Chapter 9: Let Her Go

2978 Words
Jade's POV   Ruang pertemuan ini tidak berubah sama sekali, masih bernuansa rustic. Meja kayu berbentuk oval berada ditengah terlihat sangat ikonik. Semua orang sudah berkumpul, semua Alpha dari beberapa Pack, anggota Pack, dan tetua yang rupanya masih hidup. Beberapa anggota Pack, memberiku selamat karena aku telah kembali. Namun ada juga beberapa orang yang melihatku dengan tatapan yang berarti aku ini adalah penyebab marabahaya. "Aku tahu kau memang Putri Alpha terdahulu, tapi apa yang kulihat selama ini kau hanya membahayakan kami semua." ujar seorang gadis berambut pirang dengan mata abu-abu pucat. Dia tidak berasal dari Packku, mungkin dari Pack milik Paman Darren. Aku tidak mengerti, aku juga tidak tahu apa yang telah terjadi selama empat tahun ini. Aku tidak memiliki petunjuk sama sekali. "Jangan dengarkan." bisik seseorang yang membuatku merinding karena begitu tiba-tiba. Aku menoleh dan melihat Lee Sun berdiri disampingku. Ia menyeringai kearahku, lalu merangkulku dan mengajakku berjalan mendekati tempat Liam yang tengah asik berbincang dengan Paman Darren. Aku tahu, Liam melirik kearahku sebentar, ia mengakhiri obrolannya dengan Paman Darren kemudian berdiri. "Perhatian." ucapnya dengan Alpha Tone yang tegas dan penuh wibawa. Aku melihat semua orang terlihat patuh, mereka diam dengan khidmat memperhatikan Liam "Selamat malam semuanya, saya Alpha Liam Alexander memiliki beberapa pemberitahuan untuk kalian," katanya, ia berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Lalu menoleh padaku dan tsrsenyum penuh kehangatan padaku. "Pertama, kita telah berhasil membawa Adikku keluar dari Kingdom yang mana itu adalah tujuan kita selama ini" Ujarnya, dan aku mendengar gemuruh tepuk tangan semua orang sampai Liam.mengangkat tangannya memberi pertanda untuk perhatian. "Yang kedua..." Aku mendengar keraguan dari nada bicaranya, lalu Liam menoleh padaku lagi, kali ini ia menatapku dengan tatapan penuh permohonan maaf? "Sebelum membawa Jade kembali, ada beberapa persyaratan yang telah saya, Alpha Darren dan Alpha Lee Sun sepakati bersama Alpha Aeghar." Ujar Liam, aku merasakan perasaan yang tidak enak. Apa yang sebelumnya mereka bicarakan dan aku tidak tahu? Kenapa Liam tidak membicarakan hal ini padaku sebelumnya. "Perjanjian itu berisi tentang, Abraham akan diangkat sebagai Beta di Kingdom, selamat untuk Abraham." Lagi-lagi gemuruh tepuk tangan mengudara dan memenuhi seisi ruangan. Setelah beberapa saat mereka kembali khidmat. "Lalu, kita semua mengetahui bahwa Jade adalah calon Luna Queen, dan akan segera dinobatkan oleh Kingdom." Aku benar-benar terkejut, Liam menyetujui kesepakatan itu tanpa memberitahuku? Dia menyetujuinya, yang berarti dia sedang mencoba mengirimku kembali ke tempat terkutuk itu. Aku tiba-tiba berdiri, menatap semua orang yang terkejut dengan reaksiku. "Tidak! Aku menolaknya!!" Seruku pada Liam, semua orang tertegun dengan protesku, tapi aku tidak peduli. "Jade tenanglah!" Lee Sun di sampingku mencoba menarikku untuk duduk kembali, tapi aku menangkisnya. "Anda tidak bisa berbuat seenaknya." aku mendengar suara itu dari anggota Pack "Ini adalah hal yang paling baik yang pernah terjadi, kami sudah berkorban untuk membuat anda bebas, bisakah anda berkorban untuk kami?" lanjutnya mencoba memprovokasi. Aku menatap Liam dengan tajam, aku menatap semua orang bergantian. Aku merasa di khianati, hatiku hancur. Argh! Teriakan Nymeria menyentakku, aku merasakan sesuatu yang begitu menyiksa. Perutku seperti baru saja ditendang, aku berlutut kesakitan. Rasa sakit ini menyebar ke seluruh tubuhku, aku ambruk dan meringkuk di lantai. Dia bersama wanita lain!! Ya! Aku tahu, rasa sakit ini hanya kau rasakan saat pasanganmu bersama dengan orang lain. "Jade!!" Lee Sun membalik tubuhku, aku melihat wajahnya yang begitu cemas. Lalu beberapa orang mendekatiku. Tapi tubuhku serasa remuk dan kepalaku berdenyut seperti hendak pecah, ini sangat sakit! Ini sakit sekali! "Bawa dia keruanganku sekarang!" Hanya itu yang kudengar, begitu samar dan akhirnya aku tak mendengar apa-apa lagi. Semuanya gelap gulita, dan aku tenggelam didalamnya. *** Lionel's POV Jantungku seperti diremas saat melihatnya ambruk dan kesakitan, dia begitu lemah. Seandainya saja aku bisa mengambil rasa sakitnya itu, pasti akan kulakukan. Namun aku hanya bisa berdiri di samping Abraham dan yang lainnya, menanti kepastian dari Abraham tentang kondisi Jade, sedangkan gadis itu tidak sadarkan diri dan terlihat begitu rapuh. Abraham berdiri menatap kami satu persatu. Lalu aku mengatakan sesuatu yang membuat suasana semakin kacau. Aku mengatakan bahwa Jade mungkin perlu pengobatan untuk luka di punggungnya. "Bisakah kalian keluar sebentar, biar aku dan Haemin melihat keadaan punggungnya?" Pinta Abraham. Kami semua keluar tapi Liam bergeming. Ia tidak ingin meninggalkan adiknya yang sedang berjuang di dalam sana. "Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana kau tahu?" Tanya Lee Sun yang penasaran. "Aku tidak sengaja melihatnya, demi Dewi, dia di siksa." Jawabku. "Sialan! Kami salah perhitungan" Gerutu Lee Sun sembari memukul tembok. Tak lama kemudian pintu ruangan Abraham terbanting dengan keras. Liam keluar dengan wajah beringas penuh emosi. Urat dikepalanya menonjol dan tangannya mengepal dengan erat. "Kumpulkan semua anggota Pack dan enforce!! Aku tidak akan mengampuni semua orang yang menyiksa adikku!" Katanya, karena aku adalah Third in Commandnya, aku mematuhi perintah Liam, mengumpulkan semua orang. Setelah semua orang berkumpul, Liam yang terlihat sangat kacau dengan nafas yang tak beraturan memberikan perintah untuk mengatur formasi p*********n, yang berarti ia akan menyerang Kingdom. Ia akan melakukan bunuh diri!! "Liam, apakah kau benar-benar akan melakukan p*********n?" Tanyaku padanya. "Pria itu sudah merusak adikku, dia menyiksanya lahir dan batin!" "Apa maksudmu?" "Pria itu tidak pernah mencintai Jade, aku tidak tahu bagaimana peraturab mate ini bagi mereka, tapi dia benar-benar menghancurkan Jade!! Demi Dewi, dia bersama dengan wanita yang bukan matenya dan membuat jade menderita" Jelas Liam padaku. "Dan...." Ia terlihat sangat sedih dan bersalah. Aku tahu, ia merasa gagal sebagai seorang kakak saat ini "Darah Jade dialiri oleh Wolfsbane dan ia disiksa, hingga lukanya tak bisa sembuh dengan sewajarnya." Tanganku terkepal di samping tubuhku. Emosiku memuncak, dan aku merasa hewolvesku ikut menggeram penuh amarah. "Sialan!! Mereka benar-benar biadab! Tak bisa dimaafkan." Liam menepuk pundakku, mencoba menenangkanku yang hampir saja bershift. Aku menghela nafas panjang, lalu menatapnya. "Tenanglah, aku sudah memiliki rencana." kata Liam "Kuharap kau memberitahu Jade rencanamu ini, Alpha." Aku memperingatkan Liam, mengingat bagaimana Reaksi Jade saat pertemuan tadi, ia pasti sedang merasa dihianati.   "Ya, aku mengerti, sekarang biarkan aku bicara dengan para Gamma, kembalilah dan temani Jade!" perintah Liam padaku. Aku mengangguk kemudian kembali ke ruangan Abraham. Masih ada Lee Sun yang tampak khawatir dengan menggigiti kuku jarinya, dan Haemin yang membantu memulihkan Jade, lalu ada Victoria yang terus memperhatikan Jade, pandangannya tak lepas sedikitoun dari Jade. "Bagaimana keadaannya?" Tanyaku Abraham mendongak melihatku, wajahnya terlihat lelah. "Keadaanya sudah membaik." balasnya,"Saat ini aku sedang berusaha untuk menawar wolfsbane dari darahnya." "Tapi ini hampir mustahil," Haemin menyela. Ia berdiri menghadap padaku. Tak ada kebohongan dari wajahnya. Dari apa yang aku pelajari, memang wolfsbane sangat sulit untuk ditawar. Jika pun bisa, harus menggunakan herba khusus. Sedangkan Pack kami tidak memiliki persediaan herba itu. "Aku sudah berusaha sebisa mungkin." Abraham mendesah, ia pasti sangat putus asa saat ini. "Ku dengar herba itu Ada di Kingdom, jika kita kesana dan memintanya pada Alpha King, mungkin bisa membantu." Haemin menyarankan. "Si b******k itu tidak akan dengan mudah memberikannya," Timpal Lee Sun. "Baginya, semua hal memiliki harga." "Aku akan mencoba bicara dengan sepupuku." Akhirnya Victoria bersuara.  Kami semua menatapnya, ia terlihat sungguh-sungguh ingin membantu, dan mungkin satu-satunya harapan kami. "Mungkin dia akan mendengarkanku, bagaimana pun juga Jade adalah matenya." Victoria meyakinkan, ia masih menatap Jade dengan iba. Ia kemudian beranjak pergi dari ruangan itu untuk menemui Liam. Sesaat kemudian, Aku melihat pergerakan dari tubuh Jade, tangannya bergerak-gerak sesaat, lalu matanya mulai membuka perlahan. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu melenguh, ia menatap Abraham dengan kening berkerut dalam. "Kau sudah sadar." Haemin tampak senang, aku bisa merasakan kelegaannya. Begitu pula denganku. "Dimana aku?" Tanyanya, saat ia menyadari tidak berada di kamarnya. Sesaat aku melihat kesedihan terpancar dari matanya. "Di ruanganku, apa yang kau rasakan saat ini??" Tanya Abraham. "Lelah, aku sangat lelah." balasnya dengan lemah. Aku hanya bisa memandangnya. "Baiklah, Little Piggy, beristirahatlah" Sahut Lee Sun. Tiba-tiba saja Jade duduk, membuat semua orang terkejut dan heboh. "Apa yang kau lakukan?!" Hardikku, entah kenapa suaraku meninggi. Aku hanya khawatir terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Alhasil, semua orang melihatku dengan tatapan 'APA-YANG-KAU-LAKUKAN' "Kau masih terlalu lemah, beristirahatlah disini." Hae Min menyarankan, dia benar. Ada baiknya dia tetap berada disini. Abraham bisa menjaganya. Beberapa saat kami tak beranjak sedikitpun. Kami khawatir dengan keadaan Jade yang tidak stabil. Apalagi dengan racun yang kini sedang mengalir di aliran darahnya. Tapi, sepertinya Jade benar-benar tidak ingin di ganggu. Dia memutar tubuhnya memunggungi kami semua. Satu persatu Abraham, Di susul oleh Haemin lalu Lee Sun yang menarikku dengan paksa karena aku memang tidak berniat meninggalkan Jade, pada akhirnya kami keluar untuk memberikannya ruang. ***   Aeghar's POV Langit terlihat abu-abu dan sepertinya mendung ini akan bertahan lama, begitu juga dengan rintik gerimis yang kurasa tak ada niatan untuk berhenti.  Dari ruanganku, aku bisa melihat tempat latihan semua prajurit yang dilatih, lalu lalang para pelayan, dan keriuhan lainnya. Kingdom ini sangat ramai, tapi aku merasa kesepian. Ada sesuatu dalam diriku yang menuntut untuk di penuhi. Aku menghela nafas berat, mencoba rileks tapi hatiku tak kunjung tenang. Aku terus saja gelisah, seolah aku akan menghadapi hal yang buruk. Suara pintu terbanting mengejutkanku, aku tidak repot-repot menebaknya karena itu pasti Samuel. Laki-laki itu lebih keras kepala dibanding denganku, aku memintanya untuk kembali ke Pack dia malah tetap tinggal disampingku dengan alasan keselamatan. Di sanalah dia berada, menatapku gelisah, dengan nafas yang tidak teratur, ia kemudian berjalan mendekatiku dengan sebuah perkamen cokelat di tangan kanannya. Kutebak itu bukan kabar baik. "Ada apa, kenapa tergesa-gesa seperti itu?" tanyaku. "Kau dihianati!!" katanya, berhasil membuat alisku berkerut dalam. Samuel menyodorkan perkamen itu kepadaku. Setelah kuambil, aku membacanya dengan seksama. Ini adalah pengajuan perang.  Lightshade Pack menantang Kingdom untuk berperang! Mereka gila, ini benar-benar gila. Aku meremas perkamen itu kemudian beranjak dengan langkah yang terburu-buru. Aku tidak bisa membiarkan mereka membodohiku sesuka hatinya. Akan aku tunjukkan bahwa mereka telah menantang orang yang salah. Langkahku terhenti dengan tiba-tiba setelah aku hampir menabrak tubuh mungil yang menghadang pintu kamarku. "Hey, Aeg! Relax!" katanya, aku menatap iris cokelat almondnya, Sepupuku, Victoria. Alisku terangkat begitu saja, kenapa dia ada disini? Seharusnya di ada nan jauh di Pack kami. Wajahnya pun tampak cemas. "Aku sedang tidak punya waktu saat ini, V" Ujarku dan beranjak pergi, namun tangannya menahan lenganku. "Meskipun untuk mendengar tentang Jade?" Aku memutar mataku, kabar apa lagi yang harus ku dengar sekarang. Sedangkan diluar sana kakak Jade sedang menyiapkan p*********n pada Kingdom. "Apa pedulimu?" tanyaku padanya, karena kufikir dia tidak akan peduli dengan masalah percintaanku. "Dasar keras kepala! Aku kemari atas nama Jade, karena dia akan menjadi adik iparku, begitu juga denganmu!" Satu informasi yang membuatku bingung. Aku menutup mataku sejenak, mengambil nafas lalu membukanya kembali dan menatap Victoria. "Jadi bagaimana ceritanya?" "Ceritaku cukup panjang, kau punya waktu?" tanyanya dengan sarkas. "Lupakan bagian tentangmu, ini soal Jade, ada apa dengannya? Apa dia dan kakaknya telah puas membodohiku?" Emosiku hampir tak terkendali jika mengingat kembali isi surat itu. "Dia sekarat." Dua kata dari mulut mungil Victoria yang berhasil membuat jantungku hampir berhenti berdetak. mateku sekarat? "Bagaimana mungkin? Jangan membodohiku?!" "Setelah pertemuan rapat, Dia jatuh collapse, dia mengerang kesakitan dan yang aku tahu dia kesakitan karena matenya sedang bersama wanita lain." Pandangan mata Victoria penuh penghakiman, ia melihatku dengan tatapan jijik, seolah aku adalah pria terburuk yang lebih buruk dari kotoran. Tapi aku tidak pernah melakukannya. "Sialan! Aku tida-" Kata-kataku mengambang begitu saja. Otakku memutar kembali ingatan saat dokter memberiku penawar untuk wolfsbane, dan aku berhalusinasi bahwa Jade datang padaku. "Dia sulit disembuhkan karena Wolfsbane mengalir di darahnya, ia lemas dan sekarat." Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi, aku berjalan pergi meninggalkan Victoria yang memanggilku. Dalam fikiranku saat ini hanya satu, untuk menemui gadis itu. Melihatnya dengan kepalaku sendiri.  Aku segera pergi ke ruang bawah tanah, dimana semua kendaraan pribadi milik Alpha King di simpan disana. Seorang penjaga menyapaku, aku berhenti, menatapnya sejenak. "Beritahu, Samuel untuk membawa dokter Kingdom ke Lightshade Pack dengan penawar wolfsbane!" Perintahku, dan penjaga itu mengangguk lalu membukakan pintu ruang itu untukku. Mengambil sebuah kunci, aku segera mengambil sebuah motor besar berwarna hitam. Mengendarai itu dengan kecepatan tinggi, aku menembus jalanan hutan. Tidak ada yang lain dalam fikiranku, kecuali Jade. entahlah berapa lama, Aku sudah berada di depan Pack house milik Lightshade Pack. Beberapa orang sepertinya berjaga disekitat rumah itu. Terlihat mereka sedang bersiaga, surat itu tidak main-main kurasa. Sesaat kemudian, aku berjalan mendekat akan tetapi mereka menghadang jalanku. "Siapa Anda?! Pack house kami sedang bersiaga, tidak seorang pun boleh keluar masuk tanpa ijin" "Ja-" "Apa yang kalian lakukan, tidak seharusnya kalian menghalangi tamu terhormat seperti dia!" Aku familiar dengan suaranya, saat aku mencari sumber suara aku melihat Daisy berjalan kearah kami. Dia masih terlihat sangat cantik dan menawan. Umur kami tidak terpaut jauh, dan kami sempat dekat, aku menganggapnya sebagai saudara perempuanku sendiri. Sebelum akhirnya dia menikah dengan Darren. "Pergilah kalian, aku yang urus ini." katanya, dia pantas berperan sebagai pemimpin. Setelah mengusir penjaga itu pergi, Daisy menatapku dengan tatapan kesal. Ia pasti mendengar semua cerita, lagipula ia pasti menyaksikan bagaimana Jade berjuang mempertahankan nyawanya. "Kau dalam masalah besar Bayi besar!" Katanya padaku. "Ya kurasa, aku ingin menemuinya, tunjukan padaku jalannya." ujarku, ia mendesah karena tidak mungkin menghalangiku jika ia mau. Aku cukup keras kepala dan Daisy cukup mengenalku. "Dia ada di ruangan Abraham, tapi sepertinya yang lain tidak akan mengijinkanmu melihat Jade." Daisy memperingatiku, dan apakah aku peduli? Aku adalah Alpha King, maka aku akan mendapatkan yang kumau.  Kami berjalan ke sisi kanan Pack House, rupanya di belakang Pack ini terdapat sebuah vila besar. Yang sebagian besar mungkin digunakan untuk urusan operasional Pack ini. Anggota Pack yang melewati kamo memberi salam pada Daisy tapi tidak padaku, mereka mungkin tidak mengenalku. "Mereka membencimu." ucap Daisy seolah dia bisa membaca fikiranku. Oh, tentu saja. Aku membuat adik Alpha mereka sekarat. Sempurna sekali. Kami memasuki vila, dan pergi ke ruangan yang berada di ujung. Beberapa orang menyadari kedatangan kami, tapi melihatku mereka langsung berdiri waspada. Tatapan mereka tidak bersahabat, khususnya untuk anak lelaki yang rambutnya ikal cokelat kepirangan. "Untuk apa dia disini, Daisy?!" Tentu saja Anak lelaki itu langsung bersuara ketika aku sudah beberapa meter di depannya. "Tenang Lionel, dia ingin melihat Jade." "Persetan dengannya!!" Lionel maju kearahku. Ia mencengkram kerah bajuku. Aku bisa merasakan tubuhnya mulai panas, jika ia tidak mengatur emosinya maka serigalanya akan mengambil alih pastinya. Lee Sun menahan Lionel, mencoba menariknya agar menjauh dariku. "Tenangkan dirimu sobat!" Lee Sun masih berusaha. "Aku akan membunuhnya! Dia tidak layak menemui Jade!" bentaknya tepat diwajahku. "Aku akan mengbabisinya!!!" Lee Sun di bantu oleh Haemin sigadis korea yang tubuhnya cukup pendek mencoba membantu. "Kenapa kalian ribut sekali!" Suara serak itu menghentikan Lionel, tangannya bahkan terlepas dari kerahku dan ia mundur selangkah. Aku mencari sumber suara itu, siapa yang bisa mengendalikan anak ini? Dia disana, bersandar pada kusen pintu terlihat pucat, seolah semua dayanya telah habis. Mata kami bertemu, sesaat hening diantara kami hingga aku sadar ia melihatku penuh kedongkolan. Perlahan ia berpaling, dan hendak berbalik. "Tunggu." kataku menahannya, ia menghiraukanku. "Haemin…"Ia memanggil Haemin dengan lemah. "Bantu aku kekamar"   Sialan! Dia sama sekali tidak menganggap keberadaanku. Aku mendahului Haemin meraih bahunya. Aku bisa merasakan tulang bahunya menonjol, astaga dia kehilangan berat badannya. "Lepaskan aku!" Teriaknya dengan susah payah. "Kau dengar dia b******k! Lepaskan dia!" Aku mendengar Lionel masih berusaha. "Beri mereka ruang, Sobat" Lee Sun menengahi. "Lee Sun benar, biarkan mereka bicara untuk menyelesaikan masalahnya." Daisy menambahi. Aku menatap Daisy penuh rasa terimakasih. "Dia yang membuat Jade.menderita, apa kalian tidak sadar!?" "Lionel, aku akan bicara padanya, setelah dia pergi kau bisa kembali." ujar Jade dengan lemah, mendengarnya berbicara seperti itu membuat jantungku terasa sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum, karena tepat di depan mataku dia seolah membuka diri untuk orang lain. Setelah semua orang pergi meninggalkan ruangan ini, Jade menarik diri menjauh dariku. Meski ia tampak hampir roboh, tapi ia memilih berpegangan pada tembok daripada aku. "Untuk apa kau kemari?!" tanyanya terdengar sangat sinis meski suaranya sangat lemah. Aku menghela nafas karena kesal melihatnya yang keras kepala. "Kau bisa duduk di ranjang itu sembari mendengarkan aku" Dia tak menjawab tapi mematuhiku. Dan aku duduk di sampingnya. aku memandanginya tapi pandangannya terus kebawah, seolah lantai itu lebih tampan daripada aku. "Bicaralah, aku ingin segera istirahat." Ucapnya, yang artinya 'enyahlah kau segera!' Kupu-kupu beterbangan di perutku, aku tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya. "Aku mendengar apa yang terjadi, tentang keadaanmu, aku menyesal." "Tidak! Kau tidak menyesal, jadi berhenti berpura-pura." katanya dengan nada yang lebih tinggi dan semua itu dipaksakannya. Aku tak tega melihatnya berjuang meski hanya untuk berbicara. "Aku tidak melakukannya dengan sengaja, aku mengira bahwa dia adalah kau, waktu itu aku sedang dalam pengaruh Lightgrass-" "Tidak perlu menjelaskan semuanya, aku tidak membutuhkannya, jika kau sudah selesai maka kembalilah ke istanamu, dan hiduplah berbahagia dengan pasanganmu." "Tidak, tidak!" Tanganku meraih wajah Jade, mencoba mengarahkannya agar dia menatapku. Entah kenapa aku membutuhkan dia melihat bahwa aku menyesal.   "Percayalah padaku, aku benar-benar menyesal melakukannya tanpa sadar, dan menyakitimu seperti ini, aku..." Tenggorokanku tercekat, aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Hanya saja diriku yang palinh dalam benar-benar mendamba Jade, aku tidak ingin kehilangan dirinya. "Pergilah!" katanya singkat lalu memalingkan wajahnya dariku. "Kenapa Jade? kenapa kau tidak pernah patuh sekali saja padaku, atah mendengarkan hatimu?? Kau tau kita adalah mate, aku tau rasanya saat kita berjauhan, kau pasti tersiksa, aku juga!!" akhirnya aku meluapkan emosiku. "Aku sekarat." Hanya itu katanya. "Jika tidak ada takdir bodoh ini, aku tidak akan seperti ini padamu." lanjutnya lagi dengan susah payah. "Kau membunuh ayahku, tapi tubuh sialanku ini, dan hatiku...." Ia terdiam beberapa saat sampai aku melihat tetes air mata bergulir di pipinya. "Hanya pergilah dari sini, kumohon!" Aku tidak ingin pergi, aku ingin bersama dengannya disini. "Pergilah!" lagi-lagi suara memohonnya menyeruak ke dalam telingaku. Aku menurutinya begitu saja, keluar dari ruangan Abraham dan menutup pintu dibelakangku. Aku bersandar di pintu tersebut, memejamkan mata sejenak. Apakah aku sudah sangat kejam padanya? "Ehm." Seseorang berdehem dan membuatku menoleh, Liam berdiri beberapa langkah di depanku. Ia menatapku tanpa ada rasa hormat dimatanya. Aku memang membuat masalah yang besar. "Apa itu cara kalian? Mengirim sepupuku?" tanyaku sinis. "Jika tidak ada keperluan lain, kau boleh pergi." Kata Liam, "Tarik semua pasukanmu, Liam!" aku mencoba memperingatkannya. "Tidak selama kau masih menginginkan adikku." Disini aku melihat bagaimana keras kepala itu mengalir di darah mereka. Itu sudah menjadi gen turun-temurun. Aku menghela nafas sejenak, aku tidak ingin melepaskan Jade. Tapi kedamaian Kingdom juga sangat penting. "Aku akan melepaskannya." Aku memutuskan. Sudah cukup membuatnya menderita selama ini, kurasa ini waktunya aku melepaskannya. Meski Ghost tidak akan menyepakatinya. "Dia akan tetap jadi mateku, tapi aku akan membiarkannya tinggal disini selama yang dia inginkan." Kataku akhirnya.   "Keputusan yang bijak." balas Liam.   "Sebentar lagi, Samuel akan tiba dengan dokter, ia memiliki lightgrass yang bisa menawar wolfsbane." "Baik, kami akan mempersiapkan semua keperluannya, kau boleh tinggal jika mau." Akhirnya Liam melunak. Aku beranjak pergi, sekarang aku telah kehilangan Jade, kehilangan dirinya saat dia bahkan belum kumiliki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD