"Hmmm. Ya sudahlah kalau gitu. Gue cari toilet lain aja," ucapku.
"Iya. Lebih baik juga begitu," sahut Ryan.
Diriku yang emosian, harus dipaksa terus bersabar. Jiwaku yang sudah penuh amarah, dipaksa untuk menahannya lebih lama. Tanganku yang sudah gatal ingin memukul, dipaksa untuk kaku tanpa pergerakan. Mulutku yang ingin segera mengumpat, dipaksa untuk diam tanpa suara. Semua itu kulakukan, agar suatu saat nanti aku bisa membongkar semua kejahatannya.
Aku berjalan menjauhi tempat itu dan berpura-pura untuk mencari toilet yang lain. Ada rasa tidak tega ketika membiarkan Daniel terlalu lama terkunci di dalam sana, tapi apa boleh buat?
"Mau ke mana?" tanya Ryan ketika aku tiba-tiba berjalan menaiki tangga.
"Toilet lah. Pakai nanya, lagi," jawabku ketus.
"Di sana kan juga ada toilet," ucap Ryan sambil menunjuk ke arah toilet yang berada di lantai bawah.
"Bareng sama Lo bertiga, gitu?" tanyaku.
"Ya, kalau Lo mau sih, gue juga mau," sahut teman Ryan yang entah siapa namanya, aku tidak kenal.
"Males," ucapku dengan tatapan malas.
"Ya udah, kalau gitu," ucap Ryan.
Mereka bertiga akhirnya pergi dari hadapanku. Masih kuamati mereka sampai jejaknya hilang dari jangkauan mata ini, dan saat itu terjadi, aku akan pergi ke toilet di mana Daniel sedang terkunci di dalamnya.
Setelah kurasa aman, akupun langsung berlari ke arah toilet. Biar kutebak, Daniel tidak akan berteriak minta tolong. Ia pasti akan membuka pintu itu dengan caranya sendiri. Entah bagaimana cara yang akan ia lakukan. Pokoknya ia tidak akan berteriak. Aku berani taruhan akan hal itu.
Ketika aku sampai di depan toilet sana, tak kudengar suara gaduh apapun, apalagi suara teriakan. Harusnya, jika Daniel hanya buang air kecil atau besar sekalipun, itu sudah selesai sejak tadi. Aku jadi ragu, apa Daniel masih berada di dalam? Tapi jika sudah keluar, lewat mana?
Brakkk!
Tak lama setelah aku berpikir, sebuah suara terdengar keras menembus gendang telingaku. Itu seperti suara dari suatu benda yang berbenturan dengan pintu toilet itu. Aku kaget, tapi tak sampai melompat lebay. Kutatap pintu toilet itu sembari mendekatinya. Kutahu dalangnya adalah Daniel.
"Ada orang di dalam?" tanyaku. Padahal sebenarnya aku sudah tahu bahwa Daniel lah yang berada di dalam.
"Iya," jawabnya. Bahkan saat ia terkunci di toilet pun, sifatnya masih tetap sama saja.
"Daniel, ya?" tanyaku pura-pura belum tahu.
"Iya," jawabnya lagi.
"Ya udah, Niel. Lo yang tenang dulu. Gue mau nyari bantuan dulu," ucapku. Ia tak menjawab.
Satu orang yang akan kutuju untuk kumintai bantuan. Orang itu adalah Pak Yudi, selaku penjaga sekolahan ini. Ia pasti punya kunci segala macam kunci, termasuk kunci pintu toilet ini. Aku juga bingung tentang dari mana Ryan mendapatkan kunci untuk mengunci toilet ini. Atau ia tidak menggunakan kunci, melainkan menggunakan cara lain yang aku sendiri tak tahu apa cara itu. Ah, sudahlah. Itu tak begitu penting. Yang penting aku harus segera menemui Pak Yudi dan memintanya untuk membuka pintu ini.
Aku berjalan ke sana ke mari untuk mencari Pak Yudi. Namun si penjaga sekolah itu benar-benar susah untuk kutemukan. Kulihat kegiatan belajar mengajar di kelas-kelas sudah dimulai lagi, termasuk di kelasku. Tapi mana aku peduli.
Akhirnya, secara kebetulan, kutemukan Pak Yudi yang sedang berjalan berpapasan denganku. Seperti ia sedang dituntun oleh sang kuasa untuk bisa bertemu denganku. Aku sungguh sangat bersyukur.
"Pak, ada yang kelinci di toilet belakang, Pak," ucapku langsung to the point.
"Kekunci?" tanya Pak Yudi.
"Iya, Pak," jawabku.
"Kok bisa?" Ia seakan tak percaya.
"Nggak tahu, Pak. Mungkin ada yang jahil," jawabku sengaja tidak terus terang.
"Oke, oke. Ayo kita ke sana!" ajaknya.
Aku langsung mengikuti langkah kakinya. Tak lupa mata ini pun melihat sekeliling, memastikan bahwa Ryan dan teman-temannya tak melihatku.
Ketika kami sampai di sana, tak kudengar apa-apa lagi dari dalam sana. Kubayangkan bahwa kini Daniel sedang berdiri bersandar tembok toilet dengan santainya, seakan tak peduli dengan dirinya yang sedang terkunci.
"Daniel. Ini gue bawa Pak Yudi ke sini," ucapku pada Daniel yang masih berada di dalam.
"Iya," jawabnya.
"Pak, cepat buka, Pak. Ini teman saya kasihan kalau terlalu lama di dalam toilet," pintaku.
"Iya, sabar," ucap Pak Yudi.
Pak Yudi langsung mengeluarkan beberapa kunci dari saku celananya. Saking banyaknya kunci itu, ia harus memilih terlebih dahulu kunci mana yang cocok dengan pintu toilet ini. Aku semakin tak tahan menunggunya.
"Pak, cepetan, Pak!" ucapku.
"Iya. Ini lagi bapak cari," ucap Pak Yudi.
Aku diam. Kasihan Daniel yang berada di dalam sana. Pasti itu sangat pengap nan panas. Ini semua gara-gara si Ryan dan teman-temannya itu. Awas saja mereka nanti. Akan kubalas mereka.
"Nah, ini," ucap Pak Yudi.
Ia kemudian dengan cepat menggunakan kunci itu untuk membuka pintu kamar mandi, dan alhasil itu berhasil.
Pintu terbuka. Nampak lah sesosok lelaki dengan gaya santainya yang ternyata benar lagi bersander di tembok toilet. Ia kini keluar dari toilet dengan langkah kakinya yang santai pula.
"Terima kasih, Pak," ucapnya pada Pak Yudi. Ternyata orang seperti dia pun masih bisa mengucapkan terima kasih.
"Iya, sama-sama. Kalau gitu, bapak pergi dulu, ya. Mau ngajar di kelas 12 soalnya.
"Iya, Pak," jawab kami.
Pak Yudi itu memanglah penjaga sekolahan. Akan tetapi ia merangkap jabatan sebagai guru Bahasa Jawa juga. Aku tak begitu dekat dengannya. Hanya saja dia pasti tahu namaku. Kurasa semua guru di sekolahan ini pun sudah mengenal siapa itu Shelania Putri Artasyah.
"Gak terimakasih sama gue?" tanyaku ke Daniel.
"Iya," jawabnya singkat.
"Iya apa?" tanyaku.
"Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama," jawabku sambil menebar senyuman.
"Gue ke kelas dulu," ucapnya.
"Iya," jawabku.
Sebenarnya aku ingin sekali berjalan beriringan dengannya. Namun aku tak mau jika Ryan dan teman-temannya tahu bahwa akulah yang sudah membebaskan Daniel dari perangkapnya.
"Lo tahu siapa yang ngelakuin ini?" Ia tiba-tiba bertanya setelah berjalan beberapa langkah.
"Tahu," jawabku jujur. Berat rasanya berbohong pada Daniel.
"Siapa?" tanyanya.
"Kalau gue kasih tahu, apa nantinya Lo akan balas dendam?" tanyaku balik.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Lalu?" tanyaku lagi.
"Gue cuma ingin tahu," jawabnya.
Aku menghembuskan napasku pelan. Rasanya agak sedikit bingung antara mau jujur mengatakan apa yang sebenarnya terjadi atau harus memilih untuk diam. Aku takut terjadi apa-apa sama Daniel jika seandainya ia nantinya mau balas dendam.
"Yang ngelakuin ini...." Aku menggantung ucapanku.
"Ryan. Ryan dan teman-temannya yang ngelakuin," lanjutku. Sengaja pandanganku kuarahkan ke bawah agar tidak melihat ekspresi Daniel.
"Jadi mereka?" tanyanya dingin.
"Iya. Tapi untuk kali ini gue mohon, Lo jangan balas apa-apa ke dia," pintaku.
Tentu aku takut jika Daniel akan membahas. selain karena aku tidak ingin Daniel kenapa-napa, aku juga tidak ingin Daniel berurusan dengan Ryan yang notabenya anak orang kaya raya. Bisa rumit jika hal itu sampai terjadi.
"Kenapa?" tanyanya dingin.
"Gue gak mau Lo kenapa-napa," jawabku sekenanya.
"Gue gak selemah itu," jawabnya.
"Gue juga gak mau Lo berurusan sama dia," ucapku lagi.
"Dia siapa?" tanyanya.
"Ryan," jawabku.
"Kenapa?" Kembali pertanyaan itu yang kudengar.
"Dia itu anak orang kaya raya. Lo pasti nantinya akan tetap disalahkan meski seharusnya Lo yang benar," jawabku jujur. Ia diam.
Aku lupa bahwa posisiku juga seorang anak dari orang yang kaya raya. Tapi di sini aku sedang membahas Ryan, bukan aku. Kalau aku, mungkin tidak akan mempergunakan kekayaan untuk bisa membuat diriku ketika bersalah menjadi yang benar. Akan tetapi entah kalau Ryan. Kurasa dia akan melakukan hal yang berbanding terbalik denganku.
"Heh, iya, gue tahu," jawab Daniel.
"Lo udah tahu?" tanyaku.
"Kalau gue nggak tahu, sudah dari dulu gue bales perlakuan mereka," jawab Daniel. Ia kemudian memalingkan wajahnya dariku dan mulai untuk melangkah pergi.
"Bagi gue orang-orang kaya hanyalah si manusia sialan yang bisanya cuma menghancurkan kebahagiaan orang lain," lanjutnya.
Ia pergi, tapi aku terdiam membisu. Tubuhku juga membeku. Kata-kata yang benar-benar membuatku bergetar hebat, pasalnya aku adalah bagian dari sesuatu yang disebutnya tadi. "Orang kaya", tentu akupun pasti termasuk di dalam kata itu.
Daniel menganggap para orang kaya sebagai sumber penghancur kebahagiaannya. Itu berarti secara tidak langsung dia juga sudah menganggapku telah menghancurkan kebahagiaannya.
***
Daniel, semua tentang kita telah aku masukkan ke dalam sesuatu yang tak akan pernah hilang sampai kapanpun juga, yaitu otakku. Bahkan kurasa juga hatiku. Kau mungkin masih belum bisa suka denganku. Tak apa, aku maklumi rasamu itu. Aku hanya ingin bertanya kepadamu, apa ada hal yang kau sembunyikan sehingga membuat seolah-olah kau itu seperti seorang pembenci, terutama pembenci para orang kaya? Aku ingin mengutarakan pertanyaan ini langsung kepadamu, Daniel. Sangat ingin malahan. Akan tetapi realitanya, aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri seperti apa yang kulakukan saat ini.
Di hari yang sudah menjelang sore ini, aku sedang duduk di sofa ruang tamuku. Sengaja aku tidak belajar memasak dulu bersama Bi Darmi karena amanah dari mamaku yang menyuruhku untuk menunggu kedatangannya. Mau ada tamu, katanya.
Aku duduk sambil memainkan ponselku. Pikiranku terus mengarah ke Daniel, mempertanyakan tentang banyak hal yang sangat ingin aku ketahui dari dirinya. Tentang apa maksud dia menganggap para orang kaya sebagai sumber penghancur kebahagiaannya. Tentang mengapa ia tidak pernah mau membalas perlakuan teman-temannya, dan juga tentang mengapa ia selalu bersikap acuh tak acuh kepadaku.
Tak lama berselang, aku mendengar suara mesin mobil yang sangat aku kenali. Itu adalah mobil mamaku. Tapi sepertinya tidak hanya mobil mamaku, karena kudengar suara mesin mobil lain selain itu. Aku menunggu. Kubuang dulu semua pikiranku yang terlanjur dipenuhi oleh sosok Daniel demi menyambut kedatangan sang mama yang katanya membawa tamu entah siapa.
Aku menyipitkan mataku untuk melihat siapa yang akan datang dan masuk ke rumah ini. Di ambang pintu sana sudah terlihat oleh sosok wanita yang mengenakan seragam guru dengan dua orang lainnya di belakang, satu wanita dan satu laki-laki. Seseorang yang mengenakan seragam guru itu adalah mamaku, dan yang dua itu, entahlah, aku tidak kenal.