Bab 15

2013 Words
Pada akhirnya aku menyetujui permintaannya meski dengan hati yang tidak ikhlas. Rasa penasaranku jauh lebih besar dari apapun, dan mengharuskanku untuk mengambil resiko yang besar pula. "Oke," ucapnya singkat. "Oke apa?" tanyaku. "Gue akan jawab," ucapnya. Aku memposisikan diriku sebagai pendengar yang baik. Sebentar lagi, seorang Daniel akan menjawab sebuah pertanyaan yang sangat ingin kuketahui jawabannya. "Gue gak mau Lo nambah beban gue. Tiap hari teman-teman b******n gue itu selalu mengolok-olok gue. Dan ditambah lagi dengan Lo yang seolah-olah selalu mengejar-ngejar gue. Itulah alasannya," ucapnya panjang lebar. "Jadi itu? Emang siapa yang ngolok-olok Lo? Biar gue nanti yang urusin," ucapku dengan gaya sok seorang pahlawan. "Gak perlu. Gue gak selemah apa yang Lo kira," ucapnya masih dengan nada yang dingin. "Kalau Lo emang gak lemah, Lo seharusnya hadapin orang-orang yang ngolok-olok Lo, dong," ucapku. "Gue gak bisa ngelakuin itu," jawabnya. "Katanya gak lemah, kok gitu aja gak bisa," pancingku. "Lo akan tahu jawabannya saat Lo berada di posisi gue. Oke, semuanya udah gue jawab, sekarang lebih baik Lo pulang. Dan sesuai janji Lo. Jangan pernah ngejar-ngejar gue lagi!" ucapnya tajam sambil beranjak dari tempat duduknya. Aku menatapnya dengan tatapan sendu. Lelaki itu kini telah membuat hatiku terasa pilu. Bisa-bisanya dia melakukan hal itu padaku. Hanya karena omongan orang lain, ia dengan teganya tak mau kenal lebih dekat denganku. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang aneh. Bukan, bukan hanya itu alasan kenapa ia tak mau dekat denganku. Entah ini cuma perasaanku saja, atau ini memang benar. Aku punya firasat bahwa ada alasan lain yang sangat memberatkannya untuk dekat denganku. Aku tak tahu itu apa. Tapi aku pasti akan mencari tahu tentang kebenaran firasatku ini. *** "Nih, Mas." Aku memberikan sejumlah uang receh usai aku menghabiskan teh yang kupesan. "Udah mau pulang, Mbak?" tanyanya sambil menerima uang itu. "Iya," jawabku singkat. "Eee.... Mas, maaf nih. Saya boleh bicara sama Daniel, berdua saja?" tanyaku. Kebetulan saat ini sedang tidak ada pelanggan lain yang datang. "Oh, bolehlah. Ya udah, saya ke sana dulu," ucapnya sambil berjalan menjauh. Ia sungguh sangat peka. Kini tinggal ada aku dan Daniel. Untuk beberapa saat, kami berdua saling diam. Aku juga merasa agak canggung. Apalagi setelah mendapatkan pernyataan pahit darinya tadi. "Jadi cuma karena itu alasannya Lo gak mau dekat sama gue? Atau ada alasan lain?" Tanpa mau basa-basi, segera kuberikan pertanyaan untuknya. "Iya," jawabnya singkat. Aku hanya bisa menghela napas pelan. "Oke, kalau memang itu alasan Lo. Gue ada permintaan terakhir sebelum nantinya gue akan berhenti ngejar-ngejar Lo," ucapku. "Apa?" tanyanya. "Tolong anterin gue pulang," jawabku. Ia tak menjawab. Pandangannya terfokus ke arahku dengan dihiasi raut wajah datarnya itu. "Gue gak bisa," jawabnya. "Kenapa?" tanyaku. "Gue di sini kerja. Gak mungkin kalau gue tinggal," jawabnya yakin. Aku menunduk, pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya. Daniel benar, ia di sini sedang bekerja. Aku merasa aku hanya menjadi pengganggu baginya. Seseorang yang sangat tidak ingin diharapkan kehadirannya oleh Daniel. "Anterin aja lah, Niel!" Tiba-tiba suara yang kukenal itu terdengar begitu menggema di telingaku. Ia berjalan ke arah kami. Seseorang yang tadi memang bertiga bersama kami, lalu ia memutuskan untuk pergi, dan kini ia kembali lagi. Ya, dialah rekan kerja si Daniel. "Gue gak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lo berdua. Tapi, Lo itu laki-laki kan, Niel. Apa Lo tega ngebiarin cewek secantik dia pulang sendiri malam-malam begini? Kalau terjadi apa-apa sama dia gimana? Lo pasti juga akan nyesel, Niel." Lelaki itu berbicara dengan sangat bijaksana. Dan, Daniel hanya bisa terdiam sambil terus mencerna kata-katanya. "Sudah, yang di sini urusan gue. Lagipula, ini kan lagi sepi," lanjutnya. Aku tidak tahu, kenapa ia bisa sebaik itu sama aku. Kenapa juga ia seolah-olah sangat setuju dengan hubunganku dengan Daniel. Kalau memang alasannya karena dia menyukaiku, kenapa tidak ia sendiri saja yang berjuang untuk mendapatkan aku? Satu hal yang kutahu. Kurasa sifatnya lebih dewasa daripada Daniel. Mungkin itu karena memang usianya yang sudah jauh di atas Daniel maupun aku. "Gue gak bawa motor." Daniel tiba-tiba bersuara. "Oh iya. Gue ke sini juga naik angkot, tadi. Hmmm gimana, ya?" Lelaki itu nampak sedang memikirkan sesuatu. "Ah, gini aja. Lo boncengin aja dia. Terus ke sininya Lo naik ojek atau apa gitu, lah," lanjutnya. Daniel kemudian menatapku dengan tatapan tidak sukanya. Namun kubalas dengan senyuman tanpa rasa berdosaku. *** Pada akhirnya, Daniel menuruti perintah rekan kerjanya itu. Ia dengan perasaan kesalnya kini sedang memboncengkan aku melewati sepinya jalanan. Suasana jalanan ini juga tak pernah kusangka sebelumnya. Sepi dan sunyi. Meskipun masih ada kendaraan yang berlalu lalang, tapi tak sebanyak biasanya. Mungkin ini disebabkan oleh keadaan langit di atas sana. Langit yang dipenuhi dengan mendung hitam, yang sedari tadi menutupi cahaya sang bulan dan bintang. "Sepi banget ya, Niel," ucapku membuka pembicaraan sekaligus memecah keheningan yang sedari tadi terjadi. "Iya," jawabnya singkat. "Untung ada Lo yang nganterin gue. Coba aja kalau gue pulang sendirian," ucapku. "Hmmm." Hanya itu jawaban yang kudengar dari mulut Daniel. Aku mengarahkan pandanganku ke kanan dan ke kiri. Memang benar, ini sepi sekali. Tak hanya itu, jalanan ini juga sangat gelap. Kurasa sedang ada pemadaman listrik. Ah, ini benar-benar sangat menakutkan. Sialnya kesunyian itu tak bisa aku pecahkan mengingat orang yang kini bersamaku adalah sang manusia es yang sangat irit bicara. Meski biasanya sekalinya bicara, ucapannya bisa sepanjang rel kereta api, tapi untuk saat ini ia seperti tak bersemangat untuk melakukan hal itu. "Gue boleh nanya gak, Niel?" tanyaku. "Apa?" tanyanya balik. "Lo tinggal di daerah mana, sih?" tanyaku. "Kenapa?" Daniel lagi-lagi menanyaiku balik. "Ya pengen tahu aja," jawabku. "Kalau cuma karena itu, mending gak usah tahu," ucapnya. "Hmmm.... Ya udah. Gue mau main ke rumah Lo kalau gue tahu letak rumah Lo," ucapku. "Gak perlu," jawabnya cepat. Menyebalkan! Lelaki ini sungguh menyebalkan. Nada bicaranya yang dingin ditambah dengan kata-kata yang ia ucapkan telah sukses membuatku kesal. Tapi, justru itulah yang membuatku semakin penasaran pada dirinya. Ada beberapa sikap yang telah ditunjukkan para lelaki ke aku. Pertama, mereka akan ketakutan akibat tahu sikapku yang keras. Kedua, mereka akan langsung mengeluarkan gombalannya ketika melihat parasku. Dan yang ketiga adalah sikap yang sangat berbeda dari yang lain. Sikap yang hanya dimiliki oleh Daniel seorang. "Kok gitu?" protesku. "Sudah gue bilang, Lo jangan ngejar-ngejar gue lagi!" ucap Daniel. "Kan gue cuma mau ke rumah Lo," sangkalku. "Sama aja," jawabnya. "Hmmm.... Ya udah deh, gue nurut. Tapi suatu saat nanti boleh, ya?" tanyaku. "Enggak," jawabnya singkat nan tegas. Ia masih fokus mengendarai motor. Keadaan jalanan yang sangat gelap harus membuatnya ekstra konsentrasi. Beruntungnya lampu motorku masih berfungsi dengan baik. Dan itulah satu-satunya penerangan yang kami miliki untuk saat ini. Cahaya kilat di atas sana benar-benar membuat hati was-was. Suara gemuruhnya membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi bergidik ngeri. Nasib sial harus menimpaku dan Daniel untuk malam ini di saat rintik-rintik hujan telah mulai turun membasahi bumiku tercinta ini. "Hujan, Niel," ucapku. "Udah tahu," jawabnya ketus. "Gue kan cuma ngasih tahu," balasku. Ia terus melajukan motor tanpa berniat untuk membalas kata-kataku yang terakhir tadi. Rintik-rintik ini juga semakin deras. Ditambah lagi dengan dinginnya tiupan angin malam yang terasa menusuk tulang. Tapi Daniel seakan tak peduli akan hal itu. Langit malam ku kini sedang menangis. Diiringi dengan teriakan-teriakan memilukan yang disebut dengan petir. Ia seakan meminta tolong melalui anginnya yang membusungkan telinga. Kilatan-kilatan itu juga telah menjadi bukti bahwa kini ia sedang menderita. Entah apa yang membuatnya menderita, aku pun tak mengetahuinya. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Bahkan bisa membuat sang manusia es yang tadinya seolah-olah tidak peduli, kini menjadi berpikir dua kali. Ia menepikan motor yang kami kendarai tepat di sebuah halte yang nampak sangat sepi. Tak hanya sepi, tapi juga gelap. "Kita berteduh dulu aja," ucapnya. "Iya," jawabku. Ia berjalan terlebih dahulu untuk menuju tempat duduk halte, demikian juga aku yang mengikutinya dari belakang. Tepat saat itu, hujan semakin deras. Dunia pun seakan kehilangan semua cahayanya. Aku duduk di samping Daniel dengan perasaan yang sangat gelisah. Aku takut dengan gelapnya malam. Aku takut dengan derasnya hujan. Aku juga takut dengan suara gelegar petir yang saling menyambar. Apalagi dengan suara hembusan angin yang mengusik ketenangan hati. Tapi ada satu ketakutan lagi yang aku rasakan. Aku takut jika seandainya Daniel berbuat yang macam-macam kepadaku. Tapi, mungkinkah? Aku kedinginan, dan juga kesepian. Untuk kali ini aku benar-benar tak bisa membanggakan kenakalanku. Justru kini aku merasa menjadi perempuan yang lemah. Di sampingku ada manusia, tapi ia seakan tak memperdulikan keberadaanku sama sekali. "Dingin?" Dia bertanya sambil menatap ke arahku yang sedang kedinginan. "Iya," jawabku agak gemetar karena memang sangat kedinginan. "Preman kayak Lo kalah sama dingin. Heh, menyedihkan," ejeknya. Aku hanya bisa terdiam. Bahkan tak hanya tidak peduli. Ia juga masih sempat-sempatnya mengejekku. Memang tak bisa kusangka juga ejekannya itu, karena menurutku itu juga sebuah kebenaran yang harus aku terima. Aku segera melupakan itu. Tubuhku seakan sudah tak bisa menahan dingin ini lagi. Aku semakin menggigil, hingga tiba-tiba sebuah kain menyelimuti tubuhku. Kulihat itu adalah jaket, dan sang pemberi jaket itu adalah lelaki yang sedari tadi duduk di sampingku itu "Pakai!" perintahnya. Aku tersenyum bahagia, tak menyangka ia bisa melakukan hal itu. "Terima kasih," ucapku. Ia tak membalas apa-apa. Aku pun langsung memakai jaket itu dan merangkapnya dengan jaket yang aku kenakan. Mendadak rasa dingin itu sudah mulai berkurang dan digantikan dengan kehangatan. "Daniel," panggilku. "Hmm," jawabnya. "Lo bukan murid pindahan, kan?" tanyaku. "Kenapa?" tanyanya balik. "Nggak apa-apa. Aneh aja. Selama gue sekolah di situ, baru kemarin gue kenal sama Lo," jawabku. "Aneh gimana? Itu sudah biasa," jawabnya santai. "Biasa gimana?" tanyaku. Dia memandangku lekat masih dengan tatapan super dinginnya. Aku pun tak mau kalah. Ia juga kutatap dengan sangat tajam. "Pentingkah mengenal orang kayak gue?" Ia bertanya padaku. "Kenapa bicara kayak gitu? Bagi gue, itu penting, lah," ucapku. "Lo sendiri, apa sebelumnya Lo sudah sempat tahu tentang gue?" Kali ini aku yang bertanya. "Udah," jawabnya singkat. "Sejak kapan?" tanyaku lagi. "Dulu," jawabnya. Kebenaran kembali terungkap, di mana seorang Daniel akhirnya mengakui bahwa dirinya sudah tahu tentang diriku dari dulu. Aku sebenarnya agak sedikit merasa bersalah. Di saat ia sudah tahu aku, aku malah tak tahu apa-apa tentang dirinya. Pantaskah kalau aku disebut mencintainya? Semestaku tak henti-hentinya diserang oleh peluru air dari langit. Hawa dingin yang menusuk tulang kini kembali terasa. Padahal aku sudah memakai jaket rangkap dua. Aku berpikir tentang bagaimana dingin yang dirasakan oleh Daniel, mengingat ia hanya memakai kaos yang cukup tipis dengan bawahan celana jeans. Entah kenapa pikiran yang buruk ini kembali bergelut dengan hati kecilku. Aku takut jika Daniel akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadaku karena faktor kedinginan yang ia rasakan. "Nih, pakai!" ucapku setelah melepas jaket dan memberikannya ke Daniel. Bukannya apa-apa. Kurasa itu adalah cara yang paling bagus untuk membuat dingin yang ia rasakan sedikit menghilang. Dengan begitu, kekhawatiranku akan hal itupun bisa hilang. Tak kusangka ia menerima jaket yang sebenarnya memang miliknya itu. Aku tersenyum singkat ke arahnya sebelum akhirnya aku mengalihkan pandanganku darinya. Akan tetapi baru beberapa detik pandanganku teralihkan, kejadian seperti tadi terulang kembali. Tubuhku terasa tertutupi oleh sebuah kain tebal, dan tentu kali ini aku sudah mengerti tentang kain apa itu dan siapa pemberinya. "Kenapa dikasih ke gue lagi, Niel?" tanyaku bingung. "Lo lebih membutuhkannya," jawabnya. "Gue udah gak kedinginan, Niel," tolakku. "Kalau Lo sakit, nanti gue juga repot," jawabnya. "Pakai!" lanjutnya memerintahkan aku agar segera memakai jaket itu. Aku nggak tahu apa itu bentuk dari perhatiannya padaku atau apa. Tindakannya memang menunjukkan bahwa ia sedang memperhatikan aku, tapi kata-katanya itu sama sekali tak menunjukkan suatu perhatian. "Lo kan juga kedinginan, Niel," ucapku. "Gak apa-apa," jawabnya tanpa sedikitpun melihat ke arahku. "Jangan gitu! Entar Lo macem-macemin gue lagi kalau Lo udah gak kuat nahan dinginnya," ucapku. Ia bergerak lebih dekat ke arahku. Ah, sepertinya aku sudah salah bicara. Aku seakan-akan malah memancingnya dengan mengatakan kata-kata itu. Bodohnya aku. Kini ia semakin dekat denganku. Tak mau ambil resiko, aku pun bergerak menjauh darinya masih dalam posisi dudukku. Kurasa ini bukan Daniel yang biasanya. Daniel tak akan pernah mau sedekat ini denganku, apalagi kali ini ia yang memulainya. Aku mulai mengumpati diriku sendiri. Kata-kata itu tidak seharusnya aku ucapkan. Sekarang, semuanya sudah terlanjur terjadi, dan Daniel sudah menjadi dirinya yang lain. "Gue gak serendah itu. Dasar anak manja!" ucapnya dengan raut wajah dinginnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD