Bab 30

2014 Words
Bermain ponsel menjadi pilihan terbaik untuk menghilangkan rasa sunyiku. Meski ini berarti aku telah berbohong pada Dio, aku tidak peduli. Mana mungkin aku tidur pada jam segini. Dia harus tahu, selama aku tidak memejamkan mata, maka aku tidak akan bisa tertidur. Sungguh aku berani taruhan atas itu. Kubuka aplikasi demi aplikasi, tapi tak ada yang menarik hatiku. Entahlah, semuanya kini terasa membosankan bagiku. Hingga saat aku membuka sebuah aplikasi lagi, di sana kulihat nama Icha dengan tulisan 'online' yang berada di bawah namanya. "Cha." Aku akhirnya memilih untuk mengirimkan sebuah pesan kepada sahabatku, Icha. Tak lama kemudian, dia membalas. "Apa," balasnya. "Lo punya nomor anak 10 IPA 3, gak?" tanyaku masih lewat chat. Tujuanku sebenarnya adalah untuk mencari tahu lebih dalam tentang Daniel. Ingat! Daniel juga merupakan anak 10 IPA 3. Beberapa saat kemudian, Icha membalas. "10 IPA 3, ya? Sepertinya enggak. Gue gak begitu kenal sama mereka. Emang ada apa?" tanyanya. Aku membaca dulu dengan teliti balasan chat dari Icha. Kenapa? Karena sebenarnya balasan chat darinya itu dengan kata-kata yang disingkat-singkat. Hanya saja di sini kutulis dengan bahasa baku biar kalian mudah untuk memahaminya. "Gak apa-apa. Ya udah kalau gak punya." Aku akhirnya memilih untuk mengakhiri percakapan itu. "Oke," jawabnya setelah beberapa saat. Memang seharusnya aku ini mencari tahu tentang Daniel dengan usahaku sendiri, bukan dari mulut orang lain. Mulut orang lain bisa saja berbohong, tapi tidak dengan kalau aku yang mengetahuinya secara langsung. Kembali aku bergelut dengan kesunyianku. Benda kotak itu sudah kubanting ke kasurku. Kalau orang lain, mungkin bisa tahan seharian, atau bahkan seminggu dengan hanya berada di dalam kamar. Akan tetapi bagiku, itu adalah sebuah siksaan yang sangat berat. Kurebahkan tubuhku di atas kasur empukku. Aku hanya bisa berharap, semoga malam ini cepat berlalu. Perlahan mataku mulai terpejam, hingga akhirnya aku membuat sejarah tentang seorang Shelania yang tertidur pada jam 8 lebih seperempat malam. Memalukan. *** Suara kokokan ayam jantan itu mengganggu tidur nyenyakku, membuatku terbangun dengan mata yang masih sangat lengket. Aku terduduk di atas kasur. Tanganku kugunakan untuk mengucek-ucek mata agar sang indra pengelihatan itu bisa melihat dengan jelas dunia di pagi hari. Satu hal yang membuatku gembira. Hari ini adalah hari Minggu. "Shela, bangun!" Teriakan mamaku membuatku menoleh ke arah pintu. Aku tahu mamaku kini pasti masih berada di lantai bawah. Aku agak malas untuk menjawab. Selain karena baru bangun tidur, aku juga masih kesal dengan mamaku gara-gara semalam ia meninggalkan aku berduaan dengan Dio. Sungguh itu sangat menyebalkan. "Shela." Panggilannya yang kedua kalinya. Kali ini kudengar dengan sangat jelas langkah kakinya mulai melangkah menaiki tangga. Aku masih diam. Rasa kantuk ini masih terasa cukup kuat, padahal aku sudah tidur dari jam 8 malam. Aneh memang, tapi inilah yang terjadi. "Shela, mama masuk, ya." Ini panggilan yang ketiga kalinya. Gagang pintu itu terlihat bergerak dan tak lama kemudian pintunya terbuka. Muncullah sosok perempuan yang selalu kupanggil dengan sebutan 'Mama'. Memang aku jarang mengunci pintu kamarku. Karena itulah semua orang bisa keluar masuk dengan mudah ke dalam kamarku. Mamaku kini memandang putrinya yang tak lain adalah diriku dengan tatapan takjub. Pasalnya dia melihatku sudah terbangun, dan terduduk di kasur. Akan tetapi dengan keadaan yang masih ngantuk berat. "Em... Em... Em... Shela, jangan karena hari Minggu kamu mau bangun kesiangan, ya," ucapnya seraya mendekatiku. "Masih ngantuk, Ma," ucapku. "Nggak ada ngantuk- ngantukan. Kamu sudah tidur terlalu lama. Sekarang bangun dan segera sholat subuh!" perintahnya. Meski tak sebegitu mengerti tentang masalah agama, tapi mamaku itu selalu mengingatkan aku tentang hal sholat. Tak pernah bosan-bosannya ia mengingatkan aku. Dari usiaku yang masih balita sampai sekarang yang sudah hampir menginjak dewasa. Dia sosok ibu yang baik. Aku akui itu. Tapi satu kesalahan yang ia buat. Kenapa ia seakan sedang mendekatkan aku dengan si Dio? "Iya Ma, iya," jawabku. Tapi masih tetap terduduk. "Iya, iya, tapi kok masih di situ," ucap mamaku. "Lima menit lagi, Ma," tawarku. "Gak bisa, harus sekarang," ucap mamaku tegas. "Iya, Ma," kataku. Mamaku masih menunggu agar putri semata wayangnya ini segera beranjak dari tempat tidurnya. Malas sekali, sumpah. Akan tetapi kupaksa diriku untuk melakukan hal itu, berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. *** Pagi ini tak seperti pagi Beberapa hari yang lalu. Pagi di mana hanya kegelapan yang menyelimuti bumi tercintaku. Pagi di mana tak ada secercah cahaya pun dari sang mentari yang bisa mengenai bumi. Juga bukan pagi di mana kutemukan banyak sekali kengerian yang jika aku mengingatnya akan merasa ketakutan lagi. Bukan, pagi ini terasa sangat berbeda dari waktu itu. Cerah, walau agak sedikit berawan. Aku sudah mempunyai rencana tentang ke mana aku akan menjalani waktuku di pagi yang cerah ini. Itu bukan bermain dengan teman-teman kompleks perumahanku. Aku merasa semenjak kami sudah berbeda sekolah, mereka jadi sombong-sombong. Ketika bertemu di jalanan pun jika bukan aku yang menyapa, mereka tak akan menyapa. Meski kutahu tidak semuanya seperti itu. Ada juga yang masih tetap mempertahankan ikatan pertemanan ini walau hanya dengan sekedar saling sapa. Dan apakah hal itu terjadi juga pada Icha, Nita dan yang lain ketika nanti kami sudah berpisah dari SMA itu? Kuharap tidak. Kulajukan motorku pelan menembus sengatan sang mentari pagi yang terasa belum begitu panas. Maklum saja, masih jam 08:30 pagi, dan mungkin hanya lebih sedikit. Rambutku berkibar layaknya bendera ketika sang angin meniupnya, karena memang aku sedang tidak memakai helm. Kalau aku dibilang menyalahi aturan lalu lintas, ya aku tidak peduli. Jika seandainya nanti pun ada polisi yang akan menilangku, aku cukup akan bilang bahwa aku anaknya Boy Artasyah. Mereka juga harus tahu, bahwa papaku itu mempunyai kenalan seorang komandan tertinggi kepolisian di Kota Jakarta ini. Para polisi pasti tak akan berani menilangku. Lucu sekali jika aku terus menggunakan nama papaku untuk menyelamatkan diri dari segala macam masalah, tapi cobalah kita lupakan itu. Lanjut saja pada perjalananku yang hampir mencapai tujuan. Di depan sana sudah nampak gerbang rumah yang akan aku tuju. Itu adalah rumah seorang Alicha Saraswati atau yang biasa kupanggil Icha. Bersamaan dengan motorku yang mencapai depan pintu gerbang, sang satpam penjaga rumah itupun dengan cekatannya langsung membukakan pintu untukku. "Terima kasih, Pak," ucapku. "Sama-sama, Non," ucapnya. Lelaki itu tak lain dan tidak bukan adalah Pak Seno, satpam dari rumah besar yang kini tepat berada di depanku. Itu adalah rumah dari sahabatku, Icha. Kuparkirkan motorku di halaman rumahnya, kemudian melangkah menuju pintu rumah Icha. "Cha, keluar, Cha! Ini Shela." Tanpa salam ataupun apa, dengan tidak sopannya ku berteriak sambil mengetuk pintu beberapa kali. "Cha," teriakku lagi. Samar-samar kudengar suara langkah kaki dari dalam rumah yang bergerak menuju pintu. Aku menghentikan aktivitasku sejenak untuk menunggu sosok di balik suara langkah kaki itu memunculkan dirinya. Kutahu hanya ada Icha dan Bi Ijah, asisten rumah tangga Icha, yang kini menempati rumah itu. Jadi, jika suara langkah kaki ini bukan langkah kaki Icha, ya langkah kaki Bi Ijah. Cklekk! Gagang pintu rumah besar itu berputar. Sedikit demi sedikit, pintu dengan gaya ukirannya yang cukup menawan itupun terbuka, dan menampilkan sosok manusia yang sama sekali tak pernah kuduga. Sosok manusia yang kukenal sebagai mamanya Icha. Aku terkejut, sangat terkejut. Jika tahu beliau kini sedang ada di rumah, tak kan mungkin aku melakukan hal yang sangat tidak sopan seperti tadi. "Eh, Tante. Assalamualaikum, Tan," ucapku sambil menyalami tangan wanita itu sembari mencium punggung tangannya. "Ah, ternyata kamu ya, Shel. Tante pikir siapa tadi, pakai teriak-teriak segala," ucap Tante Lina, yang tak lain adalah nama mamanya Icha. Aku memang sudah cukup dekat dengan mamanya Icha. Memang, kami jarang bertemu, tapi sifatku dan sifatnya yang memang mudah akrab sama orang lain membuat kami berdua bisa akrab dengan mudah. Itulah dia, Lina Saraswati. Si wanita pribumi yang menikah dengan seorang lelaki Prancis yang bernama Mark Nicholas, atau lebih kukenal sebagai papanya Icha. "Hehehe.... Maaf, Tan, Shela pikir di rumah cuma ada Icha dan Bi Ijah doang," ucapku sambil cengar-cengir. "Em... Em... Em, kamu ini. Nyari Icha?" tanyanya. "Gak sih, Tan. Shela nyari anak Tante," jawabku masih dengan cengiran tak berdosaku. "Hadeh, kebiasaan, deh. Icha nya di kamar tuh, samperin aja," ucapnya. "Jadi boleh masuk nih, Tan?" tanyaku. "Ya boleh, lah. Ya kali tamu disuruh berdiri di teras rumah," jawab Mamanya Icha, aku senyum dan tak menjawab apapun. "Ayo masuk," lanjutnya mempersilahkan aku untuk masuk. Ia berjalan terlebih dahulu, kemudian kuikuti langkahnya dari belakang. Aku harus mengakui akan suatu hal. Wanita yang kini berjalan di depanku ini benar-benar sangat anggun. Dia juga cantik, meski ia sudah menjadi seorang ibu. Pantas saja ia bisa meluluhkan hati lelaki Prancis. "Papanya Icha juga di rumah, Tan?" tanyaku. "Enggak, papanya Icha ada kerjaan di luar kota," jawab Tante Lina. "Oh, sibuk banget ya, Tan?" tanyaku lagi. "Iya, sibuk banget dia. Banyakan di luarnya daripada di rumah," jawabnya. "Oh." Aku manggut-manggut mengerti. "Ya, gimana lagi, Shel. Namanya juga kerjaan," ucap Tante Lina. "Iya Tan," ucapku. "Ya udah, kamu ke atas aja. Tante mau ke dapur," ucap Tante Lina. Sungguh aku tak tahu apa tujuan ia ke dapur. Bukankah sudah ada Bi Ijah yang memasak? Aku mungkin tak tahu apa yang akan wanita anggun nan cantik itu lakukan di dapur, tapi aku juga tak begitu ingin mengetahuinya. Biarlah itu menjadi urusannya. Aku tak perlu tahu tentang itu. Bersamaan dengan langkah wanita itu yang berjalan ke arah dapur, aku melangkahkan kakiku menaiki setiap anak tangga untuk menuju lantai atas. Sama seperti kamarku, kamar Icha juga berada di lantai atas. "Cha," ucapku ketika sampai di ambang pintu kamar Icha. Tanganku tak lupa kuketukkan ke pintu itu. "Iya, masuk," jawab Icha dari dalam. "Masuk ke mana?" tanyaku, sengaja untuk membuat Icha kesal kepadaku. Asal ia tahu, ketika aku melontarkan pertanyaan itu, aku tak lepas dari tawaku. "Ke liang kubur," jawabnya ngegas. Sudah kuduga itu akan terjadi. "Jahat banget Lo, Cha," ucapku. "Bodoamat," balas Icha. "Ya udah, gue masuk, ya." Kali ini aku berbicara agak sungguh-sungguh. "Ya," jawab Icha. Pintu kamar itu kubuka. Seketika itu indra mengelihatanku langsung menangkap sosok sang sahabat yang tak lain salah si Icha. Ia kini sedang duduk di sebuah kursi dengan tangannya yang memegang sebuah pensil yang dicoret-coretkan ke selembar kertas yang berada di meja belajarnya itu. Matanya menatap fokus mengikuti setiap pergerakan dari pensil itu, sambil sesekali melirik ke arah ponsel yang dipegangnya di tangan kirinya. "Ngapain Lo?" tanyaku. Memang aku tak tahu tentang apa yang sedang ia lakukan. "Menggambar," jawabnya tanpa melihatku. "Wih, nggambar apa Lo?" tanyaku sambil mendekatinya. "Hmmm.... Lihat aja, Lo juga gak bakalan tahu," jawabnya. "Emang gambar apa, sih? Jadi kepo gue," ucapku. Kulihat dengan tajam apa yang sedang ia gambar. Ternyata itu adalah gambar dari seorang lelaki yang tak aku kenali siapa dia. Aku jadi mengira, mungkin yang sedang Icha gambar itu adalah pacar dia, atau paling tidak adalah orang yang dia sukai. "Siapa tuh? Pacar Lo, ya?" tanyaku. "Ngawur aja Lo," sangkalnya. "Terus siapa?" tanyaku lagi. "Ini Benzema, si pemain bola," jawabnya. "Bola? Lo suka bola?" tanyaku. "Ya nggak juga, sih. Tapi papa gue yang suka. Papa gue itu ngefans banget sama si Benzema ini. Makanya gue Buatin gambar untuk nanti gue berikan sebagai hadiah di hari ulang tahunnya," jawab Icha. "Papa Lo mau ulang tahun?" tanyaku. "Iya. 18 Mei nanti," jawabnya. "Wih, sebentar lagi dong," ucapku. "Iya, makanya gue harus selesaiin gambaran ini secepatnya biar nanti bisa gue berikan tepat pada hari ulang tahunnya," ucap Icha. Mendengar itu, entah kenapa aku merasa sedih. Walau jarang sekali bertemu, tapi Icha terlihat sangat sayang kepada papanya itu. Ia sampai bela-belain menggambar sketsa wajah dengan tingkat kerumitan cukup tinggi itu hanya demi papa yang jarang pulang, jarang memberikan kasih sayang untukku. Icha, ia benar-benar hebat. "Eh, kalau untuk hadiah ulang tahun papa Lo, kenapa gak sketsa wajah papa Lo aja yang Lo gambar?" Aku bertanya. Tidak, mungkin ini lebih tepat jika disebut mengusulkan. "Ah, kalau yang itu sih sudah biasa," jawab Icha. "Sudah biasa gimana?" tanyaku bingung. "Iya biasa. Gue udah biasa gambar wajah papa, mama, dan bahkan gue sendiri. Gue juga pernah gambar wajah kami sekeluarga. Kalau Lo mau lihat, nanti kalau papa pulang, gue tunjukkin. Karena semua gambar itu sekarang ada di papa, katanya biar bisa ia buat penawar rindu," jawab Icha panjang lebar. "Oh, gitu, ya? Jadi ini alasan kenapa Lo lebih memilih gambar wajah pemain bola itu daripada wajah papa Lo?" Aku bertanya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD