Bab 32

1491 Words
Butuh sekitar 10 menit lebih untuk aku sampai ke tempat tujuan. Di sana, kulihat tempat itu berdiri dengan kokohnya. Ternyata juga sudah banyak pengunjung yang pergi ke sana. Hal itu bisa kulihat dari banyaknya motor yang sedang terparkir di parkiran. "Lo bawa duit?" tanyaku pada Icha sesaat setelah motor kuparkirkan. "Ya bawa, lah. Terus tadi bayar kopinya Lo pikir gue pakai daun, gitu?" ucap Icha ngegas. "Lah, ngegas," kataku. "Ya udah kalau gitu, ayo masuk!" ajakku ke Icha. Kami berdua masuk, dan bersamaan dengan itu langsung kulihat sosok Daniel juga berada di dalam sana. Seperti pertama kalinya aku pergi ke tempat ini, aku pun pura-pura tak melihatnya. Nampaknya Icha juga tak sadar akan keberadaan Daniel di sana. "Gue mau beli komik," ucapku ke Icha. "Lah, kirain mau beli novel atau apa gitu. Ternyata cuma komik," kata Icha. "Cuma, cuma Lo bilang?" Aku berkata dengan nada seperti orang yang tidak terima. "Ya, iya sih, Lo bener. Tapi gue kan suka komik," lanjutku. "Hadeh, Shel. Ya udah, cepat kita cari. Habis tuh pulang," ucap Icha. "Kenapa sih, buru-buru amat mau pulang. Tenang aja, rumah Lo gak bakalan dicuri orang, kok," kataku. "Iya. Rumah gue gak bakalan dicuri. Tapi nutrisi dalam tubuh gue ini rasanya sudah habis dicuri oleh cacing-cacing yang minta makanan di perut gue," jawab Icha. "Hahaha.... Lo lapar?" tanyaku sambil ketawa. "Menurut Lo?" Dia balik nanya. "Baiklah, baiklah, setelah ini langsung pulang," ucapku. Padahal baru pukul 11 siang lebih, tapi si gadis blasteran itu sudah mengeluh bahwa ia kelaparan. Aku juga tak mau berkomentar. Aku tahu kapasitas lambung setiap manusia itu berbeda-beda. Ada yang butuh banyak makanan, ada yang sedang, dan ada pula yang hanya butuh sedikit. Itulah yang kutahu. Selain itu aku juga tahu akan bahaya jika seseorang yang sudah kelaparan, tapi tak segera makan. Pokoknya banyak sekali yang kuketahui tentang sistem pencernaan. Tidak, bukan hanya itu, tapi juga tentang sistem pernapasan, ekskresi, dan lain-lain. Maka dari itu, kenapa mamaku ngotot untuk menyuruhku kuliah di fakultas kedokteran. Baik, kembali lagi ke tempatku kini berada. Aku sedang memilih-milih buku komik yang aku sukai, sedangkan Icha sibuk melihat-lihat novel yang entah akan ia beli atau tidak. Lalu Daniel, kurasa ia belum menyadari keberadaan kami di sini, atau mungkin juga sudah. Entah, aku tak begitu memperhatikannya. "Shel, sini deh!" Di saat aku masih sibuk mencari buku komik, tiba-tiba Icha melambai-lambaikan tangannya dan menyuruhku untuk datang kepadanya. "Ada apa?" Aku bertanya ketika sudah sampai sana. "Lo lihat deh." Dia menunjuk sesuatu. Bukan, tapi lebih tepatnya seseorang dan seseorang yang ia tunjuk itu tidak lain adalah Daniel. "Kayak gak asing deh sama dia,"lanjut Icha. Iya, jelas nggak asing, karena orang itu adalah Daniel. Tapi wajar bagi Icha jika tidak bisa mengenalinya dengan seksama. Ia tak begitu tahu tentang si Daniel. Jika dihitung-hitung, ia tak sampai lima kali dalam melihat wajah Daniel, mungkin. Karena itulah ia tak begitu kenal dengan ciri-cirinya. "Lo kenal gak, Shel?" tanya Icha kepadaku. "Kenal?" jawabku jujur. "Hah, kenal? Emang siapa tuh?" tanyanya. "Dia Daniel," jawabku. "Daniel? Daniel yang sekolah di sekolahan yang sama kayak kita itu? Daniel yang katanya Lo sukai itu?" tanya Icha berbondong-bondong. "Ya siapa lagi kalau bukan itu," ucapku. "Oh, dia mau ngapain ya, di sini?" tanya Icha. "Mau tahu?" Aku bertanya balik ke Icha. "Ya gak juga sih. Bukan urusan gue," jawab Icha. "Kalau mau tahu, yuk kita samperin!" ajakku. Tanpa menunggu jawaban persetujuan dari dia, aku langsung menarik tangannya untuk mengikutiku dalam rangka menghampiri seorang Daniel. Icha mau tidak mau harus mengikutiku meski sebenarnya ada penolakan dari dia. Aku tahu dalam hatinya sebenarnya ia tidak pernah ingin menghampiri Daniel. Jika saja dia tidak sedang bersamaku dan saat itu juga ia bertemu dengan Daniel, aku yakin Icha tidak akan menyapa Daniel. Demikian juga Daniel. "Hai Niel," sapaku. Daniel menoleh. "Semangat banget kerjanya, padahal ini hari libur, lho," lanjutku. "Iya." "Mau beli komik lagi?" tanya Daniel. Lagi? Icha pasti sudah mempunyai pemikiran kenapa Daniel menyebut kata 'lagi'. Itu berarti aku sudah pernah datang ke sini. Itupun kalau otaknya benar-benar cerdas dan bisa menangkap hal itu. Namun aku yakin kalau Icha pasti sadar akan hal itu, secara dia kan emang cerdas. "Iya, tapi belum milih," jawabku. "Oh." "Oh ya, kenalin, ini Icha, teman gue. Satu sekolahan juga sama kita," ucapku memperkenalkan Icha ke Daniel. "Udah tahu," jawab Daniel. Sudah tahu? Apakah Daniel sebenarnya memang sudah mengenal Icha. Kembali kuingat-ingat tentang peristiwa demi peristiwa yang belakangan ini terjadi. Ah, tiba-tiba aku teringat akan suatu hal. Bukankah malam itu, malam pertama di mana aku tahu bahwa Daniel bekerja di warung kopi, aku juga sedang bersama Icha? Jadi saat itulah Daniel tahu tentang Icha. Ah, masih muda sudah pikun saja aku ini. Icha bahkan tak berniat mengucap sepatah katapun. Entah karena canggung ataupun apa, aku tidak tahu. Mungkin pula karena ia memang tak ingin mempunyai hubungan dengan Daniel, walau itu cuma sebatas mengenal. Jika itu yang beneran terjadi, maka aku akan cap dia sama seperti Ryan. Seseorang yang hanya memandang pertemanan sesuai harkat dan martabat. Kalau asumsiku itu benar, maka kelanjutan persahabatan antara aku dan Icha patut dipertanyakan kembali. Aku sangat tidak suka dengan mereka yang menilai persahabatan hanya dari itu. Sungguh, aku benar-benar sangat tidak menyukainya. "Oh ya Niel, Icha nanya, katanya Lo di sini sedang apa?" ucapku. Mata Icha langsung melotot ke arahku. "Apa? Kan bener, Lo yang tadi pengen nanya," kataku ke Icha. Daniel diam, dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Itulah dia, si pria yang menurutku mempunyai banyak sekali perbedaan dengan pria lainnya. "Niel, tolong dijawab, Niel," ucapku. Sejenak Daniel masih diam. "Kerja," jawab Daniel dengan cueknya. "Tuh, Cha, dengerin! Daniel lagi kerja di sini," ucapku menatap ke arah Icha. "Iya, udah denger," kata Icha. "Hebat kan, Daniel? Padahal umurnya masih sama kayak kita, tapi dia sudah pandai bekerja. Jaga warung kopi, jadi karyawan toko buku. Hebat, kan?" Entahlah, entah mengapa aku sangat ingin menyanjung seorang Daniel di hadapan Icha yang seperti meremehkan Daniel. Aku ingin Icha tahu bahwa Daniel itu hebat. Aku ingin Icha tahu bahwa Daniel itu seorang pekerja keras yang juga sangat rajin. Dan aku juga ingin Icha tahu bahwa Daniel itu jauh lebih mengerti soal kehidupan daripada aku maupun dia.p Kulihat Icha terdiam, seakan ia merenungi apa yang telah aku katakan itu. Merasa bersalah? Mungkin saja. Tak bisa menjawab? Itu juga mungkin. Ada banyak kemungkinan yang terjadi kenapa Icha lebih memilih untuk diam. Kalian harus tahu, Icha adalah tipe manusia yang jarang sekali mengambil sikap diam, dan sekali ia melakukannya, itu berarti ia sudah tidak dapat lagi berpikir apa yang harus ia perbuat. Ya, itulah Icha. "Eh, Niel. Kalau gitu, gue ke sana dulu, ya. Mau nyari komik, nih," ucapku. "Iya," jawab Daniel seperti biasanya. Jika aku boleh mengaku, aku ingin ngobrol lebih lama dan lebih banyak lagi dengan Daniel. Akan tetapi aku mengerti posisiku sekarang. Aku sedang mengajak seorang sahabat untuk datang ke sini, dan tak sopan rasanya jika aku harus mencuekinya. Aku kembali mencari komik demi komik yang menurutku adalah yang terbagus. Icha menantiku di belakang. Maksudku, si belakangku. Ia hanya berdiri tanpa melakukan apa-apa selain itu. Berbeda dengan yang tadi, di mana ia dengan sibuknya melihat-lihat buku novel yang sedemikian banyaknya. "Lo kenapa tadi diam aja, Cha?" tanyaku to the point ke Icha. Jujur aku sangat ingin tahu kenapa ia selalu diam di saat bertemu Daniel. "Tadi yang mana?" Icha bertanya balik. "Saat bertemu Daniel," jawabku. "Oh, ya gak apa-apa, sih," jawabnya yang membuat aku tak puas. "Jangan bilang karena Lo jijik sama si Daniel. Jangan bilang juga karena kalau Lo berada di dekat Daniel, Lo merasa berada di dekat tumpukan sampah," ucapku. Dia tiba-tiba tersenyum, tapi senyumnya itu seperti senyum meremehkan. Tak biasa-biasanya ia berekspresi seperti itu. "Jangan salah paham Lo!" Icha menjawab. "Mungkin Lo benar, Daniel itu tak seburuk apa yang teman-teman kita anggap. Gue setuju dengan anggapan Lo. Dia memang kurang dalam hal penampilan, tapi tidak dalam hal memahami kehidupan. Gue jadi sadar sekarang. Gak seharusnya gue kemarin-kemarin itu mengatai dia kayak gitu," ucap Icha panjang lebar. Aku tersenyum. Hampir saja aku menganggap ini sebagai sebuah mimpi. Seorang perempuan blasteran Indo-Prancis yang bernama Alicha Saraswati itu kini telah mempunya pemikiran yang sama denganku tentang Daniel. Jika saja aku tahu bahwa di tempat ini mata hatinya akan terbuka, pastilah dari kemarin-kemarin aku membawanya ke sini. Tapi, sudahlah, yang penting sekarang ia sudah menyadarinya. "Kan? Gue kan memang udah bilang, Cha. Lagian ada pepatah yang mengatakan 'jangan menilai buku dari sampulnya saja'. Gue rasa itu sudah cukup untuk mengibaratkan tentang dirinya," ucapku. Sengaja aku menggunakan kata 'dia' agar Daniel tak merasa risih jikalau tanpa sengaja ia mendengar namanya kusebut. "Lagipula, bukankah sampul itu bisa dengan mudahnya diganti jadi lebih bagus. Yang penting kan isinya," lanjutku. Maksudku, penampilan Daniel yang menurut kebanyakan orang adalah penampilan anak desa, bisa saja dengan mudahnya diganti dengan penampilan yang lebih menawan. Kalau soal isinya, atau tingkah lakunya, hati nuraninya dan juga pemikirannya, mungkin juga bisa diubah, tapi dalam jangka waktu yang sangat lama. "Iya, Shel," ucap Icha. "Jadi kenapa Lo diam aja, tadi?" tanyaku lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD