Kemeja yang telah lusuh karena keringat, baru saja ditanggalkan Witama saat memasuki kamar yang selama ini menjadi tempat tumpuan hidup. Selanjutnya ia gegas membuka ponsel. Pekerjaan hari ini sungguh sangat menyita perhatian. Setiap konsuler meminta diberikan penawaran terbaik, sementara dari perusahaan hanya bisa memberikan kepada satu konsuler yang kredibel.
Lelaki bertubuh tinggi tegap itu segera memfokuskan matanya pada pesan dari istrinya, Nadia. Ada beberapa panggilan masuk yang tak terjawab. Tak menunggu lama, ia langsung menyambungkan percakapan.
"Assalamualaikum, Mas. Kamu ke mana aja? Kok, gak bales pesanku dan hak angkat telepon?" Terdengar suara panik istrinya dari seberang.
"Ada apa, Nad? Kok, kamu seperti orang panik?"
"Arkan, Mas. Arkan!" Kali ini suara itu bercampur dengan getaran setengah gugup.
"Kenapa Arkan? Sakit? Ato apa?"
"Arkan hilang, dia belum ketemu." Tangisan pun mulai pecah.
"Kamu sekarang di mana? Sudah sampaikan ke pihak sekolah untum melapor polisi?"
"Aku masih di sekolah. Aku gak mau pulang sebelum Arkan ketemu." Nadia terus mencucurkan air mata, sementara Jodi terlelap dalam pangkuannya. Ia begitu kelelahan setelah jam pelajaran usai belum pulang ke rumah. Sementara sang mama masih panik dengan keberadaan Arkan.
"Terus sekarang... "
"Aku gak tau, Mas." Nadia masih meraung. Beberapa guru dan Kepala Sekolah serta para petugas keamanan sekolah juga bingung, tak menemukan jejaknya. Semu CCTV tidak menunjukkan adanya penculikan atau anak kabur dari sekolah di jam itu.
"Sayang, besok Mas akan mencoba info ke atasan untuk meminta izin cuti awal. Secepatnya Mas pulang ke Jawa."
"Iya, Mas."
"Kami sudah bilang Ibu dan keluargamu?"
"Tidak sempat, Mas."
Makin sesak rasanya mendapat pertanyaan seperti itu. Jika pun Nadia memberitahu keluarganya, apa yang akan diterima Nadia selain nasihat u*****n dan kata-kata yang menghakimi lainnya. Bukan menenangkan, malah membuatnya semakin tertekan
"Ya, sudah. Kamu tenang. Mas, usahakan malam ini bicara sama atasan."
"Iya, Mas."
"Jaga diri, Sayang. Assalamualaikum."
Percakapan pun terputus. Witama berusaha menenangkan pikirannya, meski hatinya gelisah. AC di ruangan yang biasanya terasa adem, sore ini tak membuat Witama nyaman.
Terakhir yang dapat dilihat dari pengamatan CCTV di koridor kelas Arkan, anak lelaki itu keluar kelas menuju arah toilet. Setelah itu tak terlihat lagi. Jam administrasi hampir usai, tetapi Nadia masih kekeh tidak akan pulang tanpa membawa Arkan.
"Bu Nadia, urusan ini biar kami yang tangani, jika sampai besok Arkan belum ditemukan, kita akan segera lapor polisi." Ibu Kepala Sekolah mencoba memberikan pengertian.
"Kenapa harus menunggu besok, Bu? Kalo Arkan tidak bisa saya bawa pulang sekarang, saya akan lapor polisi sekarang juga. Saya tidak tau kondisi anak itu seperti apa. Kelaparan, kedinginan ato disiksa orang!" Nadia sedikit histeris.
"Bu, tenang dulu. Jangan berpikiran jauh. Munkin Arkan masih di area sekolah." Ibu wali kelas Arkan mencoba menenangkan.
Tak lama bunyi panggilan berdering dari ponsel sang kepala sekolah. Ia gegas pamit sedikit menjauh dari tempat di mana Nadia, petugas keamanan dan Ibu Guru Vania berdiri.
Nadia berusaha menenangkan diri, mungkin benar apa yang katakan Bu Vania. Arkan masih ada di lingkungan sekolah, tapi ke mana anak itu. Beberapa anak yang mempunyai jadwal ekstra kelas, masih beredar. Nadia dan Bu Vania berusaha bertanya kepada semua siswa yang melintasi mereka satu per satu.
Sementara petugas keamanan kembali mencari setiap sudut sekolah.
***
"Assalamualaikum, Bu. Gimana, apa Ibu sudah diskusi sama Nadia?"
Kak Nina mencoba menghubungi Bu Rosmia karena pesannya beberapa jam yang lalu belum mendapat tanggapan dari samg adik.
"Belum, Nin. Ibu juga sudah kirim pesan tapi belum dibaca. Ditelepin juga tidak diangkat."
"Ini pasti sengaja, dia suka lari dari tanggung jawab. Gimana saya bisa percaya kalo nanti dia komit dengan janji pembayarannya, Bu."
"Ya, mungkin sedang di jalan. Ini, kan, waktunya jemput sekolah." Bu Rosmia berusaha menenangkan Nina. Ia tak ingin ide emas untuk mendapat sebagian pinjaman dari penjualan tanah Nina akan berantakan gara-gara mood Nina yang terganggu. Bu Rosmia snagat mengerti watak Nina.
"Pokoknya Ibu bilang aja sama Nadia, kalo memang mau ditalangin dulu dari hasil penjualan tanah saya, dia harus cicil perbulan 5%. Kalo gak, saya gak mau, Bu. Tanggung kalo cuma sedikit-sedikit." Nina bersuara sedikit ketus.
"Iya, nanti Ibu bicara sama Nadia."
"Ya, Udah, Bu. Saya mau siap-siap dulu. Soalnya nanti malam ada undangan makan malam teman kantor Kang Angga."
"Oya? Di mana, wah, pasti Angga itu banyak relasinya, ya." Bu Rosmia tak pernah pelit memuji suami sulungnya.
"Alhamdulillah, Bu. Kebetulan undangan makan malam di hotel bintang lima. Maklumlah, Bu, yang diundang juga kebanyakan jajaran direktur. Pastinya Kang Angga ini orang penting di kantornya." Mood Kak Nina tampaknya mulai kembali membaik.
"Ya, sudah, kalo gitu sana siap-siap."
"Iya, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam"
Geram, hati Bu Rosmia mendengar Nadia tidak membalas pesan Kak Nina dan juga belum membaca pesan-pesannya yang ia kirim bertubi-tubi. Lalu, mencoba kembali menghubungi nomor Nadia, baik via aplikasi obror ataupun telepon langsung. Namun, tetap saja hasilnya nihil. Tidak ada respon dari nomor Nadia.
"Ih, lagi ngapain, sih, nih, anak? Gak biasanya gak direspon." Bu Rosmia pun menutup ponselnya kesal.
Merasa tidak puas, karena belum mendapat respon. Bu Rosmia mendatangi rumah Nindi di belakang halaman rumahnya.
"Ndi, coba, deh, kamu kirim pesan sama Nadia, di bales gak?" Nindi yang tengah menyetrika menghentikan kegiatannya. Ia menoleh ke arah ibunya yang sepertinya sangat menunggu respon kakaknya.
"Emangnya kenapa, Bu?"
Bu Rosmia pun menjelaskan tentang pesannya dan Kak Nina ynag tak kunjung mendapat respin dari Nadia.
"Mungkin masih di jalan, Bu." Nindi kembali melanjutkan menyetrika.
"Masa' selama itu? Biasanya, kan, setengah jam paling lama udah sampe. Lagian bener kata Kak Nina, Nadia, tuh, kalo dibilangin soal utang-utang itu, bakalan kabur."
"Tapi cicilan ke bank masih ditransfer, kan, Bu sama Mbak Nadia?"
"Ya, mungkin. Karena Pak Hasan udah gak ngehubungin Ibu lagi. Midah-mudahan masih tetep komitmen. Kan, dia yang nyanggupi bayar pas minjem dulu."
Nindi manggut-manggut.
"Coba, coba kamu kirim pesan sekarang ke dia."
Nindi meletakan setrikaan dan menuruti perintah sang ibu. Beberapa pesan ia kirim ke nomor Nadia. Terkirim dengan centang dua abu-abu, tetapi belum berubah menjadi biru. Bahkan tampak dilapora "terakhir dilihat" aplikasi obrolan itu oleh Nadia dua jam yang lalu. Artinya memang dari sebelum Nina berkirim pesan, Nadia sudah lupa membuka ponselnya kecuali mengubungi Witama. Itupun tidak melalui jalur percakapan aplikasi karena sering ada gangguan sambungan. Jadi, Nadia menghubungi Witama melalu selular normal.
"Sabar, Bu. Nanti juga pasti dibalas. Biar gimana juga, Mbak Nadia gak pernah gak bales pesan kalo gak lagi tanggung." Kali ini Nindi mencoba memberi pengertian pada sang inang.
"Bukan apa-apa, loh, Ndi. Kamu tau, kan, Kak Nina itu orangnya kalo apa-apa harus seperti yang dia mau. Gak bisa dicuekin. Kalo dia berubah pikiran, kan, kita juga gak bisa pinjem uang Kak Nina nanti. Lumayan, Ibu mau nambah modal dikit." Bu Rosmia menyampaikan keresahannya.
"Mudah-mudahan dilancarkan, Bu. Yang penting, kan, kejual dulu tanahnya. Calon pembelinya sudah adakah?"
"Belum, sih. Tapi ada beberapa akan Ibu tawarkan. Ibu pikir-pikir untuk nawarin ke Bu Lastri."
"Bu Lastri?"
"Iya. Keluarga si Doni itu."
"Apa Kang Doni minat beli tanah kita? Malah jadi berabe nanti, Bu."
"Loh, kenapa berabe? Tanahnya, kan, bisa untuk usaha." Bu Rosmia sepertinya paham maksud Nindi.
Kalau keluarga Doni setuju membeli tanah itu dan mereka menempati tanah itu sebagai rumah pribadi, otomatis akan berdekatan dengan rumah Bu Rosmia dan Suatu saat Doni pasti akan sering bertemu dengan Nadia.
***
Bersambung...