1

1879 Words

Seorang wanita muda duduk kursi sembari memandangi sebuah keluarga kecil yang sedang bermain tidak jauh di dekatnya.

Keluarga itu tampak bahagia, seorang ayah yang hangat, ibu yang lembut dan dua yang putri cantik.

Ada rasa sakit di d**a gadis itu, tidak bisa dipungkiri ia memang iri dengan anak beruntung yang dicintai oleh ayah dan ibunya, tidak seperti dirinya yang tidak mendapatkan cinta dari orangtuanya, juga saudarinya.

Alangkah bahagianya ia jika saja ia memiliki keberuntungan seperti itu dalam hidupnya.

"Berhenti menyakiti dirimu sendiri, Lynnelle. Cinta adalah sesuatu yang tidak akan pernah kau dapatkan dalam hidupmu." Wanita yang bernama Lynnelle itu mengingatkan dirinya sendiri untuk yang kesekian kalinya dalam hidupnya.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah cahaya jingga di langit. Hari sudah sore, sebentar lagi matahari akan terbenam.

Lynn masih ingin berada di taman kesukaannya itu, tapi ia harus segera kembali ke rumahnya. Meski pada kenyataannya tidak ada yang peduli ia kembali ke rumah atau tidak.

Bangkit dari tempat duduknya, Lynn segera melangkah menuju ke sebuah mobil mewah di tepi jalan. Ia membuka pintu mobil itu lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.

Lynn menekan remote ke arah gerbang tinggi kediaman megah di depannya, setelah itu daun pintu gerbang terbelah menjadi dua. Lynn melajukan mobilnya melewati gerbang lalu menutup gerbang itu lagi menggunakan remote yang sama.

Lima puluh meter dari mobil Lynn saat ini terdapat sebuah bangunan megah bergaya Eropa yang bernuansa putih. Lynn menghentikan mobilnya di garasi kediaman itu, lalu kemudian ia melangkah menuju ke bangunan utama.

Rumah megah itu hanya ditinggali oleh Lynn, saudarinya dan orangtuanya serta beberapa pelayan yang bertugas untuk mengurus rumah.

Sudah biasa bagi Lynn ketika ia memasuki rumahnya yang ia rasakan hanya sepi. Mata Lynn memandang ke sebuah figura berukuran besar di dinding, di mana terdapat foto keluarganya di sana.

Foto itu diambil tahun lalu, ia dan keluarganya tampak sangat harmonis dan saling menyayangi. Akan tetapi, percayalah itu semua hanyalah kepalsuan.

Ayah dan ibunya hanya mencintai Shirley Archerio, kakak Lynn.

Ia juga darah daging ayahnya, tapi ia tidak diperlakukan seperti seorang anak. Semua kebutuhannya memang dipenuhi, tapi tidak ada kasih sayang di sana.

Masa kecil Lynn tidak bahagia sama sekali. Orangtuanya mengabaikannya, hanya membiarkan ia tumbuh di bawah asuhan pelayan.

Meski ia menangis hingga matanya sembab, orangtuanya tidak akan peduli padanya.

Awalnya Lynn merasa sangat sedih, tapi lama kelamaan ia terbiasa. Ia juga sudah mengetahui alasan kenapa ia tidak mendapatkan cinta dari keluarga itu.

Saat itu ia berusia tiga belas tahun, dan ia mendengar semuanya dari pertengkaran ayah dan ibunya.

Ia memang putri ayahnya, tapi ia bukan putri istri ayahnya yang saat ini ia panggil dengan sebutan Mommy. Ya, ia adalah putri ayahnya dengan seorang wanita panggilan.

Pada usia itu, Lynn sudah mengerti dengan jelas apa maksud orangtuanya. Semuanya menjadi jelas utnuk Lynn, alasan kenapa ia tidak pernah dicintai adalah karena ia aib keluarga itu.

Ayahnya tidak pernah menginginkan kehadirannya, sementara wanita yang ia ketahui sebagai ibunya selama tiga belas tahun mana mungkin bisa mencintai anak dari selingkuhan suaminya.

Dan untuk saudari tirinya, wanita itu jelas tidak akan menyayanginya karena keberadaannya merusak keharmonisan di keluarganya. Shirley memang tidak pernah memakinya, tapi wanita itu selalu menjaga jarak darinya. Ia dan Shirley tidak memiliki hubungan yang dekat.

Dan kakeknya, pria yang memerintahkan agar ayah dan ibunya merawatnya, pria itu juga sama. Tidak mencintainya sama sekali. Namun, pria itu tidak akan pernah mungkin membuang keturunan Archerio.

Sejak hari di mana ia mengetahui tentang rahasia kelahirannya, dan ia tertangkap basah mendengarkan pertengkaran kedua orangtuanya, sejak hari itu juga Lynn tidak hanya diabaikan oleh orangtuanya.

Terkadang ibunya akan mencaci dan memakinya. Melihatnya seperti makhluk hina yang tidak berhak hidup sama sekali.

Meski bukan ibu kandungnya, tapi Lynn tetap berharap ibu tirinya mencintainya. Namun, harapan itu sirna ketika makian demi makian ia terima. Hati Lynn mati rasa.

Hingga saat ini ia tidak pernah berharap lagi bahwa keluarganya akan mencintainya. Cinta, hal itu terlalu sulit untuk ia dapatkan.

Lynn melangkah menuju ke tangga yang berada beberapa belas meter darinya.

"Lynelle, tunggu!" Suara terdengar dari arah samping Lynn. Ia melihat ke sumber suara, seorang wanita cantik yang elegan dan anggun mendekat ke arahnya. Dia adalah Shirley, kakak Lynnelle.

"Hari ini kau ulang tahun, bukan?" Shirley sudah berdiri di depan Lynn, mengatakan sesuatu yang bahkan Lynn sendiri lupa.

Benar, hari ini memang ulang tahunnya. Namun, karena tidak pernah ada yang merayakannya ia melupakan hari lahirnya sendiri.

Cukup mengejutkan bagi Lynn bahwa Shirley mengingat tentang hari ulang tahunnya. Ia bahkan berpikir Shirley tidak tahu kapan hari lahirnya.

"Aku ingin mengajakmu merayakan hari ulang tahunmu."

Lynn lebih terkejut lagi. Selama ini Shirley tidak pernah ingin pergi dengannya secara sukarela kecuali untuk keperluan bisnis atau keperluan penting lainnya.

"Kenapa kau diam saja? Kau tidak mau?" tanya Shirley.Wanita itu menatap Linn seksama.

"Kenapa tiba-tiba kau ingin mengajakku keluar?"

"Apakah itu aneh?" tanya Shirley dengan wajah polos.

"Hubungan kita tidak sedekat itu, Shirley." Tentu saja aneh bagi Lynn. Setelah sekian lama akhirnya Shirley mengajaknya keluar.

"Benar, aku sudah menunggu lama untuk mengajakmu pergi, tapi aku tidak menemukan waktu yang tepat. Dan ulang tahunmu adalah waktunya, kita bisa memperbaiku hubungan kita mulai dari sekarang," jawab Shirley. Ia memberikan senyuman lembut pada Lynn, jika pria yang melihatnya maka mereka pasti akan rela melakukan apa saja untuk Shirley.

Shirley memiliki wajah yang kecil dengan manik mata almond, hidungnya mancung kecil, bibir mungil berwarna merah. Shirley tampak seperti dewi, halus dan murni.

Lynn diam sejenak, berpikir tentang apa yang Shirley katakan. Belum terlalu terlambat memperbaiki hubungan persaudaraan mereka. Mungkin saat ini Shirley sudah mulai menerima keberadaannya.

"Jika kau tidak mau tidak apa-apa. Itu bukan salahmu, aku menjauhimu selama ini." Shirley berkata seolah ia menyesali apa yang telah ia lakukan di masa lalu.

"Aku akan pergi denganmu."

Senyum di bibir Shirley merekah. "Itu bagus. Malam ini akan menjadi malam yang hebat untuk kita."

"Aku harap begitu." Lynn tersenyum kecil.

"Kalau begitu pergilah ke kamarmu. Kau pasti lelah bekerja seharian. Jam 10 nanti kita akan pergi."'

Tangan Shirley menarik tangan Lynn masuk ke dalam sebuah club malam terbesar di kota itu. Suara hentakan musik sudah terdengar memekakan telinga ketika pintu terbuka.

Ini bukan pertama kalinya Lynn pergi ke club malam, ketika suasana hatinya sedang buruk Lynn akan datang ke tempat itu sekedar untuk minum atau menyaksikan orang-orang yang menghilangkan penat mereka di sana.

Shirley sudah memesan sebuah meja terlebih dahulu. Ia melangkah menuju meja yang ia pesan lalu berbicara pada Lynn. "Kau tidak keberatan aku bawa ke sini, kan?"

"Tidak apa-apa."

"Itu bagus. Teman-temanku juga akan datang sebentar lagi. Aku akan memperkenalkan mereka padamu." Shirley tersenyum cerah.

Lynn menganggukan kepalanya, sepertinya Shirley memang berniat ingin memperbaiki hubungan mereka. Sebelumnya Shirley tidak pernah memperkenalkan ia pada teman-temannya.

"Kau bisa minum, kan?" Shirley bertanya lagi.

"Aku memiliki toleransi yang cukup baik dengan alkohol," jawab Lynn. Ia sering minum jadi ia pikir ia sudah menjadi peminum yang cukup baik.

"Itu bagus. Seharusnya kita seperti ini lebih cepat, tapi tidak apa-apa, setelah ini kita bisa keluar bersama lagi."

Perasaan Lynn menjadi lebih baik hari ini, tidak apa-apa terlambat asalkan ia masih bisa merasakan kedekatan antar saudara.

Shirley menuangkan minuman ke gelas Lynn, ia juga mengisi gelasnya. "Untukmu." Shirley mengangkat gelas memberikannya pada Lynn.

"Selamat ulang tahun, Lynnelle." Shirley mengangkat gelasnya.

Lynn juga mengangkat gelasnya, kemudian menempelkan pelan gelasnya ke gelas Shirley., setelah itu mereka menyesap cocktail di masing-masing gelas mereka.

Beberapa saat kemudian, empat wanita datang mendekati Lynn dan Shirley. Wanita-wanita itu merupakan sahabat Shirley. Mereka semua mengenakan dress ketat sebatas paha.

Shirley memperkenalka sahabat-sahabatnya pada Lynn, kemudian mereka semua minum bersama.

"Lynn, ayo turun ke lantai dansa." Arianna menarik tangan Lynn, membawa Lynn ke dekat kerumunan manusia yang sedang berjoget.

Ketiga teman Shirley yang lain ikut turun ke lantai dansa begitu juga dengan Shirley.

Di tangan mereka masing-masing terdapat gelas, mereka menari sambil sesekali menyesap minuman mereka.

Lynn minum cukup banyak malam ini, melewati batas toleransinya terhadap alkohol. Ia mulai kehilangan kesadarannya secara perlahan.

"Aku akan mengambilkan minuman untukmu." Shirley meraih gelas di tangan Lynn. Ia kembali ke meja dan mengisi minuman kembali.

Mata Shirley memperhatikan Lynn yang berjoget, wajah licik Shirley kini terlihat. Ia mengambil sesuatu dari dalam tas nya. Kemudian ia membubuhkan cairan ke dalam minuman Lynn.

"Lihat apa yang akan terjadi padamu malam ini, Lynn. Aku akan menghancurkanmu." Shirley mendesis. Ia kemudian membawa minuman itu ke Lynn, wajahnya kini tampak lembut kembali.

"Minumlah. Mari rayakan hari ulang tahunmu." Shirley menyerahkan gelas itu.

Lynn kemudian menyesapnya. Ia tidak menyadari sama sekali tatapan licik Shirley.

Hanya dalam beberapa saat Lynn mulai merasa panas. Ia ingin melepaskan pakaian yang ia kenakan saat ini.

"Ada apa, Lynn?" tanya Shirley yang mulai menyadari Lynn merasa tidak nyaman. "Hey, kau sudah terlalu mabuk. Aku akan mengantarmu ke kamar hotel." Shirley segera meraih tubuh Lynn.

"Teman-teman aku akan segera kembali." Shirley bicara pada teman-temannya lalu membawa Lynn pergi.

Club malam itu terletak di sebuah hotel merah, Lynn sudah memesan sebuah kamar. Di sana juga ia sudah menyiapkan kejutan untuk menghancurkan Lynn.

Keluar dari club, seorang pria menunggu Shirley. Ia merupakan pria bayaran Shirley yang dibayar untuk meniduri Lynn.

"Malam ini dia milikmu. Puaskan dirimu." Shirley menyerahkan tubuh Lynn ke pria itu. Wajah wanita itu tampak sangat licik. Ckck, apakah Lynn berpikir bahwa ia benar-benar ingin mengajaknya keluar untuk bersenang-senang? Dia jelas tidak sebaik itu.

Lynn sudah terlalu mabuk, ditambah obat perangsang yang menguasai tubuhnya Lynn merasa tidak tahan lagi. Ia hendak membuka pakaiannya lagi, tapi pria di sebelahnya menahannya.

Pria itu juga ingin segera meniduri Lynn, tapi bukan di sana tempatnya. Ia segera membawa Lynn menuju ke lift, masuk ke dalam sana. Beberapa detik kemudian lift terbuka, pria itu membawa Lynn menuju ke kamar yan gsudah dipesan Shirley.

Langkah pria itu terhenti saat ponselnya berdering. Ia melepaskan Lynn lalu menjawab panggilan itu. Sementara itu Lynn sudah melangkah, ia berdiri di depan sebuah pintu kamar yang akan tertutup. Lynn menahan pintu itu, di belakang pintu seorang pria menatap Lynn.

Tanpa mengatakan apapun, Lynn masuk ke dalam kamar itu. Ia merasa tubuhnya semakin panas, Lynn membuka pakaiannya hingga tidak menyisakan apapun.

Pria pemilik kamar menatap Lynn dalam diam. Sebagai seorang pria tentu saja pemandangan yang ia lihat saat ini memicu gairahnya.

Lynn melihat ke arah si pria, ia segera mendekatinya. Menyentuh wajah pria itu tanpa permisi lalu melumat bibirnya.

Si pria tidak menolak, ia kemudian membalas ciuman itu. Bukan salahnya jika akhirnya ia meniduri wanita yang melemparkan diri ke arahnya itu.

Gairah mengalahkan akal sehat. Lynn dan si pemilik kamar kini sudah berada di atas ranjang. Mereka saling menyentuh, berbagi tanda kepemilikan.

Permainan sudah dimulai, dan hanya akan berakhir setelah puncak gairah didapatkan.

"Masuki aku, cepatlah." Lynn bersuara tidak sabar. Hasrat liar di dalam tubuhnya sudah diluar kendali.

Pria itu menciumi bibir Lynn, lalu kemudian ia mengarahkan kejantananya ke milik Lynn, memasukinya hingga ia merasakan sesuatu yang salah.

"Kau masih perawan." Pria itu berkata terkejut.

"Bergeraklah," desak Lynn.

Pria itu membuang keraguannya, lalu kemudian melanjutkan kegiatannya. Ia tidak akan melepas tanggung jawabnya, jika wanita di bawahnya ingin meminta tanggung jawabnya maka ia akan dengan senang hati bertanggung jawab.

Ruangan itu menjadi saksi bisu bagaimana liarnya Lynn.

"Sepertinya orang-orang telah keliru terhadapmu." Pria yang sudah mendapatkan kepuasan dari Lynn menatap wajah Lynn yang saat ini tampak kelelahan.




tbc


Baca juga cerita teman-teman Noah.

Reiner x Lauryn = Sleeping With the Devil

Rex x Lorra = In Bed With The Devil

Adelard x Leandra = Sleeping With The Enemy

quotes
Author's note
notes
Baca juga cerita teman-teman Noah. Reiner x Lauryn = Sleeping With The Devil Rex x Lorra = In Bed With The Devil Adelard x Leandra = Sleeping With The Enemy
Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd