Bab 24

1696 Words
"Apa?" tanyaku sambil menatapnya. "Gak apa-apa. Lo lihat apa, sih?" tanyanya balik. Matanya bergerak liar untuk melihat ke arah yang tadi aku lihat. "Kepo Lo," jawabku. Ia tak membalas ucapanku. Bola matanya masih memandang ke arah Daniel dan teman sekelasnya itu berada. Aku jadi was-was dengan sendirinya. Aku takut jika Dina akan menyadari bahwa yang sedari tadi kulihat adalah Daniel. Bukannya malu atau apa, hanya saja aku tidak ingin lagi mendengar ucapan demi ucapan menyebalkan dari dia dan yang lainnya lagi. "Ooo.... Lagi merhatiin Ryan ya, Lo?" tanyanya. Seandainya kau tahu, Din. Bukan Ryan yang kupandang, tapi Daniel. "Apa sih," ucapku dengan nada tak suka. "Cie, diam-diam suka ya Lo sama Ryan?" tanyanya. "Heh." Aku menunjukkan senyum meremehkanku. "Gak usah sok tahu!" lanjutku. Oke, aku akui, Ryan memang tampan, kaya dan juga keren. Tapi sekali lagi, layaknya Pasha, aku tidak menyukai Ryan. Di hati dan pikiranku hanya terdapat nama Daniel yang kelak aku ingin dia mengisi kekosongan di hatiku ini. Andai Dina tahu, mungkin dia tidak akan percaya. Jikalaupun dia malah akan menghina Daniel nantinya, aku pasti akan membela nama baik Daniel seperti apa yang aku lakukan pada Icha kemarin, bahkan mungkin bisa lebih dari itu. "Oi, sebentar lagi kita main." Seseorang datang dan berhasil menghentikan Dina dalam membahas tentang Ryan. Seseorang itu adalah Nita. "Oh," jawab aku dan Dina bersamaan dengan cueknya. "Woi! Sok cuek banget Lo berdua," protesnya. "O," ucap kami berdua lagi. "Cih." Dia akhirnya mendecak sebal, menyerah dengan kelakuan kami berdua. Aku dan Dina tertawa melihatnya. "Emang ada apa sih, Nit?" tanyaku. "Gak jadi," jawabnya cepat. Nampaknya dia masih kesal. "Yaaa.... Jangan gitu dong. Ada apa, sih?" tanyaku lagi. Ekspresi Nita yang cemberut seperti itu membuatku ingin tertawa lebih kencang, tapi kucoba untuk menahannya. Demi menghargai sebuah ikatan yang disebut pertemanan. Gini-gini juga aku sangat menghargai pertemanan. "Hufff.... Sebentar lagi kita main," ucap Nita dengan nada dan raut wajah serius. "Oh," jawab kami dengan kompaknya. Kami tertawa, tentu tidak dengan Nita. Nita memasang wajah cemberut lagi. Aku seperti tahu apa yang dikatakan Nita di dalam hatinya. Ia mungkin sedang mengatakan, "Teman sialan!" Ya, mungkin itulah yang sedang dikatakan Nita saat ini. *** Pertandingan basket yang mempertandingkan antara tim Dendi dengan tim Pasha pun sudah usai, dan tepat seperti dugaanku bahwa timnya Pasha lah yang memperoleh kemenangan dengan skor telak. Kulihat di sana Dendi sedang diolok-olok oleh teman-teman yang lain. Aku tertawa lagi dibuatnya. Akhirnya si tengil itu mendapat balasannya. Kini aku dan setimku akan berhadapan dengan Icha dan rekan setimnya. Aku, Dina, Rosa, Evi dan Nita yang bermain terlebih dahulu. Sementara Asti masih menjadi pemain cadangan. Inilah pertama kalinya aku harus bermusuhan dengan sahabatku sendiri, yaitu Icha. Akan tetapi bermusuhan dalam hal sebuah permainan. Aku tidak perlu ragu lagi untuk memenangkannya. Aku juga tidak perlu mengalah hanya karena atas nama persahabatan. Karena ini cuma sebuah permainan. Sebelum bermain kutatap Icha dengan tajam dan kuberikan isyarat menggunakan tangan sebagai bentuk sebuah tantangan kepadanya. Setelah itu kulihat juga sekeliling. Di sana ada Pasha yang arah pandangnya sangat aku yakini mengarah kepadaku. Tapi tak begitu kupedulikan. Aku kembali fokus pada pertandingan yang akan segera dimulai ini. Prittt! Suara Pluit yang ditiup oleh Pak Munadi, tanda pertandingan telah dimulai. Aku dengan cepat mengejar bola yang kini dibawa oleh anggota tim lawan. Kuakui aku memang juga agak tengil, tapi itu kuimbangi dengan kehebatan ku dalam bermain bola basket. Walau mempunya postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, tapi aku bisa dengan mudah memasukkan bola. Itulah kehebatanku. Namun permainan sejauh ini masih berjalan imbang. Tak kusangka bahwa Icha juga lumayan hebat di permainan ini. Entah ia memang beneran hebat atau karena faktor rekan-rekan setimnya yang hebat, aku tak tahu. Tapi aku dan teman-teman benar-benar dibuat kewalahan oleh mereka. "Woi, oper ke gue! Mau Lo gue hajar?" ancamku pada Lily, si gadis yang menurutku paling penakut di kelasku. Setelah mendapat gertakan pelanku itu, ia tiba-tiba melemparkan bola basket itu ke arahku. Segera kuterima dan langsung berlari hingga akhirnya aku bisa memasukkannya lagi. Kini timku unggul atas timnya Icha. "Kenapa Lo kasih ke dia, bolanya?" tanya Sinta dengan nada agak kesal. "Maaf, gak sengaja," jawab Lily agak takut. Dalam hati aku tertawa ketika mendengarnya. Jika ada gadis yang seakan tak punya sedikitpun rasa takut seperti aku, pastilah ada juga gadis yang penakut seperti Lily. Orang seperti itu harusnya dilindungi, bukan malah ditindas. Kalian harus tahu bahwa apa yang kulakukan tadi hanyalah sebuah canda. Tak mungkin jika aku akan menyakiti orang yang tidak bersalah. Sekedar info tentang Lily. Ia adalah gadis berambut pendek sebahu. Dia lumayan cantik, tapi lebih cantikan aku. Warna kulitnya putih, lebih putih dariku. Wajar saja, kurasa ia sangat jarang keluar rumah. Berbeda denganku yang tiap harinya selalu keluyuran. Jadi, jangan anggap si gadis penakut itu hanyalah dia yang berkacamata dengan gaya rambut dikepang dua. Jangan anggap pula gadis pemberani itu adalah gadis dengan rambutnya yang pendek, karena tidak semuanya begitu. Aku tegaskan bahwa anggapan itu adalah sebuah kesalahan yang besar. Faktanya Lily, si gadis berambut pendek dan tidak memakai kacamata pun mempunyai sifat penakut. Oke, kembali ke pertandingan. Pertandingan itu diakhiri dengan kemenangan bagi timku. Meski tipis, tapi tetap saja menang. Aku bersorak bangga mengejek Icha yang kini kesal dengan kekalahannya. Ini memang bukan pertandingan sungguhan. Tapi ini adalah pertandingan untuk membela harga diri. Jika kalah, maka habislah. Seperti yang kini aku lakukan pada Icha. Kuejek dia habis-habisan dan dia tak bisa sedikitpun membalasnya. *** Selesai bertanding, kami semua pun diberi waktu untuk beristirahat oleh Pak Munadi. Jangan ditanya apa kami capek atau tidak, karena sudah pasti jawabannya adalah capek. Bahkan dari bertanding tadi, keringatku tak henti-hentinya menetes. "Capek banget sumpah, ke kantin yuk!" ajak Icha. "Ayo," jawab Nita. "Lo, Shel?" Icha melihat ke arahku, seolah-olah ia meminta jawabanku. "Kalian duluan aja, nanti gue nyusul," jawabku. "Oh, ya udah," jawab mereka dan kemudian pergi. Bukan tanpa alasan aku tak mau diajak Icha ke kantin. Aku ingin mengawasi Daniel dari teras kelas ini. Aku ingin terus memperhatikannya sampai ia sadar bahwa ia sedang aku perhatikan. Saat ini dirinya masih sibuk berbaris dengan teman-temannya. Akan tetapi kurasa sebentar lagi pelajaran olahraga itupun akan segera berakhir. Dan benar, hanya dalam waktu 5 menit setelah aku menebak, ternyata pelajaran olahraga itu sudah diakhiri. Kini Daniel dan yang lain sudah diperbolehkan untuk kembali ke kelas. Namun kulihat Daniel yang akan pergi entah ke mana, pokoknya tidak mengarah ke kelasnya. Saat itulah kaki ini terasa ingin segera menyusul Daniel. Tapi.... "Mereka mau ngapain, tuh?" Aku melihat tiga orang lelaki yang juga pergi beberapa saat setelah Daniel pergi. Dari gerak-gerik mereka, itu seperti sedang mengikuti Daniel dan bukan tidak mungkin jika mereka akan menyakitinya. Aku mendadak jadi khawatir. Salah satu dari tiga orang itu adalah Ryan. Aku tak begitu mengenalnya, tapi cukup tahu tentangnya. Aku gambarkan, semua yang ada pada dirinya hampir sama dengan diri Pasha. Tampan, kaya, pintar. Akan tetapi sikapnya lah yang jauh berbeda. Pasha pendiam, tapi Ryan banyak tingkah. Kalau tentang sifatnya, aku masih belum bisa menilainya, apa ia baik atau buruk. Dan mungkin inilah saatnya aku tahu. Kalau memang ia ingin berniat jahat ke Daniel, berarti sifatnya buruk. Daniel terus dibuntuti oleh ketiga orang itu, demikian juga aku yang membuntuti ketiga orang itu. Nampaknya tujuan Daniel adalah pergi ke toilet. Ketika ia sudah masuk ke toilet, dengan segera Ryan dan gengnya langsung menuju pintu toilet dan melakukan sesuatu pada gagangnya. Kutahu mereka mau bertindak buruk dengan mengunci Daniel di dalam toilet. Memang area ini sangat sepi, untungnya aku kini berada di sini. Bersembunyi di balik tembok dan terus memantau pergerakan mereka. Ah, aku harus merekam tindakan mereka menggunakan ponselku. Tapi sial, aku lupa bahwa ponselku berada di dalam tas. Apa harus aku ambil? Tapi tidak mungkin juga. Jika aku mengambilnya, saat aku kembali nanti mereka bertiga juga sudah tak akan berada di sana lagi. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati, mengumpati mereka dengan segala kata-kata yang penuh dengan emosi. Berdiriku masih di sini. Di tempat di mana tubuhku terhalang oleh tembok. Aku bisa leluasa mengawasi mereka bagai CCTV. Tapi layaknya CCTV juga aku tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya merekam tingkah mereka lewat mataku. "Sial!" Aku mengumpat ketika tahu bahwa mereka bertiga kini sedang berjalan ke arahku. Tidak, sebenarnya bukan ke arahku, melainkan mungkin mereka ingin kembali ke kelas dan lewat jalan yang kini kutempati bersembunyi. Aku berpikir keras mencari tempat sembunyi. Ah, sial. Tak ada tempat sembunyi di sini. Bodoh sekali, kenapa hal ini tak terpikirkan olehku sedari tadi? Tak ingin membuang waktu, sebelum mereka lebih dekat, akupun berlari untuk menjauh. Setelah dirasa agak jauh, aku pun berbalik dan berniat untuk berjalan ke arah tempatku bersembunyi tadi. Kalian tahu, itu hanyalah trikku untuk nantinya bisa mengelabuhi mereka. Sebelum itu, aku berpura-pura menali sepatuku. Kulihat dari ujung netraku, mereka bertiga sudah berada beberapa meter di depanku sambil tertawa cekikikan. Sungguh, kesal sekali aku ketika mendengar tawanya. "Mau ke mana?" tanya Ryan kepadaku yang masih sibuk menali sepatu. Kutatap ia dengan tatapan tak suka, tapi aku sadar aku tidak boleh langsung marah kepadanya. "Kenapa emang?" tanyaku balik dengan nada yang dingin. "Nggak, nanya aja," jawab Ryan. "Oh." "Mau ke mana?" tanyanya lagi. "Toilet," jawabku mencoba santai. "Jangan!" larangnya. Bahkan jika aku belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pun, aku pasti akan curiga ketika ia melarangku untuk ke toilet. "Kenapa?" tanyaku. "Toilet itu angker. Ada hantunya." Salah satu teman Ryan menjawab. Hatiku geli ketika indra pendengaranku mendengar jawaban bodoh dari lelaki itu. Alasan bodoh, yang dikemukakan oleh orang bodoh juga. "Gue gak takut hantu," jawabku. "Tapi, hantunya wajahnya serem," ucapnya lagi. "Lo lebih serem," balasku. Teman Ryan yang satunya pun tertawa. Ryan tidak. Plak! Tiba-tiba, tanpa sedikitpun keraguan, Ryan langsung menjitak kepala temannya itu. Meski tidak kencang, itu sudah membuat temannya itu kesakitan. Aku bahkan tidak bisa tertawa ketika melihat kekonyolan mereka. Mungkin karena apa yang baru saja mereka lakukan, benar-benar telah membuatku sangat marah. Jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. "Jangan didengerin! Dia orangnya suka ngawur," ucap Ryan. "Oh." Aku mengangguk paham. "Pintu toiletnya itu rusak. Gue aja ini mau ke toilet yang di sebelah sana," ucap Ryan sambil menunjuk. "Oh, pintunya rusak?" tanyaku. "Iya," jawabnya. Pintunya rusak, katanya. Dia pikir aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Oke, kali ini aku akan membiarkan mereka lolos terlebih dahulu, tapi tidak dengan yang selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD