Lubna sudah berkemas dan siap untuk kembali ke ibu kota. Jadwal keberangkatan keretanya masih dua jam lagi. Namun, dia memilih untuk pergi lebih cepat. Saat hendak pergi, Rukayah datang menemuinya yang masih berada di dalam kamar. Matanya merah, menahan tangis. Sulaiman murka, karena putrinya menolak untuk dijodohkan. Semua keluarga berusaha untuk membuat si bungsu setuju. Namun, tidak satu pun yang berhasil melunakkan hatinya.
“Apa lagi, Mi? Kalau Ummi datang untuk membujukku agar setuju dengan permintaan Abah ... maaf, Mi. Lubna tidak bisa. Sudah jelas alasan yang Lubna berikan. Kalian mau memaksa seperti apa pun, Lubna tidak mau.”
Rukayah menarik putri bungsunya untuk duduk di tepi ranjang. Dia usap kedua pipi, kemudian menggenggam tangan putrinya yang memiliki sifat keras kepala seperti abahnya.
“Abah dan Ummi sudah tua. Sebelum kami pergi, Abah dan Ummi ingin melihat kamu bahagia, Nak. Jangan salah paham terhadap niat baik kami.” Rukayah menjeda kalimatnya dengan menghela napas, “kami hanya ingin memastikan kamu jatuh kepada laki-laki yang tepat. Laki-laki yang bisa membimbingmu untuk dunia dan juga akhirat dan Badar adalah pemuda yang tepat untukmu, Nak.”
“Ini sudah bukan zamannya lagi, Mi. Setiap anak itu berhak untuk menentukan pilihannya. Lagi pula aku yang mau menjalani, aku yang tahu mana yang terbaik. Tolong, hargai juga keputusanku, Mi.”
Melihat umminya menangis, Lubna tidak tahan. Jemarinya bergerak untuk menghapus sisa air mata wanita di hadapannya. Bukannya reda, tangis itu malah semakin deras. Dijatuhkannya wanita yang telah melahirkannya dalam pelukan.
“Jangan renggut hakku untuk menentukan pilihan, Mi. Ini sangat berat ... tolong, sekali ini mengertilah ...!”
“Baiklah ... Ummi tidak akan pernah memaksamu lagi, tapi temui Abah sebelum kamu pergi.” Rukayah menjauhkan diri dari putrinya, lalu pergi.
Lubna frustrasi dengan keadaan itu. Dia bukan Fatimah yang akan menuruti apa pun yang diminta orang tuanya. Dia merasa berhak untuk memilih apa yang baik dan tidak untuk dirinya. Dihapusnya sisa air mata di pipi. Sebelum pergi, dia poleskan bedak tipis di wajahnya. Barulah dia keluar dengan membawa koper dan jaket di tangannya.
“Di mana Abah, A’? tanya Lubna kepada Hasan, kakak pertamanya yang sedang membaca buku di ruang keluarga.
“Ada di kamarnya. Duduk dulu, Na. Aa, mau bicara.” Suaranya dingin.
Lekas Lubna duduk di samping kiri Hasan. Dia tahu apa yang akan dikatakan si sulung kepadanya. Sudah pasti dia akan bertanya tentang keputusannya menolak Badar.
“Kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu?”
Benar tebakan Lubna. Dia menghela napas dalam-dalam, lalu menoleh. “Sangat yakin, A’, Kenapa? Aku berhak menolak, ‘kan?”
“Penolakan kamu itu tidak tepat, Lubna. Seharusnya beri kesempatan untukmu mengenal Badar.”
“Untuk apa? Untuk memberinya harapan kalau aku akan jatuh cinta dan menerimanya? Atau untuk menyenangkan Abah dan Ummi?”
Hasan diam sesaat, menatap serius kepada adiknya yang berkepala batu. “Sudah seharusnya seorang anak menyenangkan hati kedua orang tuanya. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk putrinya, tapi kamu malah menolaknya mentah-mentah. Itu sama saja dengan melempar kotoran di depan wajah mereka.”
“Melempar kotoran? Apa menolak lamaran seseorang adalah sebuah aib? Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Aku tidak suka dikendalikan. Aku punya caraku sendiri dalam menentukan hidup, termasuk untuk memilih pasangan hidup,” tegasnya penuh penekanan.
“Aa, harap kamu tidak akan menyesal, Na.”
“Menyesal? Untuk apa aku menyesal A’? Maaf ... kalau keputusan ini membuat Aa dan semuanya kecewa. Satu hal yang harus kalian ingat, aku Lubna ... bukan Teh Fatimah yang tidak bisa menentukan pilihannya sendiri. Sekarang lihat dia, bagaimana nasibnya? Bagaimana nasib rumah tangganya? Siapa yang akan bertanggung jawab untuk semuanya? Siapa yang harus disalahkan untuk semua rasa sakitnya?”
Hasan terdiam mendengar semua luapan emosi adik bungsunya. Dia menyeka wajah dengan kasar. Tanpa sepengetahuan mereka, tidak sengaja Fatimah mendengar obrolan adik dan kakaknya. Perempuan itu berdiri di ambang pintu yang menyekat antara dapur dan ruang tengah, dengan pipi yang sudah basah. Lubna kemudian beranjak untuk menemui Sulaiman. Waktunya sudah terbuang banyak.
“Teteh, sejak kapan di sini?” tanya Lubna terkejut melihat sang kakak perempuan yang langsung menyeka pipi begitu melihatnya mendekat.
“Belum lama, kok. Ini bekal buat di jalan. Jangan jajan sembarangan, ya, Na.” Fatimah serahkan kantong hijau berisi kotak makanan dan botol minum, lalu dia pergi.
Lubna tak enak hati. Pikirnya, Fatimah pasti mendengar obrolan dia dengan Hasan. Napas kasar berembus, Lubna kemudian pergi menemui Sulaiman di dalam kamar. Diketuknya pintu seraya mengatakan, “Ini Lubna, Bah.”
Pintu kemudian terbuka. Pria yang rambutnya kian memutih itu menatapnya dengan tajam. Lubna membalas tatapannya, lalu mengatakan, “Aku cuma mau pamit, Bah.”
“Masuklah! Abah, ingin bicara!”
Suara dingin dan datar itu membuat jantung Lubna berdebar hebat. Apa lagi yang akan pria paruh baya itu katakan?
***
Mobil hitam yang ditumpangi Lubna akhirnya tiba di stasiun Tasikmalaya. Husen, kakak keduanya yang mengantar. Pria yang berprofesi sebagai seorang dosen Bahasa Indonesia di Universitas Negeri di kotanya itu menoleh, mendapati sang adik tengah melamun; tidak sadar kalau mereka sudah sampai.
“Apa yang kamu pikirkan?”
Pertanyaan Husen membuat adiknya terenyak. Perempuan yang mengenakan pasmina putih itu mengedarkan pandangan, lalu bertanya, “Sudah sampai, ya?”
Lubna lantas bersiap untuk turun. Husen menyusul. Laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu hanya mengantar sampai pintu masuk, karena ada urusan di tempat lain. Dipeluknya sang adik dengan erat. Husen tidak seperti kembarannya, dia lebih bijaksana. Meski kecewa dengan sikap kepala batu adik bungsunya. Namun, dia masih berusaha untuk menghargainya. Laki-laki berdada bidang itu sadar, semakin ditentang Lubna akan semakin melawan.
“Jaga dirimu baik-baik ... kabari kalau sudah sampai. Hati-hati dengan barang bawaanmu,” ujarnya penuh dengan nasihat.
“Iya, A’.” Lubna mengangguk, kemudian mengecup tangan sang kakak, “Lubna, pulang dulu. Assalamualaikum.”
Husen menahan tangan Lubna. “Bukan pulang, Na. Pulangmu ke sini ... ke kota ini.”
Lubna pun tertawa singkat. “Ya, sudah ... Lubna, masuk dulu. Terima kasih sudah mengantar.”
Sembari menarik koper dan menenteng jaket di tangan kanan, Lubna pergi. Husen menatapnya sampai adik bungsunya benar-benar lenyap dari penglihatan. Pukul 10.25 WIB kereta yang ditumpanginya mulai bergerak, dia kirim pesan kepada sang kakak yang tadi mengantarnya. Sekali lagi dia berpamitan.
Di antara semua keluarga, hanya Husen yang paling mengerti sifat Lubna. Dia yang selalu menjadi tempat untuknya berlindung, di saat semua orang kesal dan marah kepadanya. Bagi Lubna, Husen adalah kakak favoritnya.
Lubna terdiam, sesaat kemudian dia keluarkan sebingkai foto keluarga berukuran 4R. “Maafkan Lubna, Mi ... Bah ...!”
Selama dalam perjalanan Lubna melamun, memikirkan syarat yang diberikan abahnya. Baginya syarat itu teramat berat dan dia hanya diberikan waktu tiga bulan. Sementara itu ada janji yang telah disepakati, apa harus dia melanggarnya?
Pikiran Lubna semakin terpecah dan dia benar-benar merasa berada di posisi yang serba salah. Dia tidak bisa melanggar janji itu, tetapi abahnya kembali memaksa untuk melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan.
Tujuh jam perjalanan terasa begitu singkat, akhirnya Lubna sampai juga di stasiun Senen. Dipesannya taksi online untuk menuju rumah kontrakan di salah satu perumahan yang yang telah dihuninya bersama kedua sahabat, sejak zaman kuliah dulu hingga saat ini. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari kampus.
Sesampainya di rumah, bergegas Lubna menuju kamarnya. Nusaibah Arini—perempuan berjilbab lebar yang membukakan pintu—terkejut melihat sahabatnya yang pulang tanpa mengabari.
“Na, kamu pulang ... kenapa tidak mengabariku atau Maria?” tanya Nusa yang tidak dihiraukan oleh Lubna.
Melihat air muka sahabatnya, Nusa merasakan ada sesuatu yang telah terjadi. Dia pun tidak lantas banyak bertanya. Perempuan berwajah oval itu lekas berlalu, menuju dapur; membawakan segelas air putih untuk sang sahabat. Saat dia hendak menuju kamar Lubna, seorang perempuan berambut ikal baru saja datang.
“Lubna sudah pulang, Mar.”
Maria Putri, perempuan berdarah Batak itu mengerutkan dahi, menatap Nusa penuh tanya. “Ya, bagus. Berarti rumah ini tidak lagi sepi. Ada apa?”
“Dia sepertinya tidak baik-baik saja. Aku lihat gurat wajahnya sedih. Dia juga tidak memberi tahu kita, ‘kan, kalau akan pulang hari ini?”
“Ya, sudah ... sebaiknya kita temui dia dulu. Semoga saja dugaanmu keliru.”
Nusa dan Maria bergerak menuju kamar sang sahabat. Begitu hendak membuka pintu, ternyata dikunci. Keduanya saling memandang, karena itu artinya ada masalah serius yang terjadi. Perempuan berjilbab itu mulai mengetuk pintu, sedangkan Maria berteriak; meminta Lubna membukakan pintu untuk mereka.
“Ada apa dengan gadis itu sebenarnya?” tanya Maria.
“Mana aku tahu. Dia datang tanpa mengatakan apa pun dan masuk kamar begitu saja.”
“Ya, sudah ... biarkan saja dulu dia sendiri. Nanti setelah dia tenang, baru kita ajak dia bicara, Sa.”