Chapter 10: Am I The Queen

3218 Words
Jade's POV   Kepalaku pening, saat aku mencoba meraih cahaya yang tepat ada didepanku. Saat aku benar-benar meraihnya, aku merasa tubuhku tersentak, pandanganku kabur sampai aku mencoba mengerjapnya beberapa kali.  Mencoba mengingat kembali apa yang terakhir kualami.  Dokter dari Kingdom yang datang bersama Samuel dan Abraham memberikanku sebuah ramuan berasal dari lightgrass. Demi apapun, itu akan menjadi terakhir aku meminumnya. Rasanya sungguh tidak enak, sangat pahit dan menyengat di lidah. Setelah itu, aku tidak mengingat lagi apa yang terjadi selanjutnya. Aku mencoba melihat kesekeliling karena cukup gelap, tenggorokanku rasanya kering, aku butuh air. Namun, pandanganku terhenti pada satu titik dimana dia sedang meringkuk di sofa, dengan kepala bersandar di pinggir sofa dan matanya tertutup.   Kenapa dia ada disini? batinku   Aku mencoba bangkit, tubuhku terasa kaku, bisa kuperkirakan mungkin aku tidak sadarkan diri lebih dari satu hari.  Aku berjinjit agar tidak menimbulkan suara, bodohnya kakiku terkilir dan aku ambruk dengan suara yang keras. "Oh Sial!" umpatku "Apa yang kau lakukan!!" Aku mendengar suaranya, ia terbangun. Merasakan jemari hangatnya merengkuh bahuku. Dia membantuku berdiri. Lalu menempatkanku kembali ke ranjang. "Kenapa mencoba pergi? Keadaanmu belum benar-benar pulih." omelnya, aku menatapnya sekilas. Ia terlihat lelah, lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat sangat jelas. Rambutnya yang hitam berantakan, dan jambangnya tumbuh tipis disekitar wajah dan dagunya. Kenapa dia terlihat sangat kacau sekali.   "Apa yang kau lakukan disini?" Aku bersumpah suaraku sangat menjijikkan. "Akan kuambilkan air." Dia beranjak pergi. Aku masih terpekur di tempatku. Kenapa dia yang ada disini? Aku benar-benar tidak berharap bahwa dia lah yang akan kulihat saat pertama kali aku membuka mata. Memangnya dimana Liam? Abraham? Lionel? Atau Victoria? Kenapa Aeghar? Kenapa harus pria itu?   "Ini airnya." Aku tidak menyadari dia kembali, di depanku ia menyodorkan segelas air, aku ragu tapi aku langsung mengambil dan meminumnya. "Hey pelan-pelan!" decaknya. Aku merasa tubuhku menjadi sangat segar, air mengalir melewati tenggorokanku. Tubuhku terasa begitu sehat dan tidak lemah. Nymeria juga merasakannya. "Bagaimana perasaanmu?" Tanya Aeghar, aku menatapnya dengan tajam. Dia masih mempertanyakan perasaanku?! Gila! "Maksudku keadaanmu saat ini." Aghar meralatnya buru-buru, aku melihat ia merasa bersalah telah salah bicara. "Kenapa kau masih ada di sini? Sudah berapa lama?" "Kenapa kau selalu memberikan pertanyaan lain saat aku bertanya padamu?" ia mengangkat sebelah alisnya menuntut jawaban. "Kurasa kau tidak perlu tau, lagipula kau sudah melihatku." balasku. "Dari caramu bicara, kau pasti sudah merasa sehat. Syukurlah, aku bisa tidur sekarang." "Kau belum menjawabku!!" Protesku padanya, tapi Aeghar tidak mengindahkan ku. Ia berpindah kembali ke sofanya dan memejamkan matanya kembali. Kesal, aku kembali membaringkan tubuhku karena dari jam yang aku lihat di dinding ini masih sangat dini hari. Apalagi melihat Aeghar yang begitu mengantuk. Aku mencoba memejamkan mataku dan memasuki alam mimpi. Tapi suara Aeghar menyegarkan otakku kembali. "Aku senang, wajahmu terlihat lebih baik jika darah mengalirinya dengan lancar." Ujarnya, saat kutoleh pria itu tetap memejamkan matanya. Aku hanya mendengus saja. Aku tidak bisa tidur kembali karena membayangkan ada Aeghar yang satu ruangan denganku. Selain itu, aromanya benar-benar menusuk hidungku, membuat sesuatu yang lain menuntut lebih. Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Aku buru-buru duduk, memastikan keberadaan Aeghar. Pria itu tidak ada di tempatnya. Aku menghela nafas lega karenanya. Aku beranjak dari ranjang, rasanya ini sudah saatnya aku kembali ke kamarku sendiri. Aku sudah lebih baik daripada sebelumnya. Saat aku membuka pintu, Liam hendak masuk hingga akupun menabrak tubuhnya yang punya banyak pahatan otot itu. Sigap, Liam meraih pinggangku agar aku tak terjatuh. "Kau mau kemana, Little Piggy?" tanyanya.   "Kembali ke kamarku, aku sudah merasa jauh lebih baik." balasku dengan menyunggingkan senyumanku. "Oh benarkah??" Aku mengangguk seperti anak kecil dihadapannya. "Oiya, apa kau...anu, kenapa dia-" "Ada disini?" Tanya Liam tepat pada sasarannya. Aku merasa panas di sekitar wajahku. Aku hanya mengangguk saja. "Menjagamu, kurasa. Selama empat hari dia tidak beranjak dari sisimu." "Dan kau membiarkannya??" Liam menatap mataku, entah apa yang sedang ia cari. Namun sesaat kemudian, ia menyentuh bahuku dengan kedua tangannya. Mendorongku perlahan masuk ke dalam ruangan Abraham lagi. Kami berdua duduk di sisi ranjang, entah apa yang ingin ia sampaikan padaku. "Dengarkan aku, adik kecil" ia memulai percakapan. Aku hanya mengangkat bahuku. "Kalian berdua adalah mate, di ciptakan untuk satu dengan yang lainnya, kalian tidak bisa terpisah kecuali maut yang memisahkan." "Aku sudah merejectnya, apa yang perlu dilanjutkan, dia juga sudah b******a dengan wanita lain. Kurasa hubungan kami jelas. Dan aku akan menemukan second chance mate-ku" Liam menggeleng perlahan. Aku tahu dia pasti memikirkan hal lain. Jarang sekali Liam berselisih paham denganku. Jika itu terjadi, kebanyakan aku yang keliru. "Aeghar adalah pria yang baik, apa kau pernah memberinya kesempatan sekali saja?" "Aku tidak membutuhkannya." balasku "jangan keras kepala, Jade" Liam menyahut dengan cepat. "Dia membiarkanmu tinggal disini, selama yang kau mau, tapi kurasa dia tidak akan menyerah dengan perihal mate ini" Aku mendesah lega, akhirnya aku bisa terbebas darinya. "Aku akan memperjelas hubunganku dengannya, dan keputusanku akan tetap sama." Ini pertama kalinya kami berdua tidak menemui titik terang. Aku tidak tahu, apa yang sudah Aeghar lakukan sehingga kakakku dengan mudahnya luluh. Padahal yang aku tahu, Liam adalah orang yang sangat pendendam sekali. "Kau harus berfikir baik-baik sebelum menyesal nantinya."   "Aku tid-” "Heeyy, Jadee!!" Seru suara yang sangat aku kenal. Seorang pria bermata sipit itu berhambur kearahku lalu memelukku dengan erat seolah sudah lama tidak berjumpa denganku. "Ternyata dia tidak berbohong, kau sudah sadar!!!" Lee Sun mendorong perlahan, ia memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, terlihat sangat antusias, matanya berbinar seolah baru saja memdapatkan hadiah natal dari sinterklas. "Well, kenapa aku merasa telanjang?" Ujarku, dan membuat Liam berdecak. "Ehmm." Suara Lionel memecah perhatian kami, aku melihat sosoknya sedang bersandar di kusen pintu, sembari menatapku. "Hai…" Sapaku canggung, Lionel tersenyum lebar, kemudian ia berjalan kearahku dan mengacak rambutku. "Oh C'mon, dimana Jade-ku!!" kata Lionel. Aku terkikik lalu memeluknya dengan erat. "Baiklah wahai kalian, aku akan membantu persiapan pestanya, kalian bersenang-senanglah!!!" Liam menginterupsi, lalu beranjak pergi. "Pesta??" Aku menaikkan sebelah alisku menatap Lionel dan Lee Sun bergantian. "Ya, setelah Alpha King memberitahu bahwa kau sadar, Kakakmu sangat antusias menyiapkan pesta-" Pletak! Aku yakin pukulan itu sakit sekali. Tapi, aneh sekali karena Lee Sun adalah seorang Alpha, dan Lionel berani padanya seperti ini. Hanya kami yang berani memukul Lee Sun. "Kau tidak bisa menutup mulutmu ya?" Protes Lionel. "Kenapa?" Balas Lee Sun bersungut "Liam sudah mengatakannya." "Tapi dia tidak mengatakannya untuk Jade." Sahut Lionel. "Dan sekarang kau sudah memberitahunya, dasar i***t!" ejek Lee Sun, dan aku hanya bisa mengusap d**a melihat mereka tidak semakin akur tapi semakin parah. "Cukup kekonyolan hari ini, jadi apa yang harus aku lakukan agar ini tetap menjadi sureprise?" Tanyaku serius. Lionel dan Lee Sun menatapku tak percaya. "Bagaimana kalau tetap disini sampai makan malam?" Usul Lionel "Membosankan, kau ini memang kolot ya!" decak Lee Sun "Memangnya kau punya ide apa?" "Ayo berlari?? Sudah lama kita tidak melakukannya bersama" lanjut Lee Sun. Kedengarannya itu ide yang bagus. Aku juga ingin mencoba berubah. Sudah lama Nymeria terkurung didalam sana. Dia juga tampak sangat antusias dengan ide itu. "Ngomong-ngomong, dimana Hae Min?" Tanyaku. "Ahhh, dia sepertinya tidak ingin menyia-nyiakan waktunya yang tersisa dengan Abraham," balas Lee Sun, aku menatapnya. "Ahh, mereka adalah Mate, Haemin baru mengetahuinya saat peristiwa itu" jelas Lee Sun "Peristiwa itu?" "Ahh, kita bahas nanti saja." Lionel menyela. "My Princess, jangan lupa bawa pakaianmu!" Ia memperingatkanku. °°°°° Aeghar's POV   Melihatnya terlihat jauh lebih sehat, dan kuat dari empat hari lalu membuatku bisa bernafas lega. Apalagi melihat senyumannya yang merekah begitu indah, dan membuat wajahnya jauh lebih cantik dari biasanya. Akan tetapi ada satu sisi hatiku yang terasa sakit, saat ia tertawa dan tersenyum bukan karena diriku tapi karena dua sahabat konyolnya itu. Aku merasa semakin buruk, karena menyadari bahwa aku yang membuatnya berhenti tersenyum.   Dia membenciku, aku tahu itu.   Bukankan ini yang kau mau? Ghost menyindirku. Aku hanya ingin membuatnya bertekuk lutut dihadapanku, bukan menjauh seperti itu.   Kau mencoba memamfaatkannya, apa kau lupa tujuan utamamu? Dengarkan aku i***t, dewi bulan tidak akan pernah merestui rencanamu. Omelnya.   Aku menutup mataku, memutuskan mindlink dengan Ghost, mendengarkannya hanya membiat sakit kepalaku semakin bertambah. Dia tidak membantu dan hanya memperolokku. "Dia memang sangat cantik." Suara ini mengusik ketenangan yang coba kuciptakan. Aku menoleh, dan Liam telah berdiri di sampingku memperhatikan adiknya yang baru saja akan memasukki hutan. " Tidak diragukan lagi," balasku, suaraku serak menahan emosi yang ingin kuluapkan. "Aku menyesalinya, mendekatinya dengan cara yang salah." imbuhku lagi. "Dia mengalami begitu banyak penderitaan, kuharap kau mengerti." "Aku tahu, seandainya saja Paman Ben tidak menghilang, dia akan membantuku." "Paman Ben? Apa kaitannya Paman Ben dengan semua ini?" Liam tampak bingung. Aku menghela nafas, lalu memandangi Liam dengan seksama. Jika dia tidak tahu kebenarannya, bagaimana ia yakin aku bukan pembunuh ayahnya? "Malam itu, aku tidak sendirian, Paman Ben bersamaku, kami menyerang rogue yang melukai Alpha Edward, dan Paman Ben menghilang, setidaknya ia bisa membuktikan bahwa aku tidak membunuh Alpha Edward dan...." aku menggantung kalimatku. "Dan Jade tidak akan salah paham padamu" Liam melanjutkan, aku mendengar ia mendesah. Mungkin karena kekeras kepalaan adiknya. "Jade sangat special, dia mengetahui bahwa aku adalah matenya saat usianya masih 10 tahun, aku tahu dia berbeda dari Shewolf pada umumnya, hanya saja aku sangat bodoh." Liam mengangguk seolah menyetujui jika aku laki-laki yang bodoh. "Ya ya, aku mendengar cerita itu juga. Gadis itu tidak pernah menyembunyikan apapun dariku, hanya saja kau memang sedikit bodoh." balas Liam yang tepat mengenai sasaran. Aku mendesah lagi, sepertinya sudah tidak ada harapan untukku mendapatkan hati Jade. Tapi kali ini aku akan berusaha. "Dimana anak-anak yang lain? Semuanya sudah siap.!!!" Seru Daisy yang menyiapkan makanan untuk pesta malam ini. Aku dan Liam segera merapat ke sumber keriuhan. Beberapa orang mendekorasi ruangan dengan tulisan "Congrats Beta Abe, dan Welcome to the New Life Jade". Sedangkan beberapa orang menyiapkan puluhan jenis makanan di meja makan. Aku membantu Daisy mengangkati semua makanan, namun dia menghentikanku, meminta aku untuk duduk saja. Bagaimana aku bisa bersantai jika semua orang lain sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. "Paman Egg, Paman!" suara nyaring Rensy memekik sembari menarik-narik ujung kaosku. Menunduk aku melihat anak yang tak lebih tinggi dari Pahaku. Ia menatapku sambil menunjukkan balon yang belum di tiup ditangannya. "Hey, Buddy apa kau membutuhkan sesuatu?" "Tiupkan ini untukku." katanya sambil menyorongkan sebuah balon berwarna biru. "Baiklah kalau begitu." Aku berlutut di depannya, mengambil balon tersebut lalu mulai meniupnya. "Ayo lebih besar lagi paman!" Rensy tampak kegirangan melihat perubahan balon yang mulai membuncit. "Bersiap semuanya, Jade dan Abraham datang!" Sebuah suara mengejutkanku hingga aku tersedak, lalu balon yang sudah gemuk itu terlepas dari tanganku dan aku mendapatkan tusukan tajam dari mata Rensy. "Kau payah paman." Rensy kesal. "Oh, Maafkan aku, Rens," kataku menyesal "Akan kutiupkan lagi." bujukku. Tapi Rensy beranjak pergi dengan kekecewaan. Aku berdiri dan melihat semua orang berjejer di bawah tulisan besar yang berwarna-warni itu. Mereka tampak antusias menunggu kedatangan dua orang yang entah kapan datangnya. "Jangan seperti seorang yang aneh, bergabunglah dengan kami." Victoria menarik tanganku hingga aku berbaur dengan mereka. Memasang wajah antusias. "Kenapa mereka lama sekali," Keluh Daisy "Rens, tolong lihat dari jendela." Perintahnya pada anaknya. Rensy berlari menuju jendela, ia membuka sedikit tirai dan mengintip. Sesaat kemudian ia berlari lagi ke arah kami. "Mereka datang!" bisiknya. Sesaat kemudian pintu terbuka, lalu bersoraklah mereka, beberapa meniup terompet. Sedangkan wajah mereka berlima tampak sangat terkejut mendapatkan kejutan seperti itu. "Selamaatt!" Teriak semua orang. Pandanganku hanya terfokus pada sosok Jade yang sedang diberikan selamat oleh semua orang secara bergantian. Ia tersenyum begitu lebar,  kebahagiaan menyelimuti dirinya, hingga ia tampak bersinar. Aku tidak pernah melihatnya sebahagia ini. "Kau masih akan tetap disini?" Suara Victoria menganggu lamunanku. Aku menoleh, ia berdiri disampingku lalu memberikanku sebuah gelas minuman. Aku menenggaknya hingga habis. "Dia tidak akan senang melihatku." balasku, "Kau belum mencobanya." Victoria menyenggol bahuku, menantangku. Aku beranjak pergi meninggalkan Victoria dan semua kericuhan ini, dan pergi ke dapur. Aku tidak bisa merusak kebahagiaan Jade.   "Perhatian-perhatian semuanya...." Suara Liam menarik perhatian semua orang. "Pertama-pertama, Aku mengucapkan selamat kepada Abraham karena akan segera menjadi Beta King di Bloodmon Kingdom" Lanjutnya, semua orang bertepuk tangan. "Dan untuk adikku yercinta, yang sudah sembuh dan bisa menjalani hari-harinya seperti biasa, kami merindukanmu Little Piggy" ujarnya, aku melihat Jade tersenyum bahagia. "Selanjutnya, Aku ingin mengucapkan banyak terimakasih pada Alpha King Aeghar Black, yang sudah mempercayakan tugas penting kepada Abraham dan membantu penyembuhan Jade, dia adalah pemimpin yang baik dan penuh pertimbangan." Lalu aku merasakan semua mata tertuju padaku. Sesaat kemudian aku mendengar tepukan yang keras dan bersorak untukku. "Hidup Alpha Aeghar!! Hidup Alpha Aeghar!!" "Mungkin Alpha Aeghar ingin mengucapkan beberapa kata?!" Liam menunjuk langsung. Aku menatap semua orang, seolah mereka sedang menungguku. Tapi tentu saja kecuali Jade, ia bahkan tak repot-repot memandangku. Segera aku berjalan kearah mereka, menjadi pusat perhatian bukanlah hal yang aku suka. Tapi dari sini aku bisa melihat Jade dengan jelas. Meski ia sibuk bermain Seorang anak gadis yang berambut pirang ikal di pangkuannya. *** Semua orang terlelap di ruangan itu, setelah berpesta semalaman. Aku terbangun karena mendengar suara seseorang yang menyelinap pergi. Saat mataku mulai jelas melihat, aku menangkap sosok Jade yang sedang berjalan kedapur, ia membuka pintu lemari es dan mengambil minuman. Mungkin ia haus. Setelah minum, ia berjalan menaiki tangga. Aku segera bangun dan berjalan kearahnya. Dia menyadari keberadaanku, lalu berhenti dan menoleh saat aku berada satu tangga di bawahnya. "Apa yang kau mau, Tuan Alpha King?" Tanya Jade dengan suara yang berbisik. Untung sebagai werewolf kami memiliki pendengaran yang tajam. Aku menimbang sebelum bicara, lalu menatap matanya yang kehijauan. Ia masih tetap sangat cantik. "Bisakah kita bicara?" akhirnya aku mengatakannya. Jade tampak berfikir, kemudian ia melihat kebelakang punggungku. Menilai situasi mungkin? "Ikuti aku, aku tidak ingin semua orang terbangun gara-gara mendengar perdebatan kita." Alisku terangkat, dia yakin sekali jika kami akan berdebat.  Ia berbalik lalu berjalan kembali menaiki tangga dan aku mengikutinya. Kami pergi ke lantai tiga, dikamarnya. Sesaat kemudian Jade berhenti didepan sebuah pintu kayu dengan tulisan namanya menggantung disana. Kemudian, ia berbalik dan menatapku sembari melipat tangannya.   "Bicara!" satu kata yang kuat dan cukup tegas. "Well," Aku mulai gugup, tanganku meraih kepalaku dan menggaruknya meski tak terasa gatal. Tidak tahu harus memulainya darimana. Dia menungguku, dan aku semakin gugup "Aku minta maaf padamu." ucapku dengan menahan nafas, aku tak berani menatap matanya yang setajam ujung daun pinus itu. "Untuk apa?" Aku memutar mataku, kesal.pada diriku sendiri. Kenapa aku jadi begitu lemah dihadapan gadis ini. "Semuanya, aku tetap membuatku dekat denganku hingga akhirnya kau menderita, seharusnya aku mati agar kau tidak melewati semua penderitaan itu, aku tidak disampingmu untuk melindungimu, aku.. Aku." aku kehabisan kata-kata. "Jika sudah selesai, kau boleh pergi." katanya dingin, ia mulai berbalik. Tapi aku tak bisa melepaskannya begitu saja. Dengan bodohnya, aku menarik lengan Jade, lalu memeluknya. Anehnya, dia tidak melawan. Aku menghirup aromanya, Vanilla dan mawar yang segar. Aku merindukannya, aku mencium puncak kepalanya. Aku menginginkannya lebih dari apapun di dunia ini. Demi Dewi bulan, dia adalah Mateku. "Aku menyesal, aku melakukan semua hal bodoh yang menyakitimu, maafkan aku" bisikku. "Jangan usik hidupku lagi." balasnya dingin, tapi aku merasakan basah di dadaku, apakah Jade menangis? "Aku tidak bisa, Jade, kau adalah mateku, kau adalah Luna Queen, akan begitu selamanya." Ia mendorongku perlahan, dan aku bisa melihat jejak airmata diujung matanya yang memerah. Aku yakin dia menangis, tapi untukku? "Aeghar, jangan membuat semua ini menjadi sulit." katanya, aku tahu memang semua ini sangat sulit baginya. Aku tahu dia menginginkan Mate yang sempurna. Pria yang tidak akan pernah menyakitinya, pria yang tidak akan membuatnya merasakan penderitaan, Pria yang setia, pria yang tidak kejam. "Bisakah kau memberikan aku kesempatan? Sekali saja?" Jade menggeleng, lagi-lagi dia berada dalam penolakan. Tapi aku tahu, hatinya mengatakan hal lain. Dia sedang berperang melawan dirinya sendiri. "Baiklah, jika itu yang kau mau, aku akan menghargainya, tapi aku akan tetap berusaha, aku tidak bisa kehilanganmu begitu saja." janjiku pada akhirnya, "Akan aku buktikan, aku adalah pria yang layak untukmu, My Queen." Sebelum aku pergi, aku melihatnya, aku mencoba menggambarnya dalam fikiranku, aku ingin terus mengingatnya. **** Jade POV Pagi ini suasana Pack House masih tetap ramai, Lee Sun belum kembali ke Packnya. Daisy dan Rensy masih tinggal disini, terimakasih Tuhan. Karena Daisy memiliki tangan malaikat semua makanannya begitu lezat. Sedangkan paman Darren sudah kembali ke London, dia tidak bisa meninggalkan Packnya terlalu lama, dan begitu juga dengan Victoria. Dia adalah anggota Pack yang baru tentu saja, dia Luna kami. Aku tidak melihat keberadaan Aeghar sama sekali, mungkinkah dia sudah pergi? Kapan? Gara-gara pria itu aku tidak bisa memejamkan mata semalaman. Aroma tubuhnya terus tercium dan membuatku semakin menginginkannya. Itu normal, karena aku matenya secara teknik. Masih ingat Tanda Imprint di leherku, yeah! Itu tidak akan pernah memudar kecuali matemu tewas atau, dia memberikan Imprint pada wanita lain. "Alpha Aeghar dimana?" Oh terimakasih Lee Sun, kau merusak moodku hari ini. "Oh, pagi sekali dia kembali ke Kingdom." Jawab Daisy. Aku agak sedikit merasa aneh, saat Daisy menjawab pertanyaan itu. Bagaimana dia tahu, sedangkan orang lain bahkan tidak menyadarinya. Anehnya, tidak ada yang peduli tentang hal itu. "Pagi, Little Piggy!" Lionel mengacak-acak rambutku, lalu duduk disampingku sembari menatapku takjub. Dia tampak bahagia, sekarang dia adalah Beta di Pack kami. "Pagi, My Lion" Balasku, "Oh apa harus ku panggil, Beta Lion?" Godaku padanya. Dia tertawa lalu mengacak lagi rambutku. "Jadi, karena kau sudah tampak sehat, apa yang akan kau lakukan Jade?" Tanya Victoria padaku. "Aku tidak tahu, bukankah sangat terlambat jika kembali ke akademi?" Tanyaku, karena yang aku tahu semua sahabatku sudah lulus sekolah menengah atas, saat ini Lionel sedang melanjutkan kuliah, Lee Sun, Sibuk menjaga Packnya, Haemin juga berkuliah. Sedangkan aku sudah melepaskan dua tahun sekolah menengah atasku. "Oh Sweety, tidak ada kata terlambat untuk sekolah, kau bisa melanjutkan sekolahmu di London jika kau mau." Sahut Daisy. "Keluarga Darren mengelola sebuah yayasan, Sekolah menengah atas mereka diperuntukan untuk anak-anak yang memang pernah berhenti sekolah, tapi aku jamin mereka bukan anak-anak yang bermasalah, karena adik Darren menjadi guru disana." Daisy menjelaskan. "Kedengarannya menarik, bagaimana Little Princess?" Tanya Liam Tentu saja aku akan sangat senang sekali jika diperbolehkan pergi kesekolah lagi. "Boleh?" "Anything." Balas Liam "Sial, apa kau akan meninggalkanku lagi??" Protes Lionel. Aku mengacak rambut pirang ikalnya. "Nanti saat kau menemukan matemu, kau juga akan melupakanku" Lionel menggelengkan kepalanya, dia menolak gagasanku. "Kau tetap yang pertama." "Ngomong-ngomong soal mate, sepertinya aku menemukannya." Lee Sun bersuara. Kami menatapnya, dan menghentikan aktifitas kami sejenak. Wajahnya memerah tampak malu. "Wahh, bagus sekali. Siapa dia?" tanya Victoria memecah keheningan. "Mommy, apa itu mate??" Rensy menyela "Nanti mommy akan jelaskan padamu." Daisy mengusap rambut Rensy. "Dia Putri Seorang gamma, maksudku Gamma Pack ini" Ungkap Lee Sun. Kami tampak berfikir sejenak. Yang aku tahu, Gamma kami, Tuan Anderson hanya memiliki 3 anak. 2 anak laki-laki yang salah satunya menjadi Gamma di Kingdom, dan satunya tetap tinggal di Pack, usia mereka mungkin 21? Aku lupa, dan satu lagi anak perempuan. Seingatku empat tahun yang lalu, dia masih bocah, rambutnya merah dengan jerawat di pipinya, tubuhnya juga cukup gemuk. Aku membayangkan dia saat ini. Tapi aku tak mendapatkan gambarannya. "Demi Tuhan, Dia masih sangat muda." Lanjut Lee Sun. "Kau tidak merejectnya kan?" Tanya Lionel, yang entah kenapa aku merasakan tensinya sedikit memanas. "Tidak! Tentu saja tidak!!" Sambar Lee Sun dengan cepat. "Dia gadis tercantik yang pernah aku temui, matanya sebiru laut mediterania, aku tergila-gila padanya," Lee Sun tampak membayangkan wujud gadis itu, saat itu juga aku tahu dia terobsesi dengan Matenya. "Itulah sebabnya, aku meminta izin Alpha Liam untuk membawa Gloria?" Liam tersedak mendengarnya, ia kemudian menatap Lee Sun dengan tatapan tak percaya. Karena selama ini, Lee Sun sangat suka bermain-main, tapi ia bisa sangat serius juga. "Aku serius." Ujar Lee Sun Frustasi. "Aku juga serius, kau mendapatkan izinku Alpha Lee Sun." Kami semua menghela nafas lega. "Ohya Lionel, kau bantu Jade mempersiapkan untuk ke sekolah barunya." Liam menunjuk Lionel yang tampak tidak suka itu. Aku tahu, aku baru kembali, dalam keadaan yang buruk juga. Dan kini aku harus pergi lagi, pasti membuat Lionel sangat kesal. "Oh C'mon Big Buddy, aku hanya pergi ke London, kau bisa mengunjungiku kapanku kau mau!!" Aku mencoba menghiburnya, tapi sepertinya itu percuma saja. Dia tetap diam, dan tidak seorangpun membantuku. Yasudahlah. Lagipula, mungkin ini kesempatanku untuk menjauh dari Aeghar. Mungkin dengan begini ikatan diantara kami akan memudar, dia akan menemukan second chance mate nya, begitu juga denganku. Berhenti berfikir seperti itu gadis bodoh!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD