Bab 21

2002 Words
"Terserah Lo," ucap Daniel tajam. Lalu melanjutkan langkah kakinya. "Eh, Niel. Lo mau ke mana?" tanyaku sambil berusaha mengejarnya. "Ke mana aja. Bukan urusan Lo," jawabnya. "Bukannya gitu. Gue kan pengen ngembaliin jaket yang Lo pinjemin ke gue tadi malam. Kalau gue gak tahu Lo ada di mana, nanti gimana gue ngembaliinnya?" Aku memberikan alasan yang menurutku memang cukup logis, tapi entah bagi Daniel. "Oke, cepat ambil! Gue tunggu di taman belakang sekolah," ucapnya. Yes, akhirnya aku kembali ada waktu untuk bisa berduaan dengan Daniel. Alasan yang cukup sederhana, tapi nyatanya bisa menciptakan sebuah anugerah yang luar biasa. "Oke," ucapku. Aku berlari kecil untuk menuju kelas. Aku ingat, saat makan di kantin tadi, aku belum sempat bayar. Hati kecilku menyuruhku untuk ke kantin dulu sebelum menuju kelas. Ya, paling tidak aku memberitahukan kepada Mbak Ika bahwa tadi aku belum sempat bayar meskipun nanti aku akan bertemu dengan Pasha lagi. Benar saja, Pasha masih ada di situ. Ia pun melihat aku dengan diiringi oleh senyumannya. Aku diam. Tak ingin kubuat seolah-olah aku kembali ke sini untuknya. Tak ingin pula aku memberi harapan ke dia kalau pada akhirnya nanti aku malah akan menyakitinya. Pasha lelaki yang baik. Tak pantas jika aku menyakitinya. Akan tetapi aku juga tidak bisa menerimanya. "Mbak, ini duitnya. Tadi lupa belum bayar," ucapku sambil memberikan selembar uang 10 ribuan kepada Mbak Ika. "Tumben," ucapnya. "Tumben apa?" tanyaku. "Tumben bayar," jawab Mbak Ika. Tentu hal itupun langsung mengundang gelak tawa para lelaki yang sedang berada di sekitar Mbak Ika dan juga aku. *** Dasar penjaga kantin yang menyebalkan. Untungnya aku sedang buru-buru, tadi. Kalau tidak, sudah pasti akan ada perdebatan panjang antara aku dan dia. Kini aku berjalan menuju kelas. Hingga saat sampai di kelas, aku melihat pemandangan yang begitu menyebalkan lagi. Si gadis blasteran, alias Icha binti entah siapa itu sedang berada di sana, duduk dengan santainya sambil bercanda bersama kawan-kawannya. "Toiletnya pindah?" tanyaku tanpa menengok kepada siapapun. Tapi sebenarnya pertanyaan itu untuk Icha. "Hehehe, maaf Shel," ucap Icha. Aku diam dengan tangan yang masih merogoh ke dalam tas untuk mencari jaket itu. "Maaf untuk apa?" tanyaku pura-pura tak mengerti. "Ya tadi itu. Gue lupa gak balik lagi ke kantin," jawabnya. "Yang mana?" tanyaku lagi. "Cih, pura-pura pikun. Pikun beneran syukurin Lo," ucap Icha sudah mulai kesal. "Gak jelas Lo. Ya udah, gue buru-buru, nanti aja ngomongnya," ucapku sambil berjalan cepat keluar dari kelas. Icha, awas saja kau! Ucapku dalam hati. Berani-beraninya ia membuat aku berduaan dengan Pasha. Aku benci hal itu. Tidakkah ia tahu bahwa yang kusukai itu bukan Pasha, melainkan Daniel? Pasha bagiku hanya sekedar teman, Cha. Tapi kenapa kau malah membuatku merasa seakan-akan kau itu sedang menjodohkanku dengan dia? Kalau kau mau, ambillah! Aku tidak mau Pasha. Aku mau Daniel. Cuma itu. Aku kesal dengan Icha. Terlepas dari alasannya bahwa ia lupa untuk kembali ke kantin, aku benar-benar tak bisa menerimanya. Tapi mungkin akan kubalas saja dia nanti. Sekarang yang harus aku lakukan adalah memberikan jaket ini kepada Daniel. Kembali kususuri jalan untuk menuju taman belakang sekolah. Berharap di sana hanya ada Daniel seorang. Sudah kubayangkan betapa romantisnya jika hal itu benar-benar terjadi. Aku duduk berduaan dengan dia di bangku taman sambil menikmati udara segar. Ah, sungguh menyenangkan. "Daniel," panggilku. Kulihat ia sedang duduk sendirian di bangku taman sana. Benar-benar sesuai dengan harapanku. Aku mendekatinya. Seperti ada sesuatu yang menarikku untuk mendekat ke arahnya. Seolah-olah aku dan dia adalah dua kutub magnet yang saling berlawanan. Aku kutub selatan, dan dia kutub utara. "Ini jaket Lo," ucapku sambil memberikan jaket itu padanya sembari duduk di sampingnya. Ia menerimanya. "Oke," jawabnya singkat. "Maaf, gak gue cuci," ucapku lagi. Deretan gigi putih nan berseri pun tak lupa kutampakkan. "Gak apa-apa," jawabnya. Ia kemudian berdiri. Kurasa ia ingin menjauh dariku atau lebih tepatnya ingin pergi dari tempat ini secepatnya. Baru juga aku merasakan kebahagiaan karena harapanku bisa terwujud, tiba-tiba hanya dalam waktu beberapa menit, kebahagiaan itu seketika sirna. Hatiku merasakan sesuatu yang tak bisa kugambarkan. Sesuatu itu hanya bisa kusebut dengan kekecewaan. Bukan, maksudku bukan kekecewaan karena ia mau pergi meninggalkanku. Itu sudah sering aku rasakan dan harusnya aku sudah kebal. Akan tetapi lebih kepada kekecewaan karena realita ini tak seperti ekspektasi yang sedari tadi aku harapkan. "Lo mau ke mana, Niel?" tanyaku. Berharap ia mengurungkan niatnya untuk pergi. "Kelas," jawabnya. "Kenapa gak di sini dulu aja?" tanyaku memelas. "Ada urusan," jawabnya. "Urusan apa? Urusan untuk mendengar dan merasakan semua hinaan dan pembullyan dari teman-teman lo?" tanyaku. Cling! Kira-kira seperti itulah keadaan matanya ketika menatapku jika digambar di dalam sebuah buku komik. Gini-gini juga aku suka membaca. Dalam arti membaca komik. Karena itulah aku tahu. "Maksud Lo apa?" tanyanya. Ah, nampaknya aku tadi sudah salah bicara hingga kini membuat amarahnya muncul. "Emmm.... Gue boleh jujur?" tanyaku balik. "Iya," jawabnya. Kuhela napasku pelan untuk segera membicarakan apa yang ingin kubicarakan. "Gue gak mau Lo dihina dan dibully lagi sama orang lain," ucapku. "Gue juga gak mau Lo terus direndahin sama mereka," lanjutku. Ia diam, tapi tetap menatapku. "Karena itu katakan ke gue, siapa aja yang sering menghina, membully dan merendahkan Lo?" tanyaku. Ia masih diam. Kutunggu saja ia menjawab. Aku tahu harusnya aku tidak melontarkan perkataan bodoh seperti ini. Daniel itu tipe orang yang bisa mengatasi masalahnya sendiri, harusnya aku tidak ikut campur dalam masalahnya. Tapi, aku juga tidak bisa menahan perkataan ini lebih lama lagi. Mungkin ini memang datang dari hati yang tidak ingin melihat maupun mendengar kalau Daniel disakiti oleh orang lain lagi. "Terus Lo mau apa?" tanyanya. "Ya gue.... Gue bisa ngelakuin apa aja. Gue bisa menghadapi mereka, kalau perlu gue minta Papa gue bilang ke kepala sekolah untuk memecat mereka dari sekolahan ini," jawabku panjang lebar. "Gue benci orang yang memanfaatkan pangkatnya untuk menghancurkan orang lain," ucapnya. "Kan demi kebaikan, Niel. Lagian mereka itu kan jahat sama Lo," ucapku. "Gak usah." Ia tetap teguh pada pendiriannya. Benar-benar lelaki yang keras kepala. Aku mendecak pelan. Kucari cara lagi bagaimana untuk bisa membantunya sekaligus untuk bisa berbicara lebih lama dengannya. "Katakan saja pada gue, apa yang harus gue lakukan untuk bisa membantu Lo," ucapku. "Lo beneran mau bantu gue?" tanyanya. "Iya, benar. Katakan saja apa yang harus gue lakukan!" Aku mengangguk dengan perasaan yang cukup senang karena merasa sudah mendapatkan lampu hijau untuk bisa membantunya. "Jangan lakukan apa-apa!" ucapnya. "Maksudnya?" tanyaku. Tentu saja aku bertanya karena aku merasa perkataannya itu terlalu ambigu. "Jangan lakukan apa-apa untuk membantu gue," jelasnya. "Jangan gitu! Gue kan ingin membantu," paksaku. "Kalau Lo ingin membantu, turuti perkataan gue!" ucapnya. Aku tak habis pikir dengan manusia yang satu ini. Kenapa ia begitu sulit menerima bantuan yang aku tawarkan? Apa karena gengsi, tapi apa mungkin? Semoga ada penjelasan lebih lanjut dari dia di kemudian hari. "Tapi.... Lo...." Aku menggantung ucapanku. "Kalau gue mau, gue bisa saja melawan mereka semua." Ia menjawab sambil berjalan pergi dari tempat itu. Perkataan terakhirnya itu kini terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Apa maksudnya itu? Bukankah alasan kenapa ia tidak melawan karena ia memang tak mampu untuk melawan? Tapi kenapa tadi ia mengatakan hal yang berbeda? Aku memang tak pandai menebak. Karena itu aku butuh jawaban langsung. *** Jika orang-orang menyebut aku ini kurang waras karena telah memilih Daniel, bahkan mengejar-ngejarnya, maka aku pun akan menyebut mereka bodoh karena telah menilai Daniel tanpa tahu tentangnya lebih dalam lagi. Entah berapa kali aku harus menyebut kalau Daniel itu tidak seperti anggapan mereka. Daniel tak seburuk itu meski aku tak begitu tahu apa alasan mereka menganggap Daniel seperti sampah. Selepas dari bertemu Daniel, aku pun menuju kelas. Di kelas ternyata sudah ada banyak orang, dan mungkin sudah semuanya berada di kelas, tak terkecuali Pasha. Namun kini ia bersikap sok dingin lagi kepadaku. Heh, saat manusia plin-plan. Saat ku melihat Icha, saat itu juga aku ingin langsung membalas Icha atas apa yang diperlakukannya tadi. Tapi segera kuurungkan keinginanku itu mengingat ada Pasha dan teman-teman yang lain di sini. Selain itu sebentar lagi pasti bel tanda masuk akan berbunyi. Biarlah nanti saja aku membalasnya. Hari ini aku mendapat banyak sekali kenyataan. Tentang Pasha yang menunjukkan rasa sukanya kepadaku meski masih belum berani mengungkapkannya langsung. Tentang Daniel yang sama sekali tak mau menerima bantuan dariku karena alasan tertentu, dan tentang Icha yang seperti sengaja menjodohkan aku dengan Pasha. Dan kini, di saat jam istirahat kedua berbunyi. Mulutku sudah semakin gatal untuk memarahi Icha atas kejadian yang tadi. Ingin sekali aku langsung bilang bahwa aku tidak suka Pasha. Aku cuma suka Daniel, dan itulah satu-satunya. Selama ini aku tidak pernah jatuh cinta. Anggap saja ini adalah yang pertama kalinya. Kubawa Icha ke rofftop sekolah ini, dan tak kusangka ia dengan begitu mudahnya menuruti aku. Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu repot-repot lagi untuk memaksanya. Beruntungnya, rooftop sedang sepi. Tak ada manusia kecuali kami berdua. Wajar saja, di jam segini sang panas telah mengubah segalanya. "Lo sengaja, ya?" tanyaku langsung ke inti pada Icha. "Sengaja apa?" tanyanya balik dengan senyum tak berdosanya. "Lo sengaja kan ninggalin gue berduaan sama Pasha di kantin tadi?" tanyaku memperjelas. "Hehehe." Dia malah tertawa. "Jawab, jangan malah ketawa!" gertakku. "Iya," jawabnya. "Jadi gini...." Ia mulai bercerita sambil duduk di bawah naungan atap itu. Akupun mengikutinya. Ia bercerita, katanya Pasha menang suka denganku sejak lama. Icha tahu itu mengingat dirinya yang menjabat sebagai sekertaris kelas, dan Pasha yang menjadi ketua kelas. Pastilah hubungan mereka sangat dekat. Lalu katanya lagi, Pasha itu sering menanyakan tentangku pada Icha ketika aku tidak ada di kelas. Mungkin maksudnya saat aku bolos sekolah, kabur atau saat aku berada di rooftop ini untuk menghindari pelajaran. "Pasha itu pemalu. Makanya dia gak berani ngungkapin perasaannya langsung. Lo sih, gak peka," ucap Icha. "Jadi yang di kantin tadi, itu rencana Lo sama Pasha?" tanyaku. "Kalau yang itu enggak. Gue kebetulan ingat aja kalau Pasha suka sama Lo. Makanya gue pura-pura pergi ke toilet. Hehehe," jawab Icha yang diakhiri dengan tawa menggelikan. Aku diam. Terjawab lah sudah apa yang menjadi pertanyaanku sedari tadi. Tapi aku tak merasa senang sedikitpun. Padahal dicintai seorang Pasha yang hampir sempurna itu harusnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi para gadis seperti aku ini. Tapi entahlah, mungkin karena aku tidak menyukainya. "Harusnya Lo bahagia lah, si Pasha bisa suka sama Lo. Banyak banget yang ingin dapetin Pasha, lho," ucap Icha. "Termasuk Lo?" tanyaku tajam. "Ya enggak lah. Ada-ada saja," jawabnya. "Oh, kirain," ucapku. "Hmmm.... Jadi gimana? Lo juga suka kan sama Pasha?" tanyanya lagi. Kalau boleh aku jujur, aku benci dengan pertanyaan Icha yang barusan ia ucapkan. Sungguh aku tak pernah ada rasa suka dengan yang namanya Pasha. Sedikitpun bahkan tak ada. "Gue gak suka sama Pasha," ucapku jujur. "Hah?" Icha seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan. "Iya, gue gak suka sama Pasha," ucapku lagi mengulangi perkataanku tadi. "Kok bisa?" Icha bertanya. "Gue udah ada pilihan sendiri," ucapku jujur. Ya mungkin inilah saatnya aku mengakui tentang kebenaran perasaanku kepada Daniel. "Daniel?" tanyanya. Tak kusangka ia langsung bisa menebak. Aku mengangguk-anggukan kepalaku beberapa kali untuk membenarkan tebakannya itu. Tak ada waktunya untuk ragu lagi. Aku tak ingin kejadian di kantin tadi terulang kembali. Kalau Icha sudah tahu apa yang aku rasakan, mungkin ia tak akan mengulangi hal bodoh seperti saat di kantin tadi. "Lo beneran suka sama Daniel?" tanya Icha dengan senyum seolah-olah sedang mengejek pilihanku. "Emang kenapa?" tanyaku balik. "Maaf ya Shel. Ini maaf banget. Tapi Lo sama Daniel itu kan beda jauh. Maksud gue, Lo cantik, tapi Daniel kayak gitu. Lo tahu sendiri lah, kayak gak keurus gitu. Lo juga kaya raya, tapi si Daniel hanyalah laki-laki sederhana. Bahkan bisa dibilang miskin. Kok Lo mau sih sama dia?" Icha berbicara panjang lebar. Terakhir ia melontarkan pertanyaan Kepadaku. Suasana hatiku tiba-tiba panas. Baru kali ini aku merasa tidak suka dengan sahabatku yang satu ini. Perkataannya benar-benar membuatku geram. Aku ingin marah, tapi dia sahabatku. Aku ingin mencacinya balik, tapi mungkinkah? "Begitu, ya?" Aku mencoba untuk tetap tenang. "Jadi, jika seandainya gue jelek dan miskin, masih maukah Lo bersahabat dengan gue?" tanyaku. Sontak pertanyaan itu benar-benar membuat mulut Icha terkunci dengan rapat. Ia tak mampu menjawab apapun. Ia seperti orang kebingungan yang aku tak tahu apa yang kini ada di dalam pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD