Bab 26

1425 Words
Oh, ya. Sepertinya aku belum pernah membicarakan hal ini. Karena sudah terlanjur terungkap identitas mamaku yang sebenarnya, aku pun akan membahasnya. Sebenarnya mamaku adalah seorang guru di sebuah SMP Negeri di kota Jakarta. Saat aku SMP dulu, aku sekolah di sekolahan yang ada mamaku. Karena itu aku tidak bisa bebas. Jadi, setelah lulus SMP dan masuk SMA, kini giliranku untuk merayakan kebebasan ini. Mamaku itu seorang guru yang suka sekali dengan sastra. Dia suka membuat puisinya sendiri yang selanjutnya dijejerkan dengan puisi karya Kahlil Gibran. Aku pernah membaca beberapa puisi yang ia buat, tapi aku lupa bagaimana bunyinya. Pokoknya, aku akui kalau kata-kata di dalam puisi yang dibuatnya itu sangat indah. "Shela, kenalin ini teman mama," ucap mamaku memperkenalkan seseorang itu yang ternyata temannya. "Namanya Tante Rita," lanjut mamaku. Aku berdiri sebagai bentuk untuk menghormati sekaligus sebagai pencitraan atas kesopananku terhadap tamu. Kemudian aku menyalami wanita itu sembari memperkenalkan diri. "Shela, Tante," ucapku sambil tersenyum. "Oh, Shela.... Namanya bagus, orangnya juga cantik," pujinya sambil tersenyum juga. "Hehehe.... Terima kasih, Tan," ucapku. "Kalau yang ini anaknya Tante Rita." Mama mulai memperkenalkan aku dengan satu orang lainnya, yaitu seorang lelaki yang lumayan tinggi dan juga tampan. "Namanya Dio," lanjut mamaku. Kusalami ia, tapi berbeda dengan yang aku lakukan ke ibunya, kini aku tak menunjukkan senyumanku. "Shela," ucapku. "Dio," ucapnya. "Oh, sampai lupa. Silahkan duduk," ucap mama mempersilahkan keduanya. Mereka duduk. Mama duduk. Aku juga ikut duduk. Aku duduk di samping mamaku. Sementara di samping mamaku ada Tante Rita, dan di samping Tante Rita ada anaknya, Dio. "Shela, Dio ini anak kuliahan. Anak fakultas kedokteran. Tahun ini sudah masuk semester...." Mama berpikir, mungkin dia lupa pada suatu hal. "Semester dua, Tan," sahut Dio. "Oh, iya. Tahun ini sudah masuk semester dua," ucap Mama. "Oh," kataku cuek. "Nah, maksud mama mengajak Tante Rita dan Dio ke sini, mama ingin kamu diles sama Dio. Dio ini selain ahli dalam bidang kedokteran juga pintar lho, di segala macam pelajaran. Apalagi kalau cuma pelajaran anak SMA," ucap Mama. "Hah? Les? Gak ah, Ma. Shela gak mau," tolakku terang-terangan. "Kok gak mau, sih. Nilai kamu kan banyak merahnya. Kok gak mau diles? Lagian nanti juga, kan, kamu bisa belajar dari Dio gimana kuliah di fakultas kedokteran," ucap Mama. "Tapi Ma.... Shela gak mau les, dan juga gak mau kuliah," rengekku. Nampaknya kedua tamu itu hanya menjadi penonton perdebatan ibu dan anak ini. "Nggak ada tapi-tapian! Pokoknya kamu harus les, dan juga harus kuliah. Kamu kan dari dulu suka sama hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan," ucap Mamaku. Kali ini aku nyatakan, bahwa mamaku ini benar-benar sangat menyebalkan. Ia nampak begitu memaksa agar aku mau belajar les dengan si Dio. Beneran, aku beneran tidak mau. Kata orang-orang, ketika seorang ibu memperlihatkan anak perempuannya kepada tetamunya, itu berarti dia sedang memamerkan anaknya itu. Dalam artian bahwa sang ibu itu sedang memberitahukan kepada tamu itu bahwa itulah anaknya. Apalagi ketika tamu itu mempunyai seorang anak laki-laki yang sebaya. Kurasa hal itu sama dengan apa yang dilakukan oleh mamaku saat ini. Dan aku sangat tidak menyukainya. "Ma...," rengekku lagi seperti anak kecil. "Shela.... Benar kata ibu kamu. Kan belajar itu penting. Kuliah juga." Kini Tante Rita ikut bicara. "Hmmm...." "Ya sudah. Shela mau. Tapi setahun sekali aja, ya belajarnya," tawarku. "Hah? Penawaran macam apa ini?" Mamaku ketawa, demikian juga Tante Rita. Tapi si Dio hanya diam meski agak menunjukkan senyumannya. "Sebulan sekali, gimana?" tawarku lagi. "Gak boleh," jawab mamaku. "Tapi Shela gak suka belajar, Ma," rengekku lagi. "Huss.... Belajar kok nggak suka. Mau jadi apa negara ini kalau anak mudanya gak suka belajar?" ucap Mamaku. "Ya tetap jadi Indonesia lah, Ma," sahutku. Tante Rita tertawa. Dio seperti tadi cuma tersenyum. "Pandai sekali anak mama kalau ngejawab, ya. Tapi pokoknya gak boleh kalau sebulan cuma sekali," ucap mamaku tegas. Aku semakin muak dengan pembicaraan ini. Mama terlalu memaksaku untuk melakukan apa yang ia kehendaki. Okelah, jika saja posisi Dio digantikan oleh Daniel, aku pasti tak akan menolaknya. Bahkan mungkin akan meminta lesnya itu diadakan setiap hari. Akan tetapi posisinya kini beda. Dio tetaplah Dio. Tidak akan mungkin bisa berubah menjadi Daniel. Dio hanyalah seorang lelaki yang bahkan baru saja kukenal. Lalu, bagaimana caranya untuk bisa membuatku nyaman dengan dia? "Oke, Ma. Seminggu sekali aja. Itu atau tidak sama sekali," ucapku tegas. "Hmmm...." Mama terlihat mempertimbangkannya. "Oke, setiap malam Minggu, Dio akan ke sini," ucap Mama membuat keputusan. Aku mengangguk lemah. Sore ini terasa menjadi sore yang buruk buatku. Bukan, maksudku, aku merasa bahwa mama sedang berusaha menjodohkan aku dengan si Dio. Aku tidak suka, sungguh tidak suka. Entahlah jika ini cuma perasaanku saja, tapi tentang perasaan, biasanya itu adalah sebuah kebenaran. Aku tak ingin dijodohkan, apalagi sama si Dio yang baru saja kukenal. Lagipula aku juga masih kelas 10. Masih terlalu muda bagiku untuk memikirkan berumah tangga. Setelah Tante Rita dan anaknya pulang, aku menghadap ke mamaku dengan memasang wajah cemberutku. Jujur aku kesal dengan keputusannya tadi. Harusnya tak usah ada acara les-les menyebalkan itu. Aku tidak suka belajar. Kecuali belajar untuk mencintai Daniel. "Kenapa sih, Ma, harus les?" Aku langsung melayangkan protesanku pada Mamaku. "Hufff.... Makanya kalau gak mau diles itu kamu harus dapat ranking satu. Masa nilai kamu banyak yang merah," jawab Mama. "Nilai itu tidak penting, Ma," protesku. "Kok bilang gitu?" Mamaku bertanya. "Seberapa besarpun nilainya, gak akan dibawa ke akhirat, Ma," jawabku. "Ah, kamu ini. Aneh-aneh aja. Pokoknya mama mau nanti kamu dapat nilai yang bagus," ucap mamaku. "Kalau Shela mau, Shela bisa saja dapat nilai bagus dengan hasil nyontek," ucapku. "Berarti itu gak jujur, dong," ucap mama. "Negeri ini gak butuh orang jujur, Ma. Justru sebaliknya, banyak orang jujur yang malah tertindas, dan yang gak jujur malah bersuka ria menikmati apa yang harusnya bukan haknya," ucapku. Itulah aku. Terkadang, ketika aku sedang tidak menyukai sesuatu, aku bisa membawa sesuatu itu ke apapun yang sedang aku bicarakan. Aku tidak suka mereka yang mengambil hak rakyat. Sungguh aku sangat tidak suka. Jika saja aku berhak menghukum, maka akan kuhukum mereka itu dengan hukuman yang jauh lebih menyakitkan daripada hanya kematian. *** Sang embun pagi muncul, bersamaan dengan suara kokokan ayam jantan yang membangunkan aku dari tidur nyenyakku. Kulihat keluar, sang langit dipenuhi dengan mendung hitam. Menakutkan, seolah-olah hari ini adalah hari akhir zaman. Mentari pagi tak mau muncul untuk menghangatkan bumi dan seisinya. Hanya mendung, tiupan angin dingin, serta embun pagi lah yang kini menyambut pagi ku. Sekolahku tetap berjalan. Tak ada kata libur jika hanya karena ada mendung hitam di atas sana. Pendidikan tetaplah pendidikan. Tak ada alasan jika bukan tanggal merah sekolah akan diliburkan. Kecuali jika hari kiamat. Pastilah sekolah akan diliburkan. Suara itu, suara gemuruh yang cukup mendebarkan. Semesta ini semakin lama kian mengecewakan. Kemarin ia tersenyum penuh kebahagiaan dengan cara menampakkan cerahnya. Akan tetapi di pagi ini, hari ini, ia menampakkan kemurungannya dan mungkin sebentar lagi juga ia akan menangis. Menyedihkan. Derap kakiku melangkah, melapisi setiap jejak yang mungkin telah dijejaki oleh orang lain. Aku ingin cepat-cepat menghindari semesta yang meredup ini. Setidaknya ke kelas. Di sana paling tidak akan ada penerangan temuan Thomas Alva Edison. "Wih, tumben Lo gak telat," sambut Icha sesaat setelah aku masuk. "Mau hujan," jawabku. Sang kilat mulai saling menyambar. Kegelapan semakin menyelimuti bumi ini. Ah, ternyata akupun salah. Kukira di kelas akan ada penerangan, tapi nyatanya tidak. Karya Thomas Alva Edison yang sedemikian rupa itu tak ada yang memanfaatkannya. Sungguh miris sekali. Bagaimana perasaan Thomas Alva Edison di alam sana ketika tahu ciptaannya tak termanfaatkan? Sang guru pun masuk, membawa beberapa buku yang pastinya berisi tentang pelajaran. Pagi ini adalah pelajaran matematika, dan sang guru yang mengajar tak lain dan tidak bukan adalah Bu Maya. Tentang Bu Maya, dia adalah perempuan berhijab yang membuai tubuh mungil. Dibanding dengan aku, masih tinggian aku. Umurnya mungkin sekitar 30 -an tahun lebih. Aku tak tahu secara pasti. Lupakan tentang biodata Bu Maya. Kini ia mulai duduk di bangku yang tersedia untuk guru. Tak lupa suara ucapan salamnya menggema seiring dengan suara petir yang saling menyambar. Kami pun menjawab salamnya. "Ini lampunya dinyalain dulu, bisa?" ucapnya. Wajar saja. Gelap memang sangat menjengkelkan. "Saklarnya di mana, Bu?" tanya Doni, salah satu temanku yang duduk di bangku urutan kedua paling depan. Entah apa maksud pertanyaannya itu. Padahal sudah hampir setahun ia berada di kelas ini. "Di balik papan," jawab Bu Maya dengan sabarnya. "Wah, jauh dong, Bu. Masa mau nyalain lampu aja harus ke Balikpapan dulu," sahut Fadil. Ia juga salah satu temanku. "Fadil, bukan Balikpapan yang itu, tapi di balik papan, papan tulis," jelas Bu Maya masih dengan kesabaran tingkat tinggi. "Oh, bilang dong, Bu," ucap Fadil sambil garuk-garuk belakang kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD