"Dari seberapa jauh aku melupakanmu, hanya ada 1% yang ku bisa. Artinya kamu masih menjadi titik pusat dihatiku."
"Menjagamu dari jauh itulah caraku mencintaimu, karena didekatmu aku hanya bisa menimbulkan luka."
Happy Reading.
Acara baksos kini sudah selesai Kinta beserta kelompoknya duduk dibawah pohon rindang lumayan besar. Mereka memilih berteduh dipohon itu. Kinta menegakan tubuhnya yang terasa sangat capek. Tapi Kinta bahagia rasanya bisa membatu warga sekitar disini.
Selama ini Kinta tak pernah diizinkan mengikuti camping, orang tuanya selalu meminta kompensasi untuknya agar tidak perlu mengikuti camping. Dengan paksaan dan rayuan yang tiada henti akhirnya Kinta bisa mengikutinya kali ini. Wajar jika orang tua Kinta posesif karena ia anak tunggal, apalagi semenjak kejadian 2tahun silam.
"Capek tapi sekaligus seneng gue hari ini." Ujar Renata sambil mengipasi wajahnya yang penuh keringat.
"Bener banget, kapan lagi kita bisa bantu kaya ini apalagi rame-rame makin seru." Sahut Zaskia.
"Belum minum yuk, haus banget gue." Ajak Veona.
"Ikutlah gue haus juga." Ucap Prita salah satu anggota kelompok Kinta.
"Ada yang mau titip gak nih."
"Gue ikut ajalah sekalian mau jajan." Ujar Zaskia berdiri membersihkan celananya yang kotor.
"Ikut gak, Kin?."
"Nggaklah gue titip aja. Titip s**u coklat hangat ya Ki." Mintanya pada Zaskia.
Sebenarnya Kinta lebih ingin memilih ikut, namun kakinya masih terasa pegal.
"Okesip beres. " Mereka pun pergi dan tinggallah Kinta dan Renata. Gadis itu sudah membeli minum lebih dulu sebelum istirahat.
"Lo pernah jatuh cinta gak sih Kin." Kinta mengeryit bingung dengan bertanya random Renata.
Aneh saja dengan Renata mengapa gadis itu tanya demikian, apalagi untuk mereka yang baru kenal. "Kenapa Lo tanya begitu."
Renata mendengus sebal."sakit hati gue, Kin."
"Galau Lo." Kinta terkekeh sejenak.
Renata menatap Kinta dengan penuh serius."Galau sama apa yang bukan milik kita aneh gak sih."
"Lo tau cinta. Cinta itu susah ditebak, gak tau datang nya dan sama siapa kita akan menaruh hati. Perihal kita bisa memiliki atau tidak itu diluar kendali kita." Jawab Kinta dari hati. Apa yang ditanyakan Renata adalah rasa yang kini Kinta rasakan.
"Gue juga pernah jatuh cinta. Bahkan gak hanya satu kali tapi berkali-kali dengan orang yang sama."
"Seriusly?. " Ucap Renata kaget.
Kinta mengangguk lemah."Terus sekarang dia udah punya cewek?." Tanya Renata pada Kinta.
"Udah 2tahun hubungan mereka berjalan. Mungkin gue sama dia hanya ditakdirkan untuk mengenal bukan memiliki." Renata cukup spickchelss mengetahui fakta ini. Dia kira Kinta tipekal cewek yang bodoamat soal cinta ternyata Kinta adalah gadis yang kuat. Karena Renata tau mencintai apa yang tidak bisa dimiliki jauh lebih sakit.
"Lo gak mau perjuangin dia,Kin. Seenggaknya dia tau kalo Lo suka sama dia."
Berjuang untuk apa?. Jika pada nyatanya bahagianya bukan sama dirinya. Mungkin akan terasa lebih tenang untuk Kinta, namun untuk Dia hanya akan jadi beban. "Gue rasa cukup rasa ini disimpan saja. Ada kalanya rasa memang tak perlu diutarakan demi menjaga keamanan hati."
Renata sungguh dibuat kagum oleh Kinta. Gadis yang ia pikir sidikit tomboy taklah mungkin berperan batin perhiral cinta. Tapi nyatanya ia salah, Kinta justru lebih yang dia duga.
****
Malam ini malam terakhir acara ini dipuncak, seperti biasa untuk acara terakhir Api unggun. Kinta mengucek matanya yang sangat berair. Dua hari dua malam Kinta tidak tertidur dengan lelap. Kinta memang tidak bisa tidur jika bukan dirumahnya sendiri, mungkin jika acara ini tidak diharuskan untuk semua peserta ikut serta, Kinta akan lebih memilih tidur.
Akan tetapi mengingat bagaimana usaha kerasnya membujuk kedua orang tuanya demi ikut camping ini. Rasanya sangat sayang jika harus melewatkan satu kegiatan. Apalagi api unggun acara yang sangat dinanti bagi seluruh peserta jika diadakannya camping.
"Masih lama acaranya?" Tanya Kinta kepada Zaskia yang duduk disebelahnya.
"Sebentar lagi mungkin. Kenapa Lo ngantuk banget?"
"Ngantuk parah, Zas. Nggak bisa tidur gue."
"Tidur aja bentar ntar kalo udah siap acaranya gue bangunin." Usul Zaskia. Kinta tak henti-hentinya menguap.
"Nggaklah. Ntar kalo gue dibagunin susah malah ditinggal." Jawabnya terkekeh sumbang.
Kinta memejamkan matanya sebentar, agar bisa mengurangi rasa kantuknya. Namun saat matanya terbuka kembali, Kinta seperti melihat dia. Iya dia sosok yang sangat Kinta ingin lihat.
"Raga.." Kinta menggeleng tak percaya. Tak mungkin dia ada disini. Pasti ini hanya halusinasinya saja. Efek dari rindunya kepada dia.
"Mungkin hanya halusinasi. Gak mungkin dia disini." Kinta memejamkan matanya kembali memastikan apa yang ia lihat masih ada atau tidak.
Kosong. Tidak ada dia, berarti benar tadi hanyalah sebuah halusinasi nya saja. Lagipun untuk apa dia ada disini. Jika mungkin iya, Kinta satu sekolah dengannya lagi. Namun semua terkesan tak mungkin. Pasti dia akan lebih memilih satu sekolah dengan kekaksihnya.
"Bengong aja Lo. Ati-ati udah ngantuk bengong lagi entar kesambet loh." Ujar Zaskia.
"Amit-amit jangan ngomong gitulah."
"Yaudah yuk kesana udah mau mulai tuh." Kinta berharap apa yang ia lihat bukanlah kenyataan. Jujur Kinta ingin melihatnya lagi, tapi untuk apa hanya akan membuatnya lebih susah melupakan.
****
Setelah dua hari berlangsung nya, kini waktunya Kinta masuk kesekolah. Hari ini dimulainya masuk SMA HYZERTUS. Kinta melangkah ke papan pengumuman untuk melihat dimana kelasnya, Kinta mencari satu demi satu kertas HVS yang tertempel.
Kinta Maharani Utari X Mipa 1. Kinta mendengus malas, kenapa harus di Mipa 1. Yang rata-rata penghuninya murid berprestasi. Otak Kinta tak bisa bersaing dengan mereka.
"Padahal gue berharap X Mipa 2."
"Hey. Masuk kelas mana Lo Kin." Tanya Shofia datang bersama Ara.
"X MIPA 1."jawabnya malas.
"Satu kelas dong sama Kita." Kinta mendongak menatap papan pengumuman Kembali. Dan benar mereka bertiga satu kelas.
Lumayanlah untuk menemani otaknya yang sangat minim, mereka kan tak jauh beda dengannya.
"Bersyukur gue kita satu kelas. Kalo enggak bisa mati Kutu gue di Mipa 1 sendiri."
"Gue yang apes dapat satu kelas sama Lo berdua." Ujar Ara. Diantara mereka bertiga memang aralah lebih pintar. Setidaknya tidak sebodoh Shofia dan Kinta.
Bukan bodoh lebih tepatnya Kinta dan Shofia malas untuk belajar. Semua manusia tidak ada yang terlahir bodoh bukan, semua sama hanya saja terkadang manusia tidak mau mengasah kemampuan dalam diri masing-masing.
"Tuhan itu adil. Lo kan pinter maka nya diberi temen yang rada gak pinter biar saling membantu." Ucapnya Shofia. Kinta mengangguk setuju sedangkan Ara menghelas nafas lelah.
"Gapapa pahala." Sambung Kinta.
"Bisa aja Lo ngelesnya." Desis Ara. sebenarnya kalo dipikir memang ada untungnya juga untuknya. karena diantara mereka bertiga, ialah yang paling pemalu. sulit baginya untuk akrab dengan orang baru.
"Yaudah yuk, kita cari kelasnya." Ajak Shofia diangguki oleh Ara dan Kinta.
***
suasan kantin begitu ramai, bangkunya pun sudah dipenuhi oleh siswa dan siswi. Kinta, Ara, dan shofia sedari tadi mengelilingi kantin tak ada satu pun meja yang tersisa.
"Mau duduk dimana kita penuh semua gini." Ucap Shofia.
"Makan dikelas aja deh. ya kali kita duduk dilantai."
"Yaudah yuk. tapi bentar gue mau beli minum dulu. Lo berdua ke kelas aja dulu." Ujar Kinta.
"Gak mau ditemenin dulu?." Tanya Ara. pasalnya kantin kini benar-benar ramai.
"Sans gapapa, gue sendiri aja."
"yaudah ntar Lo nyusulnya." Kinta pun lantas melangkah menuju stand minuman.
Kinta mengantri dengan sabar, sambil bermain handphone agar tak bosan. Saat sedang asik berjelajah di dunia maya, kakinya tiba-tiba terasa gatal. ia pun mengaruk kakinya, namun matanya masih fokus menatap layar handphone, hingga ia tak bisa menjaga keseimbangannya.
"Lo gapapa." Tanya cowok dibelakang Kinta. untung saja ada cowok itu dibelakangnya. jika tidak sudah pasti ia terjatuh tadi. belum lagi akan jadi tawanya siswa-siswi.
"thanks." Ujarnya sambil berbalik arah menatap cowok tadi.
syokk...
satu kata yang menjabarkan keadaan hatinya. Lidahnya seakan keluh, keringat dingin membanjiri kening Kinta. Dia orang yang selama ini mati-matian Kinta lupakan.
"R-aga."
"Lo gapapa,Kin." Kinta terdiam. masih belum percaya bahwa dihadapannya kini laki-laki yang sangat ia rindukan.
"Kin. Lo dengar gue."
"eh-ya em makasih." Jawabnya sambil menjauhkan diri sedikit dari Raga.
Jadi benar dihadapannya kini Raga, bukan halusinasi semata. dan yang kemarin yang dirinya lihat diarena camping ternyata benar.
pertanyaan Kinta cuma satu. Kenapa Raga tak satu sekolah dengan Pacarnya, atau mungkin pacaranya juga sekolah disini. Namun ia saja yang belum melihat?.
"Lo sendiri, Kin."
"Iya. Tadi temen gue udah duluan ke kelas."
Rasanya Kinta ingin memastikan apakah pacar dari cowok itu juga ada disama HYZERTUS. Tapi rasanya tak etis jika ia bertanya seperti itu.
"Lo juga sendirian ga?." Tanya Kinta secara halus. jika Raga nantinya menyebutkan bersama sang pacar berarti sudah jelas. Mereka ini satu sekolah lagi.
"Gak temen-temen gue lagi duduk tuh." Ujar Raga sambil menoleh kearah teman-temannya.
Kinta pun turut menoleh kearah yang ditatap Raga. tak ada Oliv disitu. Olivia Margaretha. pacar Raga Sukma Bratasena.
"Pacar Lo. em ma-ksud gue, Lo gak ke kantin bareng?."
"Kita gak satu sekolah." Kenapa rasanya Kinta sangat senang mendengarnya.
Padahal jika dipikir Satu sekolah atau tidaknya Oliv dengan Raga tidak akan mengubah apa pun mereka akan tetap bersama. Mengingat betapa setianya Raga.
Kinta mengigit bibirnya pelan, hatinya berdetak tak beraturan berada didekat Raga. ia takut jika Raga nantinya mendengar dekat jantungnya."Gue duluan. btw sekali lagi makasih."
"Gak jadi beli minum?." Kinta menggeleng keras. Persetan dengan tenggorokannya yang kering. Mengantri minum dengan keberadaan Raga disampingnya membuat jantungnya tak normal!.
"Sudah gak pengen gue." Ujar Kinta lalu berjalan dengan cepat.
"Lo masih gak berubah, Kin." batin Raga tersenyum melihat tingkah Kinta yang salting.