Chapter 8: The Truce

3056 Words
Aeghar's POV   Melihatnya dari menara ini, dia tampak begitu kecil. Setiap langkahnya berhasil membuat hatiku berdenyut nyeri karena terlalu khawatir, aku takut ia terjatuh dan melukai tubuhnya sendiri.  Semakin jauh dia berjalan, semakin hatiku sakit seperti diremas, begitu pula dengan Ghost, ia meraung karena matenya akan pergi menjauh darinya. Aku memang seorang b******n b*****t, membuatnya dekat denganku hanya untuk keuntunganku semata. Aku memberinya imprint dengan niat buruk, aku ingin menyiksanya sampai dia benar-benar bertekuk lutut dihadapanku. Namun, mendengar bahwa penyiksaan yang dialaminya selama aku tidak sadar membuatku benar-benar seperti pria b*****t, aku bahkan tidak bisa menjaga keselamatannya.  Masih teringat saat ia mengatakan semuanya, bahwa ia dicambuk dengan rantai perak dan disuntik oleh wolfsbane, bahkan Ghost menggeram mendengarnya. Aku merasa aku tidak bisa memaafkan siapapun yang melakukan itu semua pada calon Ratu di Kingdom ini! "Disini kau rupanya!" Suara Samuel mengusik perhatianku yang tengah melihat Jade masuk kedalam mobil milik kakaknya. "Kapan kau kembali?" "Baru saja, apa mereka sudah pergi?" Tanya Samuel, ia ikut melihat kearah luar. "Siapa yang menyiksa Jade selama aku koma?" Tanyaku langsung pada Samuel. "Kau serius menanyakan ini padaku?" Aku tahu Samuel tidak akan menjawabnya. "Jika kau tidak menjawabnya aku akan membawa mayatnya padamu malam ini" ancamku, lalu aku beranjak pergi. Tak tahan jika harus berhadapan dengan Samuel. Dia satu-satunya yang kupercaya, tapi dia membiarkan semua hal buruk terjadi pada Jade. "Aeg, tunggu!" Samuel mengejarku. Ia menyentuh pundakku dan menghentikanku. "Kita harus bicara." "Siapa yang menyiksa Jade?" Aku berhenti dan menatapnya. Ia menghela nafas berat, aku tahu apa yang ada dalam fikirannya. "Dia mateku." ujar Samuel, kali ini mataku melebar, aku menatap Samuel mencari kebohongan dimatanya. Tapi dia sangat serius. "Kau pasti bercanda." balasku. "Aku tidak bercanda, sejak lama aku tahu bahwa Clarrise adalah mateku."   "Sialan!" Umpatku, aku merasa malu karena selama ini aku berhubungan dengan gadis itu tepat di depan mata Samuel. Seharusnya ini hampir 12 tahun, dan Samuel diam saja? "Aku tau kau pasti bingung, tapi dia memang Mateku, aku...." Samuel menunduk, ia menggosok belakang lehernya. "Kenapa selama ini kau diam saja, 12 tahun b******k! Kau membuatku seperti b******n yang merebut kekasih sahabatnya!!" Hanya satu yang kupikirkan, betapa menderitanya Samuel selama ini. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti ini, aku mengatakan ini karena aku ingin melindunginya." Jelas Samuel padaku. Aku bisa melihat kekhawatiran dan cinta di matanya. Pria dihadapanku ini benar-benar mencintai Clarrise. "Jangan biarkan dia mendekatiku lagi, atau kau akan menyesalinya." ujarku dengan tegas. "Baik." jawabnya dengan lesu. "Terkait dengan p*********n ke tiap pack, tarik semua Gamma dan Enforce." ujarku serius, Samuel mengangguk dan tidak mempertanyakan keputusanku. "Dann...." Lanjutku lagi. Samuel menatapku dia menunggu aku untuk menyelesaikan ucapanku. Tapi sialnya, aku merasa darahku naik seluruhnya kewajahku, rasanya panas, wajahku bersemu merah. "Hey, kenapa kau tersipu? Aneh sekali wajahmu memerah!" Samuel terlihat menahan tawanya, oh sialan ini sangat memalukan. "Persiapkan Pesta pernikahan dan penyambutan Luna untuk Jade pada Bulan purnama bulan ini." Balasku. Samuel menyeringai dengan lebar padaku, aku tahu ia sedang mengejekku sekarang. Selama ini aku tidak pernah berfikir untuk menikah, tapi aku melakukannya sekarang. "Meski aku tidak yakin apakah ini yang terbaik, tapi aku turut bahagia jika kau bahagia." Ujarnya dengan sungguh. Aku hanya mengangkat bahuku, yang jelas ini adalah awal dari segalanya. Aku akan menjerat gadis itu bagaimana pun caranya. Dia akan membayar semua perbuatannya padaku, dengan caraku! *** Jade's POV Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya kami sampai di Pack House. Untuk sesaat aku memperhatikan tempat tinggal kami, belum banyak berubah, rumah berlantai tiga, dengan lantai paling atas berdinding kaca, itu kamarku, dulu. Hanya warna catnya berubah, dindingnya di cat seperti kayu, dengan pintu utamanya berwarna putih yang sangat kontras dengan dindingnya. Selera Liam tentu saja. Aku melihat beberapa orang berada di depan Pack House. Lionel terlihat mencolok, karena ia tidak menggunakan atasan, dengan celana jeans yang sudah belel dan sobek dibagian lututnya, bisa kukatakan dia terlihat sangat seksi dan menggairahkan! Astaga lihat, sixpacknya, dan keringat yang membasahinya, dia benar-benar menjadi pria dewasa sekarang. Di sampingnya berdiri Abraham, dengan rambut cokelat ikalnya dipadukan dengan mata birunya, dia masih tetap tampan seperti dulu. Aku penasaran, apakah dia sudah menemukan matenya? Terakhir kali kuingat, dia sangat gelisah karena tak juga menemukan matenya. Lalu, ada seorang gadis di samping Abraham. Gadis yang asing, tapi tak begitu asing karena wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Mata hazelnya yang hangat, dengan rambut hitam sebahu yang curly, terlihat imut dan dewasa di waktu yang bersamaan. Apakah, dia anggota Pack yang baru? Lalu, ada istri Paman Darren, Daisy. Masih terlihat sangat cantik dengan rambut kemerahannya yang di tata sedemikian rupa sebagaimana bangsawan pada umumnya, ia sangat anggun. Di sampingnya, seorang anak kira-kira masih berumur 8 tahun, rambut ikal dan mata hijau pucatnya mengingatkanku pada Paman Darren. Pasti itu adalah Rensy George Benneth. Putra paman Darren. Aku tidak melihat ada Haemin di antara mereka. Aku menoleh kebelakang, melihat Lee Sun yang mengorok keras, tidak sadar bahwa kami sudah sampai di Pack House. "Sun!! Bangunlah Tukang ngorok!!" Aku menggoyangkan tubuhnya. Pria itu tersentak kaget, ia mengerjapkan matanya berkali-kali lalu celingukan seperti orang linglung. Aku langsung turun, menyusul Liam yang sudah turun lebih dulu. Ah.. . Jantungku tak bisa dikontrol, berdegup kencang dan tak beraturan, aku merindukan mereka, kufikir aku tidak akan pernah kembali, akan tetapi nyatanya aku disini bertemu dengan mereka. Aku berjalan kaku kearah mereka, suasanya benar-benar canggung. Tapi sesaat kemudian, Lionel berjalan cepat kearahku, lalu memelukku dengan tubuh telanjangnya. "Little Piggy!!! kau kembali!! kau pulang!!" Katanya, aku mendengar kebahagiaan yang terpancar dari setiap kata-kata yang diucapkannya. Dia memang selalu melankolis seperti ini. "Ahhh, Apa yang kau lakukan pada Lionku?? Dimana dia?!" Aku melonggarkan pelukanku, membentuk senyum diwajahku dan memukul abs-nya. Lionel tertawa kecil, ia kemudian merengkuh wajahku dengan mata yang berkaca-kaca. "Kufikir aku tidak akan melihatmu lagi" ujarnya. "Aku juga berfikir begitu." Suara Lionel benar-benar merusak suasana. "Selamat datang, J" Ujar Abraham sembari mendekat padaku, ia mengusap puncak kepalaku. "Akhirnya, kau bebas sweetheart. Semua orang disini sangat merindukanmu." Daisy mendekat, lalu aku beralih padanya dan memeluknya. "Aku juga merindukan kalian." bisikku. "Aku juga merindukan Pancake buatanmu" imbuhku lagi. Aku merasakan bajuku ditarik-tarik, lalu aku menoleh ke bawah dan melihat si kecil Rensy. "Hai, Monster!!" Aku mengacak rambut ikalnya yang menggemaskan, terakhir kali aku melihatnya ia masih sangat kecil sekali dan belum bisa bicara dengan benar. "Aku bukan monster, Jade!" Protesnya kesal. Aku cukup takjub karena dia masih mengingatku. "Lalu kau ini apa???" "Dia adalahh Big Wooolllfff!" Seru Lee Sun sembari menggendongnya, mengangkatnya ke pundak dan ia berlari ke dalam rumah. "Mereka akan seperti itu sepanjang hari." desah Daisy, Tidak diragukan lagi mengingat Lee Sun yang suka bermain-main. "Kufikir dia lelah" timpalku sembari menggeleng-gelengkan kepalaku karena tingkah Lee Sun yang tak berubah. Sesaat kemudian, seorang gadis yang tadi berada di samping Abraham mendekatiku. Senyumnya lebar dan menenangkan. Jika aku seorang lelaki pasti aku sudah jatuh cinta dengan senyumannya. Aku melihatnya dengan penuh tanda tanya. Sampai akhirnya, Daisy memperkenalkanku padanya. "Jade, Ini Victoria Black sepupu dari Alpha Aeghar." Saat itu juga jantungku serasa berhenti berdetak. Sepupu Aeghar?? Kenapa aku tidak bisa lari dari bayang-bayang lelaki itu?!!! "Hai Jade, aku mendengar banyak tentangmu, akhirnya aku bisa bertemu langsung denganmu." Sesaat kemudian, aku melihat Liam merangkul Victoria, mereka saling menatap penuh cinta, lalu Liam mengecup bibir gadis itu singkat. Melihat betapa mereka terlihat sangat mencintai satu dengan yang lainnya, aku tahu bahwa mereka adalah "mate" "Seperti dugaanmu, Little Princess, dia adalah mateku, kami bertemu satu tahun yang lalu, saat aku berusaha menyusup ke Goldennight." Terdengar masuk akal. Lalu aku tersenyum kearah Victoria. Dia tidak ada hubungannya dengan masalahku dan Aeghar. Melihat Liam bahagia, aku turut bahagia dengannya. Tampaknya dia juga gadis yang baik. Sungguh aku senang karena akhirnya Liam menemukan matenya. "Jadi kalian sudah menikah?" Tanyaku Keduanya saling menatap lagi, membuatku menggeram penuh kecemburuan, ah tepatnya Nymeria yang cemburu. Dia menginginkan matenya setengah mati. "Secepatnya, setelah kita menyelesaikan urusan Pack, Little Piggy" Balas Liam dengan senyuman hangat diwajahnya kita tidak seberuntung itu.... Nymeria melenguh didalam sana. "Lebih baik kau beristirahat dulu, kau tahu aku sudah membersihkan kamarmu" Lionel merangkulku, lalu tersenyum padaku. Aku menoleh padanya, dan kurasakan seharusnya aku memiliki mate seperti Lionel, dia lelaki yang baik dan dia tidak akan pernah menyakitiku. "Lionel benar, saying," imbuh Daisy, "Aku akan membuatkan makan malam special khusus untukmu!!" Lanjutnya antusias. Tapi aku masih penasaran, dimana Haemin? Bukankah Lee Sun mengatakan bahwa Haemin juga ada disini. "Aku akan menjemput Haemin, dia akan marah jika tahu kau pulang tapi saat dia sedang diluar." Abraham seolah mengerti apa yang aku cari. Pantas saja, Haemin tidak ada. Kami pun segera masuk ke dalan rumah. Suasana rumah ini masih sama seperti terakhir kali aku meninggalkannya. Hanya saja, saat ini ada beberapa mainan berbentuk mobil truk besar dan robot berserakan di lantai. Apakah keluarga Paman Darren pindah kemari? Aku benar-benar melewatkan banyak hal. "Jade…" Liam memanggilku dengan serius sesaat aku akan menaiki tangga. Aku berhenti dan menoleh padanya. "Rapat sebelum makan malam, jadi kau harus beristirahat sekarang, aku akan memanggilmu nanti." katanya, kemudian aku naik ke kamarku ditemani oleh Lionel. Lionel membantuku membuka pintu, aku melihat kamarku masih sama. Hanya saja, aroma Lionel dan Liam begitu kuat disini. Aku menoleh padanya, dan kulihat wajah Lionel merona seolah ia baru saja tertangkap basah. "Setiap kali merindukanmu, aku selalu kemari," katanya tersipu, aku ingin tertawa namun melihatnya seperti itu pasti sulit baginya. "Maafkan aku karena aku tidak berbuat apa-apa untukmu, aku..." Demi Dewi Bulan, lelaki ini akan menangis! Aku segera memeluknya, dan menepuk pundaknya.   "Aku baik-baik saja sekarang, kau tidak perlu khawatir, aku sudah kembali" kataku. Lionel melonggarkan pelukan kami, ia menatapku dengan intens. Lalu mengusap wajahku. "Kau kurus sekali, berjanjilah kau akan banyak makan." "Baiklah aku berjanji" Aku tertawa, namun sesaat kemudian Lionel mulai mengendus-endus. Keningnya berkerut dan alisnya tertaut. Ia sedang menganalisa sesuatu. "Kenapa tubuhmu beraroma wolfsbane, dan..." Ia tampak berfikir, aku tahu penciumannya juga sangat tajam, “jadi kata-kata pria itu benar? kau memang matenya?” Aku tahu siapa yang dimaksud oleh Lionel, helaan nafasku lolos begitu saja. "Cerita yang panjang Tuan Melankolis, sekarang biarkan aku beristirahat, aku akan menceritakannya padamu nanti," kataku sembari mengusap kepala Lionel. "As You Wish, My Princess." Balas Lionel, kemudian ia pergi dan meninggalkanku di kamarku sendiri. Berjalan masuk ke dalam kamar, aku mulai dengan membuka tirai yang menutupi dinding kaca kamar ini. Terlihat jelas pemandangan di luar kamarku, hutan, dan letak Kingdom yang lumayan dari Pack House. Mengingatkanku pada Aeghar. Tanpa sadar aku melarikan tanganku ke leher tempat dimana Aeghar memberikan Imprint padaku. Rasanya masih hangat, tapi rasa sakit yang kurasakan lebih terasa. Aku kemudian duduk di atas ranjangku, menghela nafas sembari menyentuh pelan bagian punggungku. Luka-luka ini memang membaik tapi masih menimbulkan rasa perih, dan ya! aku menahannya. Rasa lelah menggelayutiku, aku tidak tahu sekarang jam berapa. Akan tetapi, langit tampak mulai senja. Aku mengerjap beberapa kali lalu menguap. Ahh, berada di rumah rasanya sangat menyenangkan sekali. Tidak perlu khawatir apabila kau tidur akan ada seseorang yang membangunkanmu dengan kasar, atau menyiramkan air padamu. Di rumah, semua kekhawatiranku menghilang begitu saja. ***   Aeghar's POV "Uhuukk!" ini sudah entah yang keberapa kali, aku terbatuk dan memuntahkan darah. Dokter yang berada di sampingku dengan sigap membantuku membersihkan darah yang keluar dari mulut ini. Ini adalah efek dari Lightgrass, herbal yang digunakan untuk menetralisir Wolfsbane. Berkat Samuel aku harus melewati ini semua, setelah aku menceritakan apa yang menimpa Jade, dia membawa dokter beserta obatnya, dan beginilah jadinya. "Kapan efeknya akan berhenti?" Tanyaku pada dokter, aku sudah kesal dengan efek samping herbal ini. Jika aku saja begini, lalu bagaimana dengan gadis itu nanti? "Efek samping ini tidak bisa di prediksi Alpha." Kata Dokter itu, andai saja paman Ben ada disini. "Kau membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak." gerutuku kesal. "Ini semua salahmu, Sam!" aku menunjuk Samuel yang menatapku dengan serius. "Aku hanya melakukan yang harus aku lakukan, siapa yang tahu kau akan mengalami hal ini." jawabnya acuh tak acuh. "Sudahlah, kalian pergilah aku ingin beristirahat!" perintahku. "Saya akan disini untuk berjaga." Suara perawat yang menemani dokter itu mengusik pendengaranku, aku bukan anak kecil yang harus dijaga seperti ini. "Keluar dari kamarku!" Ini perintah karena aku menggunakan Alpha Toneku pada mereka. Tidak ada yang bisa membantah kecuali mereka sedang ingin bunuh diri. Aku membaringkan diri, dan memiringkan tubuhku memunggungi semua orang. Aku ingin segera terlelap agar efek samping herbal ini segera hilang. "Alpha, saya mengingatkan bahwa jika efeknya terlalu kuat, bisa jadi anda akan mengalami Halusinasi, itu sebab-” Aku memotong ucapan dokter tersebut. "Pergilah!!!" Balasku tanpa menoleh padanya. Aku mendengar helaan nafas si dokter itu. Lalu suara langkah kaki yang meninggalkan kamarku.  Diam sesaat, aku mengambil nafas dalam-dalam. Alasanku, membuat mereka pergi adalah aku tidak ingin aroma mate-ku tercampur dengan aroma mereka. Aku ingin menikmatinya sendiri, mungkin aku sudah gila karena menginginkannya berada disini, diranjangku, dipelukanku. Benar, sepertinya otakku ini memang sudah gila. Tidak pernah sekali pun aku menginginkan seseorang seburuk ini. "Aeghar..." Sekarang aku seperti mendengar suaranya. Demi Dewi Bulan, ini pasti Halusinasi dari efek samping Lightgrass. "Aeghar sayang" benar-benar halusinasi, gadis bodoh itu tak mungkin memanggilku seperti itu.  Tapi aku merasakan sebuah tangan menyentuh tubuhku, perlahan. Jantungku tiba-tiba berdebar dengan kencang. Aku menoleh, lalu kudapati wajah itu tersenyum padaku, mata hijaunya berkilau cerah penuh kebahagiaan. Ia tampak seperti seorang dewi. "Jade, apa ini kau??" Ia hanya tersenyum, dengan aku yang duduk untuk memosisikan diriku. Aku merengkuh wajahnya yang tersenyum memastikan bahwa gadis itu benar-benar di sampingku.   "Ini benar-benar kau" Aku memeluknya, aku tidak ingin melepaskannya. Tubuhnya terasa hangat sekali, ia membalas pelukanku. Siapa yang menyangka. Setelah melonggarkan pelukannya, aku menatap wajahnya lekat-lekat. Aku melihatnya, perlahan ia mencondongkan tubuhnya kearahku, wajahnya mendekati wajahku, lalu ia mulai mencium bibirku. Jade mencium bibirku!!! Aku hampir lupa untuk bernafas karena terkejut. Tidak kusangka ia akan seagresif ini, bibir mungilnya mulai melumat bibirku, aku menikmatinya. Ia menggigit bibir bawahku, menjilatnya penuh gairah. Aku tidak tahan lagi, kurengkuh pinggangnya agar ia lebih mendekat padaku, aku membalas ciumannya, melumat bibir ranumnya yang terasa begitu manis. Ciuman ini semakin panas, hingga nafas kami terengah-engah. Aku melepas ciuman kami, dan menatapnya intens. Mata hijaunya tampak begitu gelap tertutupi oleh gairah, wajahnya merona merah. "Aku menginginkanmu, Aeghar" Bisiknya dengan suara yang serak. "Jadilah milikku sepenuhnya." lanjutnya lagi, otakku tak bisa menolaknya. Aku juga menginginkannya jadi milikku sepenuhnya. Dia hanya milikku!! *** Jade's POV Aku merasakan tubuhku terguncang pelan tapi membuatku lekas terbangun. Penyiksaan yang aku alami membuatku menjadi lebih waspada. Aku langsung terduduk, dan melihat wajah orang uang mengusik tidurku terkejut. "Wow wow, tenang, Little Piggy." Suara Lionel menenangkanku. Aku segera menghela nafas lega, lalu menyandarkan tubuhku di kepala ranjang. "Ada apa?" Tanyaku perlahan sembari menata rambutku yang pasti tampak acak-acakan. Lionel menahan tanganku, lalu menurunkannya, ia mengusap rambutku. "Apa yang terjadi padamu selama ini Jade?" tanyanya dengan suara yang hampir seperti bisikan. Aku menunduk, aku tidak ingin dia mendengar cerita kelamku, semua penyiksaanku, tapi.. "Hey hey... Tidak apa-apa jika kau tidak mau menceritakannya sekarang." Tangan Lionel mengusap pipiku, yang kutebak airmataku pasti mengalir tanpa meminta ijin dariku. "Aku hanya butuh waktu, semuanya berbeda sekarang." kataku. Lionel memelukku, mengusap punggungku yang terasa perih. Erangan lirih berhasil lolos dari mulutku. Membuat Lionel melepaskan pelukannya dan menatapku penuh kekhawatiran.   "Ada apa? Kau kesakitan?" "Bisakah kau berpura-pura tidak mengetahui apapun? Setelah pertemuan Pack aku akan menceritakan semuanya?" terdengar seperti tawaran yang menarik pastinya. Lionel menilai wajahku, dan ia tampak kesal, meski begitu ia tetap mengangguk. "Baiklah, kalau begitu lebih baik kau bersiap untuk makan malam, steik buatan Daisy pasti akan membuatmu tak bisa berhenti makan." Aku mengangguk, lalu beranjak dari ranjang kekamar mandi. Di depan walknin closet, Perlahan aku membuka pakaianku. Menatap punggungku di cermin. Bekas sayatan ini akan membekas, mereka berhasil jika menginginkan aku terus mengingat penyiksaan itu. Menghela nafas, setidaknya kini aku jauh darinya. Dari semua orang psikopat itu. Setelah memanjakan diriku dengan air hangat, aku membalut tubuhku dengan handuk lalu keluar. Langkahku terhenti saat Lionel rupanya belum beranjak dari kamarku. Aku tidak bisa melangkah lebih jauh atau dia akan melihat semua bekas luka di punggungku. "Demi Dewi, kau masih disini?" Ujarku mencoba setenang mungkin. Pria itu tersenyum aneh kearahku, ia kemudian beranjak dari ranjangku. "Ini seperti kebiasaanku berada disini." "Aku akan selalu ada di sini Lionel, lebih baik kau tunggu aku di bawah" Dia mengangkat bahunya acuh lalu berjalan pergi. Aku menghela nafas lega, saat ia sudah keluar dari kamarku. Aku berjalan ke tempat pakaianku berada, aku membuka handukku dan hendak memakai t-shirt longgarku. Hingga tiba-tiba pintu kamarku terbuka. "Ohya Jade aku mele-" Suara Lionel menggantung bersamaan denganku yang menoleh dan terkejut. Aku bisa lihat, matanya melebar melihatku, lebih tepatnya melihat luka di punggungku. Segera aku memakai kaos longgar ini untuk menutupinya. "Kau mengejutkanku." Gerutuku "Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Ros." Dia memanggilku dengan panggilannya untukku saat kami masih kecil, berarti ia sedang menuntut dan sangat serius akan hal itu. Aku berjalan mendekatinya. "Semuanya, akan aku ceritakan nanti." janjiku padanya. Lalu kami berdua turun ke lantai dasar. Terdengar sangat ramai sekali, karena yang kuketahui rumah ini diisi oleh Pack yang lain juga. Lalu keberadaan Rensy yang menambah daftar anak kecil di Pack. "Jade...." Suara cempreng ini aku mengenalnya, seorang gadis berambut pendek dengan higlight pink di sisi kirinya menghambur kearahku yang baru saja menuruni tangga. Ia memelukku dengan erat. "Haemin!!"Pekikku sembari membalas pelukannya. "Aku merindukanmu, sungguh ini luar biasa, akhirnya mereka berhasil membawamu pulang!" Ocehnya. Aku melonggarkan pelukanku, dan tersenyum. "Tentu saja, aku juga merindukanmu dan..." Aku menghirup aroma yang tidak asing, sangat kuat. "Kau dan Abe?" Tanyaku. Wajah cantik Haemin tersipu. "Aku benar-benar ketinggalan banyak cerita." Desahku "Ohh tenang saja! Aku akan menceritakan semuanya padamu." Katanya dengan semangat, gadis ini memang selalu saja penuh energi dan riang. "Makan malam siaap!!" Suara Daisy dari ruang makan terdengar sangat keras. Semua orang berlomba untuk ke ruang makan. Tentu saja karena masakan Daisy adalah yang terbaik. "Ayo, atau kita hanya akan kebagian sisa." ujar Haemin. Ia menarik tanganku lalu setengah berlari ke ruang makan. Semua orang sudah berkumpul disana. Aku melihat Liam duduk di ujung meja makan kami yang panjang. Lalu di sisi kirinya Abraham, di sisi kanannya Victoria yang tampak kagum dengan Liam, pandangan mata mereka tak pernah lepas. Paman Darren duduk di samping Liam, lalu Rensy dengan tenang menantk Daisy menyiapkan semua makanan. Haemin mengajakku duduk, namun aku kembali berdiri. Aku pergi ke dapur dan membantu Daisy. Rasanya aneh, jika hanya Daisy yang menyiapkan makanan. Bagaimana pun juga Daisy adalah tamu di sini. "Makanannya terlihat enak." kataku "Kau harus mencicipinya setelah ini." Aku mengambil beberapa piring yang terisi dengan daging. Meletakkannya ke meja. Membantu menyiapkan kepada semua orang. "Wah, sangat menakjubkan melihatmu seperti ini." ujar Lee Sun sembari mengacak rambutku. "Kau akan melihatnya setiap saat." balasku. "Tidak akan bosan." Balasnya sembari mengambil steik di mejanya. Setelah semua tersaji, aku kembali duduk di samping Haemin. Semua orang makan dengan khidmat. Hingga Liam bersuara. "Pertemuan setelah makan malam" Katanya dengan tegas.   "Daisy, makanannya sangat lezat." Lanjutnya lagi dengan tersenyum lalu ia beranjak pergi. Ini pertama kali aku melihat Liam menjadi begitu dingin. Empat tahun mungkin sudah merubahnya. Demi Dewi, siapa yang tidak kan berubah dalam waktu begitu panjang. Aku menatap steik yang tinggal separuh di piringku. Melihat, Haemin beranjak membawa piringnya yang masih cukup penuh, lalu satu persatu mereka meninggalkan meja makan. Suasanannya menjadi semakin canggung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD