bc

Bukan Salah Jodoh

book_age16+
446
FOLLOW
3.7K
READ
drama
sweet
spiritual
like
intro-logo
Blurb

Dijodohkan dengan Badar Kalif Ahmad—laki-laki asing yang sama sekali tidak dikenal olehnya—membuat Lubna meradang. Merasa tidak setuju, Lubna langsung menentangnya. Sang ayah pun murka dan memberikannya satu syarat yang membuat Lubna dilema.

Terpaksa Lubna setuju dan segera menyampaikan syarat tersebut kepada sang kekasih, Arka Febriansyah Priatama. Tidak disangka, laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun itu justru memilih jalan perpisahan.

Tidak sedikit pun terbayang oleh Lubna, jika cinta yang bertahun-tahun dia jaga akan berakhir penuh luka. Bagaimana kisah selanjutnya? Mari ikuti perjalanan Lubna menjemput takdirnya.

chap-preview
Free preview
Perjodohan
“Lubna!” Suara berat seorang pria paruh baya menghentikan langkah gadis berusia dua puluh lima tahun, yang malam itu mengenakan pasmina moka. Gadis bernama lengkap Lubna Khanza Sidiq, menoleh tanpa menghampirinya. Pria beruban dengan peci putih serta sorban mengalung di leher, bergerak mendekat kepadanya. Semua orang yang berada di ruangan tersebut seketika menghentikan aktivitas; menatap kepada mereka yang kini berdiri saling berhadapan. “Ada apa, Bah?” “Ulurkan jilbabmu dan hapus riasan wajahmu. Ini acara pesantren bukan acara fashion show,” tegasnya, lalu pergi. Lubna embuskan napas kasar dengan tangan terkepal, serta rahang mengeras. Seorang perempuan berusia tiga puluh tahun yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, mendekat kepadanya. “Sudah ... ikuti saja perintah Abah, Na. Ayo, sebentar lagi acaranya dimulai,” ujar sang kakak yang bernama Fatimah Az-Zahra Sidiq. “Kenapa yang aku pakai selalu saja salah di mata pria itu? Pakaianku longgar dan tidak membentuk lekukan. Lalu apa yang salah, jika pakai jilbab seperti ini? Hanya masalah jilbab saja dibesar-besarkan!” protesnya, kesal. “Na ... apa kamu lupa? Abah itu pimpinan di sini. Beliau adalah orang paling dihormati di lingkungan sini. Setidaknya sebagai seorang anak ... kita harus menjaga nama baik beliau. Kalau putra-putrinya saja tidak taat dan menghormati beliau, bagaimana bisa orang lain menghormatinya?” Lubna tertawa sumbang, kembali menatap kepada sang kakak. “Gila hormat sekali beliau itu ternyata.” “Bukan seperti itu, Na ... tolong, kamu jangan salah paham. Didikan Abah memang keras, tapi itu semata-mata untuk kebaikan kita. Abah seperti itu, karena beliau ingin mengajarkan putri-putrinya untuk menjadi wanita saleha.” “Kenapa, sih ... kalian selalu saja menjadikan jilbab lebar itu sebagai tolok ukur untuk kesalihan seorang wanita? Kalau begitu jadikan saja mukena sebagai pakaian sehari-hari kalian. Agar semakin terlihat sebagai wanita saleha yang dirindukan surga!” Lubna berucap sinis. Fatimah terdiam; yang lainnya hanya memaku menatap keduanya; tak berselang lama Lubna melengos, masuk kamar. Lekas perempuan penyuka kuliner pedas itu mengganti jilbabnya sesuai yang diperintahkan Sulaiman, abahnya. Dia juga menipiskan riasan di wajah, lalu keluar dengan memasang muka masam. Fatimah menyambut adiknya dengan senyuman manis, melupakan ucapan sinisnya. “Tanpa riasan yang berlebihan kamu itu sudah cantik, Na.” Lubna melengos begitu saja; pergi lebih dulu, mengabaikan pujian kakaknya. Para santri dan ibu-ibu yang berada di sana saling berbisik, mengomentari kedua kakak-beradik itu. Bukan lagi rahasia, jika kedua kakak-beradik itu memiliki sifat yang jauh berbeda. Fatimah adalah sosok yang lembah lembut, penyayang dan juga penurut. Sementara adiknya, sosok yang keras, pembangkang dan tidak suka diatur. Di luar sudah ramai oleh tamu undangan yang datang. Di antaranya para alumni Pesantren Al-Munawar, kerabat dekat dan juga para pemimpin beberapa pondok pesantren di Tasikmalaya yang merupakan sahabat dari Sulaiman. Di antara ratusan tamu yang datang, Lubna berjalan mencari umminya dengan pandangan beredar tanpa melihat ke depan. “Astagfirullahaladzim!” pekik seorang pria yang tidak sengaja bertabrakan dengan Lubna. “Maaf ... tidak sengaja,” ujarnya menatap sekilas seorang yang ditabraknya. Pria yang mengenakan kurta putih itu membungkukkan badan, meraih sesuatu yang jatuh dan kembali berdiri menatap seraya mengulas senyum. “Tidak masalah ... saya juga minta maaf.” Lubna mengangguk pelan dan hendak pergi. Namun, pria itu memintanya berhenti. Tubuh perempuan bergamis hitam itu pun kembali berbalik, menatapnya dengan tanpa ekspresi. “Ada apa?” “Kamu Lubna, ‘kan? Adiknya Fatimah?” “Iya,” singkatnya. “Saya Badar Kalif Ahmad, teman tsanawiyah kakakmu. Saya juga dulu mondok di sini sampai dengan Aliyah.” “Maaf, saya tidak begitu hafal santri dan santriwati di sini. Permisi.” Tanpa banyak bicara Lubna pergi, kemudian pria bernama Badar itu pun turut melanjutkan langkah yang sempat terhenti. *** Rencana Lubna kembali ke ibu kota batal. Sulaiman memintanya untuk menunda kepulangan. Tidak menolak, putri bungsu dari empat bersaudara itu menurut saja. Berdebat pun percuma, sudah pasti dia akan kalah. “Na ... kamu malah santai seperti itu. Ayo, mandi.” Suara Rukayah—umminya—membuat gadis yang sedang sibuk dengan ponselnya, terperanjat. “Nanti saja, Mi. Masih pagi ... dingin,” jawabnya tetap sibuk berselancar di dunia maya, sembari rebahan dengan sebagian tubuh ditutupi selimut. “Kamu ini ... anak gadis itu harus rajin. Bagaimana nanti mau urus suami kalau sehari-harinya seperti ini.” Rukayah mengambil alih ponsel dari tangan putri bungsunya; meletakkannya di atas meja kecil samping tempat tidur; kemudian dia tarik selimut yang menutupi tubuh putrinya. Ditariknya sang putri untuk bangkit. “Mi ... sebentar lagi,” “Enggak! Orang lain sejak Subuh sudah sibuk dengan pekerjaan rumah. Hanya kamu yang masih santai di tempat tidur. Sudah ... cepat mandi. Hari ini kita akan kedatangan tamu. Sahabatnya Abah akan datang berkunjung, jadi bersiap-siaplah!” tegasnya, kemudian pergi, Lubna menggerutu selepas kepergian umminya. Diraihnya kembali ponsel di atas meja. Baru saja ditinggal sebentar sudah banyak saja pesan yang masuk, beberapa di antaranya yang menawari endors. “Lubna, mana?” Sulaiman bertanya kepada istrinya. “Sedang mandi, Bah.” Mendengar suara Abah, Lubna seketika melempar ponsel ke atas tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Cukup lama perempuan berusia dua puluh lima tahun itu berada di dalam sana, sampai akhirnya dia keluar dengan tubuh berbalut handuk kimono dan rambut basah yang berbalut handuk putih. Langkahnya bergerak menuju lemari. Pilihannya jatuh pada kemeja putih non-formal dipadukan dengan rok plisket berwarna gelap. Hari ini rencananya dia ingin pergi untuk melepas penat, sebelum kembali ke ibu kota. Setidaknya memanfaatkan waktu dengan menjajaki kuliner. Sejak semalam dia berselancar, mengintip akun Instragram @duta.bakso.tasikmalaya dan @wiskultasik. Sudah dia buat daftar makanan apa saja yang wajib dia beli nanti. Usai memilih baju yang akan dikenakan, Lubna bergerak menuju meja rias. Jemarinya bergerak lihai, mengaplikasikan riasan pada wajah. Terakhir dia mengoleskan pewarna bibir. Riasannya tidak terlalu mencolok, sengaja untuk menghindari protes dari abahnya. Selesai itu segera dia berganti pakaian. Tubuhnya yang memiliki tinggi 165 cm, terlihat sempurna dengan baju yang dikenakannya. Kalau kata orang Sunda, Lubna ini ‘awak sampayan’ artinya dipakaikan apa pun pasti cocok, itulah yang membuatnya selalu percaya diri. “Na!” Seseorang memanggil di balik pintu diiringi ketukan. “Masuk!” balasnya berteriak, seraya melepas lilitan handuk di kepala dan mulai mengoleskan vitamin rambut sebelum mengeringkannya menggunakan hairdryer. “Ya, Allah ... kamu belum siap juga, Na?” Fatimah melangkah mendekat. “Kamu sudah ditunggu Abah dan Ummi di ruang tamu,” imbuhnya lagi. Seketika Lubna menghentikan aktivitas. Kepalanya berputar menoleh kepada sang kakak. “Ada apa?” “Ada tamu ... sahabatnya Abah. Semua anak Abah diminta kumpul. Ayo, cepat. Sini ... Teteh, bantu.” Lubna duduk di kursi menghadap cermin. Sementara itu Fatimah berdiri di belakangnya. Putri ketiga dari empat bersaudara itu sangat telaten membantu adiknya mengeringkan rambut. Diam-diam sang adik memperhatikan sosok sang kakak yang akhlak dan kecantikannya begitu sempurna di mata keluarga; putri kebanggaan keluarga. Hanya saja dia kurang beruntung. Sampai detik ini dia belum juga dikaruniai anak, padahal dia dan suami sudah menikah lebih dari lima tahun. “Kamu kenapa melihat Teteh seperti itu?” tanya Fatimah dengan senyum manisnya. “Tidak apa-apa, Teh.” “Ya, sudah ... kamu siap-siap. Teteh, tunggu di luar.” Bergegas Lubna kenakan jilbab. Sebelum keluar dia pastikan riasannya sudah sempurna. Tidak lupa dia menyemprotkan parfum beraroma segar, favoritnya. Begitu sampai di ruang tamu, ternyata di sana sudah ramai orang. Mereka semua duduk beralaskan karpet. Semua mata tertuju kepadanya. Aroma parfum yang menguar membuat mereka menyadari kedatangan perempuan berjilbab hitam itu. “Jadi ini yang bernama Lubna?” tanya seorang pria paruh baya yang tidak Lubna kenal. Sulaiman mengiyakan. Debar jantung Lubna tidak menentu. Ada sesuatu mengganggu pikirannya. Ragam tanya membelit dalam hati, dia kemudian mengambil posisi duduk di samping umminya. Pandangannya bergantian menatap kakak laki-laki yang duduk di depannya, keduanya kompak mengumbar senyum. “Nak, kenalkan ini Kyai Mahfud ... sahabat Abah saat mondok dulu waktu Aliyah dan yang pakai gamis hitam itu istrinya.” Lubna melipat tangan sebagai bentuk hormat. Pandangannya terhenti pada sosok pria bertubuh tegap, rambutnya yang sedikit ikal tersisir rapi, kulitnya sedikit gelap dengan alis yang tebal. Dia manis dan sorot matanya begitu menenangkan. Pria itu memiliki lesung pipi yang tampak ketika dia tersenyum kepadanya. Bibir bagian bawahnya tebal dan terbelah, serta memiliki cambang tipis yang melingkar hingga sebatas dagu. Perempuan itu akhirnya ingat, pria tersebut yang bertabrakan dengannya saat acara alumnian pondok. Pria berambut klimis itu kembali mengulas senyum ramah. Namun, Lubna justru membalas dengan tatapan dingin. “Na.” Suara Sulaiman mengejutkannya. “Itu putra keduanya ... namanya Badar,” sambungnya yang tak dihiraukan sang putri. Perasaan Lubna mulai tidak tenang. Rombongan keluarga ini datang dengan tiba-tiba. Melihat persiapan dan sambutan keluarga terhadap mereka, perempuan itu akhirnya sadar; pertemuan itu sudah direncanakan. Wajah perempuan itu menegang, dia masih tidak merespons. Tak berselang lama, kedua kakak ipar perempuannya—Winda dan Diana—datang dengan membawa minuman serta makanan ringan, diiringi para santri yang turut membawa makanan tradisional buatan umminya untuk menjamu tamu. Kedua iparnya kemudian mengambil posisi duduk di samping Fatimah. “Nak, kedatangan mereka ini membawa kabar dan niat baik untukmu,” ujar Sulaiman tanpa basa-basi. “Mereka ingin melamarmu untuk putranya, Badar,” tambahnya lagi. Wajah sang putri bungsu itu terangkat, menatap dengan mata yang membeliak. Tangannya terkepal dan mulut masih tertutup, tak bersuara. “Abah, ingin kamu mendapat jodoh terbaik. Secara tampang, Badar ini rupawan. Dilihat dari harta, dia pemuda yang mandiri dan Insya Allah sudah mapan. Dari segi keturunan, Insya Allah berasal dari keluarga baik-baik ... dan yang paling utama dari segi agama, Insya Allah dia juga pemuda yang saleh, berilmu, serta berakhlak baik. Abah, yakin dia mampu menjadi imam yang baik untukmu.” Sulaiman begitu yakin ketika memberikan penjelasan. “Tapi maaf ... Lubna, tidak bisa menerimanya, Bah.” Lubna menanggapinya dengan tegas. Kontan saja jawaban Lubna membuat semua orang terkejut, terutama dari pihak keluarga Badar. Mereka saling berbisik, mempertanyakan. Rukayah kemudian sentuh bahu putrinya, gadis bungsunya itu menoleh. “Maaf, Mi ... aku tidak bisa.” Perempuan berjilbab hitam itu kemudian berlalu meninggalkan mereka begitu saja.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook