Mulut Bu Maya komat-kamit membaca do'a yang tak bisa kudengar. Teman-temanku juga, hampir semua dari mereka kini sedang memanjatkan do'a pada sang pencipta. Si penghuni pojokan sana bahkan mengurungkan niatnya untuk bermain catur. Ia hanya meletakkan papan catur itu di atas meja, kemudian wajahnya yang nampak khawatir kini menatap ke luar jendela. Nampaknya si tengil itu juga ketakutan. Jika saja waktunya sedang tepat, aku pasti akan menertawakannya.
Tak ada canda tawa seperti yang tadi terjadi. Hanya keheningan dari mulut yang tidak bersuara dan suara menyeramkan dari sang hujan dan kawan-kawannya lah yang tercipta. Jika di luar terlihat gelap, maka ketahuilah itu bukan kegelapan sang malam. Jika di dalam kelas ini sunyi, maka ketahui juga bahwa ini bukan karena tak ada penghuninya. Kegelapan itu muncul dari mendung hitam yang menutup rapat cahaya matahari sehingga tak bisa sampai ke bumi. Kesunyian di dalam kelas ini terjadi karena kami semua sedang dalam ketakutan yang luar biasa.
Kalau kalian mengalaminya, kalian pasti akan mengerti tentang apa yang aku rasakan. Angin kencang itu kulihat seakan-akan berputar-putar dan siap untuk menghancurkan apa saja yang ia lewati. Beberapa motor yang terparkir di halaman sana telah menjadi korbannya. Aku tak tahu, apa itu termasuk motorku atau tidak. Suara gemuruh guntur yang saling bersahut-sahutan itu terdengar lebih keras daripada suara bom, bahkan bom atom sekalipun, mungkin. Kilatan-kilatan yang seolah-olah siap menyambar siapa saja, bagaimana aku tidak takut akan hal itu.
Semuanya berada pada mode senyapnya. Dalam kondisi seperti ini pikiranku malah tertuju ke Daniel. Sedang apa dia di dalam kelasnya saat ini? Apakah ia juga ketakutan, sama sepertiku? Berbagai pertanyaan itu muncul begitu saja di dalam pikiranku. Hingga kemudian muncul satu pertanyaan buruk tentangnya lagi. Bagaimana jika seandainya di kelasnya sedang tidak ada guru yang mengajar dan kemudian teman-teman sialannya itu mengusir dia dari dalam kelas, atau yang lebih parah jika teman-temannya itu mengikat Daniel dan menaruh Daniel di bawah guyuran hujan yang deras itu. Ah, buruk sekali pikiranku ini.
Inilah kejadian menakutkan yang berhubungan dengan hujan. Mungkin kejadian ini akan selalu teringat sampai hari tua nanti. Segala ketakutan yang tercipta itu merupakan bukti bahwa manusia hanyalah makhluk kecil yang sangat lemah. Aku, yang bisa dikatakan cukup pemberani, mendadak jadi penakut karenanya. Hujan menjadi saksi bisu atas semua itu. Satu hal yang perlu diingat bahwa tak seharusnya makhluk bernama manusia itu bersifat sombong di muka bumi ini. Ketika Tuhan sudah murka, maka kesombongannya itu pula yang akan menjatuhkannya.
***
Apa yang aku takutkan ternyata salah. Ketika sang hujan telah mereda, lambat laun terbitlah sang raja hari yang bernama matahari. Ia masih terbit dari ufuk timur, bukan dari ujung barat yang kukira sedari tadi. Jalan hidupku masih panjang. Hari di mana aku menganggap bahwa itu hari akhir ternyata adalah sebuah kesalahan besar, dan aku benar-benar bersyukur atas semua itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 08:45, tapi pelajaran masih belum bisa dimulai karena semuanya harus sibuk membersihkan air yang menggenangi kelas dan teras kelasnya masing-masing. Di atas sana nampak sang mentari pagi. Ia memang masih sedikit terhalang oleh beberapa titik awan kecil, tapi itu sudah cukup membuatku bisa bernapas lega. Setidaknya ia masih setia kepada bumiku tercinta untuk menjaganya tetap hangat dan terang.
"Shel, bantuin ngepel, dong. Jangan duduk-duduk aja!" ucap Dina.
"Ngapain dipel?" tanyaku masih santai dalam dudukku.
"Ya biar air yang menggenangi kelas ini hilang dong, Shel," jawab Dina.
"Lah, gue sebenarnya malah pengen nambahin airnya supaya kelas ini banjir," ucapku.
"Biar apa?" tanya Dina.
"Ya biar jam kosong terus lah, aneh," jawabku cepat.
Dina kemudian menghentikan kegiatan mengepelnya. Ia terdiam sejenak mencermati apa yang aku ucapkan barusan. Tak lama kemudian ia manggut-manggut seakan setuju dengan pernyataanku.
"Benar juga Lo. Kalau gitu, kenapa gak sekarang aja kita penuhi seisi kelas ini dengan air," ucap Dina.
"Ide bagus juga, tuh. Lo dapat pemikiran kayak gini dari mana, sih?" Rosa, tapi bukan Risa mamaku tiba-tiba ikut berbicara.
"Dari YouTube. Kalau gak salah chanelnya si Awan, Awan siapa itulah, gue lupa," jawabku.
"Ya udah, kalau gitu, sekarang aja, mumpung gak ada guru," ucap Dina.
"Mau ngapain Lo bertiga? Apanya yang mumpung gak ada guru?" Icha tiba-tiba datang dan melontarkan pertanyaan yang berbondong-bondong kepada kami.
"Ini, mau banjirin seisi kelas, biar gak ada jam pelajaran," jawab Rosa. Entah ia keceplosan atau apa. Tapi yang pasti, memberitahukan hal sesat itu pada murid teladan seperti Icha adalah sebuah tindakan yang sangat bodoh.
Kalau saja namanya tidak sama dengan nama mamaku, mungkin aku sudah akan memaki-makinya. Apa yang ia katakan itu hanya akan menggagalkan rencana sesat ini. Si gadis blasteran yang merupakan langganan peringkat 3 besar itu pasti tak akan setuju dengan rencana itu, dan pastinya ia akan berusaha untuk menggagalkannya.
"Dasar bodoh!" gumamku pelan.
"Apa? Lo bertiga mau banjirin kelas ini? Jangan gila! Awas saja entar kalau Lo bertiga beneran ngelakuin hal ini. Gue akan bilangin ke Pak Handoko," ancam Icha.
Iya, kan? Bahkan belum ada satu menit aku menduga kalau Icha tidak akan setuju, kini dugaanku itu benar-benar terbukti. Aku hanya bisa diam seakan-akan tak memperdulikan semua yang ada di sekitarku, sedangkan si Dina dan Rosa, aku yakin mereka tidak akan bisa berkutik lagi kalau sudah mendengar nama Pak Handoko.
"Ini pasti Lo ya, Shel, yang ngajak?" tanya Icha.
"Ha?" Aku berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Enak aja Lo. Gue gini-gini juga mau jadi anak pintar. Gue juga pengen pembelajaran segera dilaksanakan lagi," ucapku.
"Eh, bukannya tadi...." Dina ingin mengatakan sesuatu.
"Din, Lo diam dulu!" potongku. Dina langsung diam.
"Tapi kan tadi, Lo-"
"Lo juga Ros, diam dulu!" potongku. Rosa diam.
"Lo jangan gitu, Cha, sama gue. Masa orang ingin berubah jadi lebih baik malah Lo tuduh sembarangan," ucapku lagi.
"Hah, ya udah, lanjut aja lah," ucap Icha.
"Banjirin kelasnya?" tanya Rosa dengan polosnya.
"Ngepelnya," jawab Icha tak santai.
Rencana kami pun gagal hanya gara-gara seorang Icha. Tapi tak apa, sebenarnya aku pun tak begitu berniat untuk melakukan hal buruk itu. Tadi itu hanyalah bentuk kata-kata yang muncul dari sisi buruk diriku. Sisi baik diriku mengatakan bahwa aku tidak boleh melakukan hal itu. Seperti apa yang dikatakan oleh Daniel hari itu. Aku tidak boleh membuat perjuangan orang tuaku sia-sia.
Dikarenakan desakan yang begitu kuat dari teman-temanku, mau tidak mau akupun harus membantu mereka mengepel kelas. Akan tetapi, alat pengepelnya sudah habis. Jadi akupun memanfaatkan sapu untuk mengeluarkan genangan air itu dari dalam kelas.
"Ini yang cowok pada ke mana, sih?" tanyaku entah kepada siapa.
"Lo kayak gak tahu cowok-cowok aja. Tuh lihat," jawab Dina sambil menunjuk ke arah kumpulan lelaki yang sedang bercanda ria di halaman sana.
"Cih, kenapa gak disuruh bantu-bantu, sih?" tanyaku.
"Sudah, tapi katanya ngepel sama nyapu itu kan tugas cewek, ya mereka gak mau bantu, lah," jawab Dina.
"Siapa yang ngejawab itu?" tanyaku lagi.
"Ya semuanya. Terutama si Dendi, tuh," jawab Dina.
"Halah, makanya kalau nyuruh tuh jangan lembek," ucapku.
"Nih, bawain sapu gue dulu," ucapku lagi sambil memberikan sapu yang kubawa kepada Dina.
Aku kemudian berjalan keluar dari kelas. Di teras sana, banyak teman-teman cewekku yang juga sedang sibuk membersihkan teras. Lalu, mataku menangkap sekumpulan anak laki-laki itu. Betapa kesalnya aku melihat dan mendengar canda tawa mereka di saat kami para perempuan berada dalam lelahnya sebuah pekerjaan. Segera kuhampiri mereka dengan tatapan marahku.
Mungkin aku ini egois. Aku tahu akupun juga pernah berada di posisi seperti mereka. Bersantai-santai ketika teman-temanku sedang bekerja. Tapi, aku hanyalah seorang perempuan yang baru berumur 16 tahun. Emosiku masih labil. Melihat hal semacam itu tentu membuatku tak terima. Bahkan jika sebenarnya pun aku juga sering seperti itu. Keegoisanku masih tinggi, tak peduli dengan siapapun, yang penting mereka mau menuruti apa yang ku mau.
"Woi kalian!" ucapku sambil agak berteriak. Mereka melihat ke arahku.
"Lo semua gak lihat kalau kelas lagi banjir?" tanyaku.
"Bantu-bantu sana, cepat!" lanjutku memerintah mereka.
Di antara dari mereka ada yang bersikap tenang, salah satunya adalah Pasha. Ada juga yang seperti sedang ketakutan. Ada pula yang melihatku dengan sinis seakan tidak suka, tapi hanya memilih untuk diam. Bahkan si Dendi yang biasanya tengil pun kini tak berani menjawab sedikitpun.
Aku tahu, meski banyak yang menyukaiku, tak mustahil jika banyak pula yang tidak suka denganku. Hanya saja mereka lebih memilih mengekspresikan hal itu dengan diam.
"Kenapa diam? Cepat sana!" ucapku. Raut wajahku sengaja kubuat seperti orang yang sedang marah besar.