"Ya jelas diam, lah. Aneh Lo. Ada beberapa alasan kenapa gue begitu," ucap Icha.
"Sebutin!" perintahku.
"Emang harus, gitu?" tanya Icha.
"Ya harus lah," jawabku.
"Hufff.... Baik-baik. Yang pertama, karena gue gak menyangka aja kalau Daniel bisa seperti itu," ucap Icha.
"Oke, terus?" Aku berkata.
"Kedua, karena kata-kata sok bijak Lo yang tadi itu, gue jadi sadar akan sesuatu," jawab Icha.
"Sesuatu? Apa itu?" tanyaku.
"Ya pokoknya, intinya dia itu sebenarnya jauh lebih hebat dari kita. Kita masih memanfaatkan duit orang tua, ia sudah bisa menghasilkan duit sendiri. Pokoknya gitu deh. Makanya gue selalu memikirkan itu sampai gue gak tahu mau berkata apa, tadi," jelas Icha.
"Gitu ya? Terus yang ketiga?" tanyaku lagi.
"Nah, yang ketiga pastinya karena gue canggung, lah. Lo kan tahu sendiri, gue cuma tahu Daniel, bukan kenal sebagai teman. Ya kali gue bisa langsung akrab," ucap Icha.
"Gue bisa," sahutku.
"Kalau untuk Lo, pengecualian. Urat malu dan urat takut Lo kan udah hilang," balas Icha.
"Cih, sialan Lo!" umpatku. Ia hanya tertawa.
Jadi, itulah alasan kenapa Icha lebih memilih untuk diam, tadi. Bukan karena ia jijik dengan Daniel. Bukan karena ia menganggap Daniel hanya sebagai sampah yang tidak berguna. Bukan, bukan itu. Justru karena saat itu ia sedang memikirkan sesuatu yang sama dengan yang aku pikirkan tentang Daniel. Dengan begitu, artinya persahabatanku dengan dia pun masih bisa terus berlanjut. Tak harus dipertanyakan lagi tentang keadaan persahabatan kami.
***
Aku membeli komik Detektif Conan. Lucu sih, padahal sebenarnya aku sama sekali tak paham apapun tentang Detektif Conan. Aku cuma pernah dengar dari teman-teman, dan katanya itu sangat menarik. Maka dari itulah mengapa aku teringin untuk membelinya.
Pertemuanku dengan Daniel pada hari Minggu yang cerah inipun harus berakhir. Kini aku sudah berada di rumah, lebih tepatnya di sofa ruang tamu sembari menyibukkan diri untuk membaca komik Detektif Conan yang baru saja aku beli tadi.
Setelah k****a beberapa bagian dari komik itu, segera kubenarkan apa yang dikatakan oleh teman-temanku. Ternyata komik ini lumayan menarik buatku. Tidak, mungkin buat semua orang. Aku tak ingin menjelaskannya secara rinci tentang mengapa aku menganggap komik ini menarik, karena menurutku itu tak begitu penting untuk kujelaskan.
"Komik lagi?" Suara itu, suara perempuan yang tentu saja adalah mamaku.
"Hehehe, iya, Ma," jawabku.
"Em em em, Shela, Shela."
"Membaca komik itu bagus, Shel. Bisa menambah minat bacamu. Tapi akan lebih bagus lagi jika kamu membaca buku-buku pelajaran. Biar kamu sekalian dapat ilmu," ucap mamaku.
"Gak seru, Ma, kalau cuma buku pelajaran, ngebosenin banget," ucapku.
"Kamu ini, Shel. Membaca buku pelajaran kan bisa dapat banyak ilmu," ucap mamaku.
"Iya, Ma, tapi Shela gak suka," ucapku.
"Hmmm.... semuanya juga diawali dengan tidak suka, Shel. Tapi suatu saat nanti juga pasti akan suka. Dengan catatan kamu sering berbaur dengan apa yang tidak kamu sukai itu meski dalam waktu yang singkat," ucap mamaku.
Maksud mamaku adalah meski aku tidak suka membaca buku pelajaran, tapi jika aku terus berbaur dengannya, dalam arti selalu membukanya meski dalam waktu yang singkat, pasti lambat laun aku akan menyukainya. Demikianlah penafsiran yang aku peroleh dari kata-kata mamaku tadi.
Ada penafsiran lain tentang itu. Kurasa, apa yang mama katakan itu juga ada hubungannya dengan hubunganku dengan Daniel. Jika sekarang ini Daniel masih belum bisa menyukaiku, mungkin jika aku sering berbaur dengannya, lambat laun dia juga akan suka denganku. Bukankah cinta itu akan datang dikarenakan seringnya bertemu?
Otakku ini memang tak begitu ada isinya. Tentang pelajaran sekolah, aku bahkan tak paham sedikitpun, kecuali tentang biologi yang membahas tentang organ-organ tubuh manusia beserta penyakit-penyakitnya. Hanya di bidang itulah kepintaranku. Itupun aku juga malas jika belajarnya harus di sekolahan. Aku juga sebenarnya tak pandai menafsirkan, tapi tentang yang satu ini, entah secara sadar atau tidak, faktanya aku sering sekali melakukannya. Walaupun kebanyakan dari itu adalah berisi kesalahan, tapi tak sedikit pula yang berisi kebenaran.
Biarlah segala penafsiran, asumsi dan juga tebakanku ini berjalan dengan semestinya. Entah itu nantinya akan berakhir dengan kesalahan ataupun kebenaran. Aku tak peduli. Aku juga manusia biasa yang bisa salah dan juga bisa benar. Itu saja.
***
Hari Mingguku telah habis termakan oleh setiap detik yang berlalu, hingga pada akhirnya kini hariku sudah berganti menjadi Senin. Hari di mana para pelajar sudah biasa menjalankan rutinitas pagi mereka, yaitu upacara bendera.
Katanya, dengan upacara bendera, rasa persatuan dan kesatuan kita bisa semakin kuat. Katanya pula, upacara bendera adalah sebagai bentuk menghormati dan mengenang jasa pahlawan kita. Namun, aku selalu malas untuk menjalaninya. Bagiku, hal itu cuma akan menyiksa kaki mengingat lamanya berdiri. Aku tahu aku salah. Penderitaan karena berdiri itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan para pahlawan ketika melawan penjajah dulu. Inilah sesuatu yang kubenci dari dalam diriku. Hati, pikiran, perkataan dan perbuatanku selalu saja berlawanan. Tapi paling tidak aku bersyukur karena masih diberikan kesadaran setiap kali melakukan kesalahan.
"Anak-anak, dimohon jangan bubar dulu!" Setelah upacara selesai, terdengar suara seorang guru yang berbicara lewat pengeras suara.
"Cih, ada apa lagi sih, tuh, si Handoko. Gak tau apa, kalau si sini panas," omelku pelan entah kepada siapa, tapi di sampingku ada Icha dan Rosa. Di samping kananku Icha, dan di samping kiriku Rosa.
"Dengerin aja lah, Shel. Protes mulu." Icha yang merespon, sedangkan Rosa hanya tersenyum kecil ketika mendengar ocehanku.
"Sok asyik tuh emang, si Handoko." Aku mengomel lagi, tentunya dengan suara yang kupelankan.
"Sudah, Shel, dengerin! Siapa tahu penting," ucap Icha memperingati.
"Iya," jawabku.
Si Handoko, maksudku, Pak Handoko kini sedang berdiri sok gagah di depan para muridnya sembari memegang mikrofon. Aku memandangnya cukup sebal. Dia enak, berdiri, tapi mendapat naungan sehingga tubuhnya tak tersengat oleh si mentari pagi. Akan tetapi, kami? Sudahlah, jangan ditanya lagi.
"Oke anak-anak, minta waktunya sebentar." Pak Handoko mulai berbicara lagi. Tak lupa setelah itu ia juga mengucap salam, kamipun menjawabnya.
Dia berbicara lama, dan menurutku, kebanyakan dari apa yang dibicarakannya itu hanyalah berisi basa-basi. Sepertinya dia memang sengaja ingin membuat kami menderita dengan menyiksa kami berdiri sembari menerima sengatan panas mentari pagi yang membuat keringat kami bercucuran.
Di antara banyaknya kata yang terucap dari mulutnya, menurutku hanya ada beberapa yang penting. Kira-kira beginilah bunyinya....
"Sebentar lagi, ujian akhir semester akan segera dilaksanakan. Para siswa diharapkan untuk menyiapkan diri masing-masing untuk menghadapinya. Kalian yang suka tidur di kelas, tolong mulai sekarang hal itu jangan dilakukan lagi. Kalau masih bandel juga, sekalian aja bawa kasur dan bantal gulingnya."
Ketika Pak Handoko berbicara seperti itu, banyak dari teman-temanku yang tertawa. Sedangkan aku, aku bahkan tak sedikitpun tertawa dan malah jadi tersindir ketika setelah itu Pak Handoko bilang tentang siswanya yang sering bolos, kabur maupun yang sengaja tidak mengikuti jam pembelajaran. Aku tahu itu adalah sindiran keras bagiku meski tidak mustahil juga jika ada anak-anak dari kelas lain yang juga seperti itu.
Ada juga kata-katanya yang membuatku semakin kesal hingga berujung pada ocehanku lagi. Kira-kira beginilah bunyinya....
"Nah, ujian akhir semester nanti juga ada berbagai persyaratan. Pertama, uang SPP nya harus dilunasin. Yang kedua, total masuk para siswa di setiap jam pembelajaran harus lebih dari 80 persen. Kalau kurang dari itu, berarti gak boleh ikut ujian mata pelajarannya."
Itu seperti sebuah peringatan keras bagiku. Peringatan bahwa nantinya, aku benar-benar tak boleh ikut ujian di salah satu mata pelajaran yang sering kutinggalkan tanpa alasan yang jelas. Bahkan Icha dan Rosa yang memang berada di sampingku pun menyadari hal itu sehingga tatapan mereka langsung mengarah kepadaku.
"Denger tuh, Shel. Lo pasti gak boleh ikut ujian tuh," ucap Icha. Aku pun menengok ke arahnya.
"Terutama pelajarannya Bu Mirna, Lo sering banget tuh, ninggalin," sahut Rosa. Akupun menengok ke arahnya.
Bu Mirna adalah guru yang paling sering memberikan hukuman kepadaku, bahkan lebih parah daripada Pak Handoko. Sebelumnya juga pernah kujelaskan tentang Bu Mirna, jadi menurutku di sini tak perlu kujelaskan lagi.
Oh, iya. Dia adalah guru fisika di kelasku. Sebenarnya dia juga ahli matematika. Dia pernah mengajar matematika di kelasku. Kalau gak salah, itu sewaktu Bu Maya sakit, sehingga ia yang menggantikan. Jujur saja, aku sangat tidak suka pelajaran yang satu ini. Ditambah lagi guru yang mengajarnya adalah Bu Mirna. Jelas hal itu membuatku semakin malas untuk ikut mata pelajarannya. Kurasa pelajaran fisika adalah salah satu pelajaran yang tak bisa ku ikuti pada saat ujian akhir semester nanti.
"Halah, bodoamat. Gak bisa ikut, ya sudah, gue gak peduli," ucapku.
"Eh, bisa-bisa Lo peringkat paling bawah, entar." Icha berkomentar.
"Bisa ngalahin si Dendi, dong," sahut Rosa. Memang si Dendi adalah langganan peringkat terakhir.
"Nilai ataupun peringkat itu hanya tentang angka. Mau 1 ataupun 100 sekalipun, itu juga gak berguna buat gue. Bagi gue, gak ada spesial dari sebuah angka. Jadi, biarpun gue nanti peringkat terakhir, gue benar-benar tidak peduli," jawabku.
Kata orang-orang, selalu ada hal tersembunyi di balik kata, "aku tidak peduli", tapi untukku, sungguh aku memang benar-benar tidak peduli. Tak ada hal tersembunyi apapun di balik kata yang kuucapkan itu. Aku tidak pernah takut jika nilaiku harus jelek. Aku juga tidak pernah takut kalaupun aku harus menerima kenyataan bahwa aku akan menjadi penghuni peringkat terakhir.
Jika memang itu kenyataannya, ya berarti cukup segitu lah kemampuanku. Jika nantinya papa dan mamaku akan memarahiku, ya tinggal aku dengarkan saja. Jika nanti aku tak sanggup mendengarkan ocehan mereka, cukup aku tinggal tidur atau keluar rumah saja. Sederhana saja, aku tak pernah mau ambil pusing tentang hal itu. Lagipula, nilai dan peringkat itu tidak pernah bisa menjamin masa depan seseorang agar bisa jadi lebih baik.