Bab 14

1986 Words
"Gak usah manja. Apa semua anak orang kaya itu manja kayak Lo?" ucapnya. Deg! Jantungku langsung berdebar kencang. Entah kenapa kata-katanya itu berhasil menusuk hatiku. Terbersit dalam pikirku. Kenapa ia membawa-bawa orang kaya? Tatapannya itu juga sangat berbeda dari biasanya. Rasanya auranya kini seperti penuh dengan kebencian. "Iya Niel, maaf," ucapku sambil menundukkan kepala. Meskipun begitu aku tetap mencari celah untuk melirik wajah Daniel. Di situlah hal yang tak terduga terjadi. Raut wajah Daniel yang tadinya seperti penuh dengan kebencian, kini mendadak kembali normal. Malahan aku merasakan bahwa kini ia sedang mengasihaniku. Akan tetapi mungkin ia tak mau menunjukkannya secara terang-terangan. Ia kembali berjalan, akupun mengikutinya dari belakang. Karena kemarahannya tadi, aku sedikit takut untuk berjalan di sampingnya. Perjalanan singkat untuk mencari buku komik itupun harus kulalui dengan perasaan canggung. Sungguh ini sangat berbeda dengan apa yang aku bayangkan. "Di sini tempatnya. Lo tinggal pilih komik mana yang Lo suka," ucapnya agak ramah. "Wah, banyak banget komiknya," ucapku takjub. Kali ini aku tidak pura-pura. Memang satu-satunya buku yang sangat aku sukai adalah buku komik. Selain itu aku sangat membencinya. Apalagi buku daftar hutangku di kantin Mbak Ika. "Daniel, kira-kira mana ya yang paling bagus?" tanyaku pada Daniel. "Terserah Lo," jawabnya ketus. Aku menuruti ucapan Daniel. Segera kucari komik yang paling aku sukai. Kalau soal komik, apapun genrenya, semua aku suka. Horor, romantis, bahkan jika banyak adegan pertarungan maupun pembunuhan pun tetap aku sukai. Namun kali ini kupilih komik dengan genre romantis. Ada satu alasan kenapa aku memilih genre romantis. Tentu saja karena aku membelinya dengan ditemani oleh Daniel. "Ini bagus gak, Niel?" tanyaku menunjukkan komik pilihanku. "Bagus," jawabnya singkat. "Syukurlah. Aku mau beli ini saja, lah," ucapku. *** Selepas aku mendapatkan komik yang kuinginkan, akupun langsung berjalan menuju meja kasir dengan masih ditemani oleh Daniel. Rasa canggung yang tadi aku rasakan perlahan mulai menghilang. Kini aku sudah berani lagi melakukan dialog dengan Daniel. "Lo di sini juga mau beli buku?" tanyaku pura-pura tidak tahu. "Nggak," jawabnya singkat. "Terus?" tanyaku lagi. "Kerja," jawabnya. "Hah! Lo kerja di sini?" Aku berlagak sok terkejut di saat ia menjawab pertanyaanku yang tadi. Padahal sebenarnya akupun sudah mengetahuinya. "Iya," jawabnya singkat. "Hebat banget ya Lo. Di usia Lo yang baru segini, Lo udah pintar nyari duit," pujiku. Ia tersenyum. Di banding dengan menyebut itu sebagai senyuman tulus, aku lebih suka menyebutnya senyum meremehkan. Tentulah aku berpendapat seperti itu. Seorang Daniel bisa tersenyum tulus adalah hal yang sangat sulit untuk dipercayai. "Dari kecil gue sudah terbiasa hidup keras. Gak usah lebay dengan menyebut gue 'hebat'!" ucapnya tajam. "Cih, dipuji bukannya berterima kasih, malah ngatain gitu," ucapku pelan. "Oh ya. Gue boleh nanya?" tanyaku. "Apa?" tanyanya balik. "Alasan Lo kerja itu karena apa?" Aku bertanya seolah-olah aku tak tahu sama sekali tentang dirinya. Ia mengernyitkan dahinya setelah menghentikan langkahnya. Raut wajahnya yang dingin tetap terpampang jelas di depan mataku. Dasar Daniel. Apa mungkin raut wajah itu tak bisa ia ubah walau dalam keadaan bagaimanapun juga? "Lo nggak perlu tahu," ucapnya. "Gue harus tahu, Daniel," paksaku sambil menatapnya tajam. Daniel menghembuskan napas pelan. Mungkin muak dengan sikapku. "Peduli apa Lo sama gue?" tanyanya dingin. "Daniel," panggilku lembut. "Lihat gue!" Aku menatap matanya dengan tajam. "Gue ini Shelania Putri Artasyah. Seorang cewek paling nakal di sekolah kita. Mungkin Lo pernah mendengar tentang gue. Gue pernah ngehajar salah satu siswi di sana sampai dia masuk rumah sakit. Bahkan setelah itu gue gak peduli dengan keadaan dia. Gue juga gak pernah peduli dengan guru, bahkan teman. Lo mungkin juga tahu tentang sikap gue ke orang lain itu bagaimana. Keras, pemarah, dan brutal. Terutama kepada para cowok. Tapi kalau dengan Lo, gue merasa beda. Gue merasa menjadi seorang gadis yang sesungguhnya kalau bersama Lo. Karena itu gue selalu ingin tahu tentang diri Lo. Kurang peduli apa gue sama Lo, Daniel?" ucapku panjang lebar yang berakhir dengan pertanyaan. Daniel lagi-lagi hanya menatapku lekat dengan tatapan dinginnya itu. Aku pun tak mau kalah. Terus saja kutatap ia yang juga menatapku, hingga membuatku tak tahu kapan adegan ini akan berakhir. "Gue gak minta Lo peduliin," ucapnya masih dengan nada bicara yang dingin. "Tapi kenapa, Niel? Apa karena dalam hati Lo memang nggak ada sedikitpun rasa suka ke gue? Jawab Niel!" paksaku. "Nggak," jawabnya singkat. "Terus kenapa?" tanyaku lagi. "Kalau Lo ingin tahu jawabannya, nanti malam datang ke warung kopi tempat gue bekerja. Dan setelah Lo tahu jawabannya, gue harap Lo berhenti ngejar gue," ucapnya panjang lebar sambil melanjutkan jalannya. Di satu sisi aku memang senang karena kata-kata Daniel sudah tak sependek biasanya. Akan tetapi di lain sisi aku sedih ketika mendengar pengakuannya yang tak ingin aku dekati. Aku bahkan tak sadar jika sedari tadi banyak pasang mata yang sedang menyaksikan dramaku dengan Daniel. Mungkin itu pulalah yang membuat Daniel tak mau meneruskan pembicaraannya denganku. *** Malam yang dingin nan gelap. Bahkan di malam ini, sang bulan seakan enggan untuk menampakkan dirinya. Gugusan bintang-bintang indah yang biasanya muncul, kini tak ada yang terlihat satupun. Yang ada hanyalah mendung yang tak bisa kulihat dengan jelas karena tertutup oleh pekatnya malam. Aku tak peduli. Meskipun nanti akan turun hujan, aku harus tetap pergi ke tempat di mana Daniel menyuruhku ke sana malam ini. Kupilih untuk pergi sendirian. Tak peduli dengan semua resiko yang bisa saja terjadi. Lagipula aku juga sudah terbiasa keluar malam sendirian. Demi cinta yang bahkan aku tak tahu kepastiannya, aku sampai rela melakukan hal ini. Demi sebuah rasa yang berawal dari keraguan, kini malah membuatku seakan kehilangan harga diri. Sekitar 20 menit, akhirnya aku sampai di warung kopi tempat Daniel bekerja. Aku menggerakkan dulu bola mataku dengan liar, mencari sosok yang kumaksud. Ternyata ia benar-benar sudah berada di sana. Akan tetapi, kurasa malam ini pengunjung di warung kopinya berkurang drastis. Mungkin ini disebabkan oleh tebalnya mendung di atas sana serta hembusan angin yang seolah-olah membuat hati siapa saja yang mendengarnya menjadi tidak tenang. "Gue harap Lo akan memberikan jawaban yang sangat ingin gue dengar, Niel. Bukan jawaban yang nantinya bisa merusak rasaku," ucapku pelan pada diri sendiri. Sebelum masuk, aku menyiapkan mentalku terlebih dahulu agar nantinya tidak kaget ketika menghadapi sikap Daniel yang begitu menyebalkan. Kurasa saat ini semua persiapan telah selesai. Kini saatnya aku harus masuk ke area warung kopi itu dan menemui Daniel di sana. Satu hal yang perlu diingat, bahwa kedatanganku ke sini adalah karena permintaan darinya. "Hai, Daniel," sapaku. "Eh, Mbak lagi." Bukan Daniel yang menjawab, melainkan rekan kerja Daniel yang untuk ketiga kalinya aku temui itu. "Iya Mas," ucapku sambil tersenyum. "Niel, Lo temenin pacar Lo dulu sana. Biar gue aja yang ngelayanin para pembeli," ucapnya pelan pada Daniel. Aku berpikir, cara pandang rekan kerjanya Daniel itu jauh berbeda dari cara pandang teman-teman di sekolahan kepada Daniel. Ia seakan memuliakan Daniel. Sedangkan orang-orang yang harusnya dipanggil 'teman' malah memperlakukan Daniel seperti sampah yang tidak berguna. "Dia bukan pacar gue," protes Daniel. Suara dinginnya itu tentu saja bisa kudengar. "Ah, sudahlah! Nggak penting dia pacar Lo atau bukan. Yang penting sekarang Lo temenin dia. Kasihan dia, jauh-jauh ke sini mau nemuin Lo, tapi malah Lo anggurin," ucap lelaki itu pelan. Daniel hanya diam mencerna kata-kata itu. "Eh, sampai lupa. Mbaknya mau minum apa? Biar saya yang buatin." Ia mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan aku minum. Aku pun membalasnya dengan senyuman manisku. "Teh manis aja, Mas," jawabku. "Tumben teh manis, biasanya kopi," ucapnya sambil mengambil gelas. "Kata Mama, gak baik minum kopi secara berlebihan," jawabku. "Ooo gitu, ya? Ya udah, silahkan cari tempat duduk, Mbak," ucapnya. "Niel. Temenin!" Pandangannya beralih ke Daniel dan menyuruh Daniel untuk menemani aku. Sekilas aku menangkap raut wajah Daniel yang nampak ingin memprotes perintah dari rekan kerjanya itu. Akan tetapi, beberapa saat kemudian ia dengan langkah malasnya mulai berjalan ke arahku. Tidak, bahkan ia melewati aku begitu saja dan memutuskan untuk berjalan di depanku. "Ayo!" ajaknya tanpa menoleh ke arahku. Aku mengikuti langkahnya. Sungguh sambutan pertama yang sangat tidak mengenakkan dari seorang Daniel. Beruntung aku sudah mempersiapkan mentalku tadi. Dia memilihkan ku tempat duduk yang sama persis dengan tempat yang aku duduki tadi siang. Dalam hati aku bertanya-tanya. Kenapa ia bisa tahu aku menyukai tempat ini? Apakah ini suatu pertanda bahwa hati kami sudah mulai terhubung satu sama lain? "Ada apa Lo datang ke sini?" Baru juga aku duduk, aku langsung disambut dengan pertanyaan menyebalkan dari lelaki itu. "Lah, kan Lo yang minta, tadi siang," jawabku jujur. "Gue cuma main-main. Kenapa Lo datang beneran?" tanyanya dengan kata-kata agak panjang, tapi tetap dengan nada bicara serta raut wajah dinginnya. Aku mendecak sebal mendengar perkataan Daniel. Ingin sekali aku mengumpat saat ini juga tepat di depannya, tapi beruntungnya aku masih bisa menahan diri untuk melakukannya. Jika ini bukan Daniel, mungkin dari awal sudah kubentak-bentak ia. "Daniel." Aku memanggilnya dengan lembut. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya. "Lo tentu masih ingat kejadian tadi siang, kan? Gue ke sini cuma mau minta jawaban. Kenapa sikap Lo kayak gini ke gue. Apa memang dalam hati Lo gak ada sedikitpun rasa suka ke gue? Atau bahkan Lo malah membenci gue? Tapi apa alasannya, Niel? Gue ada salah apa sama Lo jika Lo emang membenci gue?" tanyaku berbondong-bondong. Daniel menghembuskan napas pelan, tapi tetap dengan raut wajah yang super tenang nan dinginnya. "Gak apa-apa," jawabnya ambigu. "Gak apa-apa, gimana?" tanyaku bingung. "Lo gak ada salah apa-apa." Ia memperjelas ucapannya. "Kalau emang gue gak ada salah, berarti Lo gak pernah sedikitpun suka sama gue, ya?" tanyaku lagi. Kali ini ia mengerutkan keningnya. Kurasa untuk pertanyaan yang satu ini memang sedikit membuatnya bingung. "Enggak," jawabnya singkat, masih dengan perkataan yang cukup membuatku bingung. "Enggak apa, maksudnya?" tanyaku lagi. "Gue gak...." "Ini tehnya, Mbak." Ucapan Daniel terpotong akibat kedatangan rekan kerjanya yang memang menghantarkan teh untukku. "Iya, Mas. Terima kasih, ya," ucapku sambil menebar senyum manisku. "Sama-sama, cantik," jawabnya menggodaku. Kulihat raut wajah Daniel yang agak berubah ketika mendengarkan hal itu. "Niel, gue ke sana dulu, ya. Lo temenin pacar Lo di sini aja. Tentang kerjaan, tenang aja, gue yang urus. Atau kita berganti peran aja. Lo yang kerja, dan gue yang nemenin cewek cantik ini." Lelaki yang kira-kira berumur 20 -an tahun lebih itu nampak berbincang-bincang dengan Daniel. Meski nada bicaranya yang pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya. Daniel menatap tajam ke arah rekan kerjanya itu, sedangkan yang ditatap hanya senyum-senyum tanpa sedikitpun merasa berdosa dan memilih untuk segera pergi meninggalkan aku dan Daniel. "Lo cemburu, ya?" godaku ke Daniel. "Enggak," jawabnya singkat nan dingin. "Bener nih?" godaku lagi. Tak lupa senyum manis ini tetap kuperlihatkan ke Daniel. "Iya," jawabnya. "Nggak takut kalau gue diambil orang lain?" tanyaku. "Hmmm." "Kok cuma 'hmmm'?" tanyaku. "Terus?" tanyanya balik. "Ya dijawab dong. Nggak takut kalau gue diambil orang lain?" Kuulangi lagi pertanyaanku yang tadi. "Itu bukan urusan gue," jawabnya. Hah, dasar Daniel. Dia bahkan sama sekali tidak terpancing dengan godaanku. Aku memonyongkan bibirku tanda bahwa aku sedang kesal. Tiba-tiba aku teringat kembali dengan tujuan pertamaku datang ke sini. Pertanyaan itu belum sempat dijawab oleh Daniel karena tadi terpotong oleh kedatangan rekan kerjanya itu. "Oh ya, Lo tadi mau ngomong apa?" tanyaku. "Yang mana?" tanyanya balik. "Yang tadi itu, lho," jawabku. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya. Lagi, lagi dan lagi. Sikapnya yang mengesalkan hampir berhasil untuk membuatku kehilangan kesabaran. Kapasitas sabar ku yang kecil benar-benar dibuat semakin mengecil olehnya. "Lo kan tadi bilang kalau gue gak ada salah apa-apa sama Lo. Tapi kenapa sikap Lo masih kayak gini sama gue? Apa Lo emang gak ada sedikitpun rasa suka ke gue?" ucapku memperjelas. "Hmmm." Demikianlah jawaban yang kudapat dari dia. "Kenapa?" tanyaku bingung. "Sekali lagi. Gue gak pernah bilang gak suka sama Lo," jawabnya. "Terus kenapa Lo kayak gak suka gitu sama gue?" tanyaku. "Akan gue jawab, tapi ada syaratnya," jawabnya. "Apa?" tanyaku. "Setelah ini Lo jangan ngejar-ngejar gue lagi!" jawabnya. Aku agak mempertimbangkan persyaratan yang ia buat. Inginku menolak, tapi aku sangat penasaran dengan jawaban yang akan ia berikan kepadaku. Namun jika aku menyetujuinya, apa aku bisa menuruti persyaratannya itu? Resiko ini sungguh besar buatku. "Oke, gue setuju. Gue janji gak akan ngejar-ngejar Lo lagi setelah ini," ucapku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD