Menyusuri Kenangan

1558 Words
“Move-on, Na.” Kalimat itu lirih diucapkan Lubna kepada dirinya sendiri. Pasca berpisah dengan Arka, Lubna terus berjuang untuk melupakan semua kebersamaan yang hanya tersisa kenangan. Dia berusaha menguburnya dalam-dalam, meski pada akhirnya berbuah sia-sia. Ingatan tentang masa-masa indah itu semakin pekat dan kerap membayanginya. Rindu itu pun kerap datang dan membuatnya tersiksa. Di butik, Lubna yang baru saja selesai melakukan pemotretan, duduk seorang diri dengan pandangan kosong. Pikirannya berkelana, mengingat tentang Arka. “Lusa aku mau ke Yogyakarta,” ujar Arka kala itu di kedai kopi sahabatnya. “Lho, ada apa?” “Mau jemput seseorang yang spesial,” jawabnya, berhasil membuat Lubna cemburu. Wajah yang semula manis, berubah masam. Lubna hentikan aktivitas makan dan membuang muka ketika mendengar Arka mengatakan itu. Pria itu pun tertawa kecil, menyadari reaksi perempuan di depannya. “Nanti aku kenalkan kamu sama dia.” Tiga hari kemudian, Arka menjemput kekasihnya untuk makan malam. Menuju Samudra Resto, keduanya pergi. Sesampainya di sana, terkejut Lubna dengan keberadaan ayah dan ibu pria itu. “Ini ayah dan ibuku, Na.” Mendadak jantung Lubna berdebar tidak stabil dan kencang sekali, seperti genderang perang. Hanya seulas senyum kaku dengan tangan melipat yang Lubna tunjukkan. “Yah ... Bu, ini Lubna. Perempuan yang aku ceritakan.” Lubna seketika merasa bahagia. Setelah satu tahun berpacaran, akhirnya Arka mengenalkannya kepada keluarga. Dia semakin yakin akan keseriusan kekasihnya. Anna, wanita yang dipanggil Arka dengan sebutan ibu itu tersenyum hangat kepadanya. “Arka sering bercerita tentangmu. Ternyata aslinya jauh lebih cantik dari potret yang dia tunjukkan.” Pujian Anna berhasil membuat pipi Lubna bersemu merah, menahan malu. “Duduk, Na.” Suara Arka kembali membuatnya tersadar. Di samping Arka, Lubna mengambil duduk. Saat baru saja duduk, seseorang di samping ibu Arka, mencuri perhatiannya. Dia kemudian menoleh, menatap Arka yang melempar senyum. “Kamu ingat, ‘kan? Aku waktu itu bilang, mau menjemput seseorang yang spesial. Dia orangnya. Namanya Sonia dan kami sudah bersahabat sejak kecil.” Pandangan Lubna kembali menoleh kepada perempuan itu; senyum manis terukir di bibirnya. “Aku berharap kamu tidak akan cemburu, ya, Na. Perempuan yang menjalin hubungan dengan Arka biasanya tidak pernah bertahan lama, karena cemburu terhadapku. Aku juga berharap ... kita bisa menjadi sahabat. Seperti aku dan Arka.” “Mereka itu sudah seperti kakak dan adik. Maklum ... banyak waktu yang mereka habiskan bersama sejak kecil.” Hartono, ayah Arka turut bersuara. Sejak hari itu Lubna mengenal Sonia. Sebelumnya Arka tidak pernah mengatakan apa pun tentang gadis itu. Mulanya dia merasa tidak nyaman, setiap kali Arka dan dirinya pergi, Sonia terkadang ikut bersama mereka. Cemburu itu kerap menyelimuti hatinya, karena perhatian Arka selalu terbagi setiap kali mereka pergi bersama. Seperti hari itu di tahun 2015; beberapa bulan setelah Arka mengenalkan Sonia, laki-laki itu mengajak Lubna berlibur ke Bandung. Atas ajakan laki-laki itu, Sonia juga ikut. Lubna pun berinisiatif mengajak Nusa dan Maria untuk antisipasi kalau-kalau dia merasa tidak nyaman. Benar saja. Saat mereka keliling Bandung, di Jalan Braga Arka meminta salah seorang pelukis jalanan untuk melukis dirinya dan Sonia. Saat itu Lubna merasa seperti ada dan tiada untuk Arka. Laki-laki itu lebih menikmati waktunya bersama Sonia dibandingkan dirinya. “Kita buat juga lukisan bertiga, yuk!” ajak Maria, belum menyadari ketidaknyamanan sahabatnya. Sementara itu, sejak dalam perjalanan menuju Bandung Nusa sudah menyadarinya. Dia pun tidak suka melihat kedekatan Arka dan Sonia. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, rasa nyaman itu sudah pasti ada, dan perasaan nyaman itu sendiri hal yang paling mematikan untuk perempuan. Mustahil, jika dalam hati keduanya tidak tumbuh cinta. Arka mungkin tidak menyadarinya, tetapi Sonia pasti menyadarinya; secara perempuan adalah makhluk yang paling peka. Nusa kembali menyadarkan diri dari lamunannya tentang Arka dan Sonia. Dia kemudian mengajak kedua sahabatnya untuk kembali berkeliling, meninggalkan sepasang sahabat yang sedang menunggu lukisan itu selesai dibuat. “Sa, kok, pergi? Aku mau juga kita bertiga dilukis seperti mereka.” Maria kesal. Perempuan berjilbab lebar itu kemudian melempar isyarat kepada Maria. Akhirnya perempuan Batak itu menyadarinya juga. Awal-awal mengenal Sonia, Lubna kerap merasa cemburu, karena perhatian Arka sebagian ditujukan kepada perempuan tersebut. Seiring berjalannya waktu, Sonia berhasil mencuri hatinya. Kepedulian dan kasih sayang dia berikan kepada Lubna layaknya seorang kakak kepada adik, hingga akhirnya perasaan cemburu itu lebur. Bahkan bukan hanya Arka, Lubna pun menjadi sahabatnya. “Na, Arka itu sangat mencintai kamu. Meski banyak di luar sana yang menyukai dia. Kamu itu beruntung, karena hanya kamu yang memiliki hatinya.” Sonia juga pernah mengatakan itu. Mengingat semua kebaikan Sonia, Lubna masih sulit untuk percaya kalau perempuan itu telah mengkhianatinya. Lalu, kepedulian dan perhatian yang selama ini dia tunjukkan itu untuk apa? Lubna tersenyum getir, itu semua ternyata hanya topeng untuk menutupi kebusukannya. Perempuan itu kembali merasakan perih dalam hatinya. Dia berharap itu semua hanya mimpi buruk. Namun, percuma semua bukanlah mimpi. Kenyataan dirinya telah dikhianati itu benar adanya. “Na ...!” Maria datang dan sentuh bahunya. Lubna lekas tersadar dan langsung mengusap kedua pipi. Lamunan itu telah berhasil membawanya kembali pada titik menyakitkan. Melihat sahabatnya tak juga merespons, Maria duduk di sampingnya. Satu tangannya genggam tangan sang sahabat. “Untuk semua yang terjadi, yakinlah ... Tuhan itu maha baik, Dia pasti memiliki rencana lain untuk membuat kamu bahagia, Na.” Mata Lubna merah dan kembali terasa perih; dadanya pun kembali bergemuruh; sayatan dalam hatinya kembali memunculkan perih. “Kalau dia maha baik ... kenapa Allah siksa aku dengan cara seperti ini?” tanya Lubna putus asa. “Setiap ujian diberikan untuk membuat manusia itu kuat, bukan malah sebaliknya!” Nusa tiba-tiba muncul di ruangan. “Ketika diuji, seharusnya kita semakin dekat dengan Allah ... bukan malah pergi dan menghindarinya!” sambungnya. “Sa! Udah, deh ... bisa gak, sih, kamu lihat situasi dan kondisi sebelum bicara? Gak enak juga, kan, sama karyawan.” Pandangan Maria beralih kepada Lubna, “ayo, Na. Mending sekarang kamu pulang. Lagi pula semua pekerjaan kamu sudah selesai, ‘kan?” Lubna tidak merespons. Dia menatap Nusa dengan tajam. “Sekali lagi aku beritahu ... jangan pernah ikut campur urusanku!” Usai mengatakan itu, Lubna pergi. Maria lekas menyusulnya. Sementara itu Nusa terdiam. Lubna sudah benar-benar berubah. Cinta telah membuatnya hilang akal dan melupakan segalanya. Dia tidak pernah bersyukur saat ada yang menasihati, bukankah nasihat adalah bentuk kepedulian seseorang dan Nusa melakukan itu, karena dia sangat peduli terhadap sahabatnya. *** Tanpa memberitahu kedua sahabatnya, di akhir pekan Lubna pergi mengunjungi Kota Tua seorang diri. Perempuan itu masih menikmati sisa patah hatinya dengan menyusuri setiap tempat yang pernah dia datangi bersama Arka. Lubna mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu dia membukanya secara perlahan. Seketika bayangan mereka pun kembali muncul dalam ingatannya. “Foto di sini, Na.” Arka hentikan langkah di depan Toko Merah. Berkunjung ke Kota Tua rasanya kurang lengkap, jika tidak berfoto dengan latar Toko Merah. Bangunan yang sudah ada sejak ratusan tahun silam; melintasi zaman kolonial dan sempat menjadi toko milik pedagang China. Di depan kamera tanpa canggung Lubna bergaya dengan berbagai pose; mulai dari manja, santai, dan ceria dengan menampilkan senyum tiga jari. Arka yang memotretnya. Saat pergi bersama Lubna, pria itu rela beralih profesi menjadi fotografer untuk sang kekasih. Tidak lupa juga mereka mengambil gambar bersama, untuk dijadikan kenang-kenangan di masa depan. “Kamu bahagia?” tanya Arka di sela-sela berkeliling. “Tentu saja, Mas. Asal sama kamu, aku pasti bahagia.” “Di masa depan, semua ini akan menjadi kenangan indah. Aku selalu berdoa, agar bisa menikmati setiap momen indah di masa depan bersama kamu, Na.” Satu tetes cairan bening dalam netra Lubna kembali terjatuh. Apa yang dikatakan Arka benar, semua yang pernah mereka lewati akan menjadi kenangan indah di masa depan. Hanya kenangan, yang tak akan pernah bisa terulang kembali. “Tisu ...!” Lubna menoleh, seorang pria berwajah kalem tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya. Dia segera mendelik, palingkan wajah; menghindari kontak mata dengan pria itu. “Sepertinya kamu memang sengaja memata-mataiku,” sinisnya. Badar—pria yang menawarkan tisu kepadanya—tertawa kecil mendengar ucapan perempuan yang nyaris berjodoh dengannya. Lubna pun menoleh, tidak terima ditertawakan olehnya. “Dasar laki-laki tidak tahu malu!” “Maaf ... saya hanya tergelitik mendengar ucapanmu.” Lubna menarik satu sudut bibirnya. “Kamu pikir lucu?” “Iya ... kamu itu lucu sekali. Ini tempat umum. Siapa pun diperbolehkan untuk datang, termasuk dengan saya.” Lubna memilih memutus obrolan. Langkahnya kembali berlanjut. Badar menyusul, meneriakkan namanya. Namun, sama sekali tak dipedulikan olehnya. “Tunggu, Lubna!” Tak selangkah pun Lubna berhenti. Badar pun berhenti mengejarnya. Dia biarkan perempuan itu pergi. Ditatapnya Lubna yang semakin menjauh hingga tak tampak lagi dalam penglihatannya. “Maafkan saya, Na ...!” Lirih kalimat maaf itu terucap. “Saya tidak pernah mengira, jika semua akan seperti ini jadinya. Saya menyesal, Na ... sudah bersedia untuk dijodohkan denganmu,” pungkasnya dengan tatapan lurus, meski Lubna sudah lenyap dari pandangannya. Tubuh pria itu berputar dan mulai kembali langkahnya, seraya memasukkan sesuatu yang dia temukan terjatuh dari buku yang Lubna bawa. Di kereta, Badar terdiam; berdiri dengan menghadap jendela; kembali pria itu memikirkan Lubna. Kabar perempuan itu melepas hijabnya, sudah sampai ke telinganya. Dia merasa bersalah. Andai rencana perjodohan itu tak pernah ada, mungkin semua akan baik-baik saja. Hubungan Lubna dengan keluarga akan tetap terjaga dan hijab itu akan tetap menutupi kepalanya. “Siapa pun yang kelak menjadi jodohmu ... saya berharap dia bisa membuatmu kembali mencintai-Nya, Na.” Lirih dalam hatinya berbisik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD