ALone....

3021 Words
Adriana menemui Mark di Napoli. Berharap dia bisa mendapat kabar dimana keberadaan Adrian. Setelah berbulan-bulan Adriana mencari Adrian, tapi nihil. "Apa kau sudah menemukan dimana Adrian, Mark." Tanya Adriana ketus. "Aku sudah berusaha mencarinya, tapi aku tidak menemuinya honey." Mark menggenggam erat jemari Adriana. Adriana menangis sesengukan, "kau telah menyakiti ku Mark." Tangis Adriana. "Honey, aku tidak berniat ingin melukai putra kita. Adrian itu anak ku honey, aku sangat mencintainya." Pujuk Mark. Adriana menatap tajam mata Mark, termakan oleh rayuan Mark. Tanpa mereka sadari Marisa muncul disela-sela kebersamaan mereka. "Sampai kapan kau akan meneruskan perselingkuhan ini Adriana." Sinis Marisa. Bola mata Mark membesar seketika, melihat kehadiran Marisa. "Marisa, a a aku hanya ingin menanyakan Adrian." Jawab Adriana gugup. "Hentikan kejahatan kalian, sebelum semua terbuka luas diluar sana. Kalian rela mengorbankan semua. Kalian kejam." Marisa menatap benci pada Adriana dan Mark. "Apa yang kau katakan Marisa, lebih baik kau masuk, atau pengawalku akan menyeretmu." Bentak Mark. "Kau bela wanita jalang ini Mark, apa kau pernah mengatakan siapa dirimu pada Fene.? Ingat Mark, aku akan menemui Fene dan menceritakan semua kejahatanmu padanya." PLAAK.... Wajah Marisa memanas, ada setetes buliran bening yang jatuh dipipi Marisa karena Mark menamparnya. "Masuuuuuk...." Teriak Mark sembari menunjuk. Pengawal mendekati Marisa. Sambil memegang pipinya Marisa berlalu meninggalkan Mark dan Adriana. Marisa menghubungi nomor telfon Fene, tapi nihil. Marisa menghubungi Alberth, orang bayaran Edward, meminta nomor Fene atau anak-anak Edward. "Mister, bisa aku berbicara pada salah satu anak Edward.?" Pinta Marisa seraya memohon. "Maaf nyonya, saya tidak bisa memberi apapun padamu." Tegas Alberth. "Ini menyangkut keselamatan putri ku Fene Claire Zurk." Pujuk Marisa. "Hmmmm... Aku akan segera menghubungimu nyonya." Alberth menutup telfonnya. Alberth menghubungi Edward, memastikan pada Edward dengan alasan keselamatan. "Tuan, Marisa meminta waktu padaku untuk bertemu putrinya Fene.? Apakah saya harus mengatur jadwalnya.?" "Lakukan, atur jadwal mereka di Berlin, pastikan Marisa sendiri. Aku menunggu disini." Tegas Edward. "Baik tuan." Alberth menutup telfonnya, menyambungkan ke Marisa. "Nyonya, kami akan menunggu anda di Berlin, tanpa pengawalan. Saya menunggu lusa pukul 10.00 waktu Berlin." Tegas Aberth. "Baik mister, saya akan datang tepat waktu. Terimakasih." Marisa merasa lega, karena akan bertemu putrinya. Edward meminta Bram segera ke Berlin. Karena Adrian telah siuman dan ingin bertemu para sahabatnya. "Wooooooow.... Welcome to Berlin guys..." Teriak Bram. "Wooooow... Amazing." Senyum Kevin lirih. "Hmmmm..." Bram melirik sinis Kevin. "Apa kita akan membawa uang sebanyak ini melalui darat Bram.?" Fene menatap Bram. "Nggak dong sweety, pengawal daddy sedang dalam perjalanan untuk menjemput semua ini." Bram mengusap manja kepala Fene yang berada di depannya. "Vin, atur penerbangan kita ke Frankfurt, dan siapkan armada menuju Berlin." Ujar Bram. Kevin mengeluarkan hp melakukan sesuai perintah Bram. Beberapa hari di Swedia, membuat mereka kelelahan dan frustasi. Fene terus menanyakan Adrian pada Bram. Membuat Bram merasa sedikit kesal. "Apa kamu masih mengenang Adrian Fen.?" Tanya Bram serius malam ini. "Why, kenapa kamu tiba-tiba sangat meresahkan aku Bram.?" Tanya Fene sinis. "Hmmmm... Aku hanya ingin kamu memikirkan ku saja Fen." Rayu Bram. Fene hanya menghembuskan nafasnya sedikit kesal dengan pertanyaan Bram. "Apa kamu tidak percaya padaku Bram.?" Fene menatap sinis Bram. "Hmmmm.... Sepertinya, karena hatiku belum sepenuhnya bisa menerima perlakuan Adrian padamu Fen." Jujur Bram. "Seharusnya kamu mencurigai Kevin, bukan aku." Fene berlalu meninggalkan Bram. Satu sisi Fene meninggalkan Bram karena merasa kedinginan. Suhu saat ini mencapai -5, membuat nafas Fene terasa sesak. Fene mencari obatnya, menarik selimut, berharap besok adalah hari yang indah untuknya. Bram hanya termenung, tanpa meneruskan perdebatannya, merasakan ketidaknyamanan Fene, akan perbuatannya. Adrian... "Dad... Terimakasih sudah mau merawat ku." Adrian membuka matanya pagi ini. Setelah beberapa hari mengalami koma, keadaan Adrian mulai membaik. Edward selalu menemani Adrian, memberi yang terbaik untuknya. "Ya... Sahabatmu akan menemui hari ini." Senyum Edward mendekati Adrian. Adrian tersenyum. Marisa menghubungi Alberth begitu tiba di Berlin. Alberth memberi arahan menentukan titik temu. Fene tidak mengetahui akan dipertemukan dengan Marisa hari ini. Setibanya mereka di Berlin Alberth membawa Fene untuk menemui Marisa disuatu tempat, sementara Bram dan Kevin mengikuti dari belakang. "Kamu tunggu disini nona, seseorang akan menemui mu." Alberth meninggalkan Fene disebuah taman. Fene mengikuti instruksi yang diberikan oleh Alberth. Dari kejauhan Fene melihat wanita paruh baya, Marisa, wanita yang selama ini menjaganya dengan penuh kasih sayang hadir dihadapannya tanpa Mark. Fene berlari mendekati Marisa sambil memeluk Marisa dengan penuh kerinduan. "Mamiiii..... I miss you." Pelukan Fene terasa lembut pada Marisa. Marisa mendekap erat tubuh putrinya. Mengajak Fene agar duduk di bangku taman. "Kenapa kita dipertemukan dengan cara seperti ini Mi.?" Tanya Fene penasaran sambil bersandar dibahu Marisa. "Hmmmm...." Marisa hanya menghela nafas panjang. "Ada apa Mi.? Apa Mami berantem ama Papi, dan akan ikut bersamaku ke Jakarta.?" Gelak Fene. Marisa tersenyum mendengar candaan Fene. "Mami ingin bertemu dengan mu tanpa pengawalan. Berlin adalah tempat yang aman. Karena Mark dicekal untuk datang kesini." Senyum Marisa sedikit sinis bila sudah mengingat Mark. Fene mengeja kembali bibirnya menatap Marisa, "Mark" kejut Fene tanpa suara menatap Marisa. Marisa tersenyum mengalihkan pandangannya. "Hmmmm... Mami sudah tidak ingin bersamanya lagi." Tunduk Marisa. "Whaaaat.? Mami akan berpisah dengan Papi.? Why.?" Fene bersimpuh didepan Marisa menggenggam kedua jemari Marisa. "Berjanjilah, kamu akan selalu diam, berpura-pura tidak mengetahui ini Fen. Berjanjilah pada Mami." Tunduk Marisa. Fene mengangguk tanpa bersuara sambil menatap mata Marisa. "Mami, bukanlah ibu kandungmu, kamu adalah anak kandung Hanz Parker." Marisa menangkup wajah Fene yang sangat cantik. Mata Fene mengeluarkan buliran bening, menatap mata Marisa tanpa berkedip. "Adrian adalah anak biologis Mark Papimu." Tambah Marisa. Tubuh Fene bergetar seketika, tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Fene kembali duduk disamping Marisa tanpa suara. Menatap awan, menembus dosa-dosa kedua orang tuanya. Kepalanya tertunduk. Tanpa ingin mengatakan apapun. Marisa terus menceritakan semua kisah Fene dan Adrian. "Mami tidak pernah tau kapan mereka sering bersama, bagi Mami Mark pria yang baik. Otak permusuhan dimulai dari Adriana, menghasut Mark. Karena Chiang Lim mengalami ejakulasi dini. Adriana merasa tidak pernah terpuaskan, disitulah Mark mengambil kesempatan tanpa memperdulikan perasaan Mami. Mark tidak pernah mau melepaskan Mami. Tapi dia tidak pernah meninggalkan Adriana. Hanz Parker adalah abang Mami, mafia di Las Vegas. Mami sengaja tidak menggunakan nama Parker karena Hanz menikahi Irene. Artis panas yang menjijikkan. Irene hamil kamu masa itu, dan Hanz menemui Mami, membuat beberapa perjanjian pada Mark untuk menghancurkan Edward Lincoln. Kamu memiliki adik kandung Holi Parker. Kevin tidak pernah mengakui keluarga Irene. Karena keluarga Kevin keluarga baik-baik. Selama ini Mami menutup rapat, tapi Mami rasa ini waktu yang tepat agar kamu tau siapa Mark dan Adriana. Mami dapat merasakan perasaan mu. Lakukanlah sesuai hati mu. Mami akan mendukung semua sepak terjangmu untuk menyadarkan Mark." Cerita Marisa panjang lebar. Fene menangis tertunduk tanpa menyentuh Marisa. "Kenapa Mami memberi tau aku semua ini.? Apa tujuan Mami.?" Fene bicara tanpa melihat Marisa. "Agar kamu tau siapa Mark dan siapa Edward. Siapa musuhmu siapa temanmu." Tegas Marisa. "Aku terjebak oleh Kevin hingga berada disituasi sulit seperti saat ini." Jawab Fene lirih. "Tapi setidaknya, kamu tau apa pekerjaan Mark." Lanjut Marisa. "Ternyata aku terlahir dari wanita kotor seperti Irene." Suara ketus Fene terdengar tak biasa oleh Marisa ditelinganya. Apakah Papi tidak mencintaiku.?" Mata Fene masih basah, membayangkan wajah Mark cinta pertamanya. Laki-laki yang selalu menjadikannya wanita bahagia satu-satunya dimuka bumi ini. "Mark mencintaimu dan Adrian." Jawab Marisa datar. Wajah Fene datar seketika. "Mi, apakah Mami tau Bram Lincoln.? Siapa dia.? Apakah dia memiliki masa lalu yang buruk tanpa aku ketahui.?" Marisa tersenyum mendengar pertanyaan Fene. "Bram Lincoln anak kandung Edward Lincoln Fen. Dia tidak pernah memiliki raport merah di mata Mami. Dia pria baik, sama seperti Edward. Tapi sedikit galak." Entah kenapa Fene merasa lega, dengan pernyataan Marisa. "Apa Mami dekat dengan daddy Edward.?" "Kami hanya beberapa kali bertemu, tidak lama. Itu juga membahas bisnis." Jelas Marisa. "Daddy akan menceraikan aunty Adriana." Lanjut Fene. "Mami sudah tau." Jawab Marisa tenang. "Jadi, apa rencana Mami.? Apakah Mami akan menceraikan Papi.?" Tanya Fene. "Perpisahan bukan solusi, agar semua berjalan dengan baik sayang." Senyum Marisa. "Mami tidak akan meminta cerai, Mami akan menjadi Mami yang setia pada Mark untuk menjaga mu Fen." Lanjut Marisa sambil mengambil tangan Fene. "Apa kamu lapar.?" Marisa mengalihkan perasaan Fene. "Hmmmm.... Ya, aku lapar. Butuh asupan yang banyak untuk memikirkan semua ini Mi." Fene berdiri menyambut tangan Marisa. Mereka berjalan sepanjang taman. Menuju salah satu restorant. Bercerita, tertawa, mengenang semua keindahan masa kecilnya. Marisa lega, setidaknya Fene akan tau siapa papinya Mark Claire Zurk. Fene memutuskan untuk kembali ke Swiss sendiri, mengajukan perubahan namanya tanpa diketahui oleh siapa pun. Dan akan kembali ke Jakarta, melanjutkan pekerjaannya. Mempertahankan perusahaannya. Karena sewaktu-waktu Mark atau Adrian bisa saja melakukan hal tergila yang tidak terduga. Setelah pertemuan dengan Marisa, Fene dijemput oleh Alberth. Fene hanya diam. Tanpa bicara sepatah katapun. Biasanya dia sangat antusias untuk bertanya tentang Adrian, tapi kali ini berubah. "Haiiii sweety." Bram berdiri dihadapan Fene mencoba mengejutkannya. "Hmmmm... Aku akan ngopi di restorant deket sana. Aku ingin sendiri." Fene menghindar tanpa menanyakan Adrian pada Bram. "Aku temani yah." Fene mendorong dada Bram, berlalu pergi. Fene memesan segelas coffe latte dan beberapa cemilan, sambil memeriksa pekerjaannya melalui hp canggihnya yang diberi Edward. Fene masih bisa bernafas lega karena sahamnya masih stabil, dan masih di deretan atas. Fene hanya memandang ke arah luar kaca. Tanpa memperdulikan Bram yang dari tadi ada disampingnya. 'kenapa Fene tidak menemui Adrian.?' bisik Bram. 'apakah Fene sedang tidak baik-baik saja.?' Bram resah melihat perubahan Fene. Tak selang beberapa lama, mata Fene berpapasan dengan Petter teman kecilnya bersama Adrian dulu. "Fene, Fene Claire Zurk.?" Kejut Petter. "Ya..." Fene coba mengingat wajah Petter. "Aku Petter, Petter Helberg." Lanjutnya. "Oooh.... Apa aku mengenalmu.?" tanya Fene ragu. "Ya... Tentu saja, aku sahabat kecilmu bersama Adrian Moreno Lim." Jelasnya. Bram melirik ingin mendekati Fene, tapi niat itu diurungkan oleh Bram karena Kevin melambaikan tangan dari kejauhan untuk menghampirinya. "Oya... Silahkan duduk." Sambut Fene. "Adrian disinikan.?" Tanya Petter salah tingkah menunjuk rumah sakit yang ada dihadapan mereka. "Oooh ya, ya.." senyum Fene. Fene masih terasa canggung, karena hatinya masih hancur. "Apa kamu melihat Adrian.?" Lanjut Fene. "Fene, kamu lupa, akukan dokter disini, aku yang menangani Adrian sampai saat ini." Jelas Petter. "Oooogh..." Angguk Fene, sambil tersenyum. "Apa kamu ingin menemui Adrian.?" Tanya Petter salah tingkah dihadapan Fene. "Hmmm... Nggak juga. Aku hanya menunggu teman ku." Bohong Fene. "Oooh." Petter mengangguk pelan. "Kamu baik-baik aja Fen.?" Petter melanjutkan pertanyaannya. "Sory Petter, aku sedang memikirkan sesuatu. Bisa kamu meninggalkan ku.?" Fene memohon. "Ooogh tentu, senang bisa bertemu lagi, kalau ada apa-apa hubungi aku." Petter memberi kartu namanya, kemudian berlalu meninggalkan Fene ragu. Bram dan Kevin mendengar pembicaraan Fene dan Petter merasa sesuatu pada Fene, mereka saling bertatapan, dan pertanyaan mereka sama. 'why...???' Fene menghubungi Edward. "Dad... Aku di restorant depan rumah sakit. Bisa kita bicara.?" Tanya Fene datar. "Tentu sayang, saya akan menyusul." Jawab Edward. Bram dan Kevin menghindar dari kedekatan mereka. Saat melihat kehadiran Edward yang mendekati mereka. Edward tersenyum. Menatap Fene, memberi isyarat pada Bram dan Kevin untuk merekam pembicaraan mereka. "Ada apa Fen.? Apa kamu tidak ingin menjenguk Adrian.?" Suara Edward yang berat mengejutkan lamunannya seketika. "Aku akan ke Swiss dad, lusa kembali ke Jakarta." Fene hanya menatap kearah Edward, tapi tatapan itu hanya berupa kesedihan yang dalam. Edward menarik nafas dalam, sangat mengerti perasaan Fene saat ini dan tidak mau banyak bertanya. "Oke... Apa kamu sedang memohon izin atau memintaku untuk menjaga mu.?" "Ntahlah dad. Aku hanya merasakan sakit dan ingin melanjutkan pekerjaan ku. Mungkin aku akan melakukan perjalanan bisnis ke Australia, Hongkong, Singapura, dan beberapa negara di asia, menemui investor ku." Jelas Fene tanpa expresi. Edward tersenyum memandang wajah kekasih Bram. "Baik, Bram akan menemani mu." Lanjut Edward. "Tidak, terimakasih dad... Aku hanya ingin sendiri." Fene berdiri dan berlalu. Edward menahan tangan Fene lalu memeluk erat Fene masuk kepelukannya. "Tenangkan hatimu. Aku mencintaimu. Aku selalu ada untukmu." Edward mengecup sembari mengusap puncak kepala Fene. Fene menangis seketika. Membuat Bram mendekatinya. Mengusap bahu Fene. Tapi Fene mengelakkan sentuhan Bram. "Aku permisi dad." Fene mengusap air matanya, berlalu pergi meninggalkan Edward, Bram dan Kevin. "Dad...???" Bram menaikkan bahunya bertanya apa yang mesti dia lakukan. "Sudahlah, biarkan Fene sendiri." Edward meninggalkan Bram dan Kevin. Melihat Fene dari kejauhan. Sambil menelfon beberapa pengawalnya untuk selalu menjaga Fene. Bram dan Kevin tidak pernah mencoba menghubungi Fene. Mereka hanya fokus melihat kondisi Adrian, dan menemani Adrian beberapa hari. "Fene dimana Bram.?" Tanya Adrian. "Fene sedang di Jakarta." Jawab Edward ringan tanpa expresi. Bram dan Kevin terkejut mendengar keberadaan Fene. "Daddy, apa daddy menyembunyikan Fene.?" Desak Bram. "Hmmmm.." Edward hanya tersenyum melihat Bram. Beberapa hari ini uring-uringan memikirkan Fene. "Bucin amat seeh lo." Kevin kesal akan tingkah laku Bram. "Ya... Gue emang bucin." Bram keluar dari kamar Adrian. Mencoba menghubungi Fene, tapi tidak ada jawaban. "Shiiiiiit...." Bram menggenggam kesal. Gebrakan... Pertama Fene melakukan perubahan nama, menjadi Fene tanpa Claire Zurk. Melalui proses panjang selama di Swiss. Mengubah semua data pribadinya. Kedua, Fene tidak mau di pusingkan dengan urusan perasaan. Kecemburuan Bram sangat mengganggunya. Ketiga, Fene mengalihkan saham Adrian menjadi milik pribadi dibantu pengacara handalnya. Mengeluarkan seluruh hak Adrian sesuai kesepakan yang pernah mereka sepakati. Fene juga menjual seluruh aset Adrian yang berada di Jakarta. Mengganti nama perusahaan menjadi "Fenecuatola Garmen". Fene menyelesaikan semua tanpa meminta persetujuan Mark, ataupun Adrian. Saat di Jakarta Fene mengahabiskan waktu hanya dikantor dan rumah. Fene juga mengalihkan kepemilikan apartemen Mark menjadi milik Fene pribadi atas izin Marisa. Setidaknya Fene bisa bernafas lega, dalam menghadapi perperangan suatu hari nanti. Tiba-tiba Fene mengingat sesuatu. Petter... Kartu nama Petter. Fene telah mengalihkan beberapa asetnya, dan memiliki rencana untuk membangun sebuah rumah sakit spesialis syaraf. "Haloo..." Suara Petter terdengar sangat halus. "Petter..." "Ya..." "Fene..." "Ooooh ya, kamu dmana.?" Tanya Petter ramah. "Aku lagi di Jakarta, tapi besok aku akan ke Singapura. Bisakah kita bertemu.?" Tanya Fene ramah. "Waaaah, kebetulan saya hari ini juga akan ke Singapura. Baiklah, besok kabari jam berapa kamu tiba, aku akan menjemputmu." "Fene menyetujuinya." Fene menarik nafas dalam sambil tersenyum. Misinya untuk memulai sesuatu yang baru akan berhasil. Tak lama Fene merebahkan badannya ke sofa, Bram hadir secara tiba-tiba dihadapannya. Fene lupa mengganti password apartemennya kaget melihat kehadiran Bram di hadapannya malam ini. "Bram... What are you doing here." Teriak Fene. Bram mendekati Fene ingin memeluknya, tapi Fene menolak. "No... No... No... Silahkan keluar, aku ingin sendiri." "You oke fen.?" Bram masih bertahan dihadapan Fene. "Jangan ganggu aku. Aku tak ingin menghabiskan waktuku." Sindir Fene. Bram memeluk tubuh Fene, tanpa berbicara lagi. Fene hanya mematung tak membalas pelukan Bram. "Ada apa denganmu, kenapa kamu menghindar dari ku." Bram menurunkan egonya. "Aku hanya ingin melepaskan sejenak permasalahan ini Bram. Hanya ingin menenangkan pikiranku. Tanpa ingin menyakiti aku atau kamu." Jelas Fene. "Berbulan-bulan Fen, bukan berhari-hari." Jelas Bram. "Adrian dan Kevin ada di bawah, aku berlari menuju rumahmu. Aku sangat merindukanmu Fen." Lanjut Bram. "Apaaa.... Adrian.?" Fene melepaskan pelukan Bram. Tiiiiing.... Lift Adrian dan Kevin terbuka. Fene dan Adrian saling menatap. Adrian langsung mendekap tubuh Fene. "Apa yang lo lakukan sama gue.?" Geram Adrian. Fene hanya diam beribu bahasa. Melepaskan pelukan Adrian. "Kenapa kalian mencari ku.?" Tanya Fene. "Kami sangat merindukan lo Fen..." Jelas Kevin. "Kenapa lo menghindar dari kita Fen.?" Kevin merangkul pinggang Fene, agar berdiri di dekatnya. "Vin..." Tegur Bram sinis. "Bucin lo... Payah gue." Kesal Kevin. Kevin berlalu mencari makanan di kulkas Vene meninggalkan ketiga sahabatnya. "Kenapa lo menjual seluruh aset gue Fen.? Apa menurut lo gue sepicik itu.?" Tanya Adrian ketus. Fene tersenyum. "Gue ingin menjauh dari kalian." Tunduk Fene. Mata mereke bertemu. "Menghindar....???" Kata-kata Bram, Adrian, dan Kevin secara bersamaan. "Tega lo Fen. Emang persahabatan kita seperti apa sebenarnya.?" Kesal Adrian. "Bukan gitu,,," Fene tertunduk sambil duduk disofa. Bram, Adrian dan Kevin mendekati Fene sambil bersimpuh. Kevin menyentuh paha Fene, Adrian duduk persis di depan lutut Fene, sementara Bram menggenggam erat jemari Fene. "Gue bukan menghindar. Gue hanya kelelahan dengan situasi. Gue rasa keadaan sangat tidak bersahabat sama gue, gue sedih. Ternyata gue lahir dari Irene, gue nggak bisa terima." Tangis Fene pecah seketika. "Wooooow... Ternyata lo sodara gue Fen...?" Jawab Kevin bangga. "Pantas lo hot darling." Goda Kevin lagi seraya menyentuh dagu Fene. "Hmmmm.... Fen, mau lo anak Irene, atau siapapun, gue nggak peduli. Lo temen kita, partner kita. Sengaja gue diam saat lo ambil alih saham, jual aset, gue diam. Karena gue tau lo. Bagi gue persahabatan lebih penting dari itu semua, karena kita sudah mendapatkan lebih dari bisnis yang lain." Racauan Adrian seketika. "Gue sempat berfikir lo akan membenci gue karena gue anak Mark dan Adriana. Orang yang telah mencelakai kita. Tapi saat ini, bagi gue, gue akan menjaga lo sampai kapanpun, apapun keadaannya." Tegas Adrian. "Gue menghindari Veni dengan alasan gue sedang mengurus pekerjaan gue." "Tapi... Beberapa kali gue ada ketemu Veni di resto. Kami hanya say halo sambil membicarakan perencanaan kami." Lanjut Fene. "Perencanaan....?? Kamu ada rencana apa Fen.?" Mata Bram memandang Fene penasaran. "Gue besok akan ke Singapur. Persentasi untuk pembangunan rumah sakit gue." Fene menatap sahabatnya. "What... Rumah sakit.??" Adrian dan Kevin merasa tidak percaya. Fene mengangguk. "Ya... Rumah sakit gue." Jelasnya sambil menyeka kedua pipi dari air mata. "Rumah sakit seperti apa maksudmu.?" Bram masih tidak mengerti. Fene beranjak, mengambil laptop dan memulai persentasinya dihadapan sahabatnya. Fene juga mengungkapkan akan melakukan perjalanan bisnis beberapa hari untuk menyelesaikan projectnya. Setelah mendengar persentasi Fene, mata ketiga sahabatnya saling bertatapan takjub. "Ternyata selama ini kamu mengatur ini semua sendri Fen.?" Tampak rona bahagia di wajah Bram. Fene hanya tersenyum, memandang sahabatnya. "Pantes... Daddy bilang kamu baik-baik saja. Apa kamu pernah meminta pendapat padanya.?" Rasa ingin tau Bram mulai muncul. "Nggak, aku memikirkan semuanya dibantu otak Veni sedikit. Papi Veni menjadi investor utama ku, dan besok aku akan menemui Petter." Jelas Fene. "Petter... Petter dokter itu.?" Bram menunjukkan rasa cemburunya. "Ya... Why not." Senyum Fene. "Gue akan menjadi investor mu Fen." Kevin merangkul bahu Fene. "Gue juga, gue akan selalu ada." Adrian tersenyum menatap Fene. "Aku ikut." Sahut Bram. "Tapi disini tidak ada perasaan dan kecemburuan. Aku akan menyiapkan semua perjanjian kita." Tegas Fene sedikit menyindir Bram. "Gue setuju..." Sambut Kevin sambil melirik Bram dan Adrian. "Tapi Bram... Kamu belum memberikan bagian ku." Fene tertawa, membuka tangannya memeluk sahabatnya. "Welcome to real bisnis." Mereka saling berpelukan dan berteriak bersama. "Detik ini juga aku akan menyelesaikannya sweety." Rayu Bram. Persahabatan mereka sangat kuat, walau ada permasalahan. Komitmen menjadi pondasi dalam menjalin persahabatan. tobe continue.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD