"Kalau Lo menganggap Daniel kayak gitu, berarti tidak mustahil jika Lo akan menganggap gue kayak gitu juga jika seandainya gue berada di posisi Daniel," ucapku lagi. Entahlah, aku tak menyangka bisa jadi sebijak ini.
"Satu hal yang harus Lo tahu tentang Daniel. Daniel tak ada waktu buat merawat dirinya sendiri karena ia sibuk mengurus keluarganya. Jika ada yang tanya tentang siapa sampah yang sebenarnya, maka harusnya kita lah sampah itu. Daniel adalah berlian yang sangat berharga bagi keluarganya. Jangan terlalu cepat menyimpulkan tentang seseorang dengan cepat," lanjutku.
Aku seperti berapi-api ingin membela Daniel. Sebenarnya aku ingin mengatakan pada Icha bahwa andai dia tahu wajah Daniel yang sebenarnya. Saat rambut yang bergelombang itu menjadi lurus dan indah. Saat wajah yang kini kurang berseri itu menjadi berseri-seri. Saat pakaiannya yang lusuh berubah menjadi mewah. Mungkin akan banyak gadis yang tergila-gila kepadanya, tak terkecuali Icha.
"Gue minta maaf, Shel. Gue gak bermaksud ngomong kayak gitu," ucap Icha. Kurasa ia kini sedang merasa sangat bersalah akibat ucapannya sendiri.
"Hah."
"Oke, gak apa-apa. Tapi jangan bilang kayak gitu lagi," ucapku.
"Iya," jawab Icha lemah.
Hari ini, satu-satunya orang yang kuanggap sebagai sahabat itu telah mengecewakan aku. Aku bahkan hampir tak percaya dengan apa yang ia ucapkan tadi. Bisa-bisanya ia menilai Daniel seperti itu. Aku tahu, mungkin memang wajar jika orang-orang akan menilai Daniel kayak gitu. Tapi tidak bisakah jika sahabatku ini menilai Daniel dari sisi lain, seperti caraku dalam menilai?
Kecewa, marah, kesal, tentu saja hal itu kurasakan. Bukan karena aku lebih membela cinta daripada sahabat. Tapi aku hanya membela mana yang menurutku benar. Dan dalam hal ini, kuanggap Icha lah yang bersalah.
***
Rumahku kini terasa sepi. Tak ada papa dan mama. Cuma aku dan Bi Darmi yang menempatinya. Entah kenapa saat ini aku tak begitu bersemangat untuk keluar rumah. Masih tak bisa kuterima apa yang dikatakan Icha di sekolahan tadi meski sebenarnya aku sudah bisa memaafkannya. Menurutku itu sudah keterlaluan.
Aku mencoba untuk mencari kesibukan selama di rumah. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Selama ini aku sangat jarang di rumah dan lebih sering menghabiskan waktu di luar sana. Acara TV pun hanya itu itu saja, dan seketika langsung membuatku bosan. Mau main HP, masa main HP terus. Untuk kali ini aku bingung mau berbuat apa. Semua yang ada di pikiranku terasa sangat membosankan.
Namun bayangan Daniel tiba-tiba muncul di pikiranku. Bayangan ketika ia menjalankan kodratnya sebagai seorang lelaki sejati. Kodrat untuk mencari nafkah untuk keluarga. Tetesan keringatnya selalu mengingatkanku tentang kerja kerasnya. Raut wajah dinginnya itu membuatku merasakan bahwa ia bukanlah orang yang suka main-main dengan keadaan dunia.
Dan aku, di saat ia telah benar-benar menjalankan tugasnya sebagai seorang lelaki, aku malah lupa dengan kodratku sebagai seorang perempuan. Kalau kalian bertanya apa ketika di rumah aku pernah masak, jawabannya adalah tidak. Bahkan bisa dibilang aku tidak bisa masak. Kalau kalian bertanya apa ketika di rumah aku pernah nyuci baju, jawabannya juga tidak. Kalau kalian juga bertanya apa saat di rumah aku pernah bersih-bersih rumah, maka jawabannya juga tidak. Semua itu sudah dilakukan oleh Bi Darmi, dan tugasku hanyalah bersenang-senang.
Aku sadar akan kesalahanku yang sudah terlalu besar. Tak semestinya aku memelihara kesalahan ini atau bahkan malah sampai memanjakannya untuk tetap berada di dalam diriku. Aku akan mencoba untuk melawan keadaan. Aku akan mencoba untuk mulai menjalankan kodratku sebagai seorang perempuan. Aku harus bisa.
Aku turun dari kamarku yang memang berada di lantai atas dengan masih mengenakan rok mini dengan atasan kaos yang agak longgar. Tapi jangan salah. Selama hidupku, aku tak pernah mengenakan rok mini ketika bepergian keluar rumah. Hanya ketika di dalam rumah lah aku mengenakannya.
Kulihat di dapur sana si Bibi alias Bi Darmi sedang memasak untuk makan malam nanti. Tepat sekali dengan apa yang aku inginkan. Segera kudekati asisten rumah tangga yang sudah seperti ibuku itu untuk memintanya mengajari aku memasak.
"Bi," panggilku. Ia sedang sibuk dengan aktivitasnya, tapi ia masih tetap mau menoleh ke arahku.
"Iya Non?" ucapnya.
"Tolong ajarin Shela masak, dong," pintaku.
"Hah?" Bi Darmi seakan tak percaya.
"Tolong ajarin Shela masak," ucapku memperjelas.
"Yang bener?" tanyanya. Nampak senyuman darinya di wajah yang mulai menua itu.
"Iya Bi. Kan Shela perempuan, masa gak bisa masak," ucapku.
"Ya udah, kalau Non Shela emang mau belajar, sini Bibi ajarin," ucapnya.
Hatiku menjerit senang. Pada akhirnya aku akan belajar memasak sekaligus untuk mengawali kodrat sebagai seorang perempuan yang sebenarnya. Mungkin Bi Darmi bukanlah chef terkenal seperti yang sering muncul di layar TV itu. Akan tetapi dialah chef terhebat di rumah ini. Hampir semua jenis makanan bisa dimasaknya, kecuali yang tidak ia bisa.
Aku mulai diperkenalkan bumbu-bumbu dapur yang akhirnya aku hafal nama-nama mereka. Lengkuas, bawang, merica, dan masih banyak lagi. Ya, kutahu itu adalah hal yang paling dasar bagi pemula sepertiku. Meski kuingin langsung bisa, tapi bukankah memang semua hal itu butuh proses? Dan aku harusnya menikmati proses itu.
"Jadi kapan nih Bi, belajar masaknya?" tanyaku.
"Ya nanti, Non. Langkah pertama, Non Shela harus tahu semua nama dan fungsi dari bumbu-bumbu ini," jawabnya.
"Shela udah hafal, Bi," ucapku.
"Semuanya?" tanya si Bibi.
"Iya dong," jawabku bangga.
"Baiklah. Ini apa?" tanya Bi Darmi sambil menunjuk sesuatu yang kutahu namanya adalah micin.
"Micin," jawabku.
"Fungsinya?" tanyanya lagi.
"Menyedapkan masakan," jawabku cepat.
"Ini?" ucap Bi Darmi lagi sambil menunjuk ke suatu arah.
"Merica," jawabku.
"Fungsinya?" tanyanya.
"Untuk menambah rasa pedas," jawabku cepat.
Bi Darmi manggut-manggut, seakan membenarkan jawabanku. Aku tersenyum karenanya. Akhirnya sedikit demi sedikit aku sudah mulai paham tentang hal masak-memasak.
"Kalau ini?" tanya Bi Darmi sambil menunjuk ke arah gula.
"Kalau itu untuk menambah manisnya senyumanku, Bi," jawabku asal. Bi Darmi ketawa. Aku juga.
"Ya udah. Sekarang coba nyalain kompornya," perintah Bi Darmi.
Wah, ini adalah hal yang paling membuatku deg-degan. Bagaimana tidak, selama ini aku bukan hanya tidak pernah memasak, tapi menghidupkan kompor saja aku tidak tahu caranya. Namun hari ini aku harus bisa walau kuawali dengan ketidak bisaan.
Aku mulai mencoba untuk menyalakan kompor itu. Namun usahaku selalu gagal. Rasanya gak mau berputar. Berat sekali. Hingga kompor pun tak kunjung menyala.
"Bi, berat, Bi. Gak nyala-nyala nih," ucapku sambil terus berusaha.
Bi Darmi malah tertawa terbahak-bahak ketika melihat apa yang aku lakukan. Tentu aku merasa aneh kenapa ia malah tertawa. Sambil mendengarkan tawanya yang tak kunjung mereda, aku tetap berusaha untuk bisa menghidupkan kompor itu. Namun usahaku tetap sia-sia. Berkali-kali aku mencoba memutarnya, tetap itu terasa sangat berat.
"Hahaha... Non Shela. Mutarnya ke kiri, Non, bukan ke kanan," ucap Bi Darmi ketika selesai tertawa. Tapi kudengar masih ada sisa-sisa tawa yang mengiringi kata-katanya.
"Sini, Bibi contohin," lanjutnya.
Ia langsung mengambil alih urusan perkomporan, dan ternyata dengan sekali percobaan saja ia sudah bisa membuat kompor itu menyala. Aku agak takjub melihatnya meskipun harusnya itu adalah hal yang sangat biasa.
"Muternya sambil ditekan gini, Non," ucapnya sambil mematikan kembali kompor itu. Aku pun hanya bisa manggut-manggut.
"Nah, sekarang coba lagi," ucapnya.
Dengan kesiapan yang sudah matang, aku pun mencoba lagi menyalakan kompor itu, dan pada akhirnya aku bisa melakukannya. Api itu nampak jelas di mataku. Bagai semangat yang ada di dalam diriku saat ini. Melihat api itu semangatku untuk belajar memasak juga semakin menyala-nyala. Aku ingin secepatnya bisa. Kalau perlu langsung bisa jadi chef terkenal di seluruh penjuru dunia.
"Bisa, Bi," ucapku bangga. Bi Darmi tersenyum. Aku juga.
Pembelajaran itupun tak bisa berlangsung lama mengingat Bi Darmi harus segera masak untuk makan malam nanti. Aku meminta Bi Darmi agar besok dan seterusnya aku diajari memasak. Untuk hari ini biarlah aku mendapat ilmu-ilmu dasarnya dulu. Setelah itu aku akan benar-benar bisa memasak makanan yang enak-enak. Bukan hanya bisa menikmatinya saja.
Semangatku sudah mulai kembali lagi. Kulupakan tentang kejadian Icha yang mengatai Daniel seperti itu tadi. Kini aku ingin keluar rumah untuk sekedar bersenang-senang. Akan tetapi ternyata hari sudah terlanjur sore. Mau tidak mau aku harus mengurungkan niat untuk pergi.
***
Pagi ini adalah jadwal untuk jam pelajaran olahraga. Inilah satu-satunya jam pelajaran yang kusukai selain jam kosong. Wajar saja lah, karena aku ini anak yang aktif bergerak dan sulit untuk diam.
Sinar sang mentari pagi ini sangat leluasa untuk menghantam bumi. Tak ada mendung yang biasanya menghalanginya. Hanyalah daun dan ranting pohon serta atap-atap bangunan yang kini menjadi penghalangnya. Oke, ini bukan saatnya untuk membahas mentari pagi yang tiap harinya juga akan muncul meski mendung. Ya, itu sangat membosankan.
Aku akan membahas tentang pelajaran olahraga yang kini akan kujalani bersama teman-teman sekelas. Tidak, bukan sekelas. Akan tetapi beberapa kelas. Maksudku, kelas 10, termasuk kelasnya Daniel juga. Akan tetapi dengan guru pengajar yang berbeda-beda. Si guru pengajar olahraga untuk kelasku adalah Pak Munadi. Satu hal yang menjadi momok menakutkan ketika mendengar namanya. Katanya dia pernah menjadi juara karate se-kabupaten. Terlepas dari benar atau salahnya hal itu, yang pasti itu sangat menakutkan. Apalagi bagi para siswa nakal. Bisa-bisa nantinya jurus karatenya akan keluar untuk dibuat menghajar para siswa nakal itu.
Sekedar info tentang Pak Munadi. Dia adalah seorang lelaki yang kira-kira berumur 35 -an tahun dengan postur tubuh yang agak jangkung. Aku juga tak tahu secara pasti berapa tinggi badannya itu. Ia juga tak gemuk, tapi bisa dikatakan sangat kekar. Mungkin berita tentang dia yang pernah menjadi juara karate itu adalah benar jika melihat bentuk tubuhnya yang seperti itu. Ia juga lumayan tampan meski sudah beristri dan mempunyai satu anak.
"Oke anak-anak. Sebelum pelajaran olahraga kita mulai, ada baiknya kita pemanasan terlebih dahulu," ucap Pak Munadi yang kini berdiri di depan sana.
"Pemanasan gak termasuk olahraga?" tanyaku pelan pada Nita yang kebetulan berada di sampingku.
"Entah, tanya aja sama Pak Munadi," jawab Nita. Aku diam.
Setelah itu kuikuti setiap gerakan pemanasan yang dilakukan oleh Pak Munadi. Pagi ini, apa yang dikatakan orang-orang sebagai sumber vitamin D itu telah bebas mengenai kulitku. Panas memang, tapi katanya menyehatkan. Tapi panas tetaplah panas, yang membuatku ingin bernaung di situ tempat dengan terpaan angin yang menyejukkan seluruh anggota tubuhku. Dalam keadaan seperti ini, justru sang mendung lah yang kuharap-harapkan kehadirannya. Aku memang suka olahraga, tapi aku tidak suka dengan panasnya. Terserah orang-orang jika mau menganggap aku ini orang yang suka komplain, karena nyatanya memang seperti itu.
Daniel juga kepanasan sepertinya. Beberapa meter jauhnya dari tempatku berada, kulihat ada Daniel di sana. Ia berbaris di barisan para cowok culun. Entahlah, itu hanya menurutku, menganggap bahwa mereka itu cowok-cowok culun. Akan tetapi aku yakin Daniel bukan bagian dari mereka. Hanya saja ketika di kelasnya, hanya para cowok culun itulah yang mau berteman dengan dia, mungkin.
Kurasa dia juga kepanasan. Namun dia tak terlihat sedikitpun mengekspresikan bahwa dia sedang kepanasan. Dia begitu santai, seakan tak peduli dengan apapun yang berada di sekitarnya kecuali instruksi dari sang guru untuk melakukan pemanasan. Ku akui, Daniel benar-benar sangat hebat. Meski dikucilkan, tapi ia masih tetap bertahan di tempat itu dengan begitu tenangnya. Beberapa meter jauhnya dari tempat Daniel, kulihat seorang laki-laki yang dengan sok-sokan mengatur teman-temannya untuk tertib dalam menjalani pemanasan. Kutahu nama dia adalah Ryan. Ia juga terlahir dari keluarga yang kaya raya. Bahkan seringkali dia pergi sekolah dengan naik mobil. Bayangkan saja! Baru kelas 10, tapi sudah bisa mengendarai mobil.
Baiklah, kembali ke persoalan ketika lelaki bernama Ryan itu sok-sokan mengatur teman-temannya untuk tertib. Anehnya tak ada satupun dari mereka yang memprotes, seolah-olah semuanya takut dengan Ryan seorang. Ah, dasar cari muka.
"Shela!"
Terdengar sebuah teriakan dari seseorang yang sedang memanggil namaku, seketika itu juga lah aku langsung tersadar akan sesuatu.
"Kamu ya, yang lain pada pemanasan kamu malah ngelamun," ucapnya.
"Iya Pak, maaf," ucapku.
"Ngelamunin cowok Pak, itu. Harusnya bapak jangan ganggu, lah," ucap Icha. Sontak semuanya langsung tertawa kecil, kecuali aku dan juga Pasha. Tapi entahlah, mungkin ada juga yang tidak tertawa. Hanya saja aku tidak mengetahuinya.
Oh Icha, sahabatku. Kau ini memang pantas disebut sahabat laknat.
"Shela, teganya kau mengkhianati cinta suci yang sudah kuberikan. Di manakah hati nuranimu sebagai seorang perempuan."
Semuanya pun tentu sudah tahu siapa sosok manusia yang berbicara lebay seperti itu barusan. Tentu saja itu adalah si Dendi, sang ketua di geng pojokan. Aku bertambah malu karenanya. Ingin sekali kuusap-usap wajah menyebalkannya itu dengan kaos kaki yang belum dicuci selama berabad-abad. Ingin sekali aku melakukan hal itu, sumpah.