Aku tak menyangka kalau dia sudah berada di sekolahan ini. Kukira ia akan berangkat lebih telat, seperti halnya kemarin. Jika ia sudah berada di sana sedari tadi, tentu ia juga melihat tentang perdebatanku dengan Pak Handoko tadi. Kalau saja aku tahu dia sudah berangkat, sedikitpun aku tak akan bersikap tidak sopan kepada Pak Handoko maupun guru-guru yang lain. Dan sekarang semuanya sudah terlambat. Sesuatu yang kuanggap candaan itu malah membawa malapetaka bagiku meskipun aku belum tahu tanggapan Daniel tentang itu.
"Wah, parah Lo, Shel." Itulah sambutan pertama dari Icha ketika aku sampai di ambang pintu kelas.
"Keberanian Lo benar-benar kelewat batas," ucap salah satu teman perempuanku.
"Iya, tapi keren juga. Iya gak teman-teman?" tanya Nita pada semuanya.
"Yo'i," jawab mereka bersamaan.
Sebenarnya aku tak suka dengan pujian yang mereka berikan. Akan tetapi demi menghargai mereka, akupun menanggapinya dengan senyuman. Mungkin itu bukan senyuman tulus. Tapi setidaknya itu sudah cukup untuk membuat mereka merasa aku hargai.
***
Hari ini, untuk ke sekian kalinya aku berbuat onar di sekolahan. Semenjak kenal Daniel, sebenarnya aku ingin mengakhiri semua kenakalanku ini. Tapi entah kenapa itu terasa sangat sulit.
Namun kurasa aku sudah ada perkembangan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Seperti tadi, ketika aku mengikuti semua pelajaran dengan seksama. Bagiku itu sudah cukup untuk menjadi bukti dalam perkembanganku menjadi lebih baik.
Di sini, di kantin ini. Sebuah kantin yang seolah-olah telah menjadi basecamp buatku. Kantin yang menghadirkan banyak cerita tentang masa-masa sekolahku. Kantin yang menjadi saksi dari seorang gadis yang suka menghitung. Itu tidak lain adalah aku. Namun sayangnya, aku masih belum bisa membuat sejarah tentang aku yang bisa berduaan dengan Daniel di kantin ini.
"Boleh gue gabung?' Seseorang itu bertanya. Pertanyaannya membuat aku, Icha, Sinta dan Nita yang sedang makan gorengan sedikit terkaget.
Dia adalah ketua kelas di kelas kami. Namanya Pasha, tapi bukan Pasha ungu. Dia ganteng, tinggi dan juga putih. Kurasa dia itu juga sama seperti Icha, sang manusia blasteran. Mungkin dia blasteran Indo-Jepang. Tapi aku juga tak tahu, sih. Entahlah, aku tak begitu tertarik kepadanya meskipun dia ganteng.
Sikapnya yang kalem, dingin, meski tak sedingin Daniel, itu mungkin bisa meluluhkan banyak perempuan. Akan tetapi tidak denganku. Dia juga nampak sangat keren, bahkan di mataku juga.
"Boleh," jawab Icha. Ia pun duduk di sampingku.
Aku bingung, kenapa cowok secuek dia mau gabung dengan kami para cewek-cewek. Padahal selama ini ia seperti tak peduli dengan yang namanya cinta. Bahkan sudah banyak gadis yang ia tolak. Mungkin di satu sisi ia hampir sama seperti Daniel.
"Ada apa, Aja?" tanya Icha.
"Gak apa-apa. Cuma mau duduk aja. Semuanya penuh," jawabnya.
Dan langsung kulihat. Ternyata yang ia katakan memang benar. Semua tempat yang tersedia di kantin itu sudah dipenuhi oleh orang-orang kelaparan. Tapi aku tetap masih bingung kenapa ia mau bergabung bersama kami.
Aku diam. Ya, meski dia berada paling dekat denganku, aku seakan tak menganggapnya ada. Tak kukeluarkan sepatah katapun meski hanya sekedar untuk bertanya tentang ia mau makan apa. Dan malah Icha lah yang bertanya. Sementara Sinta dan Nita hanya senyum-senyum tidak jelas. Aku tahu mereka berdua memang mengagumi si Pasha.
"Lo udah pesen?" tanya Icha.
"Udah," jawabnya singkat. Dasar Daniel dengan wujud yang berbeda, pikirku.
"Oh."
Tak lama kemudian, Sinta dan Nita tiba-tiba pamit ke kami untuk pergi entah ke mana. Mungkin mereka tak sanggup menahan perasaan mereka ketika melihat Pasha. Karena tidak mau ketahuan, akhirnya mereka memilih untuk pergi. Kira-kira begitulah analisaku. Bersamaan dengan itu, makanan yang dipesan Pasha datang. Semangkok bakso yang sangat menggugah selera.
"Lo tumben mau kumpul sama cewek," ucapku tanpa melihat ke arahnya. Oh ya, dari saat Nita dan Sinta pergi, aku sudah menggeser tubuhku untuk sedikit menjauh dari Pasha, karena kebetulan tadi Nita lah yang berada di sampingku.
"Iya. Kan gak ada tempat lain," jawabnya.
"Oh."
"Lagian Lo, Shel. Orang mau gabung kok digituin," ucap Icha. Aku diam.
Biar kutebak. Secuek apapun si ketua kelas ini kepada para gadis, kurasa ia masih tetap tertarik dengan seorang gadis. Ia masih normal, dan alasan sebenarnya kenapa ia mau berkumpul dengan kami, itu adalah karena ia sedang menyukai antara aku atau Icha. Kalau ada yang tanya kenapa tidak dari dulu ia melakukannya, ya mungkin baru saat inilah keberaniannya untuk melakukan hal ini bisa muncul. Tapi sekali lagi, itu masih hanya asumsiku.
"Lo tadi pagi kenapa?" Lelaki itu bertanya, tapi tak kuketahui itu untuk siapa.
"Shel, ditanya tuh," ucap Icha.
"Eh, ke gue?" tanyaku sambil nunjuk diri sendiri.
"Iya," jawabnya.
"Oh. Nanya apa, tadi?" tanyaku.
"Lo tadi pagi kenapa?" tanyanya lagi.
"Gak apa-apa," jawabku.
"Lo kayak gak tahu Shela aja, Sha. Biasalah, si preman cewek," sahut Icha. Pasha tertawa kecil. Aku diam.
"Apasih Lo," ucapku ke Icha.
Lelaki itu tersenyum. Ah, kukira dia tak bisa berekspresi seperti itu seperti halnya waktu di kelas yang hampir menanggapi semuanya dengan keseriusan. Dia kini bersikap agak hangat, di depanku, dan juga di depan Icha. Apakah memang benar asumsiku bahwa ia sedang menyukai antara kami berdua?
"Eh gue ke toilet dulu, ya. Shel, Lo di sini aja," ucap Icha yang izin kepadaku untuk pergi ke toilet.
"Gak usah lama-lama!" Aku memberikan peringatan kepadanya.
"Iya," jawabnya.
Waktu-waktu yang menyebalkan, di mana pada akhirnya aku diharuskan untuk berduaan dengan lelaki yang bernama Pasha. Ini semua gara-gara Icha yang tiba-tiba pamit mau ke toilet. Bukannya apa-apa. Jujur aku tidak ada sedikitpun rasa suka kepadanya, meskipun dia sebenarnya tampan. Aku juga tak mau terjadi salah paham atas kejadian ini. Dikiranya nanti aku pacaran sama Pasha.
"Lo cuma makan gorengan?" tanya Pasha di sela-sela kegiatan makannya.
"Iya," jawabku singkat.
"Gak pengen bakso atau apa, gitu?" tanyanya lagi.
"Enggak," jawabku singkat, seperti sikap khas seorang Daniel.
Dalam hatiku bertanya-tanya. Kenapa si manusia yang biasanya cuek kepada para gadis ini mendadak bersikap hangat kepadaku? Kalau memang ia suka sama aku, kenapa gak dari dulu ia mengungkapkannya? Menyebalkan! Kenapa juga aku harus memikirkannya.
"Tadi pagi ada masalah apa sampai Lo berdebat kayak gitu sama Pak Handoko?" tanyanya lagi.
"Gak apa-apa. Cuma masalah kecil," jawabku.
Ia kemudian tersenyum. Kurasa itu adalah senyum yang tulus. Tapi aku tak membalasnya dengan senyuman, melainkan dengan raut wajah jutekku.
"Lo pemberani banget, ya. Kalau kayak gini mana ada cowok yang berani deketin Lo," ucapnya.
"Itu, Lo deketin gue," ucapku.
"Ya kan gue beda," ucapnya.
"Lo bukan cowok?" tanyaku sambil menatapnya.
"Ya cowok, lah. Ya kali gue cewek," jawabnya.
Aku semakin yakin dengan apa yang sedang ada di dalam hati lelaki itu, bahwa ia sedang menyukaiku. Tak biasa-biasanya ia bisa secerewet itu. Bahkan selama ini aku tak pernah melihat dia bersikap seperti sekarang ini, kecuali saat ia berada di depan untuk memimpin kami sekelas.
Aku juga bingung dengan para lelaki lain di kantin ini. Biasanya mereka yang punya keberanian tinggi selalu saja menggoda para gadis cantik, tak terkecuali juga aku. Akan tetapi untuk saat ini mereka tak ada yang mendekati aku, seolah-olah mereka tak berani untuk melakukannya karena ada Pasha. Alhasil, Mbak Ika dan beberapa cewek lain lah yang menjadi sasaran kegenitan mereka.
"Nih si Icha lama banget ya, di toiletnya," ucapku pada diri sendiri.
"Gak apa-apa lah, bagus," sahut Pasha.
"Bagus?" Aku bertanya.
"Iya, bagus. Kalau sebentar kan perlu dipertanyakan, apa ia beneran ke toilet atau enggak. Atau mungkin memang dia ke toilet, tapi cuma untuk minum," jawabnya. Aku pun memaksakan bibirku untuk tersenyum.
Nampaknya lelaki itu ingin membuat suatu humor. Akan tetapi sumpah, humornya benar-benar tidak berkelas. Kurasa itu sangat receh, tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Tapi demi tidak mengecewakan dia, aku pun menanggapinya dengan senyuman.
Tidak, tiba-tiba aku mempunyai pemikiran yang berbeda tentang leluconnya barusan. Kurasa ia sebenarnya tak ingin menjawab begitu, melainkan ia ingin menjawab kalau baguslah jika Icha lama di toiletnya, karena dengan begitu aku dan dia bisa berduaan. Aku jadi ingin melakukan hal yang sering kulakukan pada para lelaki yang menggodaku, tapi untuk yang satu ini aku merasa agak sungkan, mengingat Pasha adalah anak dari pejabat tinggi di negeri ini. Selain itu ia juga disegani oleh banyak orang, dan menjadi satu dari beberapa murid penting di sekolahan ini. Itulah yang membuatku ragu untuk melakukan hal itu.
Ah iya. Baru aku ingat. Sebenarnya Pasha dari dulu memang sering menunjukkan perhatiannya padaku. Hanya saja mungkin aku lah yang tidak peduli dengan semua itu. Seperti apa yang sudah terjadi sekitar 1 bulan yang lalu.
Flashback
Saat itu, saat di mana aku terlambat datang ke sekolah. Kebetulan saat itu di kelas pelajaran sudah dimulai, dan sialnya guru yang mengajar waktu itu adalah Bu Mirna. Seperti biasa, aku masuk dengan perasaan tanpa berdosa, menyalami Bu Mirna dan tentu bersiap untuk menghadapi kemarahannya.
"Shela! Dari mana saja kamu? Kenapa baru berangkat?" tanya Bu Mirna kala itu dengan nada suara yang tinggi.
Aku terdiam, mencoba merangkai kata-kata untuk membuat alasan yang logis.
"Tadi Shela ban sepeda motornya bocor, Bu. Waktu mau saya tolongin, tapi saya malah dimarahin. Dia malah nyuruh saya duluan aja, ke sekolahnya."
Saat itulah si Pasha menyelamatkan aku dari kemarahan Bu Mirna yang kabarnya lagi PMS pada hari itu. Aku tak tahu alasan kenapa ia rela berbohong demi aku. Bahkan bisa dibilang aku tak pernah ingin tahu dan tak peduli dengan alasannya. Tapi yang pasti, karena kata-katanya itu akhirnya aku hanya mendapatkan omelan kecil dari Bu Mirna. Kalau saja tidak karena Pasha, mungkin saat itu aku sudah mendapatkan hukuman berat dari Bu Mirna.
Ya, itulah yang kuingat dari dia. Namun mungkin itulah satu-satunya masa di mana ia menunjukkan perhatiannya padaku, karena setelahnya, meskipun aku datang terlambat lagi, ia tak pernah melakukan pembelaan untukku lagi. Entah kenapa hal itu bisa terjadi. Mungkin ia merasa aku sedang tidak begitu membutuhkan pembelaan darinya atau karena ia tak punya keberanian lagi untuk melakukannya. Entahlah, aku tak tahu.
Dan sekarang ini ia kembali menunjukkan hal yang hampir sama seperti kejadian satu bulan yang lalu. Seperti sudah dijadwalkan oleh dia kapan ia akan menunjukkan perhatiannya padaku. Sebulan sekali, mungkin. Tapi tetap aku tidak peduli dengan itu.
"Lo jangan kayak tadi pagi lagi," ucapnya tiba-tiba, mengejutkan aku yang sedang melamun sambil makan gorengan.
"Kenapa?" Aku bertanya sambil menatap ke arahnya.
"Ya pokoknya jangan. Nanti Lo bisa dipandang buruk sama guru-guru dan teman-teman," jawabnya serius. Aku tetap menatapnya tajam.
"Gue gak peduli," ucapku.
"Jangan gitu, Shel! Pokoknya Lo jangan kayak tadi pagi lagi," ucapnya lagi memberi peringatan.
"Gak usah ngatur-ngatur gue!" ucapku tajam. Entah kenapa amarahku tiba-tiba muncul. Berbeda ketika Daniel yang memperingatkan aku.
Saat itu juga lah teman-teman yang lain langsung melihat ke arah kami, tak terkecuali juga Mbak Ika selaku penjaga kantin. Namun tak ada satupun dari mereka yang berani bertanya.
"Ya maaf, Shel. Ya udah, gak apa-apa jika Lo gak mau," ucapnya. Aku diam.
Aku kembali melanjutkan kegiatan makan gorenganku. Aku tak tahu kenapa aku bisa semarah ini. Padahal Daniel juga pernah melakukan hal yang sama seperti apa yang Pasha lakukan, tapi saat Daniel yang melakukannya, aku malah tidak bisa menyangkalnya sama sekali, apalagi sampai marah. Padahal jika melihat dari harkat dan martabatnya, Pasha jauh lebih unggul dibanding Daniel. Dilihat dari penampilannya juga, tentu Pasha lah yang menang. Dari ketampanannya, aku belum bisa memastikan. Aku belum tahu bagaimana ketampanan Daniel yang sesungguhnya.
Meski aku sedang marah, aku tidak bisa meninggalkan Pasha begitu saja di sini. Sebenarnya bukan itu masalahnya. Alasan utama mengapa aku tidak pergi adalah karena aku harus menunggu Icha yang belum juga balik dari toilet. Si gadis blasteran itu memang menyebalkan. Dia telah membuat aku berada pada posisi yang seperti ini.
"Sekali lagi maafin gue ya, Shel," pintanya lagi dengan lemah lembut.
"Hmm."
"Dimaafin gak, nih?" tanyanya lagi. Ia sengaja menggeser tubuhnya agar lebih dekat denganku.
"Iya," jawabku.
"Terima kasih," ucapnya sambil menunjukkan senyumannya.
"Buat?" Aku bingung kenapa ia berterima kasih kepadaku.
"Ya karena Lo udah maafin gue," jawabnya.
"Oh."
Kalian harus tahu, mengobrol dengan Pasha itu sangat tidak menyenangkan. Maksudku, obrolannya itu terlalu biasa dan tidak ada seru-serunya sama sekali. Berbeda dengan saat mengobrol dengan Daniel. Walau ia super dingin, tapi memang di situlah yang menjadi tantangannya. Kata-katanya yang terkadang menusuk mungkin membuatku terdiam. Akan tetapi hal itu pulalah yang bisa membuatku nyaman. Ini dari hati. Jadi terserah kalau semua orang ingin menyebutku bodoh. Terserah juga jika semua orang ingin menyebutku gila, ataupun yang lainnya. Sekali lagi, aku tidak peduli.