Bab 12

1980 Words
Aku tersenyum malu sembari menggaruk-garuk belakang kepalaku. Kukira tadi itu adalah sebuah pertanda bahwa akan ada hal buruk yang akan menimpa Icha, ternyata apa yang kukhawatirkan itu salah besar. "Ooo... Bilang dong! Kalau tahu kayak gini kan gue jadi lega," ucapku. "Lagian, emang Lo punya sepupu yang namanya 'Ajal'. Kok selama ini gue gak tahu?" lanjutku. "Iya. Dia aslinya bukan orang sini, dan jarang sekali datang ke sini. Makanya Lo gak pernah ketemu sama dia," jawab Icha. "Ooo... Gitu?" "Hahaha.... Ngomong-ngomong, Lo khawatir ya, sama gue?" tanyanya. "Khawatir lah. Kalau Lo beneran mati, nanti sekelas pasti akan iuran buat kematian Lo. Nanti ujung-ujungnya duit lagi," jawabku sekenanya. Ia hanya mendesak sebal. Terkadang apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatiku. Contohnya adalah untuk saat ini. Jujur aku sangat khawatir kepada Icha. Khawatir kalau dia kenapa-napa. Tapi, kekhawatiran itu tidak bisa kutunjukkan langsung kepadanya. Entahlah, seakan-akan menunjukkan kekhawatiran langsung kepadanya adalah hal yang haram buatku. "Lo gak pulang?" tanya Icha padaku. "Enggak. Gue juga mau nunggu Ajal," jawabku ngawur. "Ajal yang mana nih?" tanya Icha. "Haruskah gue jawab?" tanyaku balik sambil menampakkan raut wajah malasku. "Ya harus, lah," jawab Icha cepat. "Kalau gue bilang mau nunggu ajal kematian, berarti gue bohong, kan?" ucapku. "Bohong gimana?" tanya Icha bingung. "Karena gue gak akan pernah mati sebelum malaikat maut nyabut nyawa gue," jawabku asal. Icha pun gantian menunjukkan wajah malasnya. "Sudahlah! Kita akhiri saja perdebatan tidak berguna ini. Lama-lama gue bisa emosi, ntar," ucap Icha. Lagi-lagi tawaku terdengar menggelegar. Suara tawa yang tentu saja membuat telinga Icha merasa terganggu. Tak kusangka memang. Tawa yang menjadi bukti akan kesenangan diriku ini ternyata bisa membuat orang lain terganggu. Tak lama kemudian, datanglah seorang pengendara bermotor yang mengenakan helm dan jaket hitam. Ia menghentikan motornya beberapa meter jauhnya dari arah kanan kami. "Itu Ajal?" tanyaku kepada Icha dengan berbisik. "Iya," jawab Icha. Bibirku membentuk huruf 'O'. Pandanganku kemudian kembali beralih ke manusia yang bernama 'Ajal' itu. Dari penampilannya,dia cukup keren. Akan tetapi aku tidak mau tertipu seperti tadi malam. Kutunggu saja si Ajal melepas helm yang ia kenakan. Baru setelah itu aku bisa menyimpulkan tentang dirinya. Aku masih terdiam di samping Icha. Pria itu dengan perlahan melepaskan helm yang ia kenakan. Aku semakin penasaran dengan bentuk wajahnya. Apakah ia setampan yang aku kira atau justru hasilnya malah mengecewakan. Dan ketika helm itu sudah tidak menempel di kepalanya.... "Cih," decakku. Ternyata ia masih mengenakan masker. Walau wajahnya sudah terlihat, tapi belum sepenuhnya terlihat karena tertutup oleh masker itu. Aku sudah mulai berasumsi. Jika si gadis blasteran ini saja sudah secantik itu, mungkin sepupunya yang bernama 'Ajal' ini juga tampan. Secara dia masih ada hubungan keluarga dengan Icha. Ah, entah. Segera kutepis asumsiku itu jauh-jauh di kala si pria bermasker itu berjalan mendekati kami berdua. Ternyata ia jauh lebih tinggi daripada aku dan Icha. Aku hanya sebatas lehernya, dan Icha hanya sebatas dagunya. Sungguh itu adalah perbedaan yang signifikan. "Lo yang namanya 'Ajal'?" tanyaku to the point. Ia tak langsung menjawab. Tangannya bergerak untuk melepas masker yang ia kenakan, dan ketika masker itu sudah terlepas, betapa terkejutnya aku. Ternyata asumsiku itu memang benar. Pria bernama 'Ajal' itu sungguh tampan. Aku sedikit tercengang dibuatnya hingga suara pria itu berhasil menyadarkan aku. "Ini pasti Lo kan, Cha, yang bilang?" ucapnya. Kulihat Icha hanya senyum-senyum tidak jelas. Pria itu kembali menatapku. Tatapan khas Daniel, tapi tetap masih jauh lebih dingin milik Daniel. "Gue Rizal. Rizal Ananta Pradana. Bukan Ajal," ucapnya memperkenalkan diri. "Ooo... Gue Shela," balasku. "Nama panjangnya?" tanya lelaki itu. "Shela aja," jawabku. "Shelania Putri Artasyah," sahut Icha. Aku pun langsung menatap Icha dengan tatapan elangku. Pria itu semakin lekat menatapku. Aku lagi-lagi berasumsi bahwa dia menyukaiku. Jika itu memang benar, apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi kuakui bahwa ia cukup tampan. Akan tetapi di lain sisi hati ini menolak untuk menyukainya. Mungkinkah hati ini sudah kuberikan hanya kepada Daniel seorang? "Nama yang cantik, secantik orangnya," ucapnya. "Dia udah punya, Jal," sahut Icha lagi dan lagi. "Ooo... Udah punya pacar, ya? Wajar sih," ucap Ajal alias Rizal. "Kebiasaan deh Lo, Jal. Genit banget kalau lihat cewek cantik," ucap Icha. Rizal tertawa kecil setelahnya. Ternyata apa yang kulihat di awal tentang dia itu salah. Kukira sifatnya akan seperti Daniel. Dingin layaknya es. Tapi faktanya, ia malah lebih mirip Dendi. "Lo boleh genit ke semua cewek, tapi untuk yang satu ini pengecualian, Jal. Dia bukan murni cewek. Bisa-bisa kalau Lo nyakitin hatinya, Lo pulang tinggal nama, entar." Icha mulai menjelaskan tentang diriku kepada Rizal. "Serem amat," ucap Rizal sambil melirikku. "Makanya, gue beritahu Lo sekarang, biar Lo nggak nyesel," ucap Icha lagi. Rizal semakin begidik ngeri mendengarnya, sedangkan aku hanya tersenyum kecil. Dasar Icha! Ia benar-benar membongkar hampir semua jati diriku di depan lelaki tampan itu. Akan tetapi tak apa-apa. Mungkin itu akan menjadi lebih bagus. Jika dia mengurungkan niatnya untuk suka sama aku, berarti aku tidak perlu lagi susah-susah untuk berpikir tentang apakah aku harus menerimanya atau tidak. "Shel, si Ajal ini...." "Rizal," sahut Rizal Meralat ucapan Icha yang salah. "Ya. Si Rizal ini sepupu gue. Umurnya juga hampir sama, sama gue. Cuma beda beberapa bulan, lah. Dia juga masih kelas 10. Dan yang harus Lo tahu, dia di sini cuma berkunjung. Nanti dia juga balik ke kota asalnya. Makanya Lo jangan suka sama dia. Percuma, nanti juga bakalan berpisah," jelas Icha. "Heh, ya nggak lah. Lo kali yang suka," ucapku. "Dia sepupu gue, Shel," ucap Icha. Si Rizal pun mendukung Icha dengan mengangguk-anggukan kepalanya seperti anak kecil. Lucu juga anak ini, ternyata. "Jangan salah. Nikah sama sepupu diperbolehkan, kok," ucapku. Sontak mereka berdua saling berpandangan satu sama lain. Aku seperti sedang menjadi orang ketiga di antara mereka. "Idih, najis," ucap mereka hampir bersamaan. "Tuh kan, kompak. Mungkin jodoh," godaku. Aku puas, puas menertawakan mereka. Harusnya jika gadis lain kujodohkan dengan Rizal, gadis itu pasti akan sangat bahagia mengingat ketampanan Rizal yang di atas rata-rata. Namun tentu saja berbeda bagi Icha, karena Rizal adalah sepupunya. "Ya udah, gue pulang duluan, ya," pamitku pada mereka berdua. Aku pun lalu berjalan menuju motorku. "Iya," jawab Icha. Kurasa si gadis blasteran itu cukup kesal denganku. Namun itu malah membuatku bahagia. Mungkin inilah yang dinamakan bahagia di atas kekesalan orang lain. *** Aku mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Godaan setan yang terkutuk lagi-lagi mulai menyerang hati dan pikiranku. Rasa malas untuk langsung pulang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhku. Aku ingin ke cafe, mall ataupun semacamnya. Walau kini aku tak sedang memegang banyak uang, itu tak menjadi masalah yang cukup serius bagiku. Yang penting hasratku saat ini juga harus terpenuhi. Motor terus kulajukan dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba aku ingat suatu hal. Ya, warung kopi si Daniel. Aku jadi ingin ke sana, tapi mungkinkah saat ini sudah jam kerjanya? Ah, jikalaupun belum jam kerja dia, apa salahnya aku ke sana. Kuurungkan niatku untuk pergi ke cafe ataupun mall. Sekarang ini, warung kopi tempat Daniel bekerja jauh lebih menarik dibandingkan itu semua. Tak butuh waktu lama akhirnya aku sampai ke tempat yang kutuju. Tempat yang jauh dari kata mewah, tapi bisa menarik diriku untuk mengunjunginya. Sebuah tempat dengan interiornya yang sederhana, tapi terasa luar biasa di hatiku. Aku tak tahu kenapa aku bisa beranggapan seperti itu. Mungkin satu-satunya alasan adalah karena Daniel bekerja di situ. "Eh, cewek yang semalam, ya? Yang temannya Daniel?" Baru juga aku ingin memesan, aku langsung mendapat sebuah pertanyaan dari seorang lelaki yang untuk kedua kalinya ini kulihat. "Iya, Mas," jawabku sambil menebar senyuman. "Nah, benar kan? Tapi Daniel shiftnya malam, Mbak," ucapnya. "Ooo.... Berarti dia kerjanya malam terus ya, Mas?" tanyaku hampir seperti seorang wartawan. "Iya, kalau sepulang sekolah begini, dia kerja di tempat lain," jawab lelaki itu. "Kerja di tempat lain?" tanyaku agak bingung. "Iya. Di toko buku katanya," jawabnya. Aku manggut-manggut mengerti. Mendadak kekagumanku kepada seorang Daniel bertambah pesat. Lelaki itu benar-benar hebat. Di saat yang lain masih keasyikan bermain-main dan menghabiskan duit orang tua mereka, Daniel dengan usianya yang masih belia sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Aku bahkan seakan merasa malu dengan diriku sendiri. Dibandingkan dengan Daniel, diri ini masih kalah jauh. Pantas saja dia seakan tidak suka ketika melihat sifatku yang seolah menganggap sekolah sebagai main-main belaka. Kini aku menyadarinya. Ia seperti itu karena ia mempunyai alasan yang kuat. Ia sudah tahu betapa susahnya mencari uang. Ya, sedikit demi sedikit aku mulai mengerti dengan diri lelaki bernama Daniel itu. "Oh ya, sampai lupa. Kopi hitam satu ya, Mas," pesanku. "Siap, Mbak," ucap lelaki itu. Aku berjalan menuju tempat duduk yang menurutku paling enak. Kupandangi sekitar, ternyata di tempat ini hanya aku lah satu-satunya makhluk Tuhan yang berbentuk perempuan. Ya, dari sekian banyak pengunjung, mereka semua adalah para laki-laki. Dan satu lagi. Di tempat itu pula, hanya aku jugalah satu-satunya orang yang berseragam SMA. Banyak dari mereka juga ada yang mencuri pandang ke aku. Aku tahu itu, tapi aku hanya memutuskan untuk diam. Belum saatnya sifat harimauku muncul. Lagipula, sepertinya tempat ini juga tak sesuai untuk memunculkan sifat itu. Aku mendapatkan kursi duduk yang sangat sesuai menurutku. Kenapa? Karena di samping maupun di depan kursi yang kududuki saat ini, tak ada satupun pengganggu. Aku mengeluarkan ponselku dari saku bajuku dan mulai memainkannya untuk melepas keheningan. "Daniel, sedikit demi sedikit akhirnya gue mulai tahu tentang diri Lo. Gue harap Lo juga gitu. Mencari tahu tentang diri gue meski itu dengan cara Lo sendiri," gumamku. Pandanganku menatap kosong ke arah ponselku. Aku tak tahu, kenapa begitu mudahnya rasa ini muncul di benakku. Di saat orang lain menganggap dia rendah, tapi aku malah mengaguminya. Di saat yang lain selalu membenci dan mencaci-makinya, aku malah menyukainya. Kekaguman ini bukan sekedar kekaguman. Kurasa ini sudah berubah menjadi rasa cinta. Sebuah cinta yang baru pertama kali aku rasakan setelah 16 tahun waktuku ada di dunia ini. Sebelumnya hanya rasa cinta kepada keluarga lah yang aku rasakan, dan itu sangat berbeda dengan cinta yang kini kurasakan. Lelaki itu belum kuketahui nama panjangnya. Akan tetapi suatu saat nanti aku pasti akan mengetahuinya. Sama dengan sikapnya kini ke aku. Sekarang dia mungkin masih acuh ke aku, tapi aku percaya bahwa seiring berjalannya waktu, aku pasti bisa mengubah sikapnya itu ke aku. Aku pasti bisa. "Ini kopinya, Mbak." Lamunanku terhenti di kala rekan kerja Daniel itu membawakan kopi pesananku. "Eh, iya Mas," jawabku agak kaget. "Ngelamun terus, Mbak. Lagi mikirin Daniel, ya?" tebaknya. "Ha? Enggak kok," jawabku berbohong. "Hahaha.... Tenang aja, Mbak. Si Daniel nggak bakalan hilang, kok," ucapnya lagi. Kali ini hanya kurespon dengan senyumanku. "Daniel udah lama kerja di sini, Mas?" tanyaku. "Lumayan sih. Kira-kira dari dia kelas 8 atau 9 SMP, lah," jawabnya. "Ooo... Udah lama juga, ya." Aku manggut-manggut tanda mengerti. "Ya mau gimana lagi, Mbak. Semenjak ditinggal ibunya meninggal, dia cuma hidup sama bapak dan adiknya. Sedangkan bapaknya sakit-sakitan. Jadi dia mau tidak mau harus menjadi tulang punggung keluarganya," jelas lelaki itu. Aku menatap ke bawah dengan tatapan nanar. Tak kusangka penderitaan seorang Daniel seberat itu. Kukira penderitaannya hanya ketika berada di sekolah, tapi ternyata dugaanku salah. "Mas tahu banyak ya tentang Daniel. Padahal kalau sama aku, Daniel itu tertutup banget," ucapku sambil tersenyum. Entah senyum tanda apa. "Nggak juga sih. Cuma tahu sedikit aja. Aslinya sifat dia juga tertutup," ucapnya. "Ya udah ya, Mbak. Saya tinggal dulu," lanjutnya. Aku pun hanya mengangguk. "Eh, password wifinya masih yang tadi malam itu, kan?" tanyaku sebelum ia pergi. Kembali aku ingat saat-saat memalukan di pertemuan pertamaku dengan lelaki itu. "Iya Mbak," jawabnya sambil tertawa pelan. Aku kembali sendirian, tenang namun tak begitu menyenangkan. Kusibukkan diri dengan benda kotak yang sedari tadi aku pegang. Pikiranku tiba-tiba menuntun jemariku untuk mencari media sosial milik Daniel. Aku tak tahu, aapa dia punya media sosial atau tidak. Akan tetapi tak salah juga jika aku mencoba untuk mencarinya. Jemari ini bergerak begitu lincahnya di layar ponsel. Namun tak juga kutemui apa yang sedang aku cari. Aku tak menyerah. Meski di dunia ini ada ribuan nama 'Daniel', aku harus bisa menemukan media sosial milik Daniel yang kumaksud.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD