Bab 16

1025 Words
Aku disebut 'anak manja' oleh Daniel. Tentu itu membuatku bingung. Di mana letak kemanjaanku? Namun aku juga akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengarkan kata-katanya itu. Nampaknya dia sama sekali tak tertarik untuk berbuat macam-macam kepadaku. "Ya.... Kan siapa tahu aja, lo gitu," ucapku agak gugup. "Gak usah kejauhan mikirnya!" balasnya. "Iya deh," ucapku yang akhirnya memutuskan untuk menyerah. Sungguh aku ingin menertawai diriku sendiri. Tertawa dengan kepercayaan diriku yang terlalu tinggi. Sampai aku tak sadar bahwa yang aku hadapi kali ini bukanlah lelaki yang sama seperti yang lain. Ia sangat berbeda, dan mungkin tak ada yang bisa menyamainya. Kutahu perasaan ini terlalu dalam untuknya. Kagumku seakan menjadi awal dari terbentuknya segala rasa kepadanya. Beruntung sekali aku bisa memandangnya dalam sisi yang berbeda. Berbeda dari cara pandang orang lain ke dia. Cintaku tak berencana. Ia datang begitu saja dalam waktu yang tidak begitu lama. Mungkin bisa dibilang dari pandangan pertama. Dan kupastikan aku akan terus berjuang untuk mendapatkannya. Biarlah jika seorang perempuan mengejar laki-lakinya. Aku tidak peduli. Lagipula tak ada larangan akan hal itu. Ku hanya ingin ia terus berada di dekatku. Bersama dia untuk melewati setiap detik dari sang waktu. Malamku kini semakin larut. Sang langit juga sudah memberi pertanda bahwa ia akan menghentikan tangisnya. Kulihat tangan lelaki itu yang gemetar, mungkin karena kedinginan. Hati kecilku merasa tidak tega melihatnya dalam kondisi yang seperti itu. Aku ingin sekali memberikannya jaket untuk mengobati dinginnya. Akan tetapi aku takut kalau ia menolaknya lagi. "Hujannya udah reda, Niel. Yuk pulang!" ajakku. "Iya," jawabnya singkat. "Lo kedinginan, gak?" tanyaku. "Enggak," jawabnya cepat. "Gue serius, Niel. Kalau Lo emang kedinginan, Lo pakai aja jaket ini," tawarku. "Perlu gue tegesin lagi?" tanyanya dingin sambil menatapku tajam. "Tapi tangan Lo gemetaran tuh, kayak kedinginan," ucapku. Ia berdiri dari tempat duduknya. Kurasa ia tak mau lagi menanggapi ucapan demi ucapanku. Ya, begitulah Daniel. "Lo mau pulang, nggak?" tanyanya. Nada suara terdengar sangat tidak bersahabat. "Mau lah," jawabku sembari menyusul langkah kakinya. *** Bagiku dia bukan hanya seseorang yang kucintai. Ia adalah seseorang yang harus kudapatkan meskipun jalan satu-satunya adalah melalui mati. Menaklukannya adalah tantangan terberat dalam hidup ini. Butuh ribuan, jutaan atau bahkan triliunan cara untuk menaklukkannya. Aku tahu semesta ini terlalu keterlaluan dalam candaannya. Ia telah memaksa Daniel untuk merasakan sakit yang sangat menggelora. Aku jadi merasa bersalah kepadanya. Kenapa baru akhir-akhir ini aku mengenalnya? Kenapa juga aku dulu tak menolongnya di saat para teman sialannya itu mengolok-oloknya? Semua sudah terlanjur terjadi. Aku tak bisa mengubah hal yang sudah terjadi di masa lalu. Akan tetapi aku berjanji akan membuat masa depan Daniel menjadi lebih baik. Akan kubungkam mulut orang-orang yang mengolok-olok Daniel. Kupastikan mereka menyesal karena telah melakukan hal itu. "Daniel," panggilku pada dia yang sedang berkonsentrasi dalam mengendarai motor. "Hmmm." Ia menjawab. "Apa Lo gak punya sosial media?" tanyaku. Ya, aku teringat dengan kejadian yang tadi. Ketika aku mencoba mencari sosial medianya, tapi tak menemukannya. "Enggak," jawabnya singkat. "Masa?" Aku seakan tak percaya dengan jawabannya. "Hmmm." "Jangan-jangan Lo juga gak punya ponsel," tebakku. "Iya," jawabnya. "Hah? Lo beneran gak punya ponsel?" tanyaku heboh. "Gue gak ada waktu buat ngurusin itu," jawabnya dingin. "Lebih baik duit gue, gue pakai untuk hal yang lebih berguna," lanjutnya. "Begitu, ya?" Aku menatapnya dengan penuh penghayatan dari belakangnya. Aku jadi semakin penasaran dengan keadaan Daniel dan keluarganya yang sebenarnya. Seburuk apa keadaan mereka? Apakah kini mereka sedang berada dalam titik terendah dalam hidup mereka? Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, dan semua itu sangat ingin kuketahui jawabannya. Aku sebenarnya ingin sekali membantu perekonomian Daniel. Tapi aku tahu bahwa lelaki itu malah akan sangat marah kalau aku membantu. Dia pasti merasa terhina karenanya. Kembali kuberpikir dengan cara apa aku bisa membantunya. Masalah yang ia hadapi benar-benar terlalu rumit dan juga banyak. Dalam kesibukanku dalam berpikir, tiba-tiba laju motor yang kami naiki semakin pelan hingga akhirnya berhenti secara mendadak. Pikiranku tentang bagaimana cara untuk membantu Daniel buyar seketika dan berganti dengan pikiran tentang kenapa motor kesayanganku itu tiba-tiba berhenti. "Motor Lo belum Lo isiin bensin?" Daniel bertanya kepadaku, dan di saat itu jugalah akhirnya aku menemukan jawabannya. "Hehehe.... Belum, gue lupa," ucapku sambil senyum-senyum tak berdosa. Ia menghela napas kasar, mungkin karena kesal. Akupun hanya bisa garuk-garuk belakang kepalaku yang tak gatal. "Turun!" perintahnya. "Ha?" Aku bingung dengan maksud ucapannya yang barusan. "Lo turun!" ucapnya lagi. "Gue harus jalan kaki?" tanyaku sambil menunjuk ke diri sendiri. "Menurut Lo?" tanyanya sambil menampakkan raut wajah dinginnya. "Hmmm.... Iya deh," ucapku pasrah. Aku kesal karena harus berjalan kaki. Akan tetapi bagaimanapun juga ini memang kesalahanku. Namun juga kurasa ini adalah cara sang kuasa untuk lebih mendekatkan aku dengan Daniel. Ya, dengan begini, waktuku bersama Daniel akan berlangsung lebih lama meskipun harus rela merasakan letih. Motor kesayanganku kini sedang dituntun oleh sepasang tangan kekar dari seorang Daniel. Ia masih nampak begitu tenang dan tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya untuk menyalahkan aku atas kejadian tidak mengenakkan ini. Aku berjalan di sampingnya, tak berani jika harus berada di belakangnya. Suasana malam yang mencekam yang diselimuti oleh kegelapan, serta ditambah dengan dinginnya udaranya telah berhasil membuatku menjadi gadis yang penakut. Tak hanya itu. Keadaan kanan kiri jalanan yang hanya berisi pepohonan dan semak belukar telah membuat pikiranku melayang-layang entah ke mana. Aku takut jika seandainya nanti ada orang jahat yang akan mencelakai kami, atau ada suara tawa cekikikan khas si putih melayang itu, dan yang paling aku takuti jika di antara banyaknya pepohonan yang terlihat, ada si sosok mirip guling dengan ikatan di beberapa bagian itu yang sedang berdiri tepat di bawah pohon. Ah, itu sangat menyeramkan. Seharusnya aku tidak boleh berprasangka buruk seperti itu. "Maaf ya, Niel," ucapku memberanikan diri untuk berbicara dengan Daniel. Walau bagaimanapun juga, aku sangat merasa bersalah kepadanya. "Buat?" tanyanya. "Ya buat ini. Karena gue lupa isi bensin, Lo jadi harus kayak gini," jawabku. "Oh, iya," jawabnya cuek. "Lo gak marah, kan?" tanyaku lagi. Selain karena memang merasa bersalah, pembicaraan itu juga berguna untuk melepas keheningan. "Enggak," jawabnya. "Gak kesel juga, kan?" Lagi-lagi aku bertanya. "Enggak," jawabnya. "Gak capek, kan?" tanyaku lagi entah untuk ke berapa kalinya. Untuk pertanyaanku kali ini, ia langsung menatapku dengan tatapannya yang tajam, seolah-olah ingin memakanku saat ini juga. "Ya capek, lah," jawabnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD