“Terima kasih.” Shafia menipiskan bibirnya pada barista usai menerima kopi pesanannya.
Pagi ini Shafia menyambut hari dengan segelas kopi sebelum masuk jam kerja dengan rutinitas akhir bulan yang sangat hectic.
Bukh!
Tanpa sengaja Shafia menumpahkan kopi yang belum sempat ia cicipi sudah mendarat di bajunya ulah seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Aduh, panas-panas! Punya mata nggak sih? Lihat nih saya ketumpahan kopi! Punya mata itu digunakan dengan benar jangan cuma jadi pajangan aja!” sungut Shafia melihat kemejanya ketumpahan kopi panas.
“Sebenarnya kamu yang lebih dulu menghalangi jalan saya, tapi lupakan saja, saya sedang buru-buru, kalau kamu tidak keberatan kita bicara lain kali.” Laki-laki itu menyodorkan kartu tanda pengenalnya, namun Shafia tak perduli, ia masih berusaha membersihkan kemejanya yang ketumpahan kopi.
“Emang situ doang yang buru-buru? Saya juga mau kerja, masih pagi juga udah bikin mood buruk aja, saya mau anda tanggung jawab!”
“Saya pasti akan tanggung jawab, tapi saat ini saya sedang buru-buru jadi saya tidak bisa tanggung jawab untuk mengganti kemeja kamu, saya ganti dengan ini saja, seandainya kulit kamu melepuh, kamu bisa hubungi nomor yang ada di kartu itu, saya akan bayar berapapun perawatan lukanya.”
“Saya tidak berminat dengan uang anda! kalau memang anda merasa menyesal sudah mencelakai orang lain lakukan dengan benar, bukan menyelesaikan segala sesuatunya dengan uang, saya tidak butuh uang anda!” tukas Shafia menabrakkan bahunya pada laki-laki itu dan memberikan uang pemberian laki-laki itu pada orang random.
***
“Untung ada cadangan kemeja, mana lumayan perih lagi, bangke tuh orang! Udah nabrak sampai celakain orang lain nggak ada rasa bersalahnya, bukannya minta maaf baik-baik, berasa hebat gitu bisa bayar kesalahan pakai uang?” Shafia kembali mengoceh sekeluarnya dari bilik toilet sembari merapikan kemejanya yang sedikit berkedut.
“Kenapa lagi sih Shaf? Masih pagi lho ini udah ngomel-ngomel aja, macam mak-mak kekurangan jatah bulanan tahu nggak?”
“Nggak lucu yah Dis! Aku lagi apes kamu jangan nambah-nambah aku mumet deh, mending diam.”
“Ups, yah sori emang kenapa sih?”
Adisti sudah duduk di sebelahnya bersiap mendengarkan keluhannya.
Shafia menghela napas kasar meredakan kekesalannya.
“Apes banget aku, pagi-pagi udah ketumpahan kopi panas, untung nggak sampai melepuh, mana tuh orang nggak ada rasa bersalahnya, bukannya minta maaf malah ngide ngasih uang, yah aku buang di depan dia, kesal banget. ”
Seketika Adisti terkekeh mendengar keluhan Shafia yang menurutnya lucu, Shafia memang sedikit sensitif bila menyangkut uang, dalam hal ini ia paling anti yang namanya sogok-menyogok, dianya saja sudah kaya dari lahir, kerja juga bukan untuk mencari duit melainkan kabur dari rumah, cukup bernapas saja rekeningnya tetap gembung.
“Wah, salah nyari lawan tuh orang, eh laki-laki atau perempuan yang nabrak?”
“Laki-laki, tengil banget sumpah.”
Shafia yang masih kesal dengan inseden yang menimpanya semakin keki melihat Adis malah tersenyum.
“Kamu kenapa malah senyum-senyum gitu?”
“Salah mulu dari tadi perasaan, lagian senyum untuk sesasama itu terhitung ibadah kali, eh tapi cowoknya ganteng nggak?”
“Enggak tuh, lagian kalaupun ganteng tapi nir etika buat apa?”
Adisti mengangguk saja, tidak ingin mencari ribut dengan Shafia.
“Shaf, ponsel kamu kedip tuh, dari ayang kayanya.”
Mendengar itu Shafia segera mengambil ponselnya dan benar saja pesan itu dari Radhi yang memintanya untuk ia segera datang ke ruangannya.
“Aku pergi bentar, owh iya, Dis aku minta tolong print laporan bulanan boleh nggak? Punya aku kotor ketumpahan kopi soalnya.” Shafia menunjuk laporannya yang sudah masuk tong sampah.
“Boleh, kirim aja filenya ntar aku bantu print, sekalian caper sama mas Robi, kali aja dilirik buat dibawa pulang.”
“Yah udah terserah kamu, aku duluan yah.”
“Iya bawel udah sana.”
***
“Dis! Di sini.” Shafia melambaikan tangannya ketika melihat Adisti yang celingak-celinguk mencarinya.
Saat ini Shafia dan beberapa rekan lainnya sedang bersiap menunggu tamu agung, calon pimpinan perusahaan yang datang berkunjung dan menurut rumor yang Shafia dengar beliau akan mulai bekerja dalam beberapa hari ke depan.
“Tumben kita semua di suruh ke sini, ada apa?” tanya Adis mengenakan ID Cardnya.
“Kata Radhi kita bakalan kedatangan calon penerus perusahaan, anak pak Wira. Tapi siapa namanya aku juga kurang tahu,” ujar Shafia membantu merapikan rambut rekan kerjanya yang sedikit berantakan.
“Kayanya aku tahu deh, pak Rizfan-Rizfan itu, bukan? Kemarin sih memang sempat ada gosip tentang dia.”
Shafia yang memang tidak tahu apa-apa hanya mengangkat bahunya tak acuh.
“Mungkin, aku juga kemarin sempat dengar tapi nggak tahu,” ujar Shafia ketika melihat serombongan yang baru tiba dan mengambil tempat di hadapan mereka semua.
Awalnya Shafia hanya memilih diam saja tanpa berniat melihat para petinggi kantor yang kebanyakan sudah lama ia kenal melalui papanya jauh sebelum ia melamar di kantor ini, tapi sepertinya hal itu tidak berlangsung lama ketika matanya menangkap sosok yang tadi pagi membuat moodnya berantakan.
“Shaf, yang pakai baju biru laut itu bukan? Eh kamu kenapa keringatan gitu? Kamu sakit?”
”Hah? Owh enggak papa.” Shafia mencoba tetap tersenyum, namun hatinya tetap gelisah.
“Kamu terlihat panik Shaf, ada apa?”
“Nanti aku cerita, sekarang kamu diam dulu.” Shafia berusaha tetap tenang meski sangat sulit.
Shafia menggeleng pelan berusaha mensugesti dirinya, semua akan baik-baik saja, namun hal itu tak berlangsung lama, jantungnya kembali berdegup kencang ketika matanya bersitatap sepersekian detik dengan laki-laki yang bernama Rizfan Prawira, laki-laki yang tadi pagi menjatihkan kopinya.
Buru-buru Shafia menoleh ke arah lain ketika laki-laki itu menyampaikan pidatonya, sepertinya Shafia benar-benar harus menyerahkan surat pengunduran dirinya secepatnya.
“Shaf, muka kamu kenapa merah gitu? Kamu beneran baik-baik aja?”
Jika tadi jantung Shafia hanya berdegup lebih cepat kini tidak lagi, melainkan hendak keluar dari sarangnya ketika anak bosnya itu berjalan ke arahnya, Shafia bolak-balik menelan paksa air liurnya yang terasa menyangkut di tenggorokan.
Shafia benar-benar mematung ketika netra yang tadi pagi ia tatap penuh intimidasi berdiri tepat di hadapannya. Seandainya saja ia tahu laki-laki itu adalah calon atasannya, mungkin ia tidak sekurang ajar itu, meskipun ia tidak membenarkan sikap laki-laki itu namun Shafia bisa lebih bijak lagi, karena kalau dipikir kembali, laki-laki itu tidak sepenuhnya salah.
“Shaf? Jangan bengong gitu, itu tangan pak Rizfan mau sampai kapan dianggurin? Masih niat kerja nggak sih, kamu?” bisik Adisti menyadarkan Shafia dari lamunannya.
Benar saja tangan laki-laki itu sudah terulur ke arahnya, cepat-cepat Shafia menerima uluran tersebut namun pak Rizfan lebih dulu menarik tangannya dengan beralih mengambil Id Card miliknya.
“Shafia Auliaditira, senang kita bisa kembali bertemu.” Shafia tahu betul arti sebenarnya dari kalimat tersebut, sepertinya ia harus menyiapkan surat pengunduran dirinya sewaktu-waktu.
“Mati aku!” tukas Shafia memegang dadanya setelah Rizfan kembali ke posisinya usai menyalami semua orang yang menghadiri pertemuan ini.
“Mati gimana maksud kamu?”
“Dia laki-laki yang nabrak aku tadi pagi, duh mana tadi aku bicaranya songong gitu, gimana dong, Dis?” tanya Shafia panik, untuk pertama kalinya ia merasa takut pada orang lain selain pada dosen pembimbingnya dulu yang begitu killer dan tidak kenal ampun.
“Gelap! Gelap sih ini, kayanya untuk beberapa waktu kita harus berjarak, aku masih butuh uang dari kantor ini shaf.”
“Sialan kamu!”
***
Uhug!
“Kamu serius sayang? Laki-laki itu, Pak Rizfan?” tanya Radhi yang tidak sengaja menumpahkan minumannya sangking kagetnya mendengar pernyataan dari kekasihnya.
“Iya Radhi, ngapain aku harus bohong untuk hal sebesar itu? Aku udah nggak punya muka lagi kalau harus bertemu dengan pak Rizfan di kantor, apa aku ajukan resign aja yah?” tanya Shafia
memainkan kukunya.
Melihat kekasihnya yang sedang dilanda ketakutan, Radhi menarik Shafia ke dalam dekapannya, memberi kekuatan untuk kekasihnya, sembari sesekali mengecup puncak kepala Shafia penuh rasa sayang.
“Udah, nggak usah terlalu dipikirin, aku yakin pak Rizfan tidak akan mempermasalahkan hal itu. Dia orang yang sangat profesional.”
“Aku juga berharapnya gitu, duh malu banget sumpah.” Shafia memukul beberapa kali kepalanya.
Hal itu membuat Radi gemes, tidak biasanya kekasihnya panik hanya seperti ini. Tidak tahan
melihat Shafia yang seperti itu Radhi segera menarik tangan kekasihnya.
“Kepala kamu nanti bisa benjol kalau kamu pukul seperti itu terus. Udah, enggak usah kamu pikirin aku bakalan maju belain kamu kalau pak Rizfan sampai berani semena-mena sama kamu.” mendengar itu Shafia mengangguk saja, meski ia tidak tahu seperti apa nasibnya setelah ini.
“Radhi,” panggil Shafia yang masih berada dalam dekapan laki-laki itu.
“Apa, Sayang?” bibir Shafia secara otomatis terangkat mendengar kalimat tersebut.
“Besok aku pulang ke rumah papa, mungkin tiga harian di sana.”
“Oke, kamu bawa mobil sendiri atau mau aku antar? Besok aku ada urusan dekat dengan rumah orang tua kamu, jadi bisa sekalian bareng aku kalau kamu mau.” Shafia tahu Radhi sedang hati-hati dengan ucapannya.
“Aku bawa mobil aja, kangen juga nyetir jauh sekalian nostalgia awal-awal kerja pulang pergi tiap hari.”
“Yah sudah kalau gitu, jangan lupa kabari aku.”
“Pasti.” Shafia tersenyum lebar, mengalungkan tangannya ke atas leher kekasihnya.
“Mau apa hmm?” tanya Radhi menggoda kekasihnya.
“Enggak mau apa-apa, cuma kangen aja kaya gini.”
“Tapi aku kangennya yang lain.” Mendengar itu Shafia hanya tersenyum miring pada kekasihnya.
“Gak ada yah Rad! Kerjaan aku masih banyak.” Shafia segera menarik tangannya yang membuat Radhi tersenyum.
“Makanya jangan mancing-mancing, kamu kira aku kuat enggak apa-apain kamu kalau kamu semanja ini, hmm?” Shafia menolehkan wajahnya ketika Radhi mencolek dagunya.
“Aku balik dulu, gak mau ada gosip aneh-aneh kalau lebih lama di sini.”
Shafia tersenyum kecil melihat Radhi yang sedikit merengutkan dahinya.
Muach!
“Shafia!”
Shafia berlari kecil menghindari Radhi yang kesal dengan tingkahnya yang dengan iseng mengecup singkat ujung bibir kekasihnya.
“Pak.” Shafia tersentak melihat sosok Rizfan yang sudah berdiri tepat di depan ruangan Radhi.
“Bisa kamu minggir? Saya ingin masuk.”
“Hah? Ah? Yah, silakan.” Shafia segera bergeser memberikan jalan pada Rizfan.
“Shafia.”
“Iya pak?”
“Saya baru tahu kamu memiliki selera parfum seperti pria.”
“Hah?”
Tak ada jawaban. Shafia mengendus bajunya dan ia merasakan kesulitan menelan ludahnya ketika ia menghirup aroma Radhi di kemejanya.