Bab 31

1043 Words
Nina sudah tak lagi mendatangi tempat di mana Angga ditahan. Mereka tengah didera perang dingin karena kejadian yang menimpa. Sejak awal Angga tidak terbuka tentang bisnis sampingan yang dilakukan dengan beberapa rekannya. Selain harus menghadapi pihak KPK, ternyata angga juga menjadi salah satu affiliator untuk aplikasi trading yang tengah menjadi sorotan saat ini. Diduga Angga terdaftar sebagai calon dewan perwakilan daerah Jawa Barat. Sebab itulah awalnya pengecekan aset wajib dilakukan. Ternyata ditemukan berbagai kejanggalan yang tak dapat disangkal. Beberapa kasus yang pernah menjeratnya dan lolos dari pengamatan, kini mulai terungkap satu per satu. Awal kiprahnya di dunia bisnis, murni sebagai pengusaha. Semakin luas jaringan, semakin besar income, maka akan semakin banyak jalan yang ditawarkan untuk melebarkan sayap. Godaan yang menggiurkan pun semakin mempesona birahi keduniawiannya. Kiri kanan tawaran ia embat tanpa memikirkan akibat jangka panjang. Dunia gelap yang ia jalani tak pernah tercium oleh sang istri. Kebanggaan Nina sebagai seorang istri pengusaha sukses seketika meluruh, apalagi saat beberapa saksi memaparkan tindakan yang dilakukan Angga. Seminggu setelah berita terkuaknya trading bodong itu, beberapa orang mendatangi kediaman Nina. Ia yang kini tinggal hanya bersama anak-anak dan ditemani ART, merasa kebingungan mendengar penjelasan orang-orang itu. Mereka menuntut pengembalian dana yang pernah diinvestasikan langsung melalui Angga. Masing-masing menyebut nominal yang membuat kepala berdenyut. Tak asal bicara, mereka datang membawa saksi dan bukti penyerahan dana yang dibawahi langsung oleh Angga. Namun, setelah diusut surat perjanjian itu hanyalah selembar kertas dengan hitam di atas putih tanpa kekuatan hukum yang jelas. Sehingga sudah sangat jelas merugikan mereka karena tidak dapat menuntut pada lembaga tersebut, yang bisa mereka lakukan adalah menuntut langsung pada penarik dana. "Bu, asal Ibu tau, kami menyerahkan dana pada Bapak karena kami percaya Bapak orang sukses. Tapi ternyata malah nipu!" Seseorang dalam balutan kemeja batik dan celana kain hitam menyuarakan ketidakpuasannya. "Iya, Bu. Kalau dari awal infonya jelas tentang trading, saya gak bakal ikut. Saya pikir teh, investasi di perusahaan Bapak dengan bagi hasil sesuai perjanjian. Kami susah payah mengumpulkan uang dengan jualan di pasar, di sekolah dan di jalan-jalan, demi apa, Bu? Hanya demi bisa nabung sekaligus invesatasi seperti yang di iklankan orang-orang Bapak." Nina hanya bisa menelan ludah. Kerongkongannya terasa sangat kering. Berat sekali rasanya bersuara. Tanduk di kepala mulai menumpu. "Saya hanya ingin mobil saya dikembalikan, Bu. Tidak hanya uang yang saya rajin tabung hilang, tetapi mobil yang pernah saya sewakan pada Bapak tidak pernah kembali. Saya minta dalam dua minggu sudah ada kabar baik, jika tidak maka kami akan membuat laporan saksi untuk membuka kasus demi kasus yang Bapak lakukan secara ilegal." Tuhan! Bagaimna aku menjelaskan semua ini kepada mereka? Mengetahui perkaranya saja baru saat orang-orang itu datang. Entah berapa kebohongan yang suaminya sembunyikan. Jika mereka membuat kesaksian bersama anggota lain yang merasa tertipu oleh Angga, maka itu akan menambah pemberat pasal yang dikenakan. "Saya, minta maaf, Pak, Bu. Sebetulnya untuk hal tersebut saya tidak tau menahu. Saya perlu mencari tahu dulu pada suami." "Rasanya, kok, aneh. Masa', istrinya tidak tau." Salah satu dari mereka menangkis agak sinis. Nina makin bingung. "Iya, masa' Ibu gak ngerasa semua kelebihan uang yang kalian nikmati." Di antara desakan yang terus saja menuding dirinya, Nina tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jalan tengah satu-satunya, ia harus menyewa jasa kuasa hukum untuk keluarganya dan Angga. Setelah berdiskusi dan mencapai kesepakatan dengan orang-orang itu, Nina segera membuat peringatan kepada ART-nya untuk tidak menerima tamu. Sejak saat itulah Ia merasa sangat kecewa dan marah kepada sang suami. Jika sudah begini, dirinya dan anak-anak yang akan menanggung beban. Percekcokan via ponsel pun berlangsung, tak ubahnya sebuah genderang bila ditabuh, maka akan berbunyi hingga titik akhir pendengaran. Sama halnya dengan perdebatan mereka melalui aplikasi pesan. Beruntun tak berkesudahan. Apalagi dari Nina yang tak pernah ingin memaafkan kebohongan sang suami. Lalu keadaan pun menjadi bias dan komunikasi di antara mereka terkikis yang akhirnya menimbulkan perang dingin. Secara tidak disadari akan ada yang terluka dalam akibat dari besarnya ego mereka, yaitu anak-anak. *** Untuk menghindari dari permasalahannya dan demi mencari tempat untuk memenangkan diri, Nina berniat untuk tinggal sementara di rumah sang ibu. Dalam percakapan terakhir dengan Bu Rosmia, ia meminya izin tinggal sementara. Sang ibu pun langsung menyambut dengan senang hati. Di saat bersamaan, Bu Rosmia juga bercerita tentang rencana Nadia yang akan pulang dan tinggal juga di rumah. Itu membuat Nina sedikit memgerut. Sulung dari keluarga Kusuma itu belum mau bertemu dengan sang adik, setelah kekesalannya tempo hari saat Nina meminta bantuan untuk beriklan. Sepertinya ia lebih memilih bertahan di rumah megahnya di Bandung sampai diterima sebuah keputusan. Nina masih belum menceritakan keadaan yang sesungguhnya. Meskipun berita sudah berseliweran di media online dan televisi. Namun, nama-nama yang terlibat masih tidak diungkapkan ke publik. Was-was juga Nina rasanya, jika suatu saat slaah satu media akan mencium keterlibatan Angga. Selama ditahan, angga berada dalam sebuah ruangan di kantor KPK. Demi mengamankan dari serangan media untuk saat ini, karena masih dalam tahap penyidikan. Namun, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat gelar perkara dibuka, akan menampakkan wajahnya dan identitasnya ke media. Nina harus benar-benar menyiapkan mental. Sementara Nadia yang masih belum tau sejauh apa perkara yang dihadapi kakak iparnya di Bandung itu, berusaha mengkombinasikan dengan sang suami untuk berdiskusi dengan Mas Sena dan meminta bantuan demi membantu sang kakak. "Jika urusan dengan KPK itu agak berat, setelah ada keputusan, baru akan ditentukan di mana ia akan ditempatkan selanjutnya." Begitu penjelasan Tama saat akhirnya Nadia menerangkan kasus yang menimpa kakaknya. "Jadi akan sangat sulit, ya, untuk dibantu pengamanannya, Mas?" "Untuk pengamanan biasanya, kan, ada kuasa hukum yang berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat di bagian propam. Apakah sudah menunjuk kuasa hukum?" "Saya kurang tau, Mas. Karena saya belum berkomunikasi langsung dengan Kak Nina. Aku hanya mendengar kabar dari Ibu. Aku hanya tidak tega dengan keadaan Ibu yang tertekan dengan kabar ini." "Kamu gak ada masalah, kan, dengan kakakmu?" selidik Tama. Nadia terdiam lama. Ada atau tidak ada pun, rasanya percuma menceritakan kejadian sesungguhnya kepada Tama. Sebab, ia khawatir akan membongkar rahasia yang selama ini ia tutupi tentang investasi bodong yang pernah ia jalani hingga menimbulkan utang yang belum juga lunas sampai hari ini. Semuanya saling diam dan menutupi, meski mereka paham jika tak satu perkara pun di dunia ini lepas dari pengamatan Tuhan. Tidak menutup kemungkinan Tama akan memgetahui apa yang ia tutupi, entah bagaimana caranya. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD