Apakah harus kusebut ini sebagai keanehan, di kala ibu-ibu penjaga ruko itu menyebut Daniel tampan? Masih menjadi pertanyaan di benakku. Dalam pandangan teman-teman, Daniel itu tidak lebih dari seorang gembel. Akan tetapi kenapa dari pandanganku dan ibu tadi berbeda dengan pandangan teman-teman? Ah, mungkin itu hanya karena selera kami yang berbeda. Mereka belum tahu Daniel yang sesungguhnya.
Daniel masih sibuk memikirkan cara menyambung hidup hingga dia lupa cara merawat diri. Aku yakin sekali bahwa jika suatu saat nanti dirinya sudah bisa merawat diri, tingkat ketampanannya itu akan jauh lebih tinggi dari siapapun. Dan di saat itu pula, aku akan melihat hal yang sangat langka di mana orang-orang yang menyebut Daniel gembel, nantinya akan terpesona. Aku sangat menantikan hal itu terjadi.
Kurasa penilaian mereka salah. Salah total malahan. Kekurangan Daniel hanya di penampilan. Wajahnya yang tampan telah tertutupi oleh topeng hingga membuatnya terlihat tidak berseri. Rambutnya yang bergelombang itu, andai saja rambutnya itu berubah lurus dan lemas, pastilah ketampanannya akan bertambah berkali-kali lipat. Aku membayangkan dia seperti salah satu artis tanah air di saat penampilannya seperti itu. Pakaian yang ia kenakan mungkin juga tak begitu keren, atau bisa dibilang memang tidak keren. Aku tahu alasan kenapa ia tak memakai pakaian yang keren. Tentu saja karena keadaan ekonominya yang tidak sebaik aku maupun yang lain. Kalau kubayangkan saat ia dihina oleh teman-temannya karena ia miskin, entah kenapa amarah ini meronta-ronta ingin keluar. Andai setiap kali dia dihina, aku ada di tempat itu. Mungkin mereka lah yang malah akan terhina olehku.
"Daniel, boleh gue nanya?" Demikianlah caraku di saat ingin mengajukan pertanyaan ke Daniel.
"Apa?" tanyanya.
"Emmm...." Aku berpikir terlebih dahulu. Entah mengapa hati kecilku menyuruh untuk mengurungkan pertanyaan itu.
"Gak jadi deh. Kapan-kapan aja," lanjutku.
"Oh, oke," jawabnya.
Tadinya aku ingin menanyakan tentang alasan kenapa ia pernah berkelahi dengan temannya. Akan tetapi aku takut itu akan memancing amarahnya lagi. Biarlah pertanyaan itu kusimpan dulu di dalam pikirku. Nanti pasti ada waktu untuk aku mengajukan pertanyaan itu.
Oke, kini lanjut dengan perjalanan kami yang penuh rintangan. Bukan perjalanan cinta, tapi perjalanan untuk sampai ke rumahku. Terus kujelaskan arah ke rumahku pada Daniel yang sedari tadi fokus menyetir. Maklum saja, ini baru pertama kalinya ia akan ke rumahku. Dan parahnya, hanya untuk mengantarkan aku pulang.
"Nah, di depan itu belok kiri," ucapku memberikan penjelasan.
"Iya," jawabnya.
Jalan ke arah rumahku tinggal beberapa meter lagi, dan itu artinya ini adalah detik-detik terakhir pertemuanku dengan Daniel untuk malam ini. Besok pun aku tak yakin bisa menemuinya lagi atau tidak.
"Nah, ini rumah gue," ucapku ketika sampai di depan pintu pagar rumahku.
"Oh."
Aku turun dari boncengan motor. Kulihat jam dari jam tanganku terlebih dahulu. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 21:27 malam. Ah, sial. Padahal aku ingin sekali mengajak Daniel untuk sekedar mampir ke rumahku. Akan tetapi kayaknya waktunya benar-benar tidak tepat.
"Lo mampir dulu, ya." Biarpun sang waktu memang tidak mendukung, tapi tetap kuucapkan keinginanku itu.
"Gue langsung pulang aja," tolaknya.
"Pulang?" tanyaku.
"Kembali ke warung kopi," jawabnya.
"Owh." Sudah kuduga bahwa ia akan menolaknya.
"Gak mampir dulu?" tanyaku.
"Gak," jawabnya singkat.
"Kenapa, Niel?" tanyaku. Satu hal yang harus diketahui oleh semuanya kenapa aku terus-terusan melontarkan pertanyaan kepada Daniel. Itu karena aku ingin lebih lama lagi bersamanya.
"Sudah malam," jawabnya.
"Dari tadi kan emang udah malam, Niel," ucapku.
Daniel mengerutkan keningnya. Aku tahu ia memang tidak suka dengan pembicaraan yang tidak berguna. Akan tetapi aku tidak peduli. Selama waktuku bersamanya bisa terus bertambah, maka hal semacam itupun pasti akan kulakukan.
"Sudah gue bilang gak usah bawel," ucapnya agak kesal.
"Emmm... Ya udah deh. Tapi lain kali mampir, ya," ucapku.
"Enggak," jawabnya tegas.
"Yaaaa.... Lo ma gitu terus, Niel." Aku merengek seperti anak kecil.
"Sudah?" tanyanya ambigu.
"Apanya?" tanyaku balik.
"Dramanya," jawabnya. Jujur aku tak paham dengan apa yang dimaksudnya. Tapi aku tetap mencoba untuk mengerti.
"Sudah," jawabku.
"Ya udah. Gue balik," pamitnya.
"Mau naik apa?" tanyaku. Baru kuingat bahwa motor yang dikendarainya dari tadi itu motorku. Lalu bagaimana cara ia kembali ke warung kopinya?
Dia terdiam. Mungkin ia juga bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Hanya saja ia tetap bersikap sok tenang dan membuat siapa saja yang melihatnya seolah-olah menganggap dia sedang tidak dilanda kebingungan.
"Naik ojek," jawabnya.
"Habis hujan. Mustahil kalau masih ada tukang ojek," jawabku.
Dia terdiam lagi. Kurasa dia semakin tertekan dengan keadaan yang ia alami sekarang ini. Akan tetapi ia tetap memasang raut wajah tenang, dingin dan menyebalkannya itu. Tidak bisakah ia terlihat panik di depanku, atau paling tidak pura-pura panik?
"Gini aja. Gue anterin Lo lagi ke sananya," tawarku ngawur.
"Terus?" tanyanya balik.
"Ya Lo nanti anterin gue pulang lagi. Hahahaha," jawabku yang kuiringi dengan tawa.
"Gak lucu." Ia bahkan tak tersenyum sedikitpun. Malah raut wajah yang semakin dingin lah yang tertangkap oleh indra pengelihatanku.
"Ya maaf," ucapku sambil menundukkan kepalaku.
Nampaknya aku sudah salah bicara hingga membuat Daniel semakin merasa kesal. Padahal niatku hanyalah untuk bercanda demi mencairkan suasana. Rasanya apa yang aku lakukan ataupun yang aku katakan setiap bersama Daniel itu selalu salah. Dan bukan Daniel yang menyalahkannya, tapi aku sendiri.
"Lo bawa motor gue aja, gak apa-apa. Besok waktu pulang sekolah gue ambil," ucapku yang mendadak serius.
"Gak usah," tolaknya lagi.
"Kok gak usah? Terus Lo balik ke warung kopinya gimana?" tanyaku.
"Masih banyak cara, daripada gue nanti dinilai yang tidak-tidak oleh mereka," jawab Daniel bersamaan dengan kakinya yang mulai melangkah untuk meninggalkan aku.
Aku sadar apa yang dimaksud Daniel dengan 'mereka' adalah teman-teman di sekolahan. Aku merasa aura kebenciannya kepada mereka benar-benar besar. Kalaulah itu bisa terlihat dengan jelas oleh mata, mungkin itu wujudnya akan sangat menakutkan.
Dia akhirnya memutuskan untuk pulang tanpa mau meminjam motorku. Bukan, bukan untuk pulang, lebih tepatnya kembali ke warung kopi tempatnya bekerja. Aku tak bisa mencegahnya. Keputusan yang sudah ia keluarkan bagai keputusan sang hakim, tidak bisa diganggu gugat. Aku yang merasa berposisikan sebagai tersangka jelaslah tidak bisa membantahnya.
Dan di malam ini juga aku merasakan dua perasaan yang berbeda. Senang karena telah menghabiskan banyak waktu dengan Daniel, dan khawatir kepadanya karena aku tak tahu akan naik apa ia supaya bisa kembali ke warung kopi itu.
***
Malam yang indah bersama Daniel telah berakhir. Ku tak tahu bagaimana nasib Daniel di malam itu. Kupikir dia akan berjalan kaki untuk bisa kembali. Kurasa dia juga kedinginan karena jaket miliknya masih kubawa dan lupa untuk kukembalikan. Entah kebodohan dari mana sehingga membuat aku lupa dengan jaket itu. Dan anehnya, Daniel juga tak memintanya.
Dan pagi ini adalah pagi yang cerah buatku. Di saat aku membuka mataku, semesta langsung menyambutku dengan cahaya mentari paginya yang indah. Namun aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Rasanya hangat dan juga sangat sesak, dan saat itulah akhirnya aku tersadar bahwa dari semalam jaket milik Daniel masih menempel di tubuhku.
"Aduh, Daniel. Maaf ya. Lo pasti tadi malam kecapekan dan kedinginan," ucapku pada diri sendiri seolah-olah Daniel sedang berada di depanku.
Aku melepas jaket itu dan kulipat dengan rapi. Hari ini juga akan kukembalikan jaket itu kepada pemiliknya yang tak lain adalah Daniel. Aku juga akan mengucapkan terimakasih karena dia telah mau mengantarkanku pulang tadi malam dan juga akan meminta maaf karena telah merepotkannya.
Tapi aku merasa sedikit sedih saat ini. Kenapa? Karena aku teringat dengan janjiku untuk tidak lagi mengejar-ngejar Daniel. Mungkin nanti aku hanya akan mengembalikan jaketnya, tanpa harus berlama-lama bersamanya. Ini memang berat bagiku, tapi ini adalah janji.
Tapi tunggu! Bukankah dia cuma menyuruhku untuk hanya berhenti mengejar-ngejar dia? Hmmm.... Sepertinya untuk hari ini pun aku masih bisa terus berada di dekat Daniel. Aku tersenyum senang karena bangga dengan pemikiranku yang hebat.
***
Ah, kurasa semesta sedang mempermainkan aku. Kukira tadi cuaca akan terus cerah seperti apa yang kulihat pada waktu bangun tidur. Namun sekarang semesta menggelap lagi. Gumpalan awan di atas sana telah menghalangi cahaya matahari untuk menerangi bumi. Sial, apakah peluru air yang diluncurkan oleh sang langit tadi malam masih belum cukup? Kapankah bumi dan langit akan mengadakan gencatan senjata?
Aku benci hujan, meski tak sepenuhnya membencinya. Bagiku hujan itu melambangkan kelemahan. Suara airnya yang seperti tangisan. Anginnya yang serupa rintihan permintaan tolong, dan petirnya yang seperti jeritan kesakitannya. Aku benci semua itu meski harusnya aku tidak boleh membencinya. Tapi terkadang aku juga menyukainya di kala ia memberikan udara sejuk untukku. Atau di saat airnya itu sangat kubutuhkan.
Sudah, lupakan tentang sang hujan! Lagipula mendung belum tentu hujan, kan? Kembalilah terfokus ke aku yang kini sedang mengendarai motor menembus padatnya jalanan kota metropolitan. Jangan heran. Ini Jakarta. Tak peduli hujan maupun badai, pasti keadaan jalanannya akan tetap ramai. Kecuali kalau sedang sepi.
Dan aku kini sedang mengendarai motor sendirian, tanpa ada yang dibonceng. Akan tetapi aku merasa seperti sedang bersama dengan seseorang, dan seseorang itu adalah Daniel. Mungkin ini efek dari keberadaan jaket miliknya yang kutaruh di tas. Atau mungkin juga ini dari efek karena merindukan keberadaan Daniel.
Aku hampir tak menyadari ketika perjalananku sudah hampir mencapai tujuan. Di depan pintu gerbang sana nampak ada beberapa guru, dan salah satunya adalah Pak Handoko. Sumpah, kalau boleh jujur, malas sekali aku bertemu dengan dia. Bukannya apa-apa, tapi aku merasa dia memiliki dendam tersendiri sama aku.
Entah mendapatkan pemikiran sesat dari mana, dengan ketidak sopanan tingkat tinggi, langsung kuterobos barisan para guru itu dengan kelajuan motor yang sangat kencang. Bahkan aku tak punya pemikiran sama sekali tentang bahaya yang bisa saja terjadi nantinya.
"Shela!" teriak Pak Handoko.
Guru bernama Handoko itu memanggilku. Alhasil mau tidak mau akupun harus berhenti. Mendadak aku menjadi pusat perhatian bagi umat manusia di sekolahan itu. Aku hanya bisa terdiam sembari berpura-pura mengecek keadaan motorku di saat si guru itu mendekat.
"Kamu lagi, bikin ulah terus. Kalau lihat guru-guru ada di depan gerbang, ya kamu salami, lah. Bukan malah ngeloyor gitu aja. Gak sopan," ucap Pak Handoko.
"Maaf Pak, tadi rem saya blong," jawabku asal.
"Lha itu bisa direm," sangkal Pak Handoko.
"Ya kan tadi, Pak. Sekarang ya bisa lah," jawabku tak mau kalah.
"Halah, ngejawab aja kamu ini. Udah salah juga," ucap Pak Handoko.
"Lha bapak juga, nyalahin terus," balasku.
"Ya emang kamu salah," ucap Pak Handoko.
Aku tak tahu, entah dari kapan aku bisa seberani ini sama Pak Handoko. Padahal dulu, dialah satu-satunya guru yang sangat kutakuti di sekolahan ini. Tapi tak apa lah. Tak bolehkah jika aku memberontak?
"Iya Pak. Jika saya ada salah, saya minta maaf," ucapku. Aku pun turun dan menyalaminya. Tak lupa juga guru-guru yang sedari tadi ada di depan gerbang yang sedari tadi pula menyaksikan perdebatanku dengan Pak Handoko.
Para guru itupun juga ikut ambil bagian dalam memarahi aku. Tapi jawabanku tetap sama, karena rem sepeda motorku blong. Kalau mereka tidak percaya, ya tidak apa-apa. Lagipula itu juga memang suatu kebohongan.
"Sudah kan, Pak?" ucapku ketika kembali ke hadapan Pak Handoko.
"Padahal saya tidak bersalah lho, Pak. Tapi saya mau meminta maaf. Masa murid seperti saya nanti nilai raportnya bapak kasih merah," lanjutku.
"Iya, bapak nggak akan kasih nilai merah," ucap Pak Handoko. Aku menggesek-gesekkan telapak tanganku sembari tersenyum cengengesan.
"Hehehe.... Emang mau bapak kasih nilai berapa?" tanyaku.
"Ada lah, yang pasti tidak merah," jawab Pak Handoko.
"Ah bapak. Bikin saya penasaran aja. Berapa sih, Pak?" tanyaku lagi.
"20, tapi dengan pulpen tinta hitam," jawabnya. Setelah itu ia pergi dari hadapanku meninggalkan aku yang sedang kesal.
***
Aku berjalan menuju kelasku. Banyak dari teman-teman, entah yang kukenal maupun yang gak kukenal memberiku acungan jempol karena telah berani kepada Pak Handoko. Mungkin kalau ada yang tanya tentang siapa yang berani membantah Pak Handoko, maka akulah satu-satunya orang yang berani. Aku bahkan tak yakin dengan para siswa nakal itu. Apa mereka berani membantah Pak Handoko?
Acungan jempol dari mereka sedikitpun tak membuatku bangga. Bahkan aku terkesan tidak memperdulikannya. Kakiku memang melangkah menuju ke arah kelas, tapi tidak dengan mataku yang bergerak liar untuk memantau keadaan sekitar. Dan sial. Jauh dari tempatku berada, aku melihat sosok manusia yang sangat kukagumi nampak sedang memperhatikan aku dengan posisinya yang bersandar di sebuah tembok kelas. Ia memperhatikan aku, tapi cuma sekejap, sebelum akhirnya pandangannya mengarah ke arah lain. Hancurlah reputasiku di matanya. Mungkin dia juga akan semakin benci kepadaku. Itulah yang aku pikirkan saat ini.