Bab 27

1155 Words
Di tengah pergulatannya dengan kelas online Arkan dan Jodi, Nadia juga masih harus menekuni pekerjaan online yang sudah hampir 3 tahun digeluti. Meskipun penjualan dan pendapatan menurun, tetapi rasanya sayang jika harus dilepas hanya karena merasa lelah dan payah. Di mana lagi ia bisa mencari pekerjaan tetap, tanpa harus direpotkan dengan masuk kantor dan jam kerja yang menyita waktu. Nadia mencoba diskusi dengan Bu Rosmia dan Nindi untuk merestrukturisasi utang dengan bank terkait. Ia masih menunggu pesan yang dikirim kemarin berbalas oleh Bu Rosmia. Kadang kebosanan mulai menjangkiti isi kepala. Setuap hari hanya bolak-balik ruang tamu, kamar, dapur dan kamar mandi. Awal-awal peraturan "di rumah saja" digalakan, Nadia sama sekali tidak mengizinkan Arkan dan Jodi bermain di halaman rumah. Berawal dari rasa bosan itulah yang akhirnya semakin mendekatkan anak-anak dengan gadget. Benda pipih berlensa datar itu tidak hanya digunakan saat pelajaran sekolah saja tetapi setelahnya pun berlanjut dengan bermain game, menonton berbagai konten dari kanal-kanal yang kadang anak-anak itu memilih sendiri sajian untuk ditonton. Nadia jadi serba salah, melarang atau membiarkan saja, keduanya pasti ada pengaruhnya bgai kedua bocah itu. Sementara Nadia sendiri tidak bisa mengawasi 24 jam apa yang mereka tonton. Hanya pada saat waktu salat, mereka melepas ponsel. Itu pun hanya beberapa menit saja, setelahnya kembali lagi menekuni ponsel. "Arkan, Jodi, bantu Mama, yuk!" ajak Nadia mencoba mengalihkan perhatian kedua bocab itu dari ponsel. Mereka menoleh dna menghentikan menonton. "Bantu apa, Ma?" Arkan bertanya seraya melirik Jodi. Sementara Jodi siap ikut jika sang kakak menurut. "Bantu Mama jemur baju, abis itu kita berjemur di halaman belakang." "Okeey... " Keduanya merespon dengan lesu dan menyimpan ponsel masing-masing di atas meja. Satu menit, dua menit sampai akhirnya baju-baju itu tuntas dijejer di atas papan jemuran, mereka justru keasyikan bermain di halaman belakang. Sambil menjemur diri, sesuai informasi di berbagai lini masa jika berjemur baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Permainan mereka berakhir kala dering ponsel Nadia berbunyi. Ia segera memasuki rumah dan menyambar ponsel, terlihat nomor Bu Rosmia di layar. "Assalamualaikum, Bu." "Waalaikumsalam. Nad, untuk pengajuan restrukturisasi ke bank itu sedang diusahakan, tapi harus menunggu waktu. Dan selama masa pandemi Pak Hasan bilang untuk setoran boleh semampunya dulu, sekedar menutupi bunganya." "Berarti pembayaran itu tidak terhitung pengurangan pinjaman, dong, Bu?" tukas Nadia. "Ya, tidaklah. Kan, hanya bayar bunga saja. Tapi setelah restrukturisasi selesai, bisa dilanjutkan cicilannya. Mungkin kalo untuk bayar bunganya saja tidak terlalu berat buatmu, Nad." "Gimana dengan Nindi, Bu? Apa dia bisa bantu sedikit atau setengahnya?" "Ibu sudah bicara, katanya dia sama sekali belum ada uang. Rizal juga belum ada pemasukan yang besar dari tender usahanya." Nadia hanya menahan napas sekaligus sesak. Padahal untuk mempercantik butik Nindi dan suaminya juga dari hasil uang pinjaman bersama. Lalu, sekarang pembayarannya tetap dibebankan kepada Nadia. "Ya, sudahlah, Bu. Nadia usahakan tetap membayar setiap bulannya." "Nanti Ibu kabari kalo proses restrukturisasi sudah selesai." "Iya, Bu. Ibu gimana di sana? Sehat?" Nadia mencoba berbasa-basi meski terasa sangat asing, karena sudah lama tidak pernah ada bahasa kasih di antara mereka. Jikapun ada percakapan, itu hanya terasa sekedar basa-basi. "Iya, kami di sini baik-baik saja. Ya, sudah, jaga diri kalian. Assalamualaikum." Bu Rosmia menutup percakapan. "Waalaikumsalam." Rasanya ada kecanggungan saat Nadia harus memberikan ucapan serupa perhatian kepada keluarganya, bahkan kepada ibunya sendiri. Sejauh itu perasaan yang menjeda mereka. Entah mungkin itu hanya perasaan Nadia saja atau memang komunikasi mereka sebenarnya sudah lama kurang harmonis. Saat-saat merasa sendiri, kadang ia merindukan sosok almarhum Bapak. Dulu saat beliau masih ada, saat Nadia berada jauh dari rumah, tidak satu hari pun terlewatkan tanpa berkirim pesan. Kala itu pesan dari ponsel Bapak hanya bisa memgirim SMS karena ponsel yang Bapak punya masih tipe lama. Zaman Nadia sekolah sampai kuliah belum masuk ponsel pintar, yang paling terkenal saat itu ponsel besutan negara Finland dengan rington khas pada zamannya. Saat Nadia bekerja pun ponsel Bapak tidak pernah ganti, meski sebetulnya ia mampu membeli yang baru sesuai kemajuan zaman. Baru setelah acara pernikahan kak Nina, Bapak belajar mengoperasikan ponsel pintar. Itupun karena Nadia yang membelikan, hasil gajian ke enam. "Bu, Ibu! Ini ada telepon dari Nadia. Gimana Bapak angkat teleponnya?" Kala itu Bapak baru saja menerima ponsel hadiah dari Nadia dan belajar menggunakan, lalu kebingungan saat sambungan telepon masuk. "Ya, dipijit tombol hijaunya, Pak. Itu, kan, ada." "Udah, Bu. Tapi kok bunyi terus? Pijit gimana, ditekan?" "Dipijit, Pak." Keduanya ribut mengutak atik layar demi bisa membuka percakapan. "Aduh cepetan, nanti keburu mati." "Ih, Bapak. Gitu aja gak bisa." "Bapak bingung." Tak lama dering itu pun mati "Tuh, kan, mati!" Rait wajah Bapak menampakkan sedikit kesal. "Nindiii!" teriak Ibu memanggil si bungsu yang sesang berdiam diri di kamarnya. Jalan ninja Ibu dan Bapak waktu itu, jika kebingungan dengan alat canggih yang baru adalah Nindi. Sementara kedua anak perempuan mereka yang lainnya berada di luar kota. Begitu pun saat Nadia berada di rumah, Bapak pasti minta diajari lebih dalam menggunakan ponsel pintar itu. Di tahun ketiga Nadia bekerja, kabar kesehatan Bapak menurun. Awlanya saluran prostat yang terganggu, lantas dilakukan penyedotan sampai di rawat inap. Setelah sembuh, kondisi lain menyerang, Bapak jatuh pingsan karena pusing setelah mandi. Kembali dibawa ke rumah sakit, dokter mendiagnosa kadar gula yang berlebih sehingga Bapak harus rutin cek up insulin. Sampai di bulan ke enam jatuh bangun Bapak bertahan, keluar masuk rumah sakit, hingga lemah selemah-lemahnya. Kondisi terakhir yang Nadia ingat waktu cuti menjenguk Bapak, tubuhnya sudah ditopang kursi roda, tetapi masih keliahatan sehat. "Nadia, kalau kerja harus sabar, ya. Jangan, keras hati. Jangan juga terlalu mengalah, walaupun mengalah itu lebih baik." Nadia masih belum memahami nasihat Bapak saat itu. Senja terakhir yang Nadia habiskan bersama Bapak di teras belakang rumahnya, dengan Nindi dan juga Ibu. Sementara Kak Nina sejak kuliah dan bekerja sebagai PNS di Bandung, jarang sekali pulang. Bahkan sekedar untuk menengok Bapak saja hanya sekali, itu pun saat ia meminta restu untuk menikah. "Biar kamu betah dan bertahan lama kerja di sana." Nadia masih bergeming. Siap mendengarkan nasihat selanjutnya sengan saksama. Nindi dan Ibu pun hanya mengunci mulut. "Anak Bapak semuanya perempuan, Bapak berharap kalian tetap mendukung satu sama lain kalau ada masalah. Dan ingat! Jangan bertengkar karena pemberian warisan. Bapak sudah merasakannya, kami berdelapan akhirnya saling menjatuhkan dan menjauh satu sama lain." Pandangan Bapak menerawang ke beberapa waktu silam. Pantas, sudah sejak lama Nadia tidak pernah mendengar kabar atau bahkan menerima kunjungan saudara-saudara Bapak. Sekarang? Ah, hampir saja sejarah berulang seperti kisah saudara Bapak dan dirinya dengan Kak Nina. Meski demikian, jika nanti Nadia sudah berhak atas bagiannya, ia tetap bersikukuh tidak ingin menjualnya. Seperti yang pernah Bapak katakan. Namun... "Bapak, maafkan Nadia, Pak." Nadia menggigit bibirnya getir. Ketika teringa utang dan kecerobohannya di bisnis bodong yang ia ikuti itu, ada kemungkinan suatu saat ia berubah pikiran untuk menjualnya, jika tidak mampu melunasi utang itu. Sampai saat ini saja penghasilan tambahan yang ia daoat dari hasil jualan online sangat jauh dari kata cukup untuk cicilan. Aplaagi ditambah dengan kondisi yang segalanya serba dibatasi. Semua titik sendi kehidupan seolah melemah. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD