Bab 27

2005 Words
Semuanya tertawa, demikian juga aku. Kalau kalian bertanya kenapa bukan aku yang menjadi biang kerok atas keramaian itu, jawabannya adalah karena aku tidak terlalu dekat dengan guru pengajarnya. Jadi, karena itu pula ada sedikit kecanggungan di hatiku untuk membuat masalah dengannya, meskipun sebenarnya pun aku berani. Salah satu murid maju ke depan dan menekan sakelar yang memang berada di belakang papan tulis itu. Murid itu adalah Pasha. Dengan gayanya yang cool, ia kembali duduk di bangkunya setelah sebelumnya membuat karya Thomas Alva Edison itu berguna bagi banyak orang. Pembelajaran kini bisa dimulai. Penerangan dari bola lampu itu sudah bisa mengabaikan kegelapan yang berada di luar sana. Suara dengungan kipas angin pula sudah sedikit bisa meredam gelegar petir yang terdengar mengerikan. Ditambah lagi dengan suara Bu Maya saat menjelaskan di depan. Suara yang kalem tapi terdengar keras. Buku tulis MTK yang sudah lama tak terpakai terpaksa harus kubuka kembali. Pilihan satu-satunya untukku hanyalah tetap berada di kelas dan ikut mata pelajaran ini. Di luar sana sudah hampir hujan. Tentu aku tidak bisa pergi ke basecampku jika cuaca sedang seperti ini. "Oke anak-anak, sebelum dicatat, apakah ada yang ingin bertanya?" tanya Bu Maya. "Saya, Bu." Lagi-lagi si Fadil yang merespon. Tak lupa ia juga mengangkat tangan kanannya. "Iya, tanya apa, Dil?" tanya Bu Maya. Kurasa mereka berdua memang sangat dekat. "Gunanya itu apa, ya, Bu?" Sambil menunjuk ke arah tulisan di papan tulis. "Huruf kok dihitung," lanjutnya. Sumpah, aku hampir tertawa dibuatnya. Tidak, bahkan sudah tertawa, walau itu cuma tawa kecil. Sungguh lucu sekali teman-temanku ini. Si Fadil, si penghuni pojokan juga itu, yang kini sedang tertidur. Ah, kukira sekolahan ini tak menyenangkan, tapi ternyata ada sisi menyenangkannya juga. Aku suka kalau mereka sedang menggila. Entah kenapa itu membuatku nyaman berada di sana. "Ya Allah, Fadil. Protes aja kamu ini. Namanya mata pelajaran ya jangan ditanyain tentang gunanya. Ingat! Semuanya pasti ada gunanya," jawab Bu Maya. Kurasa ia bingung dan bahkan tak bisa menjawab dengan benar. "Halah, di alam kubur nanti juga malaikat tanyanya ya, 'Siapa Tuhanmu?',bukan, 'Berapa nilai matematikamu?' Jadi gak perlu lah, Bu, sebenarnya belajar matematika," ucap Fadil. Seisi kelas tertawa karenanya. Suara tawanya bahkan mengalahkan suara rintik-rintik air yang sudah mulai menghujam bumi. Bahkan sang petir sekalipun. Aku juga tak luput dari tawaku. Alangkah lucunya memang teman-temanku ini. Itulah teman-temanku. Setiap orang pasti punya kedekatan tersendiri pada seorang guru. Contohnya saja Fadil. Ia dekat dengan Bu Maya, tapi ia belum tentu dekat dengan para guru lainnya. Sedangkan aku, aku sebenarnya tak dekat dengan guru manapun. Hanya saja seringnya mereka memberikan hukuman kepadaku, itulah yang menjadi kunci dari dekatnya aku dengan para guru. Jadi kesimpulannya, kalau kalian ingin dekat dengan guru, hanya ada dua cara, jadilah pintar atau jadilah nakal senakal-nakalnya. Satu lagi, meski aku masih belum bisa mempercayai teman-temanku dalam suatu hal, tapi aku sudah bisa menganggap bahwa mereka semua jauh lebih baik daripada teman-teman sekelas Daniel. Mereka semua menghargai perbedaan. Meski pintar, tapi tak sombong dengan kepintarannya. Yang paling kaya paling cuma bercanda jika ia memamerkan hartanya. Itu juga termasuk aku. Tak ada penghinaan. Tak ada pembullyan. Tak ada satupun yang merasakan rasa sakit seperti apa yang Daniel rasakan hampir tiap harinya. Oke, aku tahu bahwa teman sekelasku ini adalah mayoritas anak orang kaya. Berbeda dengan Daniel dan teman-teman sekelasnya. Mungkin Daniel lah satu-satunya orang yang terlahir dari keluarga yang kurang berada, atau bahkan bisa dibilang miskin. Karena itulah teman-teman laknatnya itu menganggap dia hanya sebagai k***********n yang memang pantas untuk direndahkan. Miris, sebuah pertemanan hanya berdasarkan kekayaan. Kembali lagi kepada pembelajaran di kelas. Lambat laun suara Bu Maya sudah tak dapat terdengar dengan jelas lagi ketika sang hujan mulai bertambah deras untuk membasahi bumi. Menakutkan, ya, ini benar-benar menakutkan. Sekilas kutengok lewat jendela tentang keadaan di depan. Keadaan itu benar-benar sangat buruk, seolah-olah sedang terjadi badai besar. Bahkan sempat terlintas di pikiranku bahwa hari ini adalah hari akhir zaman alias kiamat. Aku takut, bukan karena takut mati, tapi takut karena aku merasa amalku masih belum cukup untuk menghadapi alam akhirat nantinya. "Shel." Icha memanggilku. Aku menengok ke arahnya dan mendapati dia yang sedang memasang wajah ketakutan. Tubuhnya juga terlihat gemetar. "Gak usah takut, Cha," ucapku menenangkan. Ah, padahal akupun sebenarnya juga ketakutan. Kalau kalian ingin menganggap aku dan Icha lebay, itu hak kalian. Tapi sungguh, hujan besar campur angin kencang dan petir ini memang sangat menakutkan. Tak pernah kulihat semesta semarah itu, atau pernah, tapi sudah kulupakan. Kali ini sang kuasa sedang menunjukkan kuasanya. Kukira ini hanyalah bentuk kuasa kecil darinya, tapi sudah terasa sangat menakutkan. Apalagi jika seandainya kuasa besarnya diperlihatkan. "Anak-anak, pembelajaran hari ini cukup sampai di sini saja." Meskipun samar-samar, tapi masih bisa kudengar suara dari Bu Maya. Ia mengucap salam. Kamipun menjawabnya. Kemudian ia duduk di bangkunya lagi sembari melihat ke arah luar melalui kaca jendela itu. Oh ya, tentang pintu, sedari tadi pintunya memang sudah tertutup. Bahkan sejak sang hujan belum berubah jadi lebat alias masih gerimis. Pagi ini terasa menguntungkan, tapi juga terasa menakutkan. Lolos dari pelajaran memusingkan, yakni matematika, tapi harus digantikan dengan pelajaran tentang alam yang diberikan langsung oleh sang pencipta. Sebuah pelajaran yang membuat hati merasa was-was, penuh dengan ketakutan. Bulu kuduk ini pun merinding, entah karena kedinginan atau terlalu ketakutan pada keadaan semesta di pagi hari ini. Dan inilah pelajaran yang paling aku takuti. Ia lebih mendebarkan daripada menghapal rumus matematika. Lebih menakutkan dari sang guru biologi, yaitu Pak Handoko. Lebih merepotkan dari fisika, dan juga lebih banyak membuat tanda tanya daripada Bahasa Indonesia. Kulihat di sampingku seorang sahabatku masih dalam ketakutannya. Aku pun takut, tapi tak setakut dia. Entah, tiba-tiba muncul sebuah ide buruk dalam benakku. Sebuh ide untuk membuat Icha semakin ketakutan dengan apa yang ia lihat di luar sana. "Cha," panggilku. "Apa?" tanyanya. Tapi pandangannya masih mengarah ke luar jendela. "Lo tahu, gue pernah baca entah di dalam buku apa, gitu. Aku lupa. Dalam buku itu tertulis sebuah pernyataan tentang apa yang terjadi setelah hujan seperti ini. Katanya...." Aku sengaja menggantung ucapanku untuk membuat Icha semakin ketakutan. Benar saja, dia kini terlihat sangat serius ingin mendengarku. Di dalam keseriusannya itu aku juga merasakan ada perasaan takut dalam benaknya. "Katanya.... Kalau di pagi hari kayak gini sudah terjadi hujan kayak gini, itu pertanda buruk untuk nanti," lanjutku. "Pertanda buruk apa sih, Shel? Lo jangan ngada-ngada, deh!" protesnya. Aku tahu ia sedang ketakutan. Itu nampak jelas di mimik wajahnya. "Ngada-ngada gimana? Gue serius." Akupun berucap dengan sok serius demi membuat dia semakin yakin dengan ceritaku. "Ya apa? Lo jangan nakut-nakutin gue, dong," pintanya. Aku ingin tertawa. Akhirnya ia mengakui ketakutannya. "Nakut-nakutin gimana? Gue cuma nyampein fakta," ucapku. "Lo mau denger lanjutannya, gak?" tanyaku. Ia hanya menatapku. Mungkin itu adalah pengganti dari kata 'iya'. Aku menghembuskan napasku pelan, dan entah ada yang menyadari atau tidak, ketika hal itu kulakukan, terlihat ada sedikit semacam asap yang keluar dari mulutku. Mungkin karena suhunya yang benar-benar sangat dingin di pagi ini. Demikianlah penafsiranku. "Oke, gue lanjutin. Kalau terjadi hujan kayak gini di pagi hari, itu berarti akan ada kejadian buruk setelahnya. Tidak, bahkan bisa dibilang kejadian yang sangat tidak diharap-harapkan oleh semua orang di bumi ini," ucapku. Icha semakin menegang, aku tahu itu. Ketakutannya mungkin bertambah berkali-kali lipat, dan memang itulah yang kuharapkan. Anggap saja ini sebagai bentuk pembalasan karena dia pernah merendahkan Daniel di hari itu. "Dan Lo tahu apa kejadian buruk itu?" tanyaku. "Enggak, lah," jawabnya. "Gu-gue, gue gak sanggup ngasih tahu Lo. Gue takut Lo akan ketakutan," ucapku gagap, sengaja ingin menambah keyakinan Icha atas ceritaku. "Gak apa-apa, Shel. Kasih tahu aja," ucap Icha. "Gu-gue takut, Cha," ucapku sambil memasang wajah ketakutan. Maklum lah, akting. "Katanya setelah terjadi hujan lebat yang kayak gini...." Lagi-lagi aku menggantung ucapanku. Icha bersiap memasang telinganya untuk nantinya dipergunakan untuk mendengarkan apa yang aku katakan. Sumpah, sebenarnya aku ingin ketawa sebelum mengungkapkan apa yang ingin aku katakan. Akan tetapi itu masih bisa kutahan demi berjalannya misi ini dengan mulus. "Katanya kalau sehabis hujan campur angin campur petir di pagi hari seperti ini, nanti pasti akan ada kejadian buruk yang akan tidak kita inginkan. Bayangkan saja. Nanti pasti jalanan akan becek, udara pasti juga akan jadi dingin kayak es. Keadaan yang buruk, bukan?" Icha langsung memasang wajah malasnya. Aku hanya tertawa seiring dengan suara air hujan yang masih begitu derasnya turun membasahi bumi. Puas sekali rasanya telah sukses membuat Icha ketakutan dalam cerita tidak jelasku itu. Aku jadi berpikir, bahwa orang yang pintar sekalipun akan bisa dikalahkan oleh kelicikan. "Wah, sialan Lo, Shel. Kita udah sungguh-sungguh, ngedengerin, Lo malah gitu." "Iya, gak asyik Lo." Itu bukan suara Icha. Suara itu datang dan berasal dari arah bangku belakangku. Kupalingkan wajahku ke belakang, demikian juga Icha. Di sana terduduk dua orang yang kukenal dengan nama Evi dan Dina. Mereka itu yang kemarin sempat menjadi rekan satu timku dalam permainan bola basket. Masih ingat, kan? "Lah, Lo berdua nguping dari tadi?" tanyaku. "Ya gak nguping, sih. Cuma kedengeran aja," jawab Dina. "Hahaha.... Baguslah," ucapku. "Bagus gimana?" Kali ini Evi yang berbicara. "Kan korbannya jadinya tiga. Hahaha," ucapku yang kuiringi dengan suara tawa. *** Tik... Tik... Tik bunyi hujan di atas genting. Suara nada indah dari lagu itu mendadak muncul di benakku. Indah dan tenang sekali saat suara itu muncul. Hujan ini mengingatkan aku pada lagu masa kecilku. Dulu, papaku selalu menyanyikan lagu itu ketika turun hujan seperti ini. Aku rindu masa-masa itu. Sungguh, aku tidak sedang bercanda. Hatiku terasa terenyuh setiap kali nada lagu itu terngiang-ngiang di kepalaku. Ingin sekali ku bernyanyi mengiringi setiap tetes air yang menyentuh permukaan bumi. Ingin sekali ku menangis sebagai bentuk pembuktian bahwa aku sedang sangat rindu dengan masa lalu itu. Kemudian kuingat lagi. Biasanya setelah hujan akan ada pelangi. Ya, pelangi, tujuh warna indah yang muncul di langit sana setelah adanya hujan panas. Aku ingat akan lagu pelangi-pelangi. Kalau lagu tentang hujan pertama kali diperkenalkan oleh papaku kepadaku, lagu pelangi-pelangi diperkenalkan oleh mamaku. Aku rindu tanpa bisa kembali ke masa-masa itu. Aku rindu dengan jiwa yang terbelenggu. Terbelenggu oleh masa kini, dan dihadapkan dengan kenyataan bahwa mustahil bisa mengulang masa-masa itu. Maaf kalau aku banyak membahas tentang masa lalu, karena menurutku ini memang pantas kubahas untuk mengenang segala kenanganku dengan papa dan mamaku. Jika orang lain melambangkan hujan sebagai kenangannya bersama sang mantan, aku tidak. Aku menganggap hujan sebagai kenanganku dengan keluarga, terutama papa dan mama. Karena itu pula kenapa terkadang aku benci dengan sang hujan. Ia seolah-olah hanya membawa kesedihan untukku. Kesedihan karena teringat masa lalu. Kesedihan karena ketakutan dengan kuasa sang pencipta, dan masih banyak lagi. Itulah sedikit kenanganku bersama sang hujan. Sebenarnya masih banyak yang bisa aku ceritakan tentang kenanganku yang lain, tapi kurasa itu tak begitu penting. Kembali lagi pada keadaan di kelasku. Entah karena jenuh menunggu hujan reda atau apa, kini teman-temanku sibuk menyibukkan dirinya masing-masing tanpa memperdulikan keberadaan Bu Maya yang sedari tadi masih duduk di depan sana. Si penghuni pojokan yang tadi sempat tertidur, kini sudah mulai mengeluarkan papan caturnya. Si tengil itu memang aneh. Sekolah bukannya membawa buku malah membawa papan catur. Buku mungkin hanya membawa satu, dan itupun tak pernah ia gunakan. Kurasa ia lebih parah dari aku. Cuma bedanya, ia tak pernah kabur, bolos ataupun sengaja tak ikut mata pelajaran seperti yang sering aku lakukan. "Cha, hujannya kok gak reda-reda, ya. Jangan-jangan benar, ini pertanda buruk," ucapku. "Pertanda buruk, apa? Jalanan becek dan suhu jadi dingin?" tanyanya. "Ih, bukan. Pertanda buruk yang sesungguhnya." Kujawab. Entahlah, kini malah aku yang merasa agak ketakutan. "Makanya kalau ngomong tuh dijaga, kalau jadi pertanda buruk beneran kan Lo sendiri ketakutan," ucap Icha. "Ya, Lo bener juga, sih." Aku menunduk, merasa bahwa telah melakukan kesalahan yang cukup besar. Harusnya aku tak berbicara yang aneh-aneh ketika berada dalam posisi seperti ini. Hujan itu bukannya semakin reda malah jadi semakin deras. Berbagai pikiran aneh menggelayuti pikiranku. Bagaimana jika nanti kotaku Kota Metropolitan tenggelam karena banjir. Bagaimana pula jika seandainya setelah hujan deras ini reda tiba-tiba terlihat matahari yang terbit dari ujung barat. Banyak pertanyaan di benakku yang kuawali dengan unsur 'bagaimana'. Kuharap itu hanyalah pikiran buruk yang tidak akan terbukti kebenarannya. Semoga saja begitu. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD