Orang Ketiga 1

1017 Words
Tawa renyah terdengar dari gadis yang duduk seorang diri di jok belakang. Sedangkan di kursi depan nya ada dua orang sejoli yang asik membucin sampai-sampai sahabatnya sendiri seperti tidak dianggap tapi Dewi tidak mempermasalahkan itu karena hal seperti ini sudah seperti makanan nya sehari-hari. "By bunda Anggi kapan pulang nya?" Tanya gadis dengan rambut sebahu yang menempel di lengan kekasihnya manja. "Mungkin besok," jawab Marvin singkat. "Mm, yaudah kalau gitu jemput aku besok," pinta Mona. "Ngapain?" "Mau ketemu bunda Anggi lah. Udah kangen banget soalnya," Mona tersenyum mengingat terakhir kali dirinya dan ibu dari pacarnya menghabiskan waktu pergi ke salon melakukan perawatan. "Mau by?" Mona mengedipkan matanya beberapa kali. "Iya by," jawab Marvin dengan senyum singkat. "Dewi mau ikut ketemu bunda Anggi ga besok?" Tanya Mona pada Dewi yang asik seorang diri di belakang. "Ga bisa kayanya." "Loh kenapa?" Tanya Mona. "Ga bisa Mon kan besok weekend gua harus urus keperluan di toko." "Yaudah deh gua sendirian aja." "Lo punya pacar ya sekarang?" Tanya Mona menatap wajah Dewi melalui kaca di dalam mobil. Dewi gelagapan mendengar pertanyaan sahabatnya itu "ga ada." "Alah bohong," Mona menatap Dewi dengan mata menyipit. "Terus kenapa lo senyam-senyum sendiri sambil main hp?" "Lagi liat hal lucu di tik tok Mon," kata Dewi dengan pandangan ke layar ponsel nya. "Gua tau ya gelagat lo itu mirip kaya gua waktu dekat sama Marvin. Lo ingat kan?" Perkataan Mona sontak membuat Dewi terdiam berpikir sebentar. Memang sih jika dipikir-pikir kelakuan nya sekarang hampir mirip dengan Mona waktu lagi kasmaran sama Marvin. "Hayolo benerkan gua?" Mona menatap wajah pias Dewi. "Kasih tau siapa cowok nya," desak Mona. "Ga ada. Gua ga punya pacar," elak Dewi. "Halah bohong dosa loh," Mona menakut-nakuti Dewi. "Emang bener ga bohong gua," Dewi bersikeras. "Terus yang bikin lo senyam-senyum kaya tadi apa?" Tanya Mona sambil memperagakan wajah Dewi. Tiba-tiba ponsel di tangan Dewi berdering muncul nama Alan di layar ponsel nya. Mata Mona memicing menatap layar ponsel Dewi. Lalu Mona menatap tajam wajah Dewi yang memerah melihat layar ponsel nya sendiri. "Lo suka Alan Dew?" Tanya Mona terkejut. Marvin yang dari tadi hanya menyimak ikut terkejut lalu menatap wajah Dewi melalui kaca spion dalam mobil yang memperlihatkan wajah gadis itu yang malu-malu. "Demi apa?" Mona menutup mulutnya. "Tapi, dia sepupu lo," kata Mona semakin kaget mengingat Dewi dan Alan sepupu. "Gua juga bingung Mon," Dewi menatap sahabatnya dengan wajah bingung. "Lo beneran suka sama Alan?" Tanya Mona memastikan. "Ga tau," ujar Dewi sambil menunduk. "Dewi ga ada salahnya lo dekat sama Alan." "Nikah sama sepupu itu boleh boleh aja." "Siapa yang mau nikah?" Tanya Dewi. "Lah nanti ujung-ujung nya pasti nikah kan kalau suka?" Tanya Mona. "Kaya gua sama Marvin. Setelah sama-sama lima tahun sedikit banyak nya pasti ada rencana nikah." "Iya kan by?" Tanya Mona pada Marvin yang memasang wajah lempeng. "By?" Mona menggoyangkan bahu Marvin yang melamun. "Hah?" Marvin menatap Mona. "Kita nanti pasti nikah kan?" Marvin tidak menjawab tapi mengangguk membuat Mona menatap kekasih nya dengan senyum lebar. "Tuh kan." "Lagian lo ga pernah punya pacar kasian gua lo terus-terusan jadi nyamuk gua sama Marvin." "Puyeng kepala gua," Dewi menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Matanya menatap lurus Mona dan Marvin yang sedang berbicang tentang hal-hal random. Sebenarnya hanya Mona yang nyerocos bicara sednagkan Marvin hanya menanggapinya dengan bahasa tubuh khas dirinya. Perkataan Mona ada benarnya memang. Sebenarnya ia juga sudah sangat jenuh melihat pemandangan di depan nya hampir setiap hari. Dari ia dan Mona kelas sepuluh sampai mereka lulus. Melihat kisah cinta sahabatnya dan sedikit banyak nya pernah ikut campur tangan dalam resminya hubungan Mona dan Marvin. Dewi memainkan ujung kerudung nya sambil melihat ke luar jendela. Lalu gadis itu menatap punggung Mona. "Lo beneran kuliah di jogja? " tanya Dewi. "Menurut lo gimana?" Mona mengubah posisinya menjadi menyamping. "Kalo gua terserah lo aja. Kalo itu emang kemauan lo gua dukung," Dewi menatap sahabatnya. "Sebenarnya alasan gua lanjut kuliah di jogja bukan pure gara-gara mau," Mona menatap Marvin. "Terus?" Mona menghela nafas nya lalu tersenyum kecil "gua kasian sama nenek ga ada yang urus di sana sendirian." "Kan ada suster," jawab Marvin. "Beda lah by cara ngerawatnya." "Kalo gua di jogja ada gua yang ngerawat nenek sambil dibantu perawat di sana." "Terus ibu?" "Kalo ibu ada Dewi yang bisa bantu ngerawat dengan sepenuh hati," ujar Mona sambil menatap Dewi dengan wajah terharu. "Jadi gua ga khawatir ninggalin ibu sama lo." "Sepercaya itu lo sama gua?" Tanya Dewi pada Mona. "Iyalah. Kita udah sama-sama dari lama dan gua tau lo itu orang nya gimana," Mona berucap dengan wajah yakin. "Selain nitip ibu sama lo. Gua juga nitip Marvin." Marvin menatap Mona terkejut. "Harus banget jagain pacar lo?" Tanya Dewi tak percaya. "Harus. Biar ga ada yang gatel sama pacar gua yang ganteng ini," Mona mengelus pipi Marvin pelan. "Kalau itu gua ga bisa janji." "Loh kenapa?" Tanya Mona pada Dewi. "Masa iya gua jagain pacar orang," Dewi menatap Mona dengan wajah sebal. "Iya juga ya," Mona tertawa. "Gua juga bakal punya cowok sebentar lagi mana bisa jagain pacar lo," ucap Dewi dengan wajah pongah. "Wah mentang-mentang udah punya gebetan." "Gua beneran Mon," ucap Dewi menatap Mona serius. "Gua juga beneran. Serius," wajah Mona tak kalah serius. "Masa iya gua jagain Marvin," Dewi menatap Marvin tak percaya. "Aku bisa jaga diri sendiri by," Marvin menimpali. "Ga usah nitip-nitipin." "Kamu marah?" Tanya Mona tertawa. "Ga." "Aku janji bakal pulang seminggu sekali buat jengukin ibu sama pacar aku," Mona mencubit gemas pipi Marvin lalu mengecupnya singkat. "Bucin lagi," Dewi memasang wajah muak. "Awas lo kangen sama kebucinan kita nanti." "Dih ngapain juga." "Dua hari lagi gua berangkat." "Hah secepat itu?" Kaget Dewi. "Iya. Karena kemaren gua dapat kabar lagi nenek katanya nanyain gua kangen katanya." "Cepat amat Mon," Dewi masih tidak percaya. "Kenapa mendadak begini?" Tanya Dewi. "Kata siapa mendadak," Mona tersenyum. "Lo udah tau Vin?" Tanya Dewi pada Marvin yang dijawab anggukan oleh lelaki itu. "Wah bener-bener lo ya." "Tenang aja masih ada besok buat habisin waktu sama gua." "Bahagia banget lo." "Tapi Dew gua serius," Mona menatap wajah Dewi. "Iya siapa bilang lo bohong." "Gua serius minta lo jagain Marvin."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD