Aku kembali melanjutkan aktivitas makanku. Tak kuhiraukan Nita dan Sinta yang sedari tadi duduk di dekatku. Kini mereka mengobrol berdua dan membiarkan aku untuk menikmati makanan yang selalu kusebut dengan sebutan 'nasi pecel'.
"Udah selesai, makannya?" tanya Nita basa-basi Kepadaku.
"Sudah," jawabku singkat.
Aku berdiri untuk membuang bungkus nasi pecel itu ke tempat sampah. Tak lama kemudian, akupun kembali ke tempat semula.
"Pelajaran siapa setelah ini?" tanyaku pada mereka berdua tepat ketika aku kembali dari membuang sampah.
"Bu Mirna," jawab Sinta.
"Halah, dia lagi," ucapku.
"Hahaha, emang kenapa? Dendam ya lo, sama Bu Mirna?" Kali ini Nita yang bertanya.
"Bukannya dendam. Cuma kesel aja, dihukum mulu," jawabku.
Ingatanku kembali mengingat si guru perempuan itu ketika menghukumku. Mungkin bisa dibilang, dialah guru yang paling banyak memberi hukuman kepadaku, kemudian disusul oleh Pak Handoko di urutan kedua.
"Gue nanti gak mau ikut pelajarannya Bu Mirna. Gue mau di sini aja. Lo berdua jangan sampai bilang ke siapapun kalau gue ada di sini, apalagi sampai bilang ke Bu Mirna," ucapku memberi peringatan.
"Kalau kita nanti ditanyain sama Bu Mirna, kita jawab apa, dong?" tanya Sinta.
"Ya jawab aja gak tahu. Gitu aja repot," jawabku.
"Berarti kita bohong, dong? Gak mau ah, dosa," tolak Nita.
"Hemmm, sebenarnya sih gue mau nraktir Lo berdua makan di restoran kalau Lo mau nurutin perintah gue. Tapi...." Aku menggantung ucapanku.
"Eh, setelah gue pikir-pikir, iya deh, gak apa-apa gue bohong. Demi pertemanan," sahut Nita.
"Ya, gue juga. Gue mana tega sama Lo," ucap Sinta.
Aku menghembuskan nafasku dengan pelan. Rasanya aku ingin mengumpati mereka berdua saat ini juga. Kesal? Jangan ditanya. Sudah pasti aku sangat kesal.
"Katanya takut dosa," ucapku.
"Iya sih, tapi kita ya nggak tega lah kalau lihat Lo dihukum lagi," kata Nita.
"Tapi bener kan, Lo mau nraktir kita makan di restoran?" tanya Sinta.
"Cih, bilang aja Lo berdua mau bantu gue karena emang ada maunya. Pakai sok-sokan demi pertemanan pula," ucapku.
"Hahaha iya sih. Lo mau nraktir kita adalah hal yang sangat langka. Jelas nggak kita sia-siain, lah," ucap Nita.
"Oke, kalau gitu gue mau usul ke sutradara agar membuat sinetron yang judulnya, 'azab membohongi guru demi sebuah traktiran'," ucapku.
Mereka berdua memandangku dengan raut wajah yang terlihat ingin memprotes apa yang baru saja kuucapkan tadi. Akan tetapi tidak kupedulikan hal itu.
"Lagian Lo berdua, ngomongnya takut dosa, tapi giliran dikasih imbalan Lo berdua langsung mau melakukan perbuatan dosa itu," ucapku lagi.
"Iya lah. Kalau soal dosa kan nantinya juga sang kuasa masih bisa memaafkannya. Akan tetapi soal traktiran dari lo jika seandainya kami tolak, ya gak akan ada kesempatan kedua lagi," jawab Nita dengan entengnya.
"Ooo.... Gitu? Okelah, gue mengerti. Semoga nyawa Lo berdua masih ada hingga dosa-dosa kalian dimaafkan oleh sang kuasa," ucapku menakut-nakuti.
***
Bel tanda masuk telah berbunyi. Di rooftop ini, satu persatu dari banyaknya murid telah turun. Demikian pula dengan Nita dan Sinta yang juga baru saja turun dengan mengemban tugas sesat yang aku berikan tadi. Kini di tempat ini tinggal aku seorang diri. Sendirian tanpa ada gangguan. Ah, benar-benar sangat menyenangkan.
Aku memandang ke bawah. Panorama menyebalkan yang tiap harinya selalu kusaksikan itu kembali terlihat oleh mataku. Kota metropolitanku, kapankah engkau akan berubah menjadi lebih mengasyikkan?
Mataku sesekali menangkap sang driver ojek online yang dengan gigihnya menjemput dan mengantarkan para penumpangnya di bawah teriknya sinar sang mentari. Para pedagang itu juga tertangkap oleh indra pengelihatanku. Mereka berjuang meski harus panas-panasan hanya demi bisa makan tiap harinya. Tak lupa juga para tukang becak yang sekuat tenaga mengayuh becaknya demi mendapatkan uang yang tidak seberapa jumlahnya.
Ah, apa-apaan ini? Tiba-tiba otak ini bisa berpikir dengan benar. Kali ini aku menyadari bahwa mencari uang adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Bayanganku seketika mengarah kepada papa dan mamaku. Sepenat apa sebenarnya mereka ketika kerja? Aku tak tahu secara pasti, tapi sepertinya itu benar-benar sangat melelahkan. Dan parahnya aku hanya menjadi beban yang bisanya cuma menghabiskan uang dari hasil jerih payah mereka berdua.
Aku tiba-tiba teringat dengan ucapan Daniel tadi pagi. Ya, ia tadi mengatakan....
"Jangan karena lo anak orang kaya, lo anggap sekolah hanya sebagai permainan. Orang tua lo susah-susah nyari duit, salah satunya demi untuk menyekolahkan lo. Mereka berharap lo bisa menjadi orang yang berilmu suatu saat nanti. Dan lo dengan mudahnya merusak harapan mereka."
Daniel benar. Orang tuaku susah-susah mencari uang untuk menyekolahkan aku. Mereka berharap aku bisa menjadi orang berilmu dan sukses suatu saat nanti. Tapi aku malah merusak harapan itu.
Aku tersadar, tapi kurasa belum sepenuhnya tersadar. Akan sulit bagiku untuk mengubah sifat yang sudah lama kubangun. Tak mungkin jika hanya karena ucapan Daniel, aku bisa langsung berubah.
Namun untuk kali ini, entah kenapa tiba-tiba ragaku terasa ringan untuk bergerak. Ya, aku akan melakukan hal yang seharusnya aku lakukan saat ini. Aku harus kembali ke kelas dan ikut dalam pembelajaran. Meski untuk saat ini, di kelasku, Bu Mirna lah yang mengajar, aku harus tetap ke sana. Mungkin hukuman sudah menantiku di sana. Tapi aku harus menghadapinya.
***
Kakiku benar-benar menuntunku ke arah kelas. Ini sungguh sangat aneh. Siapa sebenarnya lelaki bernama Daniel itu? Kenapa dengan begitu mudahnya ia membuatku tunduk hanya dengan kata-katanya? Tidak, ini bukan diri seorang Shelania Putri Artasyah yang sebenarnya.
"Maaf Bu, saya telat," ucapku sesaat setelah memasuki kelas.
Bu Mirna menatapku dengan tajam. Kurasa hal buruk akan segera menimpaku. Aku sudah membayangkan tentang hukuman yang akan diberikan Bu Mirna kepadaku. Karena dari dulu, hanya dialah satu-satunya guru yang tanpa ragu memberikan hukuman kepadaku jika aku salah. Tak peduli dengan posisiku sebagai anak seorang Boy Artasyah. Kalau Pak Handoko, ia juga memang sering memberikan hukuman kepadaku. Akan tetapi ia masih mempertimbangkannya ketika akan memberikan hukuman kepadaku.
"Shela! Baru masuk? Apa kamu gak dengar kalau bel masuk sudah berbunyi dari tadi? Kenapa gak pulang aja sekalian," ucap Bu Mirna.
Aku bingung dengan kemauan si guru perempuan itu. Mau mengikuti pelajarannya salah, nggak ikut apalagi. Pernah terbersit sebuah pertanyaan di benakku tentang itu. Ada dendam apakah Bu Mirna kepadaku?
"Ya udah, iya saya pulang," ucapku sok ngambek sambil berjalan ke arah bangku untuk mengambil tas.
Hampir seluruh isi kelas melihat tingkahku. Ada yang meresponnya dengan menggeleng-gelengkan kepala, ada yang malah tidak peduli dan memilih untuk tidur, dan ada pula yang menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Respon yang terakhir itu tentu saja dari Icha selaku sahabatku yang mungkin malu melihat tingkah lakuku.
"Eee... mau ke mana, tuh?" tanya Bu Mirna yang otomatis langsung menghentikan langkahku.
"Katanya tadi disuruh pulang. Gimana sih, Bu?" ucapku tak santai.
Bu Mirna semakin kesal kepadaku. Ia mendesis pelan seperti seekor ular. Aku hanya menatapnya tanpa sedikitpun ketakutan.
"Shela! Duduk atau ibu akan beri hukuman sama kamu," ancamnya.
"Nggak jadi disuruh pulang, Bu?" tanyaku polos.
"Enggak," jawab Bu Mirna ketus.
"Ah, ibu ma plin-plan," ucapku.
"Masih ngejawab terus. Cepat duduk!" bentak Bu Mirna.
Kuhembuskan napasku pelan, kemudian kuturuti saja apa yang Bu Mirna mau. Aku berjalan santai menuju ke tempat dudukku tanpa merasa bersalah sedikitpun. Ternyata apa yang aku pikirkan memang benar, bahwa aku tidak akan bisa berubah dengan semudah itu. Walaupun tadi aku sudah menyadari kesalahanku, tapi faktanya tak sampai 15 menit setelah itu aku kembali mengulangi kesalahan itu. Hah, memang aku ini tak berbakat dalam hal mengubah sifat.
Aku memposisikan diriku duduk di samping Icha, karena memang di situlah tempat dudukku. Kulihat gadis blasteran itu masih menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Aku hanya geleng-geleng melihat kelakuannya.
"Kenapa Lo? Muka Lo habis kena cipratan minyak goreng, ya?" tanyaku pelan pada Icha.
Perlahan namun pasti, gadis yang kujuluki dengan sebutan si gadis blasteran itu menjauhkan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Kulihat area wajahnya agak berkeringat. Mungkin itu karena terlalu lama ia tutupi.
"Malu-maluin Lo. Gue selaku sahabat Lo jadi malu, nih," ucap Icha.
"Malu? Gue yang pemeran utamanya aja gak malu. Ngapain Lo malu?" balasku.
"Cih, terserah lah. Mending sekarang Lo diam dulu. Perhatikan kalau Bu Mirna sedang mengajar!" ucap Icha.
"Iya," jawabku tak santai.
Di depan sana nampak Bu Mirna yang sedang mengajar matematika. Jujur aku sangat tidak paham dengan apa yang ia jelaskan. Lama-kelamaan mata ini juga terasa semakin berat dan ingin sekali terpejam. Akan tetapi aku mencoba melawan hasrat sesatku itu. Aku terus memperhatikan walau tidak paham.
"Jadi, hasil dari x + y adalah....?" tanya Bu Mirna.
"Ada yang bisa jawab?" lanjutnya.
"Hadeh, huruf kok dijumlah. Di mana-mana tuh angka, Bu, yang dijumlah," sahutku.
Pandangan Bu Mirna langsung mengarah kepadaku, begitupun dengan teman-teman sekelasku. Tatapan sinis itu sungguh penuh dengan tanda tanya bagiku.
"Shela, kamu maju dan jawab pertanyaan ini!" perintah Bu Mirna sambil menunjuk tulisan di papan tulis. Sontak hampir seluruh isi kelas pun menertawakan aku.
Aku berusaha maju dengan kepercayaan diri tingkat tinggi. Padahal aku benar-benar tak mengerti dengan pertanyaan itu. Namun ini juga karena kesalahanku sendiri. Andai saja mulut laknatku ini mau diajak kompromi agar tidak membantah apa yang Bu Mirna katakan. Mungkin sekarang aku tidak ada di posisi ini.
"Nah, bagus. Cepat kerjakan!" perintah Bu Mirna.
Kuterima spidol yang diberikan Bu Mirna kepadaku. Kujawab saja sebisa yang aku bisa. Salah? Tentu saja jawabannya akan salah. Secara aku tak paham sama sekali tentang materi ini. Jikalau saja jawabanku nanti benar, itu adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Dan kupastikan itu tidak mungkin terjadi.
x + y sama dengan y + x. Jika y + x sama dengan x + y. Maka x + y sama dengan z.
Demikianlah kira-kira jawaban tidak jelasku itu. Wajar saja, murid sepertiku disuruh menjawab soal yang sedemikian sulitnya, tentu saja membuatku kesulitan.
"Itu kenapa jawabannya bisa 'z'?" tanya Bu Mirna.
"Menurut abjad, huruf x terletak sebelum y, dan sesudah huruf y adalah huruf z. Jadi x + y sama dengan z, lah," jawabku sekenanya yang langsung disambut dengan tawa teman-temanku.
Bu Mirna nampak menahan emosinya. Akan tetapi beberapa detik kemudian ia langsung menyuruh aku duduk. Tak biasa-biasanya ia seperti itu. Apa mungkin ia sudah lelah menghukumku? Kalau memang seperti itu, baguslah.
***
Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Hari ini adalah hari yang sangat langka buatku. Di hari inilah aku bisa mengikuti semua pelajaran. Padahal hari-hari sebelumnya, entah itu satu jam pelajaran ataupun lebih, pasti ada saja yang tidak aku ikuti. Bagai mendapat hidayah, hari ini aku benar-benar melakukan hal langka itu.
"Oi, Cha. Yuk pulang!" ajakku pada Icha yang entah sedang menunggu kehadiran siapa di depan gerbang sekolahan.
"Lo duluan aja, Shel," ucap Icha.
"Terus, Lo pulang naik apaan, entar?" tanyaku.
"Nanti juga ada Ajal yang menjemput gue," jawab Icha.
Tatapanku mendadak sendu. Kulihat wajah gadis blasteran itu cukup lama hingga akhirnya aku turun dari motorku. Aku berjalan mendekati dia. Kutepuk kedua bahunya menggunakan kedua tanganku. Sungguh kata-katanya tadi membuatku sangat sedih. Itu seperti pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
"Cha, jangan bilang seperti itu, Cha. Jangan bikin gue sedih," ucapku lembut nan dramatis.
"Eh, kenapa sih, Lo?" tanyanya tak paham dengan maksudku.
"Lo jangan mati dulu. Salah gue masih banyak ke Lo," ucapku lagi.
"Mati gimana, sih? Gue nggak ngerti deh maksud Lo," balas Icha masih tidak paham.
Aku terdiam sejenak, berpikir akan suatu hal. Apakah ini ciri-ciri orang yang akan meninggal? Ia secara tak sengaja memberikan petunjuk kepada orang lain, tapi dia sendiri tak sadar bahwa dirinya akan meninggal. Mata ini semakin memanas. Aku takut jika Icha benar-benar akan kehilangan nyawanya hari ini juga, dan aku tidak mau jika hal itu sampai terjadi.
"Cha, Lo pulang bareng gue aja, ya. Gue takut Lo kenapa-napa," ucapku.
"Ini sebenarnya Lo kenapa, sih? Mati, kenapa-napa. Ada apa sebenarnya?" tanya Icha lagi. Aku semakin yakin dengan kebenaran pertanda ini.
"Sudah ya, pokoknya Lo pulang bareng gue aja," paksaku.
"Coba deh jelasin. Maksud Lo apa sih?" tanya Icha.
Aku menghembuskan napas dengan pelan. Mata ini masih terasa panas, tapi terlalu malu untuk menumpahkan airnya.
"Tadi lo bilang kalau nanti ajal akan menjemput Lo. Itu berarti Lo nanti akan mati. Gue gak mau Lo mati. Makanya gue mau Lo pulang sama gue. Biar gue yang nganterin Lo sampai rumah agar nantinya gak terjadi apa-apa sama Lo," ucapku menjelaskan.
Icha memasang wajah tidak enak dilihatnya ketika mendengar penjelasanku.
"Bukan ajal yang itu, Shelaa! Tapi Ajal sepupu gue. Nanti mau menjemput gue, hadeh," ucap Icha tak santai.