bc

BISNIS BODONG

book_age16+
123
FOLLOW
1K
READ
others
love after marriage
drama
tragedy
city
weak to strong
intersex
wife
naive
like
intro-logo
Blurb

Keputusan Nadia berpindah mengikuti Witama--suaminya--setelah Long Distance Marriage yang melelahkan, membuka rahasia tentang keterlibatannya mengikuti investasi bodong dengan ibu dan saudaranya. Akhirnya beberapa utang yang harus ia bayar pun terancam tersendat karena minimnya penghasilan dan tidak ada lagi transferan dana bulanan mengalir dari Witama. Sebab setelah tinggal bersama, segalanya Witama lah yang mengelola keuangan. Sementara Nadia sudah lama tidak bekerja setelah melahirkan anak pertama, sekarang dirinya masih mempunyai kewajiban menyicil utang bersama keluarga ke bank yang dulu mereka pinjam untuk usaha. Pihak keluarga yang terus menuntut Nadia dalam pembayaran pun seperti tak bisa memberi pengertian dengan keadaannya.

Kenapa Nadia terlibat investasi bodong? Akankah Nadia menemukan jalan keluar dalam menyelesaikan pelunasan utangnya ke bank?

***

================

chap-preview
Free preview
Bab 1
Kehidupan yang tidak teruji adalah kehidupan yang tidak bernilai. _Socrates_ Seperti paralayang yang terbang menukik dari atas bukit, begitu pula dengan konflik yang melayang tanpa memberi ancang-ancang. Bak selayang pandang, secepat itu ia mendekat. Kita hanya harus siap memasang kuda-kuda. Praktis tanggap dengan cara semesta mengungkap fakta. Otak dalam tempurung itu, selayaknya masih bisa membisikkan getaran sejurus pada hati untuk tak lena dengan yang fana. Namun, jika keinginan lebih kuat dari kebutuhan, maka ketangkasan berpikir pun akan serta merta tertendang, hilang oleh bulus yang berusaha mendapatkan mangsa dengan mulus. Seperti jatuhnya harapan seorang Nadia yang naif, dengan keinginan yang tak mengutamakan kebutuhan. Terperosok janji sang pengepul pundi-pundi dengan ludahnya. Nadia baru saja menstrater motornya, hendak mengantar kedua anaknya berangkat sekolah, saat bunyi notifikasi pesan dari ponselnya mencari perhatian. Beberapa menit Nadia tidak membuka ponselnya karena diburu waktu, lalu menyusul bunyi panggilan telepon. "Siapa, sih, pagi-pagi sudah ribut aja? gak, tau apa ini jam sibuk." Nadia langsung menuju pesan yang terkirim dari kontak yang tersimpan dengan nama Ibuku. Sedikit menahan napas ia membaca pesan itu. [Nadia, apa kamu sudah transfer untuk cicilan bulan ini?] [Pak Hasan dari bank itu sudah mengingatkan Ibu. Jangan lupa, segera transfer, ya.] Nadia mengembuskan napas kasar dan tak langsung menjawab pesan itu. Ah, tambah pusing rasanya. Hatinya mulai berdetak tak karuan. Pikirannya melayang entah kemana. Sampai teriakan Arkan mengagetkannya. "Mama, ayo, kita sudah siap, nih." Arkan yang berdiri bersisian dengan Jodi di samping motor menatap Nadia, menunjukkan wajah cerianya. Nadia menarik garis lengkung ke atas di bibirnya lalu mengangguk. Ia lekas memasukan ponselnya ke dalam tas dan bergegas melajukan motor sebelum terlambat. Dalam perjalanan, pikiran Nadia kusut. Hatinya begitu tercabik-cabik dengan pesan dari ibunya sendiri yang terus saja menuntut pembayaran utang ke bank. Dua tahun terakhir ini, hanya ia yang selalu melakukan cicilan atas hutang-hutang itu. Sebuah kesalahan dan kebodohan yang Nadia lakukan empat tahun yang lalu saat dirinya berniat membuka usaha dengan meminjam dana ke bank. Sebagai seorang yang pernah berjuang demi mendapat kepercayaan Ibu, Nadia bekerja keras dan belajar di masa mudanya dengan harapan ibunya bisa bersama-sama membantunya mengembangkan bisnis keluarga. Semua ilmu yang ia dapat selama bekerja dan berbagai seminar, hanya demi bisa melanjutkan usaha keluarga. Setidaknya ia tidak kehilangan pegangan. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, Ibu Rosmia merasa tidak percaya dan tidak rela jika usaha itu dijalankan sepenuhnya oleh Nadia. Alasannya, di situlah sumber penghasilan satu-satunya. Kalau diserahkan untuk Nadia, otomatis Ibu Rosmia tidak akan mendapat bagian dari pendapatan usahanya. Begitu yang dipikirkan oleh Ibu Rosmia, Ibu kandung Nadia. Merasa tidak dipercaya sang Ibu, lantas Nadia nekad berencana meminjam dana ke bank untuk membuka usaha barunya. "Lalu, bagaimana dengan jaminannya?" Bu Rosmia menanggapi percakapan Nadia saat membahas tentang rencana pinjaman ke bank. "Nadia mau pinjam surat tanah rumah ini, Bu. Apa boleh?" Nadia memelas. "Kalau surat rumah ini yang dijadikan jaminan, sudah otomatis Ibu yang menandatangani pinjaman itu, Nad. Lalu, gimana cicilannya nanti, apa kamu siap?" Bu Rosmia tidak menunjukkan roman lampu hijau. "Sebagian dana itu akan Nadia masukan ke koperasi simpan pinjam, Bu. Di sana setiap simpanan akan mendapat jasa atau bagi hasil 10% jadi lumayan untuk bayar cicilan." Nadia dengan santai menjawab Bu Rosmia mengenai tawaran yang pernah ia terima dari seorang kawan. Seorang kawan yang Nadia kenal saat masih sama-sama bekerja. Ferli namanya, katanya, simpanan di sana aman dan terus menghasilkan. Terbukti hingga saat ini, sudah berjalan dua tahun lamany Ferli bergabung di koperasi tersebut. Dengan pertimbangan itulah Nadia mempunyai pemikiran untuk mendapat hasil besar dan singkat. Tak lain, ia hanya ingin membuktikan kepada keluarganya, terkhusus ibunya, jika dirinya bisa memulai usaha dan menghasilkan seperti saudaranya yang lain. Apalagi setelah melahirkan anak pertama, Nadia benar-benar sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga yang setiap bulannya hanya mengandalkan pemberian Witama, suaminya. Dalam kekosongan itu, Nadia ingin mendapatkan penghasilan tambahan. "Hah, lumayan, dong itu, Nad. Kalo Ibu simpan 20 juta, berarti ibu bisa dapat dua juta per bulannya." Mata Bu Rosmia berbinar dengan bilangan yang ia perhitungkan. Nadia hanya mengangguk yakin. "Oke, kalo gitu besok kita ke bank untuk mengurus pinjamannya." Lalu, mereka pun berdiskusi dengan adik Nadia, Nindi. Mendengar penjelasan yang menggiurkan itu, Nindi yang doyan belanja online itu pun langsung menyetujui dan berjingkrak senang. "Wah, kalo kita simpan banyak, bisa dapat banyak tiap bulannya. Bisa, nih, kita jalan-jalan terus, makan dan apalagi hadiahnya bisa berangkat umroh. Waahh ... Aku mau, aku mau!" Nindi tampak sangat bersemangat saat Nadia juga mengatakan ada hadiah umroh jika simpanannya lulus kontrak. Nadia semakin yakin dengan keputusannya, tanpa memberitahu Witama, Nadia langsung memproses semua keperluan pinjaman ke pihak bank bersama ibu dan adiknya. Begitu juga Nindi yang awalnya tidak memberitahu sang suami, Rizal. Sebab Nindi akan ikut semua yang Bu Rosmia putuskan. Apalagi ini menyangkut usaha keluarga, jadi para wanita itu berpikir jika suami duduk manis saja dan akan mendapat bagian dari jaminan tanah mereka yang super luas itu. Proses pinjaman pun lancar dan langsung cair. Ketiga pasang mata anak dan ibu berbinar melihat nominal yang masuk ke rekening atas nama Ibu Rosmia. "Oke, kita bagi sesuai bagian masing-masing, ya. Nanti Ibu transfer ke rekening kalian. Dan jangan lupa untuk cicilannya, kalian atur sendiri dari penerimaan jasa simpanan itu." Bu Rosmia begitu berapi-api. Lalu ia pun langsung memetakan rencana pembangunan tokonya menjadi lebih bagus dengan tujuan memiliki daya sewa yang tinggi. Tentu saja biayanya menggunakan dana pinjaman itu. Lagi-lagi Nadia hanya menurut saja, demi mendapat kepercayaan sang Ibu untuk menjalankan bisnis keluarga, ia rela menanggung resiko cicilan hutang itu. "Iya, Mbak, semoga lancar, ya, penerimaan jasanya. Wih, aku bisa cepat kaya kalo gini." Nindi ikut bersuara. Enam bulan berlalu, penerimaan jasa simpanan itu masih lancar diterima Nadia. Sampai di awal tahun berikutnya, tiba-tiba ada informasi jika koperasi itu ada maslaah dengan OJK. "Waduh, gimana, dong ini, Nadia? Ibu gak mau tau, pokoknya itu uang harus kembali dan untuk cicilan ke bank terus gimana? Haduuuh!" Semuanya ikut panik. "Saya juga tidak tau, Bu. Kemarin masih baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi begini, dah." Nadia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Berpikir bolak-balik agar bisa mengambil kembali uang yang tersimpan di sana. Ia berusaha menghubungi ketua yang ada di grup para nasabah koperasi itu, tetapi hasilnya nihil. Mau tak mau, Nadia harus mengambil peran untuk mempertanggung jawabkan hal tersebut. Sebab semua ide itu berasal dari dirinya. Ya, Tuhan. Kenapa jadi begini? Nadia memutar otak bagaiamana menemui para ketua dan pemilik koperasi itu. Setidaknya setengah dari uang yang ia simpan berharap bisa kembali. Namun, usaha itu tidak kunjung menemukan titik terang. Sebab dia sendiri belum pernah bertemu dengan orang-orang itu. Ia hanya tahu melalui cerita Ferli dan pendaftarannya pun hanya melalui w******p. Alamak! Para nasabah semakin ribut di grup yang kemarin masih terus membagikan hasil penerimaan setiap bulan. Nadia masih belum sepenuhnya mengerti kenapa sampai terjadi pembekuan oleh pihak OJK? Sebetulnya koperasi apakah yang mereka jalankan? Apakah tidak memiliki izin? Lalu surat yang pernah ditunjukkan padanya, apakah itu hanya tipuan untuk menarik para nasabah a.k.a korban? Oh, Tuhan. Bagaimana jika uang itu benar-benar hilang dan tidak akan kembali? "Nadia, sebisa mungkin usahakan untuk dapat menarik kembali uang itu." Bu Rosmia kembali meminta Nadia mengurus masalah itu. "Nadia usahakan, ya, Bu. Ini masih menunggu info lanjutan dari grup." Hanya itu yang bisa Nadia janjikan untuk menenangkan Bu Rosmia. "Kalo sampe gak bisa balik, tuh, duit. Aduh, gak tau lagi ini harus gimana? Pokoknya Ibu gak mau ikut menanggung cicilan ke bank. Ibu sudah cukup pusing dengan masalah lain." Nadia hanya bisa menghela napas dalam. *Bersambung* #gmgwriters2022

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Beautiful Pain

read
13.7K
bc

Revenge

read
35.8K
bc

Putri Korban dan Janji Gelap Sang CEO

read
5.0K
bc

Tersesat yang Nikmat

read
22.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.5K
bc

Marriage of Revenge

read
29.4K
bc

I Love You Dad

read
294.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook