Nadia mengembuskan napas kasar menerima pesan balasan dari ibunya. Sementara ia harus berpikir untuk mencari solusi dari permasalahan Arkan di sekolah. Setelah mendengar penjelasan Bu Vania tempo lalu, Nadia semakin yakin kejadian itu bukan tanpa alasan. Solusi satu-satunya ia harus menyetujui keputusan sekolah jika mereka mencabut fasilitas beasiswa untuk Arkan karena pencapaian nilainya yang tidak memenuhi persyaratan.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya mual dan malas jika terus dilanjutkan sekolah di sana. Mengingat kebusukan yang sengaja dilakukan pihak sekolah. Meski mungkin keputusannya mengambil jalur beasiswa adalah salah karena tanpa sepengetahuan Witama, tetapi fasilitas itu berhak didapatkan setiap siswa yang memang memenuhi persyaratan. Satu hal yang pasti, Nadia jadi paham apa yang tersembunyi di balik rahasia busuk itu. Mengingat banyak kasus serupa di sekolah-sekolah lain. Ia jadi berpikir hal serupa.
? Haruskah masih percaya pada sekolah?
Di sisi lain, Nadia masih bungkam dengan keadaan yang sebenarnya kepada Witama. Saat ini solusi terbaik yang berusaha ia diskusikan dengan Tama adalah mencari sekolah baru dengan pembayaran lebih rendah. Namun, itu tidak menghentikan permainan Nadia untuk terus melanjutkan menyisihkan sebagian dana sekolah demi menutupi cicilannya.
"Mas, aku akan berusaha mencari sekolah dengan fasilitas yang sama dan pembayaran yang sama juga." Nadia mencoba bernegosiasi dengan suaminya.
"Kalo keadaannya memang terlalu buruk untuk Arkan bertahan di sana, Mas ikut saja yang menurutmu terbaik untuk saat ini dan kedepannya.
"Aku udah dapat info beberapa sekolah, mungkin aku akan survey dalam waktu dekat."
"Oke, good. Nanti info Mas, ya. Untuk pilihannya Mas serahkan ke kamu aja, kamu pasti tau yang baik untuk anak-anak."
"Iya, Mas."
"Ya, sudah. Mas lanjut kerja lagi. Hati-hati di sana. Jaga anak-anak. Love you!" Tutup Witama, mengakhiri percakapan via telepon.
"Iya, Mas. Love you so. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Jika sekolah anak-anak harus dipindahkan, maka ia juga harus mencari informasi rumah kontrakan yang tidak terlalu jauh dari sekolah baru nanti. Another homework! Tetapi Nadia harus tetap perpegang pada usahanya itu sampai cicilan di bank tesebut selesai. Meski mungkin hingga waktunya anak-anak lulus sekolah dasar.
Kondisinya sebagai part-timer masih aman. Pendapatan pun masih stabil, jadi bisa men-cover semua kebutuhan. Walaupun harus menekan pengeluaran, bahkan rincian bulanan harus mengikuti daftar tertulis.
Nadia tengah menghitung anggaran mingguan dan jatah makan sehari-hari, saat terdengar keributan di ruang tamu yang juga sebagai ruang menonton dan belajar.
"Aa, curang! Aku, kan, yang harusnya menang. Kenapa kamu matikan aku?" Jodi berteriak histeris saat permainan dari ponselnya berakhir dengan game over.
"Nggak, Dek. A--aku, coba bantu kamu." Arkan mencoba menjelaskan, tetapi selalu dipotong Jodi.
"Kamu yang bikin aku mati tadi. Aku benci sama kamu." Jodi mengatakan sekenanya.
Gegas Nadia memburu ruang depan dan meninggalkan pekerjaannya di kamar. Dilihatnya kedua bocah itu mencoba saling mempertahankan pendapatnya.
Bug!
Satu pukulan mendarat di punggung Arkan oleh Jodi, membuat sang kaka membungkuk dan meringis. Bukan Arkan tak berani membalas, sebenarnya ia bisa saja melakukan lebih dari yang Jodi lakukan. Namun, si sulung itu paham jika ia membalas maka tidak hanya Jodi yang akan kesakitan, tetapi juga takut jika sang mama akan memburunya.
"Jodi!" Seketika Nadia menghentikan ayunan tangan Jodi yang hampir mendaratkan pukulan kedua. "Dia kakakmu!"
Jodi menyembunyikan tangannya yang digunakan memukul tadi. Melihat reaksi Nadia, jodi merasa bersalah tetapi juga takut kena marah. Gegas bocah kecil itu menuju kamar dan menutup pintu.
Pandangan Nadia beralih pada Arkan. "Arkan tidak apa-apa?"
Arkan menggeleng lalu mencoba menjelaskan ulang yang terjadi sebelumnya. Detik kemudian Nadia mencoba mendekati Jodi yang masih memgurung di kamar.
"Jodi, sini, Nak."
"Nggak! Mama jahat." Jodi masih terdengar kesal di dalam sana.
"Jodi, Mama sama Arkan mau beli makanan ke minimarket, kamu ikut, gak?" bujuk Nadia. "Kalo mau ikut, Mama tunggu 10 hitungan. Kalo gak mau ikut, ya, udah. Kamu tunggu di rumah, ya."
"Dek, ayo ikut." Arkan khawatir jika Jodi tidak keluar kamar dan mamanya benar-benar akan meninggalkan Jodi sendirian.
Nadia pun mulai menghitung mundur dari 10 hingga 1. Dalam hitungan ke 5, tiba-tiba pintu kamar anak terbuka. Menyembul kepala jodi dengan raut yang masih cemberut, tetapi menggemaskan. Arkan dan Nadia saling pandang dan melebarkan senyum.
"Sini, Sayang." Nadia meraih kedua telapak tangan Jodi seraya berdiri menumpu pada lutut, hingga pandangannya tepat di depan mata Jodi.
"Kalo main game dan game over itu wajar, gak apa-apa. Kan, cuma permainan." Nadia menatap lekat ke dalam pupil bening milik Jodi.
"Tapi Aa yang bikin aku game over, Ma. Kan, kesel."
"Oke, Mama tau Jodi pasti kesel, tapi bisa, ya, jodi gak pukul Arkan?" Nadia mencium kedua tangan mungil itu. "Dia kakakmu, temanmu, juga pelindungmu kalo ada apa-apa sama Jodi di luar rumah."
Tatapan Jodi mulai melunak. "Aa, maafin Jodi, ya." Nadia berucap pada sulungnya, lalu menatap mata Jodi. Bola bening itu ganti menatap Arkan.
"Maaf, Aa." Pelan suara Jodi menirukan Nadia. "Ayo, Ma. Katanya mau beli makanan." Jodi kembali mengingatkan janji Nadia barusan.
"Oke, tapi Arkan dan Jodi hanya boleh ambil 2 jajanan aja, ya." Nadia membuat kesepakatan sebelum menuju minimarket. Jika tidak, mereka akan mengambil sesuka hati dan itu jelas akan melebihi anggaran mingguan.
Selain memang menekan pengeluaran, Nadia juga mencoba untuk membiasakan kedua anaknya untuk tidak terlalu banyak jajan apalagi sampai berlebihan.
***
Notifikasi pesan yang kesekian puluh kali masuk ke ponsel Nadia. Seperti biasa, di sela-sela chat dengang customer, beberapa chat dari orang-orang yang ia kenal pasti menyelinap di antaranya. Kali ini pesan dari admin sekolah anak-anak.
[Halo, Ibu. Sekedar menginformasikan untuk kegiatan field trip memasuki semester akhir akan dilakukan pada tanggal 30 bulan Maret depan. Dengan trip tujuan ke Jakarta, tempat yang dituju kebun binatang. Masing-masing anak wajib mengikuti field trip. Perjalanan rencananya akan melalui kereta dari stasiun kota. Untuk informasi rincian biayanya sebagai berikut; TK/SD Rp 500.000/ anak. Transportasi Rp 500.000/anak. Jika ada hal yang ingin ditanyakan, bisa via japri. Terima kasih.]
Nadia terhenyak dengan kabar itu, karena selain harus menyiapkan biaya lebih, juga memikirkan caranya membimbing dua bocah kecil sendirian ke luar kota. Belum lagi biaya tambahan jika dirinya harus mendampingi. Ia hanya bisa menghela napas.
Sekarang, daftar yang harus dilakukan adalah survey sekolah baru dan menyiapkan biaya field trip yang tentu saja itu akan jadi tanggung jawab Tama, tetapi tetap saja Nadia harus siap untuk biaya lain-lainnya.
Lalu, siapa yang kira-kira bisa diajak untuk mendampingi salah satu dari mereka?
Nadia kembali memutar otak, jika membutuhkan seseorang untuk menemani, otomatis biaya pun bertambah. Ataukah ia pergi bertiga saja, apa pun yang terjadi. Toh, dia sudah terbiasa dengan kerepotan ini dan itu. Ibu muda itu mengucek kepalanya kasar, terasa denyar-denyar di dalam tempurungnya menghentak.
"Total 3 juta untuk field trip, wow!" Nadia kembali merinci anggaran mingguan rutin seraya melayani semua chat customer yang masuk.
"Ya Allah, aku mau akhir bulan ini bisa mencapai target penjualan di 10 juta," ucapnya bersemangat.
Mengingat ucapan sang mentor yang mengklaim jika sesuatu yang ingin kita capai harus dituliskan lalu diiringi dengan ucapan dan yakini dengan terus bergerak. Sebab itu, Nadia selalu mengucapkan doa yang sama setiap memulai dan menutup hari.
Claim it!
***
Bersambung....