan dengan serigala raksasa dan demi apa ia tidak melakukan shift?? Apa dia ingin bunuh diri. Serigala itu menyundul perut Liam, saat terpelanting ke belakang Liam bershift menjadi serigala yang cukup besar. Dia menggeram, lalu menerkam kembali serigala itu. Demi Dewi Bulan, kekacauan terjadi dimana-mana. Darahku berdesir karena insting bertarungku semakin kuat. Apalagi Nymeria sedari tadi sudah mendidih ingin segera mengambil alih diriku. Aku kembali kesisi ayahku, pria kuatku itu sedang mengerang, ia memegangi perutnya yang dibalut perban yang warnanya sudah semerah darah. "Ayah." Gumamku, ya, seandainya saja ayahku tidak terluka, ia pasti bisa ikut bertempur dan mengalahkan pemberontak sialan itu. Brraakkh  Pintu kamar kesehatan tiba-tiba terbanting dengan sangat keras, aku terlonjak kaget. Saat aku menoleh aku melihat seseorang masuk, ia terengah-engah tampak kelelahan, bajunya robek dibeberapa tempat dan ia membawa pedang yang berlumuran darah. Seandainya saja aku tidak mengenalnya mungkin aku sudah membiarkan Nymeria mengambil alih dan menyerangnya. Tapi, dia adalah Jack, Seorang Gamma yang berasal dari Packku. "Liam memintaku untuk membawa kalian kembali ke pack house." jelasnya. "Dan meninggalkannya dalam kekacauan seperti ini???" "Ini perintah, Jade, kita harus selamatkan Alpha King." Aku menoleh ke arah Ayahku, dia benar. Kami harus menyelamatkannya terlebih dahulu. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Ayahku, maka Kingdom ini akan hancur. "Cepat!" Jack mengingatkanku kembali. "Bantu Ayahku, aku harus mengambil sesuatu. Akan kususul kalian" balasku dengan cepat. Jack mendekat kemudian membantu ayahku untuk berdiri. Ia membopong ayahku di punggungnya. Aku mengikutinya, lalu saat sampai di lantai dua aku membiarkan Jack pergi terlebih dahulu. Aku kembali ke ruanganku untuk mengambil moonspears. Dalam benakku, setidaknya selama aku tidak bertranformasi maka aku harus membawa Moonspears untuk berjaga-jaga. Setelah mendapatkan moonspear aku keluar kamar. "Eeergghhh." Seekor serigala berwarna abu-abu menghadang jalanku, ia cukup besar jika dibanding milikku. Tanpa ragu aku menggunakan Moonspears, menjadikannya tombak panjang. Aku menghunuskan ujung tombakku, tapi serigala itu berhasil menghindar lalu dengan kepalanya ia mendorong tubuhku, aku terpental dan menabrak dinding kayu hingga ambrol dan aku terjatuh dari lantai dua hingga ke tanah. Sialnya, aku terjebak di tengah-tengah serigala yang tengah bertempur. Jika dalam keadaan tanpa berubah seperti ini, sulit membedakan mana musuhmu. "Nymeria, giliranmu!" Nymeria mengambil alih tubuhku, dan kini aku merasa kekuatanku berlipat. Saat menjadi serigala, aku bisa merasakan aroma dengan lebih tajam, pandangan dan pendengaranku juga berkali-kali lipat lebih tajam. Semuanya suara yang kudengar sangat mengganggu, hingga aku kehilangan konsentrasi dan seekor serigala berwarba orange, menyeruduk Perutku. "Argh!" "Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau meninggalkan ayah?!" Suara Liam melalui mindlink cukup mengejutkan, dari tarikan nafasnya aku tau ia sedang kelelahan. "Jack membawanya pergi, dan aku disergap asal kau tau saja!" balasku geram. Aku mendengarnya bisa bernafas dengan lega. "Awas belakangmu!" kali ini suara Lionel, aku tidak begitu sigap hingga kurasakan leherku seperti sedang teriris. Gigi serigala menjijikkan ini menancap di leherku. Tapi aku tidak menyerah, aku berguling lalu mencoba menggigitnya balik, meski sulit. Untungnya, Serigala Lionel membantuku. Lalu mereka berduel dengan sangat sengit. Aku mematung ditengah-tengah pertempuran ini, semuanya saling menggigit menendang. Beberapa kulihat kepalanya putus dan darah ada dimana-mana. Tubuhku gemetar rasanya, mungkin ini akan menjadi malam terakhirku. Sial. "Jangan melamun Tuan Putri!!" Nymeria berteriak padaku, disaat bersamaan seekor serigala cokelat dengan semburat putih berlari maju kearahku, berusaha menerjangku. Tapi aku menghindar kesamping, aku melompat keatasnya lalu mulai menggigit leher serigala itu hingga putus. Kurasakan darahnya memuncrat ke mulutku, rasanya asin dan sangat menjijikan. Sekali lagi, aku berduel dengan serigala lainnya. Entah sudah berapa kali aku tergigit dan memutuskan leher, atau kaki para rogue itu. Pertarungan ini seperti tak ada habisnya. "Pergilah ke hutan, temukan Ayah, kurasa Jack sedang dalam masalah." mendengar Liam, aku tidak buang waktu lagi. Segera aku berlari melewati serigala yang berusaha menyerangku, dan beberapa kali juga aku menggigit mereka yang menghalangiku. Menembus gerbang, akhirnya aku bisa menelusuri hutan. Dengan mengendus aroma Jack, karena darah ayahku masih teracuni oleh wolfsbane aku mengikuti jejak mereka. Sesekali, aku menghubungi Jack melalui mindlink untuk mengetahui letak mereka. Hampir lima belas menit aku mengejar mereka. Aku merasakan sesuatu yang aneh, mindlink Jack tiba-tiba terputus. Aromanya menjadi samar-samar. Kekhawatiran muncul dibenakku. Mungkinkah sesuatu yang buruk terjadi?? Meski aku takut, aku tetap berlari kearah lokasi terakhir Jack. Semakin dekat, aku semakin mencium aroma para Rogue dan Aeghar. Tunggu, Aeghar?? Kenapa aku mencium aroma Aeghar dan semakin kuat. Saat aku sampai, aku brrhenti dengan segera. Mataku terbuka dengan lebar tak percaya. Dihadapanku tergeletak beberapa rogue yang sudah tidak sanggup hanya untuk meringkik. Aku mencari keberadaan Ayahku, hingga yang kuketahui seekor serigala raksasa dengan surai gelap menoleh kearahku, matanya yang keemasan dan aroma Pine dan Wood yang kuat membuatku tau dia adalah Ghost, hewolf milik Aeghar. Namun... "Ayahhhh!!!" Teriakku seketika aku melakukan shift kembali ke wujud manusiaku. Berhambur ke arah ayahku, yang mana tubuhnya sudah terkulai lemas tak berdaya seolah nyawanya akan pergi meninggalkan tubuhnya. Ayahku terlihat sangat buruk, dengan tubuh manusianya itu, sayatan di perutnya bertambah lebar dan lebih dalam. Bahkan perbannya saja sudah tidak lagi terpasang. Darahnya mengalir, aromanya seperti ayahku, bercampur dengan aroma wolfsbane dan aroma Aeghar. "Ayah, kumohon bertahanlah!" Aku menaruh kepala ayah di pangkuanku. Aku tau saat ini Ayah sedang berjuang melawan hidup dan mati, aku sendiri bahkan ketakutan, aku tak sanggup melihatnya seperti ini. "Ayah..." Ayahku begitu lemah, tapi sesaat kemudian aku melihat pandangan matanya beralih pada Aeghar, lalu ia menunjuk kearah serigala besar itu hanya sesaat setelah itu tangannya terjatuh dan ayahku pergi, nyawanya tak lagi bersama raganya yang ada di pangkuanku. Ayahku telah meninggalkanku. Tidak! "Ayah, Ayah.!! Ayahhhh, Tidak, tidak, ini pasti mimpi, ayah bangunlah, please, ayahhh" "Jade." Suara Aeghar mengusik telingaku, aku merasa tangan hangatnya menyentuh pundakku. Amarah mengumpul tepat di atas kepalaku. Tangan besarnya aku tampik, dan berbalik untuk menatapnya dengan tajam. Aku tahu, dia yang melakukan semua ini pada ayahku. Dia membunuh ayahku. "Jangan menyentuhku, kau pembunuh!!!" Hardikku padanya. Ia terkejut, lelaki itu melebarkan matanya. "Jade, bukan seperti itu, aku tidak --- Aku melompat kearahnya sembari bershift menjadi Nymeria. Aku yakin Nymeria juga merasakan hal yang sama. "Jade, dengar kau salah pah— "Grrrrrrrrrrrhh." Aku menggeram kearahnya, siap menerkamnya. Aku tahu semua yang kulihat, aku tahu dia yang mencabik-cabik ayahku. Darah ayahku kurasakan digigi sialan milik Ghost. "Jade...." Aku menerkam Aeghar, ia kini tepat berada dibawahku. Lelaki itu tidak melawan. Aku tidak peduli, lalu menggigit lehernya dengan taringku. Kurasakan darahnya mengalir melalui lidahku. Tiba-tiba Nymeria mundur, aku tahu kami tidak bisa membunuh mate kami, seberapa besar pun keinginan itu ada. Aku kembali ke wujud manusiaku, berdiri tepat di depan Aeghar yang menekan lukanya yang berdarah. Hatiku terasa remuk saat aku melihat darahnya keluar, tapi rasa sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan rasa sakitku kehilangan ayahku. "Aku Jade Rosslyn Alexander, menolakmu Aeghar James Black sebagai mate-ku!!!" Teriakku frustasi pada Aeghar, lalu aku berbalik kembali ketempat ayahku berada. Meski dewi bulan mengutukku aku tidak akan pernah menjadikannya mate-ku. Tidak akan pernah! "Jade-Arghhh!" Aeghar masih berusaha, tapi siapa yang peduli. Berusaha melakukan mindlink siapapun yang berasal dari Packku, mengumunkan kematian Ayahku pada seluruh Pack. Dan kuketahui bahwa p*********n itupun sudah berakhir, pemberontakan sudah berhasil dikalahkan dengan bantuan pasukan pasukan dari pack-pack yang ada di sekitar perbatasan dengan Bloodmoon Kingdom. "Tunggu kami, Jade" itu suara Liam, Aku hanya diam sembari memeluk tubuh ayahku. "Jade??" "Cepatlah, ayah kedinginan." Terakhir kali aku melihat kematian adalah kematian Ibuku. Kematianya juga karena p*********n Rogue, saat itu aku melihat bagaimana Ayahku sangat putus asa, aku tidak tahu bagaimana rasanya jika mate-mu mati. Tapi, ketika merasakan sakitnya saat Aeghar terluka, kufikir itu pasti jauh lebih menyakitkan. Karena hampir setiap malam aku mendengar ayahku menangis dan menahan sakit di kamarnya. Dan siapa yang menyangka kini Ayahku, di pangkuanku tak bernyawa karena dibunuh oleh seseorang yang seharusnya melindungiku? Mate-ku sendiri yang telah membunuh Ayahku. Sungguh ironi. "Jade..." Suara Liam muncul, aku menoleh dengan lemah, kulihat Liam dengan beberapa orang datang. Aku sudah terlalu lemah, dan pandanganku semakin kabur, hingga aku tenggelam pada kegelapan. Jika ini jalannya, maka aku akan dengan senang hati menyusul ayahku.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD