#gmgwriters2022 #grassmedia #gmg #event
Kejadian empat tahun silam, masih terbawa hingga hari ini. Pasalnya utang ke bank masih terhitung banyak. Setiap bulan Nadia masih terus berusaha memberikan setoran. Nadia betul-betul menyadari, masalah itu membuatnya makin tidak dipercaya sang Ibu.
Nadia akhirnya memutuskan untuk mengontrak rumah sendiri, tidak hanya harus mencari penghasilan di luar rumah karena ia sama sekali tidak bisa mengembangkan usaha keluarga apalagi mendapatkan penghasilan dari sana. Mungkin memang seharusnya tidak seperti itu. Pikiran untuk melanjutkan usaha keluarga itu datang saat ia memulai hidup baru dan memutuskan berhenti bekerja. Ia berpikir jika ibunya akan memberikan hak yang sama sepeti kepada Nindi, adiknya yang kini mengelola usaha butik di toko milik sang Ibu. Ditambah lagi Bu Rosmia selalu menyisipkan sindiran setiap kali mereka tengah mengobrol.
"Kemarin waktu pertemuan ibu-ibu arisan, Ibu ketemu sama anaknya Pak Karim yang suka bantu-bantu di rumah Nenek dulu. Dia cerita, anaknya sekarang tinggal sendiri, walopun ngontrak. Memang enak seperti itu kalau sudah nikah, tinggal sendiri, mandiri walo ngontrak, jangan pilih rumah yang mewah, yang penting cukup untuk hidup dengan anak-anak." Nadia paham uacapan ibunya itu tertuju kepada dirinya. Bu Rosmia hanya menggunakan keadaan anaknya Pak Karim sebagai tujuan pembicaraan.
Perasaan Nadia yang tengah dilanda sensitivitas, merasa tidak nyaman dengan ucapan seperti itu. Seolah-olah dirinya memang harus hidup terpisah karena terlalu banyak memberi beban kepada sang Ibu yang telah menjanda beberapa tahun setelah Ayah Nadia wafat.
Memanglah benar seperti yang ibunya katakan, jika seorang sudah menikah sebaiknya hidup mandiri. Seorang wanita jika sudah menikah, ia akan menjadi orang lain di rumah mertua, menjadi asing di rumahnya sendiri, bahkan tidak terlalu berkuasa di rumah kecilnya sekali pun karena segala kuasa ada di bawah keputusan suami. Namun, untuk Nindi, mungkin Ibu punya alasan lain, pikir Nadia.
Mengingat kesalahan dan kecerobohan yang membuatnya terjerumus ke dalam permainan bisnis ilegal itu, ia menyadari keputusannya adalah kesalahan besar yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang wanita yang sudah menikah tanpa sepengetahuan suami.
Seharusnya Nadia tidak lagi mengkuti aturan keluarganya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Mengembalikannya menjadi beras sudah tidak mungkin, apalagi bubur itu telah basi.
"Mas, bagaimana kalau kita mulai mengontrak rumah?" Nadia mencoba membahas tentang itu dengan Witama saat mereka saling berkabar via telepon.
"Kenapa memangnya? Kamu tidak betah di rumah Ibu, atau ada alasan lain, Dek?"
"Tidak, Mas. Tapi rasanya lebih nyaman saja. Terlebih untuk anak-anak, mereka jadi lepas bermain tanpa takut merusak barang-barang Ibu. Lagian sebaiknya memang kita hidup terpisan setelah menikah." Dengan suara berat, Nadia mencoba memberi pengertian kepada Tama.
Terdengar embusan napas pendek dari seberang.
"Baiklah, nanti Mas pikirkan untuk biaya sewanya. Kamu coba cari info rumah yang harganya terjangkau saja. Tapi, apa kamu siap hidup sendiri hanya dengan anak-anak? Itu yang aku khawatirkan. Sementara ini aku belum bisa mengajak kamu tinggal bersama di sini, aku belum bisa mengontrak rumah sendiri dan membawa kalian. Kamu tau aku masih tinggal di mess perusahaan."
"Iya, Mas aku paham. Nanti aku kabari kalo sudah dapat info rumahnya."
"Kalo bisa cari rumah yang dekat area sekolah, supaya kalo anak-anak masuk sekolah nanti, mudah buatmu antar jemput anak-anak."
"Iya, Mas."
"Ya, sudah, Mas siap-siap dulu mau berangkat kerja. Assalamualaikum." Tama mengakhiri percakapan.
"Waalaikumsalam." Setelah menjawab salam, sambungan pun terputus.
Berkali-kali Nadia menghela napas dalam. Ada kelegaan, tetapi juga ada perasan bersalah kepada suami yang masih belum bisa ia ungkapkan.
***
Dering telepon kembali menggetarkan ponsel Nadia saat ia baru saja memasuki halaman rumah, sepulang mengantar Arkan dan Jodi sekolah. Ternyata ada beberapa kali panggilan tak terjawab dan pesan beruntun dari Bu Rosmia.
[Nadia, kok, gak dibalas?]
[Tolonglah, Kemarin-kemarin Ibu yang memberikan talangan pembayarannya. Ibu sudah tidak ada lagi uang untuk menutupi terus setiap bulan.]
[Dan adikmu belum ada cukup uang untuk membantu cicilan.]
[Kamu, kan, masih dapat kiriman dari Tama. Bisa sebagiannya kamu gunakan untuk cicilan.]
Lagi-lagi Nadia hanya bisa menahan napas. Entah sampai kapan utangnya akan selesai dengan jumlah pinjaman yang cukup besar itu.
[Iya, Bu. Nanti Nadia transfer. Saat ini belum ada kiriman dari Mas Tama.]
[Mas Tama kirim hanya di akhir bulan.]
Semoga dengan balasan itu ibunya bisa mengerti, dan paham kalau Nadia masih menunjukkan tanggung jawab terhadap cicilan itu.
[Ya, sudah kalo gitu Ibu berikan nomormu saja ke Pak Hasan, ya. Biar dia menghubungimu langsung. Ibu pusing ditagih terus.]
Lalu tidak ada pesan lagi dari Bu Rosmia. Selanjutnya notifikasi pesan lain masuk dari nomor tidak dikenal.
[Assalamualaikum, Bu Nadia. Saya dengan Hasan dari bank B*I mau follow up untuk cicilan bulan ini. Mohon segera di transfer, ya, Bu. Dan konfirmasi ke saya via chat. Terima kasih.]
Rupanya Bu Rosmia benar-benar tidak memberikan Nadia jeda. Jangan berharap akan tenang sampai semuanya lunas. Ibu muda itu hanya bisa termangu di samping meja makan. Lalu mengambil kertas dan pulpen, ia mulai menghitung rincian pengeluaran bulanan.
Seperti biasa, sisa uang yang harus Nadia gunakan untuk kehidupan sehari-hari hanya kurang dari setengahnya. Seharusnya dengan uang kiriman Tama, ia bisa menikmati hidup dengan cukup, tetapi karena segala potongan itulah yang membuatnya harus berpikir keras mencari tambahan. Namun, sampai saat ini segala usaha yang dikerahkan masih belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan.
Rasanya mulai menyerah, setiap kali Nadia berusaha untuk berjualan selalu sepi, meski telah dijalani hampir setahun. Malah modal yang ia gunakan sering tidak kembali, bahkan minus. Belum lagi harus dipotong cicilan, Nadia makin resah.
Seperti juga usaha yang pernah Nadia jalani saat masih tinggal di rumah ibunya. Ia mencoba peruntungan apa saja. Mulai dari jualan kue, buka jasa penyewaan baju fashion--bekas baju kerjanya dulu, hingga usaha jasa titip pengiriman luar kota ia lakoni. Semuanya hanya berjalan datar, bahkan terkesan tidak banyak diminati.
Nadia masih harus terus menguatkan diri demi kedua anaknya sebagai pertanggung jawabannya kepada sang suami. Nadia hanya merasa lelah dengan kebodohannya dan tidak menyadari jika setiap tindakan akan selalu diikuti konsekuensi. Rasa sesak itu kembali memenuhi rongga d**a, air mata saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Tuhan, kenapa susah sekali berkembang usaha yang aku jalani? Usaha apa lagi yang kira-kira bisa aku coba?
***
Bersambung
Mohon bantu support ya teman dengan follow dan subscribe tulisan ini. semoga terhibur, walaupun masih minim?