who's he?.

1211 Words
"Bagaimana aku bisa lupa tentangmu, kalo posisi kamu saja masih menjadi yang utama dihati." Kinta Maharani Utari_ Happy Reading. Kinta berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kelas. Hatinya kini menjadi bimbang, bagaimana ia bisa move on ternyata mereka satu sekolah lagi. Setiap hari pasti akan ketemu. Walaupun tidak satu kelas. Kejadian dikantin sangat memalukan untuk Kinta. "Ini jantung gak bisa diajak kompromi banget sih." semoga saja Raga tak mendengar detak jantungnya. Bisa malu dia. Saat masuk ke kelas Ara dan Shofia sudah menunggu dengan raut wajah khawatir. Melihat Kinta masuk ke kelas Ara dan Shofia yang semula duduk kian berdiri. "Lo dari mana aja sih,Kin. Terus minuman Lo mana. Lo tadi nyasar ya waktu menuju ke kelas." Tanya Shofia beruntun. Kinta hanya terdiam. Apa ia kejadian dikantin harus diceriakan dengan mereka. Kinta pikir untuk saat ini biarlah ia simpan dulu soal Raga yang satu sekolah dengan lagi. "Kin. You okay?." Tanya Ara. "Lo gak jadi beli minum?." Lanjut Ara bertanya lagi. "I'm Okay. Tadi gue gak jadi beli minum. Gak kuat gue antrinya." Elak Kinta semoga saja mereka percaya. "Yaampun, Kin. Kirain Lo nyasar tadi." Pekik Shofia. Kinta tertawa mendengarnya. Shofia ini selalu saja mencemaskan ya berlebihan. "Lo tau sedari tadi, shopia ini ngoceh trus. Khawatir bener sama Lo." Ujar Ara. "Shofia. Shopia Shopia F ya bukan P." Ujar Shofia tak terima. Enak saja namanya sudah bagus gitu main ganti-ganti saja. kalo pake P serasa dari desa saja. "Maafnya udah bikin Lo berdua khawatir." "Gapapa. Yang penting Lo baik-baik aja." Handphone Kinta tiba-tiba bergetar, terdapat panggilan masuk dari Mama nya. Lantas Kinta pun menekan tombol hijau. "Halo, Ma." "Halo sayang. Nanti pulang sekolah langsung pulang nya, hari ini kan ulang tahun nya kakak kamu." mata Kinta kian memanas mengingat kakak nya, kejadian 2tahun silam ternyata masih membekas dihatinya. "halo, sayang. Kamu gak lupa kan ulang tahun kakakmu." "Kinta ingat, Ma." jawabnya sambil menahan isak tangisnya. "Yaudah sayang, Mama tutup dulunya telfon nya. Jangan lupa nanti langsung pulang." "Iya, Ma. Nanti Kinta langsung pulang." Setelah telfon nya selesai, tangis Kinta pecah. Ara dan Shofia pun menjadi cemas. Kenapa sahabatnya menjadi sedih. Siapa tadi yang menelfonya. "Kin. Siapa tadi yang nelfon." Tanya Ara. "Mama." "Tante Anita kenapa?. Baik-baik saja kan." "Nyokap gue baik-baik aja, Ra." "Terus kenapa Lo nangis." Kini giliran Shofia bertanya. "Hari ini ulang tahun kak Syla." Ara dan Shofia kini Faham, alasan Kinta menangis. Kejadian yang menimpa Syla kakak Kinta masih membekas dihati Kinta, sehingga mengakibatkan Kinta sangat lemah jika mengingat soal Syla. Syla Maharani Utari. Kakak Kinta yang hanya terpaut 2tahun darinya. Namun sayang takdir berkata lain tuhan sangat sayang dengannya. Kini sudah 2tahun Syla meninggal karena peristiwa 2tahun silam. "Gue tau Lo pasti kuat." Ujar Ara sambil memeluk Kinta. "Gue gak sekuat itu, Ra. Hati gue hancur mengingat peristiwa itu." Jika orang-orang memandang Kinta sebagai gadis judes,galak, dan pemberani. Maka semua itu salah, ia tak seperti itu. Semua hanya topeng, sejujurnya Kinta sangatlah lemah. Namun Kinta berusaha menutupinya. "Lo harus kuat demi bokap sama nyokap Lo." Ucap Shofia menepuk pelan bahu Kinta. "Lo Taukan gue sama Ara selalu ada buat Lo. Jangan sedih nanti kak Syla ikutan sedih lihat Lo." "Makasih, Pi." "Sama-sama itu udah menjadi tugas dari seorang sahabat bukan." Dalam hari Shofia sakit melihat Kinta lemah seperti ini. kak Syla juga sudah ia anggap menjadi kakak nya sendiri. Bukan Kintalah yang kehilangan dirinya pun juga. Mengingat pertemanan mereka sudah sedari kecil membuat Ara dan Shofia juga dekat dengan Syla. "Gue janji akan bantu Lo cari pelaku dari peristiwa itu." Ujar Ara dengan jelas. Tak akan ia biarkan orang itu tenang begitu saja setelah kejadian itu. *** Sesuai permintaan sang Mama kini Kinta langsung pulang paska waktu sekolah selesai. Langit tampak mendung disertai Angin bergemuruh pasti sebentar lagi akan turun hujan. Mama, Papa, dan Kinta sudah berada di makan Syla. Seperi biasa sudah ada bunga yang terpajang dimakan sang kakak. masih menjadi sebuah pertanyaan besar. Selalu saja ada bunga dimakan kakaknya saat sedang berkunjung, yang entah dari siapa. apa dari pacar kakaknya. Setau dia kakaknya ini dulu tidak mempunyai pacar, jika iya Syla pasti sudah cerita dengannya. Anita Mama Kinta dan Syla menatap nisan Syla dengan sendu. Prass berangkul bahu istriya menyalurkan kekuatan agar Istrinya bisa menahan tangisnya. "Assalamualaikum, nak. Mama datang lagi nak." "Mama kangen sama, Syla. Pasti Syla sudah ada disamping tuhan." Sekuat tenaga Anita menahan tangisnya, namun dengan perlahan air matanya tetap saja luruh. Sudah 2tahun lamanya ternyata rasa kehilangan itu masih tetap sama. Masih sangat membekas dihatinya. "Selamat ulang tahun, Syla. Happy birthday ke 20th. Mama, Papa, Kinta akan selalu doain kamu." Ujar Anita. Hatinya benar-benar tidak bisa melepaskan Syla. Rasa ikhlas itu cukup sulit ia terapkan. "Selamat ulang tahun anak Papa. Papa akan selalu doain Syla dari sini. Yang tenangnya disana." Prass sekuat hati mencoba tegar. ia tidak mau memperlihatkan akan rapuhnya didepan anak dan istrinya. "Hai. Kak, Kinta kangen tau sama kakak. Kinta selalu berharap saat tidur, kakak datang ke mimpi Kinta sebagai obat rindu." Anita berada disamping Putrinya lantas memeluk. Kinta dan Syla adalah sosok adik kakak yang sangat dekat. Pasti kepergian Syla juga hal yang sangat menyakitkan untuk Kinta. "Selamat ulang tahun Kak. Kinta akan selalu doain kakak dari sini. Sering-seringnya kak datang ke mimpi Kinta." "Sekarang kita doain Syla. Udah gelap sebentar lagi turun hujan." Ujar Prass. Mereka pun lalu berdoa untuk mendiang Syla. Setelah selesai berdoa Anita mencium nisan Syla sebelum beranjak dari makam. Kinta berjanji akan mencari tau tentang peristiwa 2tahun lalu. Peristiwa yang membuat kakaknya merenggang nyawa. Pelaku itu akan ia cari, walaupun sangat sulit mengingat kasus itu sudah ditutup oleh polisi. Tapi Kinta tak akan menyerah begitu saja. *** Menjadi rutinitas Raga mengatar Oliv shopping. Pacarnya itu sangat suka sekali belanja. Meskipun pakaian cewek itu sudah banyak tetap saja pacarnya itu akan tergiur dengan pakaian keluaran terbaru. Selepas pulang sekolah tadi Oliv memintanya untuk menjemput, lalu meminta dibelikan Tas, dan pakaian keluaran terbaru. Sudah 2jam mereka berkeliling dimall, barang belanjaan Oliv pun sudah banyak ditangan Raga. Sebenarnya ia sangat lelah ingin cepat-cepat rebahan. Namun melihat bagimana raut bahagia wajah pacarnya ia tidak tega mengatakan. "Sayang aku mau sepatu itu. Gemes banget deh." Ujar Oliv menunjuk kearah sepatu yang ia incar. "Kamu mau?." "Mauuu... beliinnya." Ujarnya dengan bergelayut manjan dilengannya. Raga tak kuasa menolak, apapun keinginan Oliv selagi ia bisa turutin akan selalu ia berikan. "Yaudah ambil kita beli,ya.." Oliv pun kegirangan, tak sia-sia mengajak Raga ke mall. jika ada Raga kekasihnya yang kaya itu apapun yang ia mau pasti dikabulkan. Untuk uangnya bisa untuk nyalon nanti. "Makasih sayang. Sayang kamu banget-bangett." "Iya sama-sama." Oliv dengan Kinta memang sangat berbeda. Jika Oliv gadis yang royal, maka Kinta adalah gadis yang sederhana. Tapi semua sifat Oliv tak pernah ia pernah jadi masalah untuknya. Raga amat sangat cinta sekarang dengan pacarnya itu. "Kenapa gue jadi keingat dengan, Kinta. " Raga memukul kepala pelan. Sekarang bukan waktunya memikirkan Kinta, ada Oliv disampinganya tak seharusnya ia memikirkan gadis lain. "Sayang aku laper. Makan di restoran sebelah yuk." "Ayo kita kesana." Tanpa sepengetahuan Mereka berdua ada seorang laki-laki yang mengintainya. laki-laki berhody hitam memancarkan aura tak suka dengan kedekatan mereka berdua. Mata tajamnya mengawasi gerak gerik Oliv yang sangat manja dengan Raga. "Lo harus pilih antara gue dan Raga. Liv, gue gak terima Lo duain gue!." desis laki-laki itu. manahan amarahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD