Bab 23

1300 Words
Tawa cekikikan teman-teman semakin menjadi-jadi. Aku memang tak bisa memastikan apa semuanya sedang tertawa atau hanya beberapa saja. Akan tetapi aku dapat melihat bahwa Pasha tidak sedikitpun mengeluarkan tawanya. Mungkin ia tak suka aku digoda seperti itu oleh Dendi, tapi entahlah. Harusnya jika Pasha ingin menyelamatkan aku dari keusilan Dendi, ia bisa saja mempergunakan kekuatannya untuk membuat Dendi tak berani lagi menggodaku. Namun Pasha tak akan pernah mau bertindak semena-mena. Ya, itulah Pasha. Sayangnya, aku tidak bisa mencintainya. Sedangkan Dendi, aku juga tak tahu perasaan dia yang sesungguhnya kepadaku. Ia memang sering menggombaliku, tapi aku tak tahu itu hanya sekedar gombalan atau memang itu perasaan dia yang sebenarnya kepadaku. Tapi jikalaupun itu benar, aku juga tetap tak akan mau dengannya. "Gak usah lebay Lo," ucapku ke Dendi. "Shela, jika engkau menganggap ini lebay, ketahuilah bahwa kau memang benar. Tapi...." Ia bergaya dan berbicara dengan nada seperti seorang penyair. "Walaupun engkau selalu membuatku sakit hati, aku akan tetap mencintaimu, Shela," lanjutnya. Sontak tawa teman-teman pun semakin keras. Kalau kalian ingin tahu tentang perasaanku saat ini, tentulah kesal jawabannya. Sungguh, aku kini tidak sedang bercanda. Aku benar-benar sangat kesal dengan keadaan saat ini. "Sudah, sudah! Gak usah ribut. Kita lanjut lagi pemanasannya." Pada akhirnya Pak Munadi lah yang bisa mengakhiri pertengkaran kecil itu. Aku diam membisu. Tubuhku kugerakkan mengikuti instruksi dari Pak Munadi, tapi mata dan pikiranku masih tetap terfokus ke Daniel. Di sana ia pasti kesepian walau nampak sedang bersama banyak orang. Di sana dia pasti sedang menahan kesedihannya meski di mata orang lain ia seperti biasa-biasa saja. Di sana juga dia pasti sedang menahan emosinya dari omongan-omongan teman-temannya yang selalu menyudutkannya. Aku ingin ke sana. Aku ingin berdiri di sampingnya untuk membantunya melawan setiap orang yang ingin menjahati Daniel. Aku tak mau melihat Daniel sengsara. Aku tak mau melihat Daniel terus dilukai, apalagi dilukai oleh orang-orang yang berstatus sebagai temannya. Daniel, andai kau tahu kata hatiku saat ini. Mungkin kamu akan memahami bahwa aku benar-benar sedang mencintaimu. Tapi, biarlah cinta ini tumbuh dulu dalam diamku. Biarlah cinta ini tetap bertahan dan terus berkembang sampai akhirnya nanti kau bisa membalasnya. *** Setelah pemanasan usai, kini kami sekelas akan melakukan kegiatan olahraga yang sesungguhnya. Kami menuju lapangan basket yang kebetulan juga sudah tersedia di halaman sekolah itu. Ya biarpun tak sebesar lapangan basket yang sesungguhnya, tapi itu sudah lumayan untuk bisa dibuat latihan maupun pertandingan kecil-kecilan. "Oke anak-anak, sekarang bapak akan bagi kalian menjadi 4 tim," ucap Pak Munadi. Kelas kami memang terdiri dari sekitar 23 orang atau berapa lah, aku lupa. Aku ditaruh satu tim dengan Nita, Evi, Dina, Asti dan Rosa. Sebenarnya aku tidak suka Rosa. Kenapa? Karena namanya persis dengan nama mamaku. Itu jugalah yang membuat teman-temanku sengaja memanggil Rosa berkali-kali dengan maksud ingin membuatku merasa bahwa mereka sedang memanggil mamaku. "Wah, anak sama Maknya duet nih dalam satu tim," ledek Nita. "Keren lah. Pasti menang nih," ucap Evi ikut-ikutan. "Cih." Aku mendecak sebal. Memang kalau sudah seperti ini, aku tidak akan bisa membalas apa-apa. Meski beberapa dari mereka tidak begitu dekat denganku, tetap saja mereka adalah temanku. Tidak mungkin jika aku menyakiti mereka hanya karena hal sepele seperti ini. Pertandingan pertama bola basket itupun akan segera dimulai. Ini akan mempertandingkan 2 tim yang kurasa sangat tidak seimbang. Pasha, sang ketua kelas sekaligus orang paling ahli bermain basket di kelas kami dengan rekan setimnya harus berhadapan dengan Dendi si tengil dan juga kawan-kawannya yang kutahu mereka semua tak begitu bisa bermain basket. Aku bahkan sudah bisa menebak walau pertandingan belum dimulai bahwa timnya Pasha pasti akan menang telak melawan timnya Dendi. "Oi Ron, sebelum main, Lo bisa mesen dulu, gak? Mau berapa banyak skornya?" tanya Dendi dengan sombongnya kepada Roni, salah satu rekan setim Pasha. Jelas ia tidak akan atau bahkan tidak berani setengil itu ke Pasha. Maka dari itu ia melampiaskannya ke anggota timnya Pasha, dan Roni lah sasarannya. "Terserah Lo aja lah mau berapa," jawab Roni santai. "Jangan gitu dong! Kalau kalah telak, nanti nangis," ejek Dendi. "Heh, ya gak akan lah. Kan yang kalah telak pasti tim Lo," balas Roni. Sumpah, lelaki yang satu ini benar-benar sangat tengil. Parahnya, hal itu tidak sebanding dengan kemampuan yang dimilikinya. Kalian tahu seberapa kemampuannya? Bisa dibilang jauh di bawah rata-rata. Aku yakin, jika seandainya nanti ia dan timnya benar-benar kalah, maka ia pasti akan beralasan bahwa ia belum mengeluarkan kemampuannya 100 persen. Lihat saja nanti. Pertandingan itupun dimulai. Dan benar, Dendi hanyalah si manusia tengil yang tidak bisa apa-apa. Maksudku, ia hanya pandai bicara, tapi tidak bisa melakukan apa yang ia bicarakan itu. Ia bahkan dipermainkan oleh tim Pasha. Kalau kulihat-lihat, kasihan juga dia. Dia harus berlari ke sana ke mari untuk merebut bola yang bahkan ia tak bisa menyentuhnya sedikitpun. Hah, sudahlah, biarkan saja si tengil itu menuai akibat dari ketengilannya itu. "Heh, menang gaya doang tapi gak bisa main," gumamku. "Siapa?" tanya Dina tiba-tiba. Aku langsung menatapnya. "Itu pacar Lo, si tengil," jawabku. "Pacar gue? Si tengil? Siapa tu?" Ia nampaknya tak paham dengan apa yang sedang aku bicarakan. "Dendi," jawabku. "Idih, mending gue pacaran sama gelandangan daripada sama dia," ucapnya. Mungkin ia sedang bercanda. "Aamiin," ucapku sambil mengucapkan kedua telapak tanganku ke wajah. "Kok Lo aminin, sih," protesnya. "Lah, kan gue cuma membantu Lo supaya doa Lo cepat terkabul," kataku. "Ya gak gitu juga kali," ucapnya yang kemudian menghembuskan napas pelan. Aku tersenyum melihatnya. Sementara itu, di tempat yang jauh sana, mata ini menangkap sesuatu yang tadi sempat membuatku lupa pada sekitarku. Ya, di sana terdapat seorang Daniel yang kini entah melakukan olahraga jenis apa bersama yang lain. Kulihat Daniel dan juga yang lainnya hanya berlari-lari tidak jelas seiring dengan bunyi peluit yang ditiup oleh sang guru. Aku memperhatikannya, lebih tepatnya memperhatikan Daniel saja, hingga aku sudah tak begitu tertarik dengan pertandingan bola basket yang mempertandingkan timnya si tengil melawan tim si Pasha. Lagipula, aku benar-benar sudah tahu dan yakin sekali tentang siapa pemenang dari pertandingan itu. Secara kemampuan memang sudah berbeda sangat jauh. Karena itulah aku tidak perlu lagi menyaksikannya dengan seksama. Tak ada sedikitpun keceriaan yang kulihat di raut wajahnya. Tiap harinya ia selalu memasang wajah tanpa ekspresinya itu. Datar nan terkadang mengerikan. Mungkin itu jugalah yang ia rasakan di kehidupannya. Pahitnya kenyataan yang ia alami, aku bahkan tak bisa membayangkannya. Kurasa aku hanya bisa memahami perasaannya tanpa bisa membuat dia keluar dari penderitaannya itu. Hanya dia sendirilah yang bisa mengeluarkan diri dari penderitaannya sendiri, dan tugasku nanti hanya akan membantunya. Daniel dan sekelasnya kini sedang istirahat. Keadaan itu, sungguh menyedihkan sekali kau, Daniel. Bahkan para kaum culun yang tadi sempat bersamanya dalam membentuk barisan pun kini seakan menjauh dari dirinya. Ia sendirian. Ia tak ada teman, satupun. Teman-temannya yang sedang bercanda bersama, ia hanya bisa melihatnya dengan wajah tanpa ekspresi itu. Tapi, di manakah kesedihannya itu berada? Bahkan dalam situasi seperti itupun, tak nampak sedikitpun ia menampakkan sesuatu yang disebut dengan kesedihan. Haruskah aku ke sana untuk menemaninya? Mungkin jika aku ke sana rasa kesepiannya akan sedikit terobati. Namun apa iya? Mengingat sikap Daniel yang seakan tak pernah mengharap kehadiranku, apa iya aku bisa mengobati kesepiaannya? Dan satu lagi, kukira ini bukan waktu yang tepat untuk mendekatinya. Di sana ada teman-teman biadabnya. Para manusia yang lebih pantas disebut anjing daripada harus disebut teman. Ah, tidak. Bahkan sang anjing pun masih bisa menghargai yang lain, tidak dengan para manusia itu. Kesal sekali rasanya jika harus memikirkan perlakuan mereka ke Daniel. Walaupun aku tak tahu secara detail, tapi itu benar-benar telah sukses untuk membuatku ingin membunuh mereka satu persatu. Andai aku punya kekuatan besar yang bahkan tak ada satupun makhluk di bumi ini yang bisa menandinginya, mungkin para manusia laknat itulah yang akan kuhancurkan terlebih dahulu. Dan Daniel pasti akan kulindungi dengan sepenuh hati tanpa khawatir lagi akan ada yang menyakitinya. "Shel." Panggilan dari seseorang yang kuyakin adalah Dina telah membuatku kehilangan fokusku pada Daniel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD