Berada dibarisan paling depan saat upacara adalah hal yang sangat dihindari oleh para pelajar. Harus berdiri tegak, tidak bisa nengok kearah sekitar dan hanya harus fokus kedepan. Dan sial nya Kinta malah berada diposisi ini.
Karena dikelompoknya tidak ada yang mau mengalah akhirnya Kinta lah yang menjadi sasaran. Disamping kiri ada Veona dan disamping kanan ada Zaskia, Kinta berada ditengah-tengah mereka.
Sudah hampir 1jam upacara berlangsung dengan disinari matahari yang lumayan terik. Keringat didahi Kinta pun sudah mulai bercucuran sedari tadi.
"Ini upacara mau sampe berapa jam sih." Ujar Renata kesal. Masih ingat dengan Renata? Iya gadis yang sekelompok dengan Kinta. Gadis cantik berhidung mancung dan bersifat menyebalkan dengan kecerewetan nya.
Gadis itu ada dibelakang Kinta.
"Tau nih. Udah pegel kaki gue." Keluh Zaskia dengan suara rendah.
Hari ini adalah upacara pengumuman pemenang dari penjelajahan logo HYZERTUS kemaren malam sekaligus menginformasikan acara selanjutnya. Dan kelompok Kinta lah yang berhasil terlebih dahulu sampai ke area camping, itu artinya kelempok Kinta pemenang nya.
Dan hari ini akan diumumkan sebagai bentuk penghargaan.
"Kin. Lo masih kuat?." Tanya Veona khawatir melihat wajah pucat Kinta.
Sejujurnya Kinta tipikal orang yang sangat payah dalam hal berdiri terlalu lama. Apalagi cuaca hari ini yang lumayan terik. Ditambah Kinta berada dibarisan paling depan dengan posisi matahari yang menyorot kearahnya. Hanya Shofia dan Ara yang tau tentang kelemahan Kinta.
Jika Kinta satu kelompok dengan Shofia dan juga Ara. Pasti dua gadis itu melarang keras dirinya berada dibarisan paling depan. Sahabatnya itu pasti menempatkan nya dibarisan paling belakang agar terhalau sinar matahari. Namun tak mungkin kan Kinta mengatakan hal ini kepada teman satu kelompok nya.
"Gue gak papa." Jawab Kinta dengan senyuman agar Veona tak khawatir.
"Muka lo pucet banget Kin. Tukar posisi aja nya Lo sama Tiara dibarisan belakang."
"Udah gausah khawatir gue gak papa pok."
"Kenapa Vi?" Tanya Renata. Melihat sedari tadi Veona berbisik dengan Kinta ditambah wajahnya yang khawatir membuat Renata penasaran.
Veona menolehkan sedikit kepalanya kearah Renata. "Bisa Lo panggilin Tiara. Muka Kinta pucet, minta dia supaya gantian posisi sama Kinta."
Renata pun mengangguk lantas menoleh kan kepala nya guna untuk menanyakan ke Tiara.
"Gimana Tiara mau?." Tanya Veona.
"Nggak mau dia. Katanya dia juga gak kuat kalo didepan."
"Ada yang mau tukeran nggak sama Kinta. " Tanya nya pada anak-anak lain.
Mereka pun menggeleng tanda tak mau. Renata mengerang frustasi, melihat wajah Kinta yang semakin pucat membuatnya tak tega. Mau tukeran dengan nya pun percuma karena diposisi dirinya juga masih terkena terik nya matahari.
"Ke uks aja, Kin. Gue temenin gimana." Tawar Zaskia.
"Gak gue mau disini aja. Lo semuanya tenang gue masih kuat kok." Ujar Kinta walaupun tak yakin. Ia paling tak suka dengan aroma khas di uks.
"Bisa nggak sih jangan keras kepala. Muka Lo udah pucet banget." Ucap Viona dengan sedikit emosi.
Veona sangat khawatir dengan kondisi Kinta namun gadis itu masih bilang tidak apa-apa. Bagaimana bisa sedangkan wajahnya pun sudah lelah seperti itu.
Kepala Kinta berdenyut kencang. Padangan mata nya pun mulai buram, kaki nya yang semula berdiri tegak kini mulai goyah. Untung saja Renata dengan sigap menahan tubuhnya jika tidak mungkin Kinta sudah terjatuh.
"Kin. Are you okay?".
Tak sempat Kinta menjawab gadis itu sudah hilang kesadaran. Lantas Renata pun panik, menepuk pipi Kinta dengan pelan. "Kin. Bangun. "
"Panggil anak pmr dibelakang." Peritah Zaskia pada anak-anak lain.
"Kin. Jangan buat gue khawatir dong." Ucap Veona.
Tak lama datanglah anggota PMR. Tubuh Kinta pun diletakan dibrangkar lalu dibawa ketempat Uks.
"Gue temenin Kinta dulu ya. " Ujar Veona diangguki Zaskia dan Renata.
"Semoga Kinta baik-baik aja. "
****
Shofia mendengar suara berisik dari kelompok lain pun menoleh. Memastikan bahwa apa yang sebenarnya terjadi. "Itu kelompok bunga apa sih?." Tanya Shofia pada Bella. Teman satu kelompok nya.
"Kelompok bunga anggrek deh kayak nya."
"Ada yang pingsan woy. " Ujar Gia heboh. Seketika Shofia teringat pada Kinta.
Bukankah kelompok bunga anggrek adalah kelompok Kinta. Dengan hati yang sudah mulai gelisah Shofia pun melihat dengan jelih siapa yang sedang dibopong dibrangkar tersebut.
"Kinta." Benar ternyata orang itu Kinta.
Ingin rasanya ia menyusul namun mengingat sedang berlanjut nya acara upacara akhirnya Shofia urungkan. Namun melihat ada teman satu kelompok Kinta yang ikut membuat Shofia sedikit lega. Setidaknya ada yang menemani sahabatnya itu.
Disisi lain dikelempok Elang. Diki yang tak senaja melihat seseorang yang sedang dipingsan dibopong oleh anggota PMR. "Kok gue nggak asing sama tuh cewek."
"Siapa tuh yang tepar." Ujar Bayu.
"Pucet banget tuh cewek." Ujar Vano sekilas melihat wajah Kinta.
"Kinta. " Batin raga.
"Lo kenapa kin. " Batin seseorang dalam hati.
"Wajar aja tuh cewek pingsan orang panas banget gini. Kalo gue pingsan ada yang gendong nggak ya?" Ucap Bayu. Daripada kakinya pegal karena upacara yang tak kunjung selasai. Lebih baik memakai jurus pura-pura pingsan.
"Ogah gue gotong Lo. Kagak Sudi." Sahut Stefano.
"Ye Lo mah sekali ngomong langsung ke hati. Gini-gini gue teman Lo kali Stef nggak kasihan apa. "
"Pikir Lo gue peduli?"
Raga tak bisa menahan tawanya."Jangan harap Stef kasihan deh sama Lo. Diakan dingin banget coy."
"Siapa tau gitu mau kerjasama dengan gue Kan bisa tuh ngadem diUKS."
"Stef murid berprestasi mana mungkin mau begitu." Benar juga ini mah Bayu salah cari patner.
"Kinta sekolah disini, Ga?" Tanya Diki kepada Raga. Sejujurnya dia begitu kaget saat melihat Kinta ternyata satu sekolah dengannya lagi.
"Lo udah tau?" Tanya Diki lagi.
Raga menggeleng, dia benar-benar tidak tau soal Kinta yang sekolah di SMA HYZERTUS. Raga pikir gadis itu ada diSMA DERLANGGA.
"Nggak tau gue."
"Lo khawatir sama dia?" Terlihat jelas dari raut wajah Diki, Raga bisa melihat itu dengan jelas.
"Nggak."
Omong kosong, Raga tau bahwa Diki sangat mencemaskan Kinta. Terlihat sekali dari raut wajahnya. Namun Laki-laki terus saja mengesampingkan perasaannya.
"Samperin." kata Raga.
"Buat apa?." Jawab Diki tak perduli.
"Hati Lo gak bisa bro, kalau khawatir samperin."
"Jangan sok tau. Dia gak penting dihidup gue."
Bayu yang tak tau menau soal Kinta mengeryit bingung. Bayu memang bukan dari SMP yang sama dengan Raga dan Diki jadi wajar jika dia tak tau Kinta.
"Lo pada kenal sama tuh cewek."
"Teman SMP gue." Jawab Raga seadanya.
"Nama dia siapa tadi?."
"Kinta. Kinta Maharani Utari."
"Cantik, banget bangsattt." Diki mendelik tak terima. Tak suka mendengar Bayu yang secara gamplang memuji Kinta.
"Jangan muji ada yang cemburu." Ujar Raga.
"Siapa?" Bayu hanya memuji kenapa ada yang cemburu, toh benar Kinta itu cantik fakta bukan.
"Lo lihat Bayu, dia tertarik tuh sama dia." Ucap Raga.
"Biarin. Hak Bayu juga mau suka sama siapa." Ujar Diki berusaha mengontrol rasa cemburunya.
"Kalo suka kejar, gapai dia. Sebelum keduluan orang lain." Ucap Raga.
"Walaupun hati gue sakit." lanjutnya dalam hati.
Diki memang ingin sekali melihat keadaan Kinta, namun ada yang lebih penting dari itu. Ada perasaan yang harus dia jaga. "Gue nggak khawatir."
****
Setelah upacara selesai Shofia dan Ara langsung menuju ke UKS untuk mengecek keadaan Kinta. Dan tak lupa Ara juga membawakan s**u coklat hangat untuk Kinta agar lebih enakan.
Sedangkan Veona gadis itu sudah kembali ke arena camping atas paksaan dari Kinta tentunya. Karena jika tak dipaksa Veona masih tetep kekeh menemani nya. Kinta merasa tak enak hati dengan Veona, pasti dia juga udah lelah menemaninya.
"Lo gak papa, Kin."
"I'm oke Shofia. "
"Oke apaan muka Lo masih pucet gitu." Ujar Shofia sambil duduk disisi ranjang Kinta.
"Nih minum dulu biar enakan." Ara memberikan s**u coklat hangat yang sempat ia beli.
"Lagian udah tau Lo gak kuat berdiri lama, baris dibelakang kek." Omel Shofia.
Kinta terkekeh, sahabat nya ini memang sangat care padanya. Kinta bersyukur telah bertemu mereka berdua.
"Nggak enak gue bilangnya."
"Jadi orang jangan nggak enakan." Ucap Ara. Salah satu sikap Kinta yang tak Ara sukai, Kinta tipikal orang yang mengalah sampai dirinya pun tak pernah ia nomersatukan.
"Biar gue yang ngomong deh sama kelompok Lo."
"Jangan!. " Tolak Kinta. Tak enak saja jika teman nya ikut campur cuma masalah ini.
"Pokoknya lain kali nggak boleh baris didepan." Entah sudah berapa kali Ara mengingat kan Kinta. Sungguh Ara juga khawatir dengan kondisi Kinta yang lumayan lemah.
"Siap Bu komandan." Ujar Kinta hormat layaknya prajurit.
"Permisi, ada titipan buat yang namanya Kinta." Ujar Kakel PMR bertugas, Shofia lantas mengambilnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Dari siapa kak." Tanya Ara.
"Gak tau dari siapa. Dia tidak menyebutkan nama."
"Ciri-ciri orangnya gimana kak?." Tanya Kinta. Sungguh ia sangat penasaran dengan orang pengirimin bingkisan tersebut.
"Tinggi,berkulit putih, makek kalung agama Kristen gitu." Kinta menggeleng tak tau. Tinggi, kulit putih, sangatlah banyak diSMA HYZERTUS. Untuk kalung udah jelas seseroang itu penganut agama Kristen.
"Yaudah kak makasih ya." Ujar Kinta. Kakel itu pun mengangguk lantas keluar dari ruangan berbau obat-obat itu.
"Mungkin dari fans Lo kali." Cemoh Ara. Waww..baru satu hari jadi anak SMA HYZERTUS Kinta sudah mempunyai fans.
"Yakali, Ra. Gue punya fans." Pikir Kinta tidak masuk akal.
Kinta pun membuka bungkusan plastik itu terdapat teh hangat dan juga bubur ayam dan sebuah notes kecil yang terselip diseterofom.
Dimakan ya..dan cepet sembuh.
Simpel hanya satu kata yang tertulis.
"Cie.. fans Lo perhatian juga ya."
"Yaudah Kin. Makan dulu hargain pemberian orang itu." Titah Ara. Sebenarnya Kinta lagi tak nafsu makan, perutnya masih kerasa tak enak dan juga tidak selera makan.
Tapi Kinta juga tak tega jika tidak memakannya. Sangat tidak menghargai pemberian orang tersebut. Kinta mencoba sedikit demi sedikit agar bisa langsung ditelan saja. Baru dua suap ia baru menyadari kenapa bubur nya tanpa kecap?. Apa orang itu tau kalau dia tidak suka kecap.
Hanya 3orang yang tau kalau Kinta, anti dengan kecap. Tentu saja mereka Shofia dan Ara. Satu orang lagi dia...
Tak mungkin dia. Kinta menghilangkan segala asumsi dikepalanya. Dia tidak ada disini bagaimana mungkin pengirim makan ini dia. Mungkin saja hanya kebetulan pedangang buburnya lupa memberi kecap.
"Hari ini acaranya apa?." Tanya Kinta untuk mengalihkan pemikiran sang pengirim makanan.
"Acara baksos dengan kampung disini." Jawab Ara.
Acara hari ini sudah diumumkan oleh ketua Osis tadi. Iya kak Reyhan masih ingat dengan si tampan?. Camping ini diselenggarakan bukan hanya mengenal satu sama lain juga untuk membatu warga sekitar dipuncak. Seperti membagikan berbagai macam sembako, membantu tenaga, dan juga menyumbangkan ilmu ke anak-anak kecil disini.
"Kelompok Lo bagian apa Ra."
"Bantu ilmu ke anak-anak kecil, Kin."
"Kalo kelompok gue sih, membagikan sembako." Sahut Shofia.
"Ntar gue tanya deh sama kelompok gue dapet bagian apa." Memang tugas dibagikan untuk masing-masing kelompok berbeda belum tentu sama.
"Lo mau ikut, izin ajalah baru juga mendingan." Cegah Ara melarang.
"Tenang gue udah gapapa kok. Gue kan juga mau bantu, Ra." Oke kalo sudah gini mau dilarang seberapa keras pun pasti Kinta akan tetap ikut. Mengingat betapa keras kepalanya gadis itu.
"Gue seneng lihat Lo udah baik-baik aja."