Bab 17

2001 Words
Aku tersenyum seketika itu juga. Bukan maksud untuk menertawainya, tapi lebih untuk menertawai pertanyaan konyolku itu sendiri. Sebenarnya aku kasihan melihat dia yang mendorong motor dengan jalanan yang becek seperti ini. Harusnya akulah yang berada di posisi itu. Aku ingin menggantikannya untuk mendorong motor. Akan tetapi aku takut jika itu malah akan membuatnya merasa terhina. Walau belum kenal lama, tapi aku sudah tahu banyak tentang sifat Daniel. Ia adalah lelaki yang sangat benci jika dikasihani oleh orang lain, meskipun ia memang perlu dikasihani. Danielku, aku tak mau membuat dia merasa terhina, tapi aku kasihan kepadanya. Letihnya itu karena ku. Waktunya juga telah banyak terbuang, dan itu juga karena aku. Aku merasa menjadi beban baginya. Oh Tuhan, bagaimanakah caraku untuk membantunya? Aku terdiam sesaat, memandang Daniel yang masih memasang raut wajah tenangnya walau ia sedang kecapekan. Manusia aneh! Kukira ia akan mengeluarkan keluhan demi keluhannya, tapi nyatanya tidak. "Daniel." Aku memanggilnya. "Hmmm," jawabnya. "Emmm...." Aku agak ragu untuk mengatakan sesuatu. "Apa?" tanyanya sambil menghentikan langkahnya. Akupun mengikutinya. "Emmm... Itu. Kalau Lo capek, gue bisa gantiin Lo dorong motor." Akhirnya aku menawarkan diri untuk menggantikannya mendorong motor. Dia menatapku. Lama sekali dia menatapku, bahkan tanpa sekalipun berkedip. Aku agak grogi ketika itu. Apa dia akan marah? Apa dia akan merasa terhina karena hal itu? "Oke," ucapnya singkat. Ia segera memberikan aba-aba kepadaku untuk menggantikannya mendorong motor. Adalah sebuah hal yang sangat tidak kuduga sebelumnya, ketika Daniel dengan senang hati malah mengiyakan tawaranku itu. Kukira ia malah akan marah akibat hal itu, atau paling tidak ia tidak akan mau menerima tawaranku karena sadar akan posisinya sebagai satu-satunya laki-laki saat ini. Aku segera menggantikannya mendorong motor. Ada rasa sedikit kesal kepadanya, meski sebenarnya akulah yang meminta hal ini terjadi. Daniel kini berjalan santai di sampingku tanpa sedikitpun melihat ke arahku yang sedang kerepotan dalam menjalankan tugasku. Kini entah sudah berapa meter aku mendorong motor, dan itu cukup menguras banyak tenagaku. Jujur aku sudah sangat capek dan menginginkan untuk segera beristirahat. Akan tetapi aku gengsi jika harus bilang hal itu pada Daniel. "Aduh! Mana sih? Kok gak ada yang jual bensin," keluhku. "Nggak usah ngeluh!" sahut Daniel. Sontak pandanganku pun langsung mengarah kepadanya. "Capek Niel," keluhku lagi. Sial sekali, aku keceplosan dengan menyebut bahwa aku sedang kecapekan. Ah, bodohnya aku. "Terus?" tanya Daniel. "Ya nggak ada terusannya. Gitu aja," jawabku. "Ya udah," jawabnya. Aku pun mendecak sebal karenanya. "Gak peka banget sih jadi cowok," gumamku. Entahlah, aku sendiri pun tak tahu apa maksud dari perkataanku itu. Gak peka? Gak peka dalam hal apa? Tentang mengapa aku bisa merasa secapek ini karena harus berjalan sambil mendorong motor, dan itu juga karena kemauanku sendiri. Lantas kenapa aku harus menyebut Daniel cowok yang gak peka? Ia memandangku lekat dengan tatapannya yang dingin. Aku juga memandangnya, dan merasa tidak enak telah mengeluarkan kata-kata yang barusan kuucapkan. Aku mendadak canggung, tapi masih berani untuk menatapnya. "Harusnya Lo berterima kasih sama gue," ucap Daniel. "Iya, terima kasih, Daniel," ucapku manja sambil menunjukkan senyum termanisku. "Buat?" tanyanya. Begitulah Daniel. Di balik sifat dinginnya juga tersimpan sifat yang sangat mengesalkan. "Kan Lo yang minta, tadi," jawabku. "Emang buat apa?" tanyaku. Ia menghela napas pelan. "Terserah Lo," jawabnya dengan nada kesal. Lalu berjalan mendahuluiku. "Lho, kok gitu sih, Niel?" Aku pun mengejarnya. Lelaki itu telah meninggalkan aku beberapa meter di belakangnya. Ah, andai dia tahu kalau saat ini selain kecapekan juga aku sangat ketakutan. Entah apa yang akan ia katakan kepadaku. Gelap ini membuatku merinding. Ya, tentu. Dengan bantuan sang dingin, kegelapan ini telah berhasil membuatku tak berkutik dan larut dalam ketakutan. Segera kupercepat langkah kakiku untuk menyusul si Daniel. Aku memang takut dengan tatapan dinginnya. Akan tetapi aku lebih takut dengan kegelapan, kesunyian dan juga rasa dingin ini. "Niel, perasaan kita nggak nyampe-nyampe di perumahan penduduk, ya. Apa kita disesatkan oleh setan yang terkutuk?" tanyaku ke Daniel setelah berhasil menyamakan langkah dengannya. Namun tentu napasku juga sangat tidak beraturan. "Nggak usah ngada-ngada!" ucap Daniel. "Kan gue cuma berasumsi," ucapku membela diri. "Gak usah berasumsi!" larangnya. "Hmmm, iya. Gue cuma menebak," ucapku. "Gak usah menebak!" Lagi-lagi Daniel melarangku. "Terus bolehnya apa, dong?" tanyaku. "Lo diam dan lanjutkan saja perjalanan Lo!" jawab Daniel dingin. Lagi-lagi aku hanya bisa mendecak sebal. Memang, kurasa perjalanan ini sangat jauh. Entah cuma perasaanku saja atau memang iya. Aku sudah berkali-kali melewati jalanan ini dan selama ini tak pernah kurasakan sampai sejauh ini. Oh, aku lupa. Mungkin jika ditempuh dengan naik motor memang terasa dekat. Tapi kini kan aku menempuhnya dengan berjalan kaki. Jiwa seorang Shelania Putri Artasyah yang selama ini kubangga-banggakan hilang seketika. Tiada lagi Shela yang kuat. Kini dirinya nampak lemah karena tenaganya habis untuk digunakan mendorong motor. Tiada pula Shela yang keras, karena di hadapan seorang Daniel, ia tak bisa berkutik. "Daniel," rengekku. "Apa?" tanyanya. "Gue capek," jawabku. Mungkin sudah saatnya aku mengakui semuanya. Tidak peduli jikalaupun reputasiku akan hancur. "Oh," responnya. "Kok 'oh' doang?" protesku. "Terus?" Dia bertanya sambil menatapku. Oh Tuhan, tolong sabarkan hambamu ini dalam menghadapi lelaki ini. "Ya gantiin dorong, dong!" pintaku. "Gak," jawabnya cepat sambil memalingkan wajahnya dari aku. "Yaaaa, Niel. Gak kasihan sama gue?" tanyaku. "Enggak," jawabnya lagi. "Tega Lo," ucapku kesal. Ia kembali menatapku. Akan tetapi aku pura-pura tidak tahu kalau dia sedang menatapku. "Sejak kapan Lo jadi lemah?' tanyanya serius. "Sejak.... Sejak kenal Lo." Aku menjawab. Entah itu jawaban asli dari hatiku atau hanya asal jawab. "Gak usah bawa-bawa gue!" protesnya. "Ya kan emang karena sejak kenal Lo," jawabku. "Kenapa?" tanyanya sedikit ambigu. "Kenapa apanya?" tanyaku balik. "Kenapa Lo jadi lemah setelah kenal gue?" tanyanya dingin. "Entahlah, gue gak tahu," jawabku. Tadinya ingin kujawab aku lemah karena mencintainya, tapi kurasa aku belum siap mengatakan itu. "Sudahlah, lupakan itu!" lanjutku. "Iya," ucapnya singkat sambil meneruskan jalannya. Aku pun juga begitu. Aku dan Daniel kembali berjalan menembus gelapnya malam dan dinginnya udara. Untuk sejenak aku lupa pada rasa lelahku itu. Entah karena apa. Akan tetapi beberapa saat kemudian, aku kembali teringat dengan rasaku itu. Tak hanya teringat, tapi juga terasakan. "Tapi gue capek, Niel. Gantiin, ya," pintaku sambil menampakkan senyumanku. "Nggak," jawabnya singkat, jelas dan padat. "Lo gak kasihan apa sama gue? Kalau gue pingsan gimana?" tanyaku. "Itu kalau gue cuma pingsan. Kalau gue sampai mati karena kecapekan, gimana?" tanyaku lagi sambil menghentikan langkah kakiku. Ah, iya. Akhirnya aku tersadar tentang mengapa perjalanan ini terasa sangat jauh dan lama. Selain karena kami menempuhnya dengan berjalan kaki, satu hal lagi yang menjadi penyebabnya adalah karena kami sering menghentikan langkah hanya sekedar untuk memperdebatkan hal yang harusnya tak perlu diperdebatkan. Tatapan mata itu mengarah tajam ke arahku. Wajahnya di dekatkan ke wajahku. Jujur aku sangat grogi dalam situasi seperti ini. "Gak usah lebay!" ucapnya. Setelah itu ia menjauhkan wajahnya dari wajahku. "Bukan lebay, Daniel. Tapi kalau hal itu sampai terjadi beneran, gimana?" tanyaku. "Hal apa?" tanya Daniel. "Yang tadi. Kalau gue pingsan, gimana?" tanyaku. "Ya gue tinggalin," jawab Daniel tanpa senyum sedikitpun. "Jahatnya," ucapku sambil memasang wajah murung. "Terus kalau gue sampai mati?" tanyaku lagi. "Jangan terlalu mudah bilang gitu!" Maksudnya adalah bilang bahwa aku akan mati. Ia kembali berjalan setelah memperingatkan aku tentang hal itu. Dia perhatian. Maksudku, aku merasa di sudah mulai perhatian kepadaku. Peringatannya itu sudah cukup untuk menandakan bentuk perhatiannya itu. "Lo pikir mati itu enak?" Dia melanjutkan ucapannya dengan nada suara pelan, tapi menusuk. "Orang yang sudah mati aja berharap bisa hidup kembali. Lo yang masih hidup malah seenaknya bilang mati," ucapnya lagi tanpa melihat ke arahku. Aku mencermati ucapannya. Ia memang sedang mengatakan hal yang benar. Hanya saja aku merasa aneh ketika ia bisa berbicara sepanjang itu. "Hahahaha," tawaku. "Kenapa?" tanyanya. Kali ini ia menghadapkan wajah ke arahku. "Gak, pengen ketawa aja," jawabku. "Hmmm." "Lo kalau dengar hal yang tidak Lo suka ternyata sifat dingin Lo mendadak bisa hilang, ya," ucapku. Dia hanya menatapku. Entah apa arti tatapan itu. "Kalau gitu gue mau bicara tentang hal yang tidak Lo suka terus, ah, biar Lo gak dingin sama gue," lanjutku. "Terserah," jawabnya. "Kok terserah? Jangan terserah dong!" ucapku. "Iya," ucapnya. "Oh ya, gue mau nanya dong," ucapku mengganti topik. "Apa?" tanyanya. "Jika seandainya Lo lihat orang yang membutuhkan pertolongan, Lo akan tolong, gak?" tanyaku. "Iyalah," jawabnya. "Ah, tapi gue gak percaya," ucapku. "Terserah." Ia lagi-lagi pasrah dengan apa yang aku katakan. Mungkin baginya, itu hanyalah sebuah pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab. Ya, demikianlah pemikiranku. Padahal sebenarnya aku ada maksud lain tentang pertanyaan itu. Dan jawaban dari apa yang kumaksud kan itu ada di percakapanku dengan Daniel yang selanjutnya. "Hmmm.... Jadi Lo beneran akan nolongin orang itu?" tanyaku sekali lagi. "Hmmm." "Oke, gue perlu bukti. Sekarang kan gue sedang butuh pertolongan. Gue pengen ada yang gantiin gue dorongin motor ini. Tolong gantiin, ya," pintaku. "Gak," jawabnya cepat. "Tadi katanya mau nolongin orang yang butuh pertolongan. Kok sekarang gak mau nolongin," sindirku. "Hmmm... Jadi itu cuma omong kosong doang, ya? Hah, ternyata Daniel suka omong kosong," lanjutku. Dia terlihat sudah mulai terpancing dengan perkataanku. Namun kulihat raut wajahnya itu seperti orang yang sedang menahan kesal. Heh, aku tahu bahwa Daniel kali ini sedang kesal kepadaku. "Lo gak usah bawel, bisa?" tanyanya dingin. "Ya kan gue cewek. Wajar lah kalau bawel. Kalau cowok bawel, itu yang gak wajar. Harusnya Lo tahu tentang ini lah. Kan Lo pintar," jawabku. "Iya. Sekarang, apa mau Lo?" tanyanya padaku. "Tolong gantiin gue dorong motor, lah," jawabku sambil cengar-cengir tak berdosa. *** Di malam ini akhirnya aku tahu hampir semua tentang sifat Daniel. Dia terlihat cuek, tapi sebenarnya tak sepenuhnya cuek. Dia juga nampak tak pernah peduli dengan orang-orang di sekitarnya, tapi sejatinya ia peduli. Kukira dia juga tak punya rasa perhatian. Akan tetapi ternyata dia punya rasa itu. Dia mungkin juga emosian, ternyata dia juga penyayang. Danielku, selanjutnya aku pasti akan tahu lebih banyak tentang diri kamu. Terserah apa nantinya yang akan dikatakan oleh orang lain tentang aku dan Daniel. Aku tidak peduli jikalaupun aku terlahir dari keluarga yang kaya raya dan Daniel terlahir dari keluarga yang jauh dari kata berada. Yang penting aku mencintainya. Ya, dulu memang sulit untuk kuakui bahwa aku memang mencintainya. Akan tetapi untuk saat ini aku yakin bahwa rasa yang ada di dalam diriku ini adalah cinta. Di jalan yang sepi ini, bersamaan dengan sisa-sisa air hujan yang menemani perjalanan sepi kami. Jalanan inilah yang akan menjadi saksi bisu tentang kebersamaanku dengan Daniel. Iya Daniel. Daniel yang sangat sulit untuk kutaklukan. Daniel yang lebih memilih untuk bersikap dingin saat kudekati. Dan Daniel yang menunjukkan perhatiannya dengan cara yang berbeda. "Daniel, itu ada ruko," tunjukku. "Iya," jawab Daniel sambil terus mendorong motor. "Gue ke sana dulu, ya. Nanya ada bensin eceran atau, nggak," pamitku ke Daniel. "Iya," jawabnya. Kalau ada yang bertanya kepadaku tentang obat apa yang paling sulit ditemukan di muka bumi ini, aku pasti akan jawab obat untuk mengobati cueknya seorang Daniel. Entahlah, sikapnya yang seperti itu benar-benar membuatku bingung. Tak ingin kupikirkan lebih dalam lagi tentang itu. Aku segera berlari kecil untuk menuju ruko yang sudah nampak di depan mata. Kulihat ruko itu masih buka. Syukurlah. "Bu, jual bensin eceran?' Segera kuutarakan niatku kepada sang ibu-ibu penjaga ruko yang kira-kira berumur 40 -an tahun itu. "Jual Neng, itu," jawabnya sambil menunjuk ke suatu arah. Kulihat di sana banyak sekali bensin yang telah dimasukkan ke dalam suatu wadah. Aku langsung menyuruh Daniel untuk cepat-cepat mendekat. Senang? Tentu saja. Karena setelah ini motorku pasti bisa nyala lagi. Maksudku, bisa jalan lagi. Ah, entahlah bagaimana cara penyebutannya yang benar. Intinya motorku nanti akan bisa dipakai lagi. "Seliter aja, Bu," ucapku sambil membuka tangki bensinku. Ibu-ibu itu dengan sigap langsung mengisikannya. Alhasil kini motorku pun sudah tidak mengalami dehidrasi lagi sehingga nantinya bisa beraktivitas kembali. "Pacarnya ya, Neng?" tanya ibu-ibu itu sambil menunjuk ke arah Daniel yang sedang menghadap membelakangi kami. "Emmm.... Do'ain aja, Bu," jawabku. "Ganteng juga. Kamu juga cantik," ucapnya. "Terima kasih, Bu. Ya udah ini duitnya," ucapku sambil tersenyum sembari menyodorkan uang sebesar 20.000 rupiah. "Eh, tunggu kembaliannya," ucapnya ketika aku beranjak dari tempat semula. "Kembaliannya buat ibu aja," jawabku. Padahal aku sebenarnya tak tahu, harga bensin seliter itu berapa. "Beneran nih, Neng?" tanyanya memastikan. "Iya Bu." Aku menjawab.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD