Rasa ini membuatku gila. Kukira ini hanya sekedar kagum dan suka. Ternyata aku telah salah mengartikannya. Rasa ini sudah sampai di tahap cinta. Parahnya cinta ini begitu rumit dan menguras banyak tenaga. Lelaki itu telah memberikanku banyak cerita. Cerita tentang kehidupan yang telah ia rangkai menjadi satu di setiap hembusan nafasnya. Cerita tentang penderitaan besarnya yang bahkan tak pernah sekalipun aku rasa. Entahlah, ku belum tahu siapa nama panjangnya. Tapi yang kutahu, Daniel lah namanya.
Aku masih sibuk dengan rasaku. Cinta ini terlalu menyedihkan buatku. Sikap Daniel yang begitu kaku hampir selalu membuatku membeku. Tapi tak apalah, mungkin ia masih belum bisa menerima keberadaanku.
"Cih, apa dia gak punya medsos, ya?" tanyaku pada diri sendiri.
Kuputar-putar ponsel mahalku itu. Kerja kerasku berakhir dengan hasil yang sia-sia. Tak kutemukan sesuatu yang sedari tadi aku cari. Aku mulai mengacak-acak rambut indahku, tanda bahwa aku sedang berada dalam mode kesalku.
Otak ini kembali bekerja. Ia seolah-olah sedang bertanya-tanya. Apakah Daniel memang tak punya media sosial, atau justru malah dia tak punya ponsel? Tapi mungkinkah? Zaman ini terlalu modern bagi mereka yang tak punya ponsel.
Entahlah, ini hanya pemikiran yang sia-sia. Tak mungkin aku akan mendapatkan jawaban jika hanya memikirkannya. Aku harus mencari bukti yang nyata. Semua tentang Daniel, yang tersimpan banyak sekali misteri di dalam dirinya.
***
Selepas aku membayar, akupun pamit untuk pulang kepada rekan kerja Daniel itu. Harapanku untuk bertemu Daniel pun harus pupus. Mungkin setelah ini aku akan pergi ke toko buku, meskipun aku tak suka membaca buku. Kendala yang lainnya adalah, dari banyaknya toko buku, aku tak tahu toko buku mana yang ditempati Daniel bekerja. Bahkan rekan kerjanya di warung kopi itupun tak tahu.
Aku tak ingin pulang ke rumah. Sebuah tempat yang hanya akan memberikanku kesepian jika masih jam segini. Papa dan mamaku selalu pulang malam. Hanya Bi Darmi lah satu-satunya orang yang berada di rumahku untuk saat ini. Papa dan mamaku memang sangat mempercayainya, begitupun aku. Dia baik, jujur dan sangat setia pada keluarga Artasyah. Satu hal lagi. Bagiku dia seperti mama keduaku. Meski hanya seorang asisten rumah tangga, dia sering sekali menasihatiku jika aku melakukan kesalahan. Namun meski begitu, jika aku hanya di rumah berdua dengan Bi Darmi, tentu aku akan tetap merasa kesepian.
Sudahlah, lupakan tentang rumahku! Kini masih ada satu misi mulia lagi bagiku. Sebuah misi untuk mencari toko buku tempat Daniel bekerja. Aku harus menemukannya hari ini juga. Terlepas tentang bagaimana sambutan Daniel kepadaku nanti, yang penting aku harus menemukannya hari ini juga.
Berbeda dari saat baru pulang sekolah tadi, kini aku mengendarai motor dengan kecepatan super tinggi. Tujuanku adalah ke toko buku terdekat. Beruntung sekali aku ini tergolong tipe orang yang suka keluar rumah. Dengan begitu aku lumayan tahu tentang letak suatu tempat di sekitar wilayah tempat tinggalku.
Tak butuh waktu lama, akhirnya akupun telah sampai di toko buku terdekat. Aku memarkirkan sepeda motorku di area tempat parkir toko buku tersebut. Kulihat di depan sana bangunan yang cukup besar sudah menanti kedatanganku. Toko buku yang besar. Dari situ aku mulai berpikir dan ragu akan keputusanku untuk mendatangi tempat ini. Terngiang-ngiang sebuah pertanyaan di benakku. Apa mungkin Daniel bekerja di sana?
"Hufff.... Coba ajalah," ucapku pada diri sendiri sambil menghembuskan napas.
Aku mulai melangkah masuk untuk menuju toko buku itu. Keraguanku akan keberadaan Daniel di tempat itu tak menyurutkan niatku untuk tetap mengeceknya ke sana.
Interior yang sangat hebat. Demikianlah sang otak yang berkapasitas kecil ini menyimpulkan tentang keadaan di dalam toko buku itu. Aku melangkah dengan santainya menuju ke rak-rak yang sudah terjejer rapi di sana. Sesekali mata ini memandang ke arah para manusia yang sibuk dengan urusannya masing-masing di sana. Satu orang yang kuharapkan keberadaannya di sana. Tentu saja itu adalah seorang Daniel.
Kutahu toko buku ini terlalu luas untuk mencari keberadaan seseorang. Melihat ke satu sisi adalah hal yang agak mustahil untuk berhasil menemukannya. Karena itulah kuputuskan untuk terus berjalan sambil berpura-pura memilih buku, padahal fokusnya pandanganku tetaplah ke orang-orang yang ada di sana.
Aku memang tak begitu paham, atau bahkan tak paham sama sekali dengan yang namanya toko buku. Aku tahu letak tempatnya, tapi aku tak pernah masuk ke dalamnya. Bisa dibilang, inilah kali pertama aku masuk ke toko buku.
Ah, bodohnya aku. Kenapa pula aku harus susah-susah mencari? Kenapa tak kutanyakan saja pada salah satu pegawai di sini? Tapi, di mana pegawainya?
Kali ini aku berganti haluan. Fokus mataku tak mengarah untuk mencari keberadaan Daniel. Akan tetapi mencari keberadaan salah satu pegawai di tempat ini.
"Cari buku apa, Mbak?" Sebuah pertanyaan dilontarkan entah kepada siapa, dan oleh siapa. Yang pasti sosok di balik suara itu kini sedang berada di belakangku.
Suara itu, tidak, itu bukan suara Daniel. Dan tidak mungkin pula jika Daniel bisa seramah itu denganku. Kecuali jika dia tidak menyadari bahwa yang ia sapa adalah aku.
Tak ingin menerka-nerka, akupun segera membalikkan tubuhku hingga nampak lah wujud sang pemanggil. Seorang lelaki muda yang menurutku masih berusia 25 -an tahun. Ya, begitulah kira-kira asumsiku.
"Eh, lagi cari...." Aku menggantung ucapanku, bingung mau menjawab apa.
"Lagi cari komik, Mas," lanjutku.
"Ooo.... Kalau komik di sebelah sana, Mbak," ucapnya sambil menunjuk ke arah rak yang agak jauh dari tempatku berada.
Kurasa dia adalah salah satu pegawai di tempat ini. Itu nampak dari seragam yang ia kenakan serta perlakuannya kepada pengunjung sepertiku. Aku berpikir, seperti ini juga kah pekerjaan Daniel? Entah mengapa aku agak ragu jika manusia es itu bisa jadi ramah akibat pekerjaan.
"Oh, di sana ya, Mas?" tanyaku basa-basi.
"Iya Mbak, mari saya antar," ucapnya menawarkan diri.
"Cih, modus," ucapku pelan. Entah terdengar oleh dia atau tidak.
"Apa, Mbak?" tanyanya.
"Eh, nggak Mas. Oh ya, saya boleh nanya?" ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Boleh. Mau nanya apa?" tanyanya balik.
"Mas ini pegawai di sini, kan?" tanyaku.
"Iya," jawabnya singkat.
"Ooo.... Di sini ada pegawai yang namanya 'Daniel' nggak, Mas?" tanyaku to the point.
"Daniel?" Ia terlihat memikirkan sesuatu.
Aku pun hanya bisa menunggu jawabannya dengan sabar. Dari raut wajahnya, ia seperti tidak asing dengan nama yang kusebutkan tadi. Entah itu cuma perasaanku, atau itu memang sebuah kebenaran.
"Ah, iya. Ada," jawabnya.
Raut wajahku langsung terlihat sumringah ketika mendengarkan tentang keberadaan Daniel di toko buku ini. Aku tak menyangka, apa yang aku rasa mustahil, ternyata adalah kenyataan yang masih membuatku tak percaya.
"Di mana Mas, dia sekarang?" tanyaku dengan penuh kebahagiaan.
"Dia di bagian administrasi. Mari saya tunjukkan," tawarnya.
Tanpa ragu lagi, ku ikuti langkah kaki pria itu. Kulupakan segala asumsiku kalau lelaki itu berniat modus kepadaku. Berita tentang adanya Daniel di tempat ini benar-benar telah membuatku lupa segalanya.
Aku masih setia mengikuti langkah lelaki itu. Tak ada niatan sedikitpun untuk aku berada di sampingnya. Hingga tiba-tiba lelaki itu menghentikan langkah kakinya tepat di sebuah tempat di mana banyak sekali orang yang sedang mengantri. Kurasa ini adalah tempat kasir. Ya, demikianlah aku menyebutnya.
Sebelum lelaki itu menjelaskan, mataku sudah bergerak liar mencari sosok yang kucari sedari tadi. Akan tetapi, sosok dengan nama Daniel itu tak juga nampak di mataku.
"Mana Mas, Danielnya?" tanyaku tak sabar.
"Lha itu Daniel," jawabnya sambil menunjuk lelaki yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Aku menyipitkan mataku guna melihat lebih jelas lelaki yang ia maksud. Alhasil indra pengelihatan ini malah menangkap sosok lelaki yang kurasa sudah berumur 25 -an tahun juga. Aku mendecak sebal karenanya. Bukan Daniel itu yang kumaksud.
"Bukan dia Mas, yang saya cari," ucapku sambil menunjukkan wajah malasku.
"Oh salah, ya? Dia juga kan namanya Daniel," ucapnya polos.
"Hah, ya sudah lah, Mas. Terima kasih," ucapku.
Tanpa ada perasaan bersalah ataupun malu sedikitpun, aku memutuskan untuk keluar dari toko buku tersebut. Tak ingin kubuang-buang uangku hanya untuk membeli sesuatu yang sangat tidak aku sukai. Aku selalu ingat dengan kata-kata Daniel bahwa mencari uang itu susah. Karena itulah aku tidak boleh menghambur-hamburkannya dengan mudah.
"Eh, Mbak, gak jadi beli?" tanya lelaki itu saat aku memutuskan untuk pergi.
"Enggak," jawabku singkat sambil terus berjalan.
***
Dalam percobaan pertama aku telah mengalami kegagalan. Namun aku tak akan menyerah dengan semudah itu. Sebenarnya aku bisa saja mencari jalan yang lebih mudah. Yaitu dengan menanyakannya langsung pada Daniel esok hari ketika di sekolah. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah, apakah Daniel mau memberi tahukan hal itu padaku?
Sekilas aku berpikir bahwa aku telah menjadi manusia bodoh yang rela melakukan apa saja demi melakukan sebuah hal yang tidak begitu berguna. Pikiranku menyuruhku untuk berhenti melakukannya, tapi raga ini seolah bergerak dengan sendirinya.
Peluh ini tak akan bisa menghalangiku. Setiap keringat yang menetes ini akan menjadi bukti betapa besarnya cintaku. Aku sudah tak ragu lagi dengan rasaku. Ini adalah cinta. Cinta dari seorang cewek berandalan kepada cowok dingin yang kukenal dengan nama 'Daniel'. Dan aku percaya, bahwa suatu saat nanti dia akan menjadi milikku.
Dalam posisiku yang sedang mengendarai motor, aku kembali memikirkan sesuatu yang sampai saat ini belum aku ketahui jawabannya. Kenapa Daniel begitu terhina di sekolahan? Atas dasar apa mereka memposisikan Daniel di posisi itu? Banyak pertanyaan yang sangat ingin kuketahui jawabannya. Akan tetapi, kurasa itu bukan hal yang mudah untuk aku ketahui dalam waktu yang singkat ini.
Tujuan keduaku sudah nampak di depan mata. Kali ini bangunan itu terlihat jauh lebih kecil dari yang tadi. Aku kembali meyakinkan diriku bahwa Daniel bekerja di tempat itu. Sejenak kuhembuskan napas. Kuatur napasku berulang kali agar aku siap jika seandainya nanti aku mengalami kekecewaan lagi.
"Kali ini pasti gak salah," ucapku memberi keyakinan pada diriku sendiri.
Aku mulai memasuki toko buku itu, dan tepat ketika aku masuk, indra pengelihatanku ini langsung menangkap sesuatu yang sedari tadi aku cari. Senyum ini mendadak mengembang, melihat raut wajah seseorang yang tetap saja seperti itu. Entahlah, kurasa ini adalah sebuah keberuntungan sekaligus keajaiban. Daniel yang kucari kini sudah ada di depan mataku.
Aku tak langsung menghampirinya. Aku berpura-pura tidak melihatnya dan memilih untuk melihat-lihat kumpulan buku di rak buku. Sepertinya dia juga tidak melihatku. Aku pastikan ini akan menjadi sesuatu yang mengejutkan untuknya.
Lama aku berpura-pura memilih buku demi buku, namun Daniel tak kunjung menghampiriku. Lagi-lagi otak ini kembali menerka-nerka. Apa mungkin sedari tadi Daniel tak melihat keberadaanku? Atau mungkin Daniel sudah melihatku, tapi tak peduli dengan keberadaanku?
Mata ini melirik ke suatu arah. Lebih tepatnya ke arah di mana tadi seorang Daniel berdiri. Akan tetapi tak kutemui dirinya di sana. Aneh, di mana dia sekarang?
"Ngapain Lo?" Lagi dan lagi. Ada seseorang yang menanyaiku dari arah belakang. Entahlah, mereka benar-benar gemar melakukan hal itu padaku.
Namun dari nada suara dan cara bertanyanya yang seperti tidak ada etika, kuyakin itu adalah dia si manusia dingin itu. Ya, aku yakin sekali kalau dia adalah Daniel.
"Eh, Daniel. Lo di sini juga?"
Dugaanku ternyata benar. Dia adalah Daniel. Kini lelaki itu sedang menatapku dengan tatapan dinginnya. Ia mengangkat sebelah alisnya setelah mendapatkan pertanyaan balik dariku.
"Nggak nyangka ya, kita akan ketemu di sini," ucapku masih dalam kepura-puraan.
"Iya," jawabnya singkat. Ya, begitulah Daniel.
"Eh, gue mau nyari komik. Lo bisa bantu gue, gak?" tanyaku.
"Apa?" tanyanya balik.
"Tolong temenin gue nyari komik yang paling bagus," pintaku.
"Oke," jawabnya singkat.
Langkah pertama telah aku jalankan dengan sempurna. Dengan begitu waktuku bersama Daniel akan semakin lama. Meski harus menghadapi sikap dinginnya yang cukup menguras banyak kesabaran, itu tak begitu menjadi masalah buatku. Yang penting Daniel kini selalu bersamaku.
Ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan aku yang masih berada sekitar 2 meter di belakangnya. Segera kupercepat jalanku untuk menyamai langkah kakinya. Bukan berada di belakangnya yang kuinginkan. Juga bukan berada di depannya. Akan tetapi aku ingin terus melangkah di sampingnya walau belum berstatus sebagai seorang pacar.
"Daniel," panggilku manja. Jujur hanya Daniel lah satu-satunya manusia yang pernah menerima sifat manjaku. Setelah papa dan mamaku tentunya.
"Apa?" tanyanya.
"Jangan cepat-cepat jalannya!" rengekku.
Ia kemudian berhenti dan menatapku dengan tajam. Tatapan khas seorang Daniel yang sudah sangat aku kenali. Rambut bergelombangnya itu benar-benar membuatku gemas. Teringin sekali aku menjambaknya, tapi aku tahu itu adalah hal yang paling tidak mungkin kulakukan untuk saat ini.
"Gak usah banyak protes! Masih untung gue mau nemenin," ucapnya. Pandangannya kemudian berpaling dari menatapku.
"Ya, kan gue capek, Niel, kalau jalannya cepat kayak gini," ucapku lagi sambil terus berusaha menyamakan langkah kakiku dengan Daniel.
Lagi-lagi Daniel menghentikan langkahnya, dan menatapku dengan tajam untuk yang kedua kalinya. Kali ini apa yang akan ia katakan?