Bab 31

1982 Words
"Iya. Menurut gue ini akan lebih berkesan, karena belum pernah sekalipun gue menggambar tokoh idola papa gue. Tunggu aja, ini pasti akan menjadi hadiah terindah selama hidupnya," ucapnya sambil tersenyum. Tangannya kembali sibuk mencoretkan pensil ke kertas itu. Dari semenjak aku mengenal Icha, sebenarnya aku sudah tahu bahwa dia itu memang sangat suka dalam hal gambar-menggambar. Tak hanya suka, tapi juga sangat berbakat. Di gambarannya yang kulihat kali ini, apa yang ia gambar di kertas putih itu sungguh mirip dengan apa yang terlihat di layar ponsel milik Icha. Hebat, kurasa suatu saat nanti dia akan bisa menjadi seniman terkenal. Bakat luar biasa, serta kepintaran dalam hal pelajaran, jujur aku agak iri dengan semua yang ia punyai itu. Aku juga ingin menjadi seperti dia, dikenal karena kehebatan dan kepintarannya, bukan dikenal karena kenakalannya. Untuk ke sekian kalinya aku harus bilang bahwa terkadang aku berpikir bahwa aku ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, tapi entah kenapa itu begitu sulit bagiku, seakan-akan sadarku akan hal itu cuma sesaat, kemudian hilang lagi. Mungkin karena sifat yang kupunyai ini sudah ada pada diriku semenjak sang kuasa menitipkan aku pada dua sosok manusia yang bernama Boy Artasyah dan Rosa Artasyah. Bukankah sifat asli itu akan sangat sulit untuk diubah? "Hmmm.... Berarti gue gak bisa ajak Lo keluar dong, ini?" tanyaku ke Icha. "Keluar ke mana?" tanya Icha balik sambil memandangku. "Ya ke mana aja. Cafe, warung kopi biasa juga gak masalah," jawabku. "Heh, nasib jomblowati, mau keluar aja cuma bisa ngajak temannya," ejek Icha. "Emang Lo udah punya pacar?" tanyaku. "Ya, belum sih," jawab Icha sambil cengar-cengir. "Terus kenapa ngatain kalau diri sendiri pun sama?" tanyaku ngegas. Ia masih cengar-cengir tanpa menjawab. Mungkin kebanyakan orang akan tidak percaya jikalau dua cewek cantik yang kini berada di sebuah kamar yang luas ini belum mempunyai pacar. Oke, itu urusan mereka. Akan tetapi sungguh, baik aku maupun Icha memang belum mempunyai pacar. Sebenarnya Icha pernah mempunyai pacar waktu masih SMP, tapi mereka sudah lama putus, entah kenapa itu bisa terjadi. Sedangkan aku, sampai usiaku yang hampir beranjak dewasa ini, tak pernah sekalipun aku merasakan tentang bagaimana rasanya berpacaran. Bahkan dari dulu, tak ada sedikitpun rasa cinta ketika aku melihat banyak sekali lelaki, baik itu memang tampan, pas-pasan atau bahkan jelek. Jika selama ini ada yang mengatai aku tidak normal, ya tidak apa-apa. Asalkan jangan sampai aku mendengarnya, karena bisa jadi mereka akan mendapatkan luka karena ulahku nanti. Mungkin dulu aku memang tak pernah menyukai seorang laki-laki, tapi sekarang, ada Daniel yang berhasil untuk membuatku jatuh cinta kepadanya. Dimulai dari rasa kasihan kepadanya, lalu merembet ke rasa ingin membantunya, kemudian timbullah kekaguman pada dirinya hingga yang terakhir adalah lahirnya cinta. "Jadi gimana nih?" tanyaku kemudian, setelah terjadi keheningan sesaat antara aku dan Icha. "Gimana apanya?" Icha bertanya. "Gak mau ikut gue keluar?" tanyaku. "Iya, nanti, sebentar lagi," jawab Icha. "Lah, Lo kan harus selesaiin gambaran Lo biar Lo bisa memberikan itu untuk papa Lo waktu ulang tahunnya," kataku. "Iya, gue tahu. Tapi gue juga butuh istirahat kali, Shel. Ya kali gue gini terus sampai malam. Lagipula, ini juga udah mau kelar, dan masih ada waktu sampai nanti tanggal 18 tiba," jawab Icha. "Gitu, ya? Ya sudahlah," ucapku. "Tunggu sini dulu! Gue mau lanjutin gambaran ini sedikit lagi," ucap Icha. "Oke," kataku. Aku memilih duduk di kasur setelah sekian lama aku berdiri karena sedari tadi tak dipersilahkan duduk oleh si tuan rumah. Kumainkan ponselku ketika sahabatku itu sibuk dengan kegiatan menggambarnya. Bukannya apa-apa, aku cuma tidak mau menghilangkan konsentrasinya. Selain itu memang sudah tidak ada topik yang bisa dibicarakan antara aku dan dia. Kumainkan jemariku dengan lembut di layar ponselku, membuka sebuah game yang sangat aku gemari, yakni game balapan MotoGP. Asal kalian tahu aja, dari awal aku punya ponsel ini, game inilah yang tetap setia mengisi kelebihan ruang penyimpanan di ponselku dan sekalipun tak pernah kuhapus. Inilah diriku. Seorang perempuan yang suka dengan dunia jalanan. Perempuan yang suka dengan dunia permotoran. Walau terlahir dari orang tua yang kaya raya, tempat hiburanku bukanlah di mall ataupun semacamnya. Kalau aku disuruh memilih antara mall atau pasar tradisional, aku lebih memilih pasar tradisional. Karena di pasar tradisional itu, aku bisa mendapatkan pelajaran tentang apa itu kesederhanaan. Satu lagi, jika aku disuruh memilih antara liburan ke luar negeri, atau di dalam negeri, aku akan memilih liburan di dalam negeri saja. Karena biar bagaimanapun juga, negeriku tetaplah Indonesia. Negeriku bukan Jepang, Prancis, Korea ataupun yang lainnya. Negeriku hanya Indonesia, dan sudah, itu saja. Miris sekali jika aku melihat para manusia pribumi ini lebih suka berlibur ke luar negeri. Aku tahu Haway itu indah. Aku juga tahu ketika bunga sakura sedang bermekaran, maka bisa mendamaikan hati. Aku juga tahu bahwa Menara Eiffel adalah tempat yang paling romantis di muka bumi ini. Akan tetapi Indonesiaku juga punya semua itu. Hanya saja, karena harta yang melimpah, mereka lebih memilih mengunjungi destinasi wisata yang bukan berada di negaranya dan mulai melupakan negaranya sendiri. Ah, itu sungguh menyebalkan, tapi apa boleh buat, itu juga hak mereka. "Cha, si Ajal udah balik, ya?" Aku bertanya pada Icha setelah pikiranku melayang ke mana-mana. "Aneh banget Lo. Ya pastinya udah, lah," jawab Icha. Ia masih terlihat sibuk dengan gambarannya. "Kapan ke sini lagi?" tanyaku. "Ya entahlah. Mungkin liburan semester nanti. Ada apa emangnya?" tanya Icha setelah menjawab. "Ya nggak ada apa-apa. Cuma ingin tahu aja," jawabku. "Jangan-jangan, Lo suka ya sama si Ajal?" goda Icha. Kali ini ia melihatku. "Sembarangan aja Lo. Mana ada gue suka sama dia," sangkalku. "Ah, apa iya?" Icha masih berusaha menggodaku. "Emang ada yang salah ya, kalau cuma ingin bertanya?" tanyaku. "Ya nggak sih," jawab Icha. "Ya udah, gitu aja didebatin," ucapku. Icha terdiam cukup lama, tapi kemudian pandangannya ia palingkan dariku dan kembali tertuju pada selembar kertas di depannya itu. Ia mulai sibuk menggambar lagi. Kuhanya diam, memandangi tingkah si tuan rumah itu yang membingungkan. "Tapi kalau gak ada apa-apa, kenapa nanya soal Ajal kapan ke sininya lagi, hayo." Icha kembali menoleh ke arahku sambil berkata seperti itu. "Ish, apaan sih Lo, Cha. Nanya gitu aja dipermasalahin," ucapku. Dia tertawa. "Pakai ketawa, lagi," lanjutku. "Kan gak ada yang ngelarang," balas Icha. "Gue yang ngelarang," sahutku. "Mana bisa. Ada undang-undangnya, nggak? Kalau ada, pasal berapa ayat berapa?" tanyanya semakin menyudutkan aku. "Ada, di pasal 512 ayat 1000," jawabku ngawur. "Hahaha.... Apa-apaan itu, banyak banget," ucap Icha. "Ya emang gitu." Kujawab dia. "Hahaha.... Emang gimana bunyinya?" tanyanya lagi. "Eee.... Oh, gini, seluruh manusia boleh tertawa, kecuali teman laknat dan orang yang tidak ingin dan tidak bisa tertawa," jawabku asal. "Hahaha, mana ada kayak gitu." Icha menyangkal perkataanku. "Ah, bodoamat lah. Mending Lo sekarang cepat-cepat selesaiin gambaran Lo," ucapku. Seketika itu pandanganku langsung kupalingkan ke layar ponselku, mengabaikan Icha yang masih senyum-senyum tidak jelas ke arahku. Kalaulah kekesalanku ini bisa ku konversikan menjadi kemarahan, mungkin sudah sedari tadi aku marah kepada sahabatku itu. Akan tetapi sayangnya tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa marah ke sahabatku. Kalaupun bisa, itu juga cuma sebentar. Bahkan tidak bisa sampai satu hari. Justru orang sepertiku lah yang bisa lebih menghargai persahabatan. Kalian lihat saja orang-orang pintar yang kelihatannya baik di luar sana. Kebanyakan pertemanan mereka hanyalah berupa kemunafikan. Mereka akan datang di saat susah, dan meninggalkan temannya itu di saat ia sudah berjaya. Teman-temannya pun mungkin akan sama. Ketika seseorang itu sedang berada pada titik susahnya, pasti mereka akan pergi untuk meninggalkannya. Demikian sebaliknya, ketika seseorang itu sedang berada pada titik kejayaannya itu, akan datang banyak sekali teman munafik yang mendekat ke dia. Itulah kehidupan. Kalau kupikir-pikir, itu sangat jauh dengan persahabatanku dan Icha. Meski belum pernah ada cobaan yang berat di dalam ikatan ini. "Sudah," ucap Icha tiba-tiba. "Sudah kelar?" tanyaku. Kubuang mukaku dari layar ponsel. "Sudah mau mulai lagi," jawabnya. "Sialan Lo!" umpatku. "Hahaha.... Ya sudah kelar, lah. Lo sih, aneh nanyanya." Icha berkata sembari menertawaiku. "Jadi, kita ke warung kopi?" tanyaku. "Hmmm.... Kayak ada udang di balik batu, nih. Lo pasti mau ke warung kopinya si Daniel, kan?" tanyanya balik. "Ih, ya nggak lah. Lagian juga belum jadwalnya dia yang jaga," jawabku. "Hahahaha." Dia tertawa. Aku bingung. "Kenapa ketawa?" tanyaku. "Nggak, lucu aja. Emang harus nunggu Daniel yang jaga dulu, ya,aru setelah itu Lo mau pergi ke warung kopi itu?" tanya Icha. "Ya, harus gitu, lah," jawabku. "Heh, gini nih, preman sekolahan kalau sudah berada di mabuk cinta," ucap Icha. "Cerewet Lo. Ayo kita pergi, keburu siang, entar," ucapku. *** Bumi ibu pertiwi, Kota Metropolitan. Bumi yang sudah mulai hancur karena tergerus oleh zaman. Kota yang menjadi markas dari sang polusi. Bumi Pertiwi ku yang dulu masih penuh dengan keindahan, serta kota yang penuh dengan sejarah perjuangan, lambat laun kini seperti akan hancur dan lenyap dari peradaban. Bayangkan saja, dari banyaknya penduduk pribumi di kota ini, banyak sekali perusahaan-perusahaan besar yang dikuasai asing. Sedangkan kita para pribumi, hanya menjadi bawahan mereka saja. Sebetulnya aku harus berterimakasih pada papaku. Dialah orang yang bisa melawan itu semua. Dia bisa menjadi penguasa di perusahaan yang sebesar itu. Aku patut bersyukur karenanya. Namun, tanahku tentu masih berduka. Aku terkadang berpikir tentang bagaimana jika seandainya para pahlawan negeri yang kini telah gugur dihidupkan kembali. Bagaimana jika seandainya mereka melihat keadaan negerinya yang mereka perjuangkan dengan nyawanya itu kini menjadi sangat memprihatinkan. Tak bisa dibayangkan betapa sedih dan kecewanya mereka. Apa yang mereka perjuangkan, dan apa yang mereka pertahankan telah dirusak oleh para generasi selanjutnya. Aku ingat kata-kata Bung Karno yang pernah bilang, "Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia." Aku setuju, sangat setuju malahan dengan Bung Karno yang dulu pernah mengatakan hal itu. Tapi itu untuk pemuda zaman dulu, sekarang sudah beda lagi. Generasi ini sudah mulai hancur dan diserang oleh suatu virus, yaitu virus kebodohan. Meski tidak semua, tapi kukira banyak yang seperti itu. Lihatlah para pemuda yang lebih memilih mabuk-mabukan daripada belajar. Lihat pula para perempuan yang seakan sudah tak punya harga diri, sangat berbeda dengan perempuan zaman dulu yang menjunjung tinggi harga diri, bahkan jikalaupun itu harus dijaganya dengan taruhan nyawanya sendiri. Ah, sudahlah. Lupakan dulu sejenak tentang keadaan negeri ini. Lupakan dulu metropolitan ku yang sudah tak nyaman lagi untuk ditempati. Jika kalian ingin menganggap aku ini tak sadar diri karena telah menyebut para pemuda itu bodoh, sedangkan diriku sendiri juga seperti itu, itu hak kalian. Setidaknya aku juga menyadari tentang itu dan juga membencinya. Suatu saat nanti akan ada saatnya aku bisa mengubah keburukanku itu. "Oh ya, nanti pulangnya ikut gue ke toko buku sebentar, ya," ucapku pada Icha yang kubonceng. "Toko buku?" Icha bertanya. "Iya," jawabku singkat. "Hahaha.... Ngapain Lo ke toko buku?" tanya Icha seakan menganggap bahwa aku tak pantas untuk pergi ke toko buku. "Ada lah, pokoknya," jawabku. Dia gak tahu aja kalau tujuan utamaku datang ke sana adalah karena Daniel. Ya, Daniel. Masih tetap Daniel yang dulu itu. Daniel si penjaga warung kopi sekaligus si karyawan di sebuah toko buku. Keren, aku menyukai apa yang ia lakukan itu. Inilah pemuda pribumi yang patut dicontoh. Jika maksud Bung Karno tentang 10 pemuda itu adalah pemuda yang seperti Daniel, maka aku tidak akan ada keraguan lagi untuk membenarkan ucapan beliau. Akan tetapi jika maksud pemuda itu adalah orang seperti Ryan yang suka menindas, atau seperti Dendi yang suka tidur di kelas, aku tak akan setuju dengan perkataan beliau. *** Singkat cerita, setelah aku dan Icha selesai ngopi di sebuah warung kopi yang cukup sederhana, aku langsung menjalankan motorku untuk menuju ke toko buku yang kumaksud. Toko buku di mana ada Daniel sebagai salah satu karyawannya. Tapi, ini baru jam 11 siang. Akankah siang ini Daniel sudah ada di sana? Jarak antara warung kopi yang tadi kukunjungi bersama Icha lumayan jauh dengan jarak toko buku yang kumaksud. Mungkin kira-kira sekitar 3 sampai 4 kilometer. Itu jarak yang cukup jauh, bukan? Apalagi jika harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi tak apa, sepeda motor kesayanganku masih mempunyai banyak sekali persediaan minuman. Mungkin masih cukup jika harus dibuat berjalan sampai puluhan kilometer.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD