“Astaga sudah berapa lama aku tidak berbenah apartemen ini?” tanya Shafia pada dirinya sendiri melihat tiga tempat sampahnya penuh semua, setelah satu minggu tidak sempat merapikan apartemennya akhirnya Shafia memutuskan untuk merapikan apartemennya.
Tanpa menunggu lama Shafia segera menarik ketiga kantung itu untuk ia buang ke luar.
“Dingin banget, kayanya bakalan hujan.”
Shafia mengusap tubuhnya berharap ada kehangatan yang timbul dari pergerakannya, dan berlari kecil menuju unitnya.
Sangking buru-burunya, Shafia tidak sengaja hampir menabrak seseorang dan untung saja ia memiliki refleks yang baik sehingga tidak perlu menimbulkan kekcauan di tengah malam begini.
“Maaf saya tidak sengaja, Bapak? Pak Rizfan tinggal di lantai ini juga?” tanya Shafia mendapati laki-laki itu mengenakan workout jacket serta celana pendek yang sering ia jumpai ketika ia di tempat Gym, bahkan rambut laki-laki itu tampak sedikit basah tak lupa kaca mata yang menambah ketegasan pada wajah pria itu.
“Siapa bapak kamu? Seingat saya, saya belum pernah menikah dengan siapapun kenapa sudah memiliki anak sebesar kamu?” Shafia mengerjabkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
“Baiklah saya minta maaf hampir menabrak anda.” Shafia nyengir kecil mencoba tersenyum karena bagaimanapun ia akan bertemu dengan laki-laki itu kedepannya.
“Sayangnya saya tidak tertarik berdamai dengan orang yang sudah memulai masalah dengan saya lebih dulu, saya cukup pendendam tapi kamu tenang saja saya cukup profesional dan tidak mungkin memecat kamu dari kantor selagi tidak merugikan dan masih berguna untuk kantor.”
“Satu lagi, saya juga tidak perduli dengan hubungan asmara kamu selagi masih bisa diam dan
tidak tercium di kantor.”
Shafia kesulitan menalan saliva mendengar kalimat terakhir dari Rizfan.
***
“Mau ke mana kamu, Rizfan?”
Tak berniat menjawab pertanyaan ibu tirinya, laki-laki berusia 28 tahun itu terus saja melangkahkan kakinya dengan sebuah koper di tangan kirinya.
“Kalau orang tua bertanya itu dijawab, mau ke mana kamu malam-malam begini menenteng koper?” Rizfan mengalah, menoleh ke samping ke arah papanya.
“Randi sudah menemukan apartemen yang ku inginkan, jadi aku akan tinggal di sana selama aku bekerja.”
“Kenapa harus tinggal di apartemen? Di sini pun kamu memiliki kamar sendiri.”
“Aku memang tidak ingin tinggal di sini, lagi pula aku tidak yakin istri baru papa nyaman dengan keberadaanku di sini, kalau gitu aku pergi dulu.”
“Rizfan! Papa belum selesai bicara, Rizfan!” teriak Wira menghentikan makan malamnya hendak menyusul anak laki-lakinya.
“Biar aku saja yang nyusul Rizfan, mas duduk aja.”
Tanpa menunggu respon dari suaminya Agatha sudah lebih dulu berjalan menyusul Rizfan.
“Rizfan.”
Tubuh laki-laki itu menegang sejenak ketika tangan halus nan lembut itu meraihnya.
“Rizfan, kamu belum makan malam kan? Lebih baik masuk dulu dan kita makan malam bersama, hari ini kamu baru sampai dari Singapura, papa kamu juga pasti rindu sama kamu.”
Rizfan berbalik menatap permpuan yang berusia satu tahun lebih muda darinya.
“Kamu bisa lepas tangan aku? Ibu tiri?”
***
Usai menutup pintu Apartemennya Rizfan segera masuk ke dalam kamarnya membuka jaket serta celana pendeknya, lalu menyambar handuk yang ada dan bergegas ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang sudah sangat lengket usai melampiaskan kekesalannya pada aneka jenis besi yang ada di tempat gym.
Gerakan meremas pada rambut hitam legamnya melambat mengingat tingkah Shafia barusan, persis seperti kucing tersiram air, padahal tadi pagi perempuan itu tampak seperti singa yang siap menerkam siapa pun yang berani mengganggu bayinya.
“Kenapa aku jadi memikirkan dia?” Rizfan menggelengkan kepalanya dan mempercepat mandinya agar bisa lekas istirahat, mengingat besok pagi ia akan disibukkan dengan segudang pekerjaan yang sudah menanti.
Aku ingin kita bicara.
Rizfan mengabaikan pesan dari Agatha, dan segera mencari kontak Randi lalu mendialnya.
“Aakk uu lagi sibuk sia lan! Akh.” Rizfan menjauhkan ponselnya mendengar suara berat Randi yang sedang terputus-putus.
“Bisa kah kau menyingkir dari perempuanmu sejenak, Ran? Telingaku sakit mendengar desahan kalian yang menjijikkan itu,” sambar Rizfan usai mengenakan piyamanya.
“Kau yang mengganggu kesenanganku, bicara lah dan abaikan apapun yang kau dengar.”
Rizfan tak ambil pusing dengan hal itu lalu mengambil tas hitam miliknya dan mengeluarkan tab miliknya.
“Aku di sini hanya setengah tahun dan segera kembali ke Singapura, jadi kau bisa menahan milikmu untuk sementara ketika sewaktu-waktu aku butuh bantuanmu.”
“Kau gila? Mana bisa aku menahannya selama itu? lagi pula aku pun tidak yakin kau, akh biihssa.”
“Jangan mengeluarkan suara menjijikkan itu, aku hanya bercanda mengatakan untuk menahannya tapi yang pasti dari hari senin sampai jumat kau dilarang menemui perempuan mana pun karena mungkin aku akan lembur.”
Meski mulutnya berbicara, tangannya tak berhenti menandai banyak hal pada tab miliknya.
“Ku tutup,” tukas Rizfan memotong segala macam protes yang keluar dari mulut Randi.
“Ah satu lagi cari tahu siapa perempuan yang bernama Shafia Auliaditira, aku tunggu hari senin sudah ada di atas meja ku.”
“Sialan kau bang … ” Rizfan mematikan sambungannya sepihak dan menutup tabnya lalu bergegas mengambil buku kecil yang tadi siang ia pungut.
“Kenapa masih ada orang curhat di buku seperti ini? Disaat semua orang akan mengumbar masalahnya di media sosial, perempuan itu menyimpan semuanya di buku?” tanya Rizfan membolak-balik buku yang ia pungut sebelumnya.
***
“Apa yang kau lakukan pagi-pagi di sini?” tanya Rizfan datar pada Agatha yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya.
“Bukannya sudah aku bilang, aku ingin kita bicara.” Rizfan tak perduli ia terus berjalan melewati Agatha.
“Kau belum sarapankan? Aku sudah membuatkan sarapan kesukaan kamu sebelum ke sini, kalau gitu kita bisa sarapan bersama.”
Rizfan terdiam sejenak, ingatannya berputar pada beberapa tahun silam, momen dimana perempuan itu sering memasakkan apa pun untuknya. Dengan memori indah yang masih berputar dalam benaknya, Rizfan berbalik menatap sosok yang hanya memiliki tinggi sebahunya dan di saat yang sama Rizfan menangkap sosok Shafia sedang menenteng kresek putih yang entah apa isinya.
“Sayang, kenapa lama sekali? Sudah dapat, apa yang mau kamu cari? Lekaslah masuk aku sudah lapar, tidak sabar makan masakan kamu.” Tanpa menunggu lama Rizfan segera menarik pinggang Shafia.
“Pak!” sentak Shafia berjalan mundur, ia bingung dengan tingkah Rizfan yang tiba-tiba
merangkul pundaknya nyaris memeluknya.
“Saya minta tolong kamu diam sebentar saja.” Rizfan berbisik pelan.
“Berapa kali aku bilang hmm? Jangan panggil aku bapak kalau kita sedang di luar kantor, Sayang? Atau kamu memang sudah tidak sabar untuk aku jadi bapak anak kita, hmm?”
Tidak memperdulikan penolakan dari Shafia, Rizfan tetap menyeret perempuan yang baru dua hari ini ia temui masuk ke dalam apartemennya dan mengabaikan keberadaan Agatha.
“Pak, jangan kurang ajar yah main bawa masuk ke dalam sini, saya bisa laporin anda ke pengelola apartemen!” sentak Shafia menginjak kaki Rizfan.
“Satu langkah kaki kamu keluar dari apartemen ini hubungan kamu dengan Radhi bakalan tersebar.” Praktis Shafia terdiam yang membuat Rizfan tersenyum senang.
“Bukannya bapak sudah berjanji kalau tidak akan menyebar apapun selagi saya dan Radi tidak merugikan kantor? Kenapa sekarang berubah?”
Rizfan bersedekap d**a dan melangkah ke arah Shafia yang tentu saja membuat perempuan itu ciut dan merasa tertekan hingga punggungnya menghamtam tembok.
“Anggap saja kamu sedang membalas kebaikan saya yang satu itu dengan membantu saya untuk tetap di sini, setidaknya sampai satu jam kedepan.”
Merasa posisi wajah mereka yang terlalu dekat, Rizfan mundur beberapa langkah.
“Silakan pilih! Kamu ke luar dan hubungan kamu bersama Radi terbongkar atau tetap di sini maka aku tetap diam.”
Rizfan tidak berharap banyak bila Shafia memutuskan untuk pergi, tapi setidaknya ia bisa mengulur waktu sampai Agatha bisa pergi dari sini.
“Kasih saya penjelasan yang jelas mengapa saya harus di sini?”
Rizfan menghela napas menunjuk pintu depan.
“Saya sedang menghindari perempuan tadi, puas?” Shafia mengangguk ragu.
“Oke saya bakalan di sini, tapi, tepati janji bapak untuk tidak membongkar hubungan kami, dan ini terakhir kalinya saya membantu bapak seperti ini.” Rizfan mengangguk pelan mengusap pelan rambut Shafia yang tentu langsung di tepi oleh Shafia.
Usai mengatakan hal tersebut Rizfan beranjak meninggalkan Shafia seorang diri.
“Lho bapak mau ke mana? Terus saya harus apa selama satu jam ini?” Praktis Shafia mundur beberapa langkah ketika Rizfan berhenti mendadak, hampir saja wajahnya menabrak punggung lebar bosnya satu itu.
“Saya mau mandi, kamu bebas ngapain aja asalkan di sini, atau kalau mau menenami saya mandi, dengan senang hati pintu kamar saya terbuka lebar.” Rizfan tersenyum geli melihat raut terkejut, marah sekaligus takut dari Shafia.
“Saya hanya bercanda jangan terlalu serius, wajah kamu tidak enak dilihat.”
Kali ini Shafialah yang dibuat tak percaya melihat sosok dingin dan tidak berperasaan itu tersenyum, bahkan Shafia tidak bisa bohong senyum bosnya satu itu manis sekali.
Menyadari tingkah anehnya barusn, Shafia segera menggelengkan kepalanya, apa-apaan barusan dirinya mengatakan laki-laki itu manis? Sepertinya otaknya geser.
“Kalau kamu bingung mau ngapain, tawaranku masih sama, pintu kamarku tidak akan ku kunci.”
“Pak?!”
Bukh
Shafia melempar bantal sofa ke arah Rizfan, namun laki-laki itu lebih dulu menutup pintu yang membuat bantal itu hanya berakhir menghantam pintu kamar laki-laki itu.