Bab 19

1027 Words
Pak Anto tampak sangat kikuk dan ragu menjawab pertanyaan Bu Vania. "Tadinya saya mau minta bantuan Pak Anto. Ini mengenai keamanan anak didik saya." Mendengar pernyataan Bu Vania, Pak Anto malah makin tegang. Ia seperti sudah menebak ke mana arah pembicaraan Bu Vania. Mantan kepala security itu akhirnya buka suara bahwa dirinya bukan mengundurkan diri tetapi dipaksa mundur oleh pihak sekolah. Jika mereka mengambil tindakan memecat, maka harus ada kelakuan dalam pekerjaan yang berakibat fatal, tetapi mereka tidak menemukan itu. Kalaupun pihak sekolah mengeluarkan Pak Anto dengan alasan kelalaian dan sedikit dilakukan pengancaman, tetapi tidak menutup kemungkinan ia akan membuka semuanya. Sehingga untuk laporan ke agen yang menempatkan Pak Anto, pihak sekolah mendesak dengan menuliskan pernyataan mundur dengan tanpa paksaan. "Tapi kenapa, Pak?" desak Bu Vania. "Saya berpura-pura lupa dengan perintah kepala sekolah, belakangan mereka mengetahui saya tidak mengikuti anjuran mereka." "Perintah apa, Pak?" Pak Anto tampak menghela napas berat. "Ibu pasti akan bertanya tentang anak itu, maksudnya Arkan, kan?" Rupanya Pak Anto sudah mengetahui sejak diminta mematikan haringai CCTV di koridor menuju basement dan area basement pada hari pertama Arkan terkunci di toilet basement. Ibu Vania mengangguk pasti, berharap lelaki yang hanya dibalut kaos oblong dan celana panjang itu bisa memberikan informasi seperti yang ia harapkan. "Sebetulnya ini sudah sangat sering terjadi. Sudah 6 tahun saya bekerja di sekolah itu, mulai dari staff biasa hingga diangkat menjadi kepala keamanan." Pak Anto berhenti sejenak, lalu membuang napas gusar. "Beberapa teman seangkatan saya sudah banyak yang mundur, waktu itu merek tidak tega." Bu vania makin mengernyitkan dahinya. "Tapi saya mohon, Ibu Vania jangan membocorkan pada siapapun kalau saya yang memberikan informasi ini." Mantan petugas keamanan sekolah itu akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bungkam, meski suatu saat berita itu akan bocor ke pihak sekolah dan resiko mendapatkan pengancaman. "Saya janji." Bu guru wali keas Arkan itu menjawab mantap dengan tatapan sejurus menunggu kelanjutan cerita Pak Anto. "Sengaja, Bu." "Maksud Bapak?" "Mereka selalu merencanakan sesuatu untuk membuat mental si target down, agar ada alasan untuk menolak atau menghapuskan hak sebagai penerima beasiswa. Arkan salah satunya." Bu Vania terasa sesak mendengar cerita yang mengejutkan itu. Lantas ia teringat kejadian beberapa bulan sebelum hal yang sama menimpa Arkan. Seorang anak SD kelas 6 mendapat teror serupa. Bahkan ia lebih parha karena mental anaknya yang kuat bertahan. Namun, akhirnya tumbang saat ia terkunci di salah satu gudang peralatan. Saat itu Pak Anto yang diberi tugas bagian mematikan sebagian rekaman CCTV di tempat tertarget. Bahkan peristiwa serupa melibatkan anak-anak murid lain, yang tentunya berasal dari keluarga penyumbang yayasan. Pa Anto tepatnya belum paham, apakah murni pihak sekolah yang melalukan ilegal act tersebut untuk tidak ada pemangkasan biaya atau mungkin saja ada tekanan dari para share holder yayasan. Sebab, setiap tahun siswa yang terdaftar sebagai penerima beasiswa terus meningkat sesuai dengan tes dan ketentuan dapodik. Semua dilakukan hanya atas nama bisnis, meskipun sekolah adalah tempat menuntut ilmu, tetapi tetap unsur bisnis itu kuat. Bu Anto yang baru saja mendengar penuturan sang suami, terhenyak. Seketika ia mengusap d**a. "Istighfar, Pak. Ya, Allah, teganya. Kok, Bapak mau?" Selama ini Bu Anto berpikir pekerjaan suaminya lurus-lurus saja. "Lalu Bapak tau siapa anak-anak yang biasanya menjadi pengeksekusi teror itu?" selidik Bu Vania. "Anak-anak SMP. Salah satunya kakak dari Mirza, anak didik di kelas Ibu." Pak Anto mulai bergetar. "Jadi, kalaupun Ibu Vania meminta bukti video CCTV, tetap tidak akan ada record-nya. Karena memang tidak diaktifkan apda saat kejadian." "Lalu, kenapa mereka akhirnya mendesak Bapak untuk mundur?" "Ada satu adegan terakhir saat Arkan diminta masuk ke bis lalu ditinggalkan dengan sengaja. Sampai pak sopir mengunci pintu bis tanpa tau ada seorang anak di sana." Bu vania makin yakin dengan apa yang dilihatnya waktu itu. Lalu ia bertemu Pak Mardi yang tampak menghalangi dirinya untuk mendekat ke arah bis. "Dan saya tidak mematikan rekaman CCTV seperti biasanya. Memang saya selalu mendapat apresiasi dari pihak sekolah dan peningkatan gaji, bahkan bonus besar. Mungkin sebagai imbalan, tetapi makin lama hati saya makin sakit, tidak tega melihat anak-anak itu." "Apa Bapak diancam waktu mereka tau kesengajaan yang Bapak lakukan?" Pak Anto hanya mengangguk. "Tetapi sebelum mereka menghapus bagian itu, saya sudah merekamnya di hp. Lalu saya minta teman untuk memindahkan semua video di hp saya ke komputer miliknya. Jadi, aman, saat mereka merampas hp saya." Got it! Bu Vania menjentikkan jemarinya. Seperti ada klik di balik tempurung kepala yang bersurai hitam tebal itu. Ia tidak peduli lagi sejauh mana keterlibatan pak sopir dan para petugas keamanan itu, yang terpenting ia sudah menemukan clue dengan jelas. *** Rencana kepindahan Arkan dan Jodi mulai dipikirkan Nadia, dan berusaha mencari cara untuk meyakinkan Tama. Entah ini adalah kesalahan atau kebodohan lain yang ia perbuat. Saat mendaftarkan Arkan ke jalur beasiswa, Nadia sengaja tidak memberitahu Tama. Ia bersiasat agar sisa uang pembayaran sekolah itu bisa digunakan untuk membantu menutupi cicilannya ke bank. Namun, nahas kenyataan tidak sejalan sengan perkiraannya. Ia tidak menyangka sama sekali jika ternyata mereka terbiasa melakukan hal kotor demi sebuah keuntungan. There's no free lunch! Itu benar adanya. Napasnya semakin memburu antara sesak dan merasa berdosa saat mendengar penuturan guru wali kelas Arkan. Dalam pertemuan diam-diam itu, Bu Vania membuka semua yang ia dapatkan dari Pak Anto, termasuk potongan rekaman terakhir saat Arkan masuk ke dalam bis di hari nahas itu. Sekarang pilihan ada di tangan Nadia, apakah tetap bertahan sampai pihka sekolah memberikan surat peringatan pencabutan beasiswa bersyarat itu atau memindahkan kedua anaknya ke sekolah lain. Sebetulnya Nadia tidak keberatan untuk pindah ke sekolah lain yang penting anaknya masih bisa diselamatkan. Ia hanya harus mencari sekolah yang tepat dengan tidak terlalu memberatkan pembayarannya. Sebab Nadia tahu jika Witama hanya akan memasukkan anak-anaknya ke sekolah favorit. Apa yang dilakukan sekolah itu jelas ilegal, tetapi tersembunyi. Bisik Nadia dalam hati. Dan apa yang dilakukannya di belakang Witama adalah juga ilegal, hingga berdampak kepada anak-anaknya. Semuanya demi mementingkan ego dengan cara paling pintas. Nadia terus memutar otak untuk tetap dapat menjalankan tugasnya sebagai ibu, istri dan anak yang masih memiliki tanggungan untuk diselesaikan. Ia tidak berpikir sama sekali jika tindakannya akan mengarah apda kejadian ini. Karmakah, Tuhan? Nadia bingung. Mengutuki dirinya sendiri. Merasa diri tak akan tersentuh kecurigaan Witama, tetapi melalui Arkan, ia tertampar sendiri. *** bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD