Chapter 3: The Alpha King

2557 Words
Flashback "Kau adalah Alpha berikutnya, Aeghar." Hanya itu yang dikatakan oleh Ibuku saat aku hampir 3 bulan mengurung diri di kamar setelah kematian ayahku. Usiaku masih 8 Tahun saat itu dan aku sudah kehilangan seseorang yang harusnya menjadi panutanku. Semua tanggung jawab tiba-tiba dilimpahkan padaku. Padahal aku sendiri saja belum mengalami shift pertamaku. Ayahku adalah seorang pejuang, ia seorang Alpha yang hebat. Aku masih tidak percaya ayahku tewas begitu saja. "Aeghar, dengar ibu! Suatu hari nanti kau harus membalaskan dendam ayahmu. Darah dibayar darah nak!" Aku berlari dari cengkraman ibuku, terus berlari sambil menangis. Keluar dari Pack House, semua orang yang melihatku terlihat simpati akan tetapi mereka tak ada yang berani menghentikanku. Hingga sebuah tangan kokoh menghentikan laju lariku, menahan pundakku agar aku diam. "Hey, hey." aku mendengar suara hangat ini, milik Paman Ben. Aku mendongak, dan disana kulihat pria berdarah latin dengan tatapan hangat menatapku simpati. Aku memeluknya, tubuhku gemetar hebat, aku ketakutan dan merasakan kesepian. "Ada apa, Little Man?" tanyanya padaku. Aku tak ingin menjawabnya, aku tidak bisa. Kemudian ia berlutut dihadapanku, mensejajarkan matanya dengan milikku. "Bagaimana seorang Alpha bisa menangis dijalanan seperti ini?" Tanyanya menggoda. Aku mengusap airmata dan ingusku. Lalu menatap balik matanya. "Apa aku harus membalaskan dendam ayahku??" Tanyaku "Apa Ayah mati secara tidak adil? Apakah ayah dibunuh?" lanjutku bertubi-tubi. Selama kematian ayahku, aku tidak pernah mengerti penyebab kematiannya. Yang kutahu, ibuku selalu menginginkan aku untuk balas dendam. Paman Ben tampak terkejut, ia kemudian menghela nafasnya dengan berat. "Ikutlah denganku!" ia kemudian bangkit, dengan menggandeng tanganku, Paman Ben mengajakku pergi ke tempat ayahku dikuburkan. Berdiri di hadapan kuburan ayahku, aku melihat sebuah buket bunga yang sudah layu disana. Aku tidak mengerti kenapa Paman Ben mengajakku ke kuburan ayah. "Ayahmu adalah pejuang yang hebat, Aeghar." Ujar Paman Ben memecah keheningan diantara kami. Aku mendengarkan, ayahku memang hebat. "Dia tidak pernah mati sia-sia, dan tidak seorang pun yang harus membalas hutang pada ayahmu." Aku tidak mengerti maksudnya, tapi aku masih mendengarkan. "Satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab adalah, Agheon." Mendengar nama itu mataku terbelalak, Agheon adalah nama Kakekku. Ia seorang Alpha King. Tapi aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya meski sekali saja. "Kenapa? apa yang kakek perbuat?" "Dia yang menyebabkan semua ini, dia yang membuat sahabatku terkubur didalam sana." "Tapi kakek sudah meninggal" "Dengarkan aku, Aegy.." Paman Ben berlutut kembali disampingku. Matanya penuh harapan padaku. "Sampai waktunya nanti, kau harus tanamkan pada dirimu, bahwa ayahmu adalah pejuang yang hebat, kau tidak boleh membalas dendam, saar tiba waktunya nanti kau akan mengerti" tutur Paman Ben. Aku mengangguk menurutinya. Malam harinya, aku mendengar suara gaduh di lantai bawah Pack. Saat aku keluar untuk melihat, rupanya Paman Ben dan Ibuku bertengkar, mereka saling adu argumen. Samar-samar kudengar namaku disebut-sebut, tapi aku tak tahu apa yang mereka bicarakan sebenarnya, aku kembali kekamarku meredam suara-suara teriakan ibuku. Dooooorrr Aku mendengar suara tembakan, dan suara teriakan paman Ben. Ia memanggil nama Ibuku, aku langsung keluar kamarku. Melihat yang lainnya pun bergegas keluar ruangan mereka untuk melihat apa yang terjadi aku mengikuti mereka, turun kelantai bawah. "Deliah, bangunlah!!" "Luna!" "MOOMM!!!" Kusaksikan dengan kedua mataku, ibuku dipangkuan Paman Ben, kepalanya bersimbah darah, matanya terbuka lebar dengan mulut yang terbuka dipenuhi darah. "No! Mooommm!!" ••••• 90 Hari setelah kematian Alpha King Edward Grey Alexander Jade's POV Dari jendela kamarku di Pack House kami, aku bisa melihat dengan jelas hutan dan gunung yang menjadi batas antara Lightshade Pack dengan Bloodmon Kingdom. Aku menghirup udaranya dalam-dalam, begitu segar tapi masih menyesakkan. Sedikitpun aku tidak beranjak dari kamarku setelah kejadian malam itu. Malam yang sangat mengerikan dan tidak akan pernah aku lupakan. Setelah kematian ayahku, dan pemberontak berhasil dikalahkan, semua pasukan kingdom ditugaskan untuk menjaga semua perbatasan disetiap wilayah Pack. Seusai aku cukup sehat, karena aku sempat tak sadarkan diri selama seminggu, aku merengek pada Liam untuk kembali ke Pack House kami. Dan disinilah aku berada, mengurung diriku selama 3 bulan lamanya. Aku juga tak pergi ke akademi, mengabaikan semua pesan dan telfon dari teman-temanku. Setiap kali Liam berusaha untuk bicara padaku, aku juga mengabaikannya. Tetapi Liam tidak pernah menyerah, ia selalu datang kekamarku, mencoba menghiburku dengan menceritakan setiap kegiatannya padaku. Tok tok tok tok Aku mendengar suara ketukan pintu, dan pintu kamarku mulai terbuka. Kurasakan Liam berjalan masuk kekamarku. "Hey." sapanya, semakin hari kurasakan ia semakin canggung padaku karena aku tidak pernah membalas ucapannya sama sekali. "Hari ini aku akan pergi ke Bloodmoon Palace, apa kau ingin ikut??" tanyanya dengan ragu-ragu. Aku masih tak menjawabnya, untuk apa lagi aku kesana. Aku tidak ada urusan disana. "Lee Sun dan Juga Park Hae Min akan datang, apa kau tidak ingin bertemu dengan mereka?" Lanjutnya. "Dan juga....." Jeda, Liam sedang berfikir apakah ia harus mengatakan yang ada dibenaknya atau tidak. "Hari ini adalah hari penobatan Aeghar sebagai Alpha King, kau tidak ingin menemuinya? Kalian tidak pernah bertemu setelah kejadian itu." Pikiranku seketika kosong, jantungku berdetak kencang dan darahku berdesir memanas. Nama itu, mendengarnya saja membuat telingaku sakit. Tapi hatiku menolak, dalam relungku yang terdalam hatiku sangat merindukan Aeghar. Aneh sekali, padahal aku sudah me-rejectnya, tapi perasaanku sebagai matenya tidak berubah, dan Nymeria menolak bicara padaku karena hal itu. Aku pun tidak bisa marah pada Liam, ia sama sekali tak mengetahui kebenarannya bahwa Aeghar yang membunuh ayah kami. Tapi tuduhanku tidak salah, buktinya dia dinobatkan menjadi Alpha King, tanpa ada duel. Ini menunjukkan bahwa Aeghar telah mengalahkan ayahku! Dia pembunuh gila! "Jade, kumohon bicaralah sesuatu" Liam semakin frustasi dengan kediamanku. Aku menggeser tubuhku untuk menatapnya sebentar. "Apa yang ingin kau dengar?" balasku, tiba-tiba saja pria besar ini berhambur kearahku dan memelukku dengan erat. "Oh Astaga, Akhirnya kau mau bicara, sudah lama aku tidak mendengarmu mengatakan sesuatu." Ujar Liam serak, dia menangis! Demi Dewi Bulan, tubuhnya saja besar tapi dia sangat cengeng! "Aku merindukanmu, My Little Piggy." Ia semakin erat memelukku. Aku juga merindukannya. "Aku juga." Balasku seadanya, Liam melepaskan pelukannya lalu ia merengkuh wajahku, menatapku dengan lekat, kemudian ia mencium keningku penuh kasih. "Aku senang sekali melihatmu mulai kembali, kau bisa mengatakan apapun padaku tapi jangan pernah lagi tidak bicara padaku, aku hampir mati frustasi karena kau terus diam." Aku hanya mengangguk. "Baiklah, aku harus bersiap pergi ke Bloodmoon Palace, kurasa Abraham akan jadi Beta King kali ini tapi entahlah" Katanya antara antusias dan sedih. Karena Abraham adalah Betanya, apabila Abrahan menjadi Beta King maka Liam akan kehilangan sahabatnya itu. Ia beranjak pergi, tapi aku mencegahnya. "Liam." panggilku pelan. "Ya??" ••••• Aeghar's POV Dari menara kastil aku bisa melihat semua hal, hutan, gunung, arena latihan dan tempat dimana p*********n itu terjadi. Kejadian malam itu masih membekas dalam ingatanku, sangat jelas. Dimana aku menemukan Alpha King Edward dengan Jack yang sudah terkapar di kelilingi oleh rogue yang hendak mencabik setiap inchi dari tubuh Edward. Aku membunuh semua rogue itu, dan mencoba menyelamatkan Alpha King, aku menjilat seluruh darah Alpha King, dan itu mengakibatkan tubuhku lemah karena darah Edward telah tercampur dengan wolfsbane. Sialnya, saat itu mate-ku tiba-tiba muncul entah dari nama. Serigala putih yang cantik. Kemudian ia menjelma menjadi Jade dengan tubuh telanjang sempurna. Dia mendorongku, dan mengambil alih tubuh Edward. Anehnya, dia marah padaku. Menuduhku membunuh ayahnya. Dan dia menyerangku, sedangkan aku tidak bisa membalasnya karena terpengaruh oleh Wolfsbane. Dia menggigitku, menancapkan setiap taringnya pada leherku, siap mencabut kepalaku. Jika dia membunuhku aku pun tidak bisa membalasnya, aku sudah berusaha menjelaskan tapi Jade tidak bisa berfikir dengan jernih. Saat kudengar kalimat itu keluar dari mulutnya, saat dia menolakku rasa sakitnya luar biasa, jantungku terasa remuk dan aku tak berdaya. Gadis itu menolakku, dia menolak seorang Aeghar Black! Hanya dia yang berani melakukan itu padaku. Tanganku mengepal, kupejamkan mataku untuk mengenyahkan semua kenangan pahit malam itu. Tapi yang ada amarahku malah menjadi, egoku sebagai seorang Alpha mengambil alih nalarku, aku akan membalas setiap rasa sakit yang kurasakan pada gadis kecil itu! Aku akan membuatnya bertekuk lutut dan mengemis padaku. "Aeghar sayang, sudah waktunya untuk penobatan." suara serak milik Clarisse mengusik lamunanku, aku berbalik dan menoleh. Wanita itu sudah di belakangku, memelukku dari belakang penuh gairah. "Selamat akhirnya kau menjadi Alpha King, sayang." ujarnya lagi. "Dendammu sudah terbalaskan sekarang." Lanjutnya tanpa fikir panjang. Ia kemudian menggeser tubuhnya, dan berdiri dihadapanku. Tingginya tidak lebih dari hidungku, ia mendongak dan menatap mataku. Ia mengalungkan tangannya di leherku. Selanjutnya dia akan menciumku. Ku biarkan saja dia melakukan apapun yang diinginkannya. Lagipula tidak ada ruginya untukku. Namun, aroma segar ini membuatku muak dengan tingkah Clarisse, aku mendorongnya, melepaskan kaitan tangannya dari leherku. Aku tidak salah, ini aroma gadis kecil itu. Dia ada disini!!! Tapi aneh sekali, gadis itu sudah menolakku, seharusnya aku tidak bisa lagi merasakan aromanya dengan cara seperti seseorang yang mengenali mate-nya. "Aeghar, apa yang terjadi?" tanya Clarisse kebingungan. "Maaf Clare, aku tidak menginginkamu." jawabku seadanya. "Apa maksudmu tidak menginginkanku? Kau tidak pernah menolakku sebelumnya" Clarisse mencoba untuk kembali memelukku, tapi aku menghindarinya, dengan mengambil jubah merah dengan aksen emas dan memakainya. "Aku harus segera pergi, semua orang menungguku." Aku segera keluar dari ruangan ini. Langkah ini coba aku percepat, sial kenapa aku harus melewati banyak tangga. Aku ingin segera pergi ke aula utama. Saat aku lewat semua orang berusaha mengucapkan selamat padaku. Tapi aku mengabaikan mereka, aku hanya ingin segera pergi ke aula utama, karena aku tahu disana ada Jade, aku ingin melihat wajahnya sebelum aku membuatnya bertekuk lutut dihadapanku nanti. Penjaga membuka pintu aula utama. Semua orang ke empat Pack yang masih aktif sudah tiba. Mereka memenuhi ruangan itu, tampak antusias dengan kedatanganku, dan kudengar beberapa gadis-gadis menggosipkan tentang tubuhku dan betapa gagahnya aku. Aku terus melangkah menuju altar sembari mencari keberadaan gadis itu. Semakin dekat dengan Altar, semakin aku merasakan aromanya dengan kuat. Disana kau rupanya, batinku. Dia ada dibarisan paling depan, disamping kakaknya Liam, dan sahabat-sahabatnya. Ia menoleh kearahku, dan pandangan mata hijaunya mengunci milikku. Aku bisa melihat kebencian tersorot dimatanya, aura membunuhnya sangat kuat. Dia membenciku, aku tau itu. "Dia ingin membunuhmu." Tanpa dibertahu Ghost pun aku tahu jika dia ingin membunuhku. "Dengan senang hati, aku akan memberinya kesempatan itu." "Kau gila." "Dia telah membuatku gila." Aku sudah duduk di atas singgasana yang terbuat dari tembaga? Entahlah, tapi rasanya duduk disini tidak membuat bokongku nyaman. Aku bisa melihat semua orang yang ada, di barisan paling depan ada pemimpin 3 Pack, karena Pack dari tempatku berasal hanya diwakili oleh Beta-ku, Samuel Leopold. Kuharap dia bisa Beta King. Ada Darren Benneth dan Lunanya Daisy Maddiesh serta bayi yang di gendong oleh sang Luna, Alpha dari Snowmoon Pack. Lalu Sundawn Pack, dimana Alphanya terlihat kurus dan bermata sipit, Lee Sun. Kemudian disampingnya seorang gadis, Beta yang tak kalah sipit, namanya Hae Min. Lalu disampingnya ada gadis pemberontak dengan sorot mata bagaikan panah yang siap menancap ke jantungku, Jade, disampingnya berdiri dengan protektif Liam Grey Alexander sebagai Alpha dari Lightshade Pack, Betanya juga berdiri di sampingnya, Abraham Collins yang kurasa dia akan menggantikan Paman Ben sebagai Beta tapi itu belum ditentukan. Seorang pendeta datang mendekat, ia membacakan sebuah mantra yang aku tidak peduli apa artinya, lalu memercikkan air di sekitar tubuhku. Lalu, memakaikanku Jubah lagi berwarna Hitam dan sebuah pedang dengan lambang dewi bulan di pegangannya. "Dengan ini kunobatkan Aeghar James Black sebagai Alpha King dari Bloodmoon Kingdom sebagai penerus dari Alpha King Edward Grey Alexander, apabila ada yang keberatan maka sekaranglah saatnya." pendeta itu mengumumkan. Semua hening, tidak biasa memang menantang seorang Alpha King. Jika tetap berlanjut hening, maka penobatan ini akan segera berakhir. Namun, dunia tidak berjalan semudah itu. Seorang gadis, dengan rambut cokelat chestnut, bermata hijau, dengan tubuh kecil itu melangkah maju. Liam menahan lengan adiknya itu. "Apa yang kau lakukan?!" Desis Liam pada Jade. Jelas Liam tidak akan membiarkan Jade melakukan apa yang diinginkannya, bukan karena martabat Packnya, tapi lebih kepada keselamatan adiknya, demi Dewi Bulan, dia overprotektif. "Aku menantangnya berduel denganku!! Alpha King Aeghar apa kau menerima tantanganku?" suaranya lantang bergemuruh, ia menepiskan tangan Liam, kemudian menoleh menatapku dengan tajam membuat adrenalinku meningkat drastis. Aku menyukai caranya, dia sangat liar. Baiklah, kita lihat seberapa hebat dirinya. Seluruh ruangan bergemuruh, kehebohan terjadi akibat mereka tidak percaya seorang gadis kecil menantangku berduel. Jika dia menang, maka tahta ini akan jadi miliknya. Namun, apabila dia kalah dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal, bahkan kematian. "Seharusnya aku tidak membiarkanmu ikut!" kakak yang super protektif itu menggerutu pada Jade. Tapi ia tak punya pilihan lain, gadis bermanik hijau itu lebih keras kepala daripada batu meteor. "Aku Aeghar James Black, menerima tantangan dari mate-ku Jade Rosslyn Alexander" Ucapku dengan lantang. Semua orang terlihat bingung, tidak ada yang tahu bahwa dia adalah Mate-ku, dan kini aku mengumumkannya pada seluruh dunia bahwa dia adalah mate dari seorang Alpha King. Kenyataan bahwa dia telah menolakku tidak ada yang tahu, tapi ini awal pembalasanku. Karena selama ini dari sejarah yang kupelajari, tidak ada yang akan berani mendekati mate seorang Alpha King. Dan apabila semua orang tahu, maka kecil kemungkinannya Jade akan menemukan second chance mate nya. Mata Jade bergetar karena gusar tapi ia tetap melangkah maju, tak membiarkan kegelisahan menguasai tubuhnya. Aku melepas jubahku dan mengambil senjata pribadiku, sebuah tombak hitam. Beberapa langkah tepat di hadapannya, aku melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Entah karena hormon mate sialan ini atau memang aku benar, tidak ada wanita secantik Jade saat ini. Segalanya, dari rambut  cokelatnya yang di kuncir kebelakang, dan bentuk tubuhnya dibalik pakaian kulit cokelat yang melekat pas di tubuhnya, ia terlihat menggemaskan. Apalagi wajahnya memerah karena amarah. "Apa kau yakin menantangku di depan semua orang?" tanyaku, aku berniat menggoyahkan keinginan Jade. "Ini adalah waktu yang terbaik." desisnya, sembari mengambil tongkat putihnya dari balik bahunya. Aku menyunggingkan senyumanku, dia tidak akan menang melawanku, apalagi dengan tongkat yang tidak lebih panjang dari lenganku. Ah! Rupanya tongkatnya itu adalah tombak yang biasanya ia gunakan berlatih, entah bagaimana tongkat itu bisa memanjang lebih tinggi dari Jade. Sempurna, gadis itu terlihat sempurna. Jade membuat kuda-kuda, dan menghunuskan tombaknya. Siap untuk menyerangku, matanya tajam kearahku, mengundangku untuk menyerangnya. "Majulah kau!" teriaknya. Aku merasa tertantang, ku pegang dengan erat tombakku tapi aku tak menyerangnya, aku hanya memprovokasi Jade supaya dia menyerang lebih dulu. Drap drap drap, Jade melangkah ke arahku, ia mengarahkan pedangnya ke wajahku. Dengan cepat, aku menangkisnya, ia berputar dan mencoba terus menyerangku. Kekuatannya tak bisa di remehkan, aku bisa merasakannya tiap kali tombak kami beradu. "Kenapa kau tidak menyerang? Kau takut, eh?" Suara Jade mengacaukan fikiranku, dia sungguh merendahkanku. Kali ini aku menangkis tombaknya, ia mencoba kembali menyerang, ku angkat tombakku tinggi dan memukulnya. Taakk,  Jade menahan tombakku dengan posisi berlutut dan aku terdiam karena tombakku patah menjadi dua bagian. Mustahil, tombak ini sangat kuat. Gadis itu berdiri mundur satu langkah dengan nafas yang terengah-engah, aku membuang potongan tombakku yang lain, dan berdiri menatapnya. "Apa kau sudah menyerah?" Menyerah? Batinku, gadis ini benar-benar menguji kesabaranku. Kutatap matanya, dan kutahu dia tidak akan pernah berhenti sampai nafas terakhirnya. "Tidak semudah itu, Little girl" Balasku dengan suara mendesis. Aku melangkah mendekat padanya, sedangkan ia masih mengacungkan tombaknya kearahku. Aku mendekat, lebih dekat hingga ujung tombaknya menyentuh dadaku tepat di tempat jantungku berada. "Tapi bagaimana? Aku sudah tidak punya senjata, bukankah tidak adil jika kau masih menggunakan tombak cantikmu ini?" aku memprovokasinya. Sebenarnya, mengalahkan Jade bukanlah hal yang sulit. Aku hanya ingin bermain-main saja dengannya. "Apa kau takut aku melukaimu?? Haha." tawanya sumbang dan menyakitkan telinga "Seorang Alpha King takut dengan gadis kecil??" lanjutnya lagi. "Kalian dengar?" Ia melihat kearah kerumunan orang "Alpha King takut padaku! Dia takut aku membunuhnya dihadapan kalian!!" Darahku benar-benar mendidih, gadis ini sungguh melewati batasnya. "Gghhrrawwwwwll" Aku bershift dengan Ghost, aku ingin berduel dengannya sebagai werewolf. Karena aku berubah tepat di depannya, dan Ghost lebih agresif, gadis itu terhimpit di kaki Ghost, ia menatapku dengan tajam meski begitu terlihat jelas ia kesakitan, tangan kirinya terinjak oleh kaki Ghost. Sialnya, hatiku terasa sakit seperti diiris oleh pisau melihatnya menahan sakit seperti itu. Instingku membuatku mengangkat kakiku dari tubuhnya yang kecil itu. Jleeebbb Aku merasakan sengatan yang luar biasa menyakitkan, saat ujung tombak milik  Jade menusuk kakiku yang lain. Gadis itu mundur dengan menarik tombaknya. Bisa kucium aroma asin dan karat dari darahku yang mengalir. "Seharusnya kau tidak pernah mengangkat kaki kotormu itu dari tubuhku." ucapnya dengan sengit, sebelum akhirnya aku tenggelam di dasar kegelapan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD