Fene dan Adrian berpisah selama perjalanan. Mereka akan bertemu di salah satu hotel didaerah Napoli.
Langkah awal Fene adalah melepas rindu bersama Mark, bermain sinetron sesuai arahan Bram.
Mereka lunch bersama disalah satu restorant terbaik di kota itu. Saat itu cuaca sangat dingin, membuat Fene merasakan sesak, tapi masih bisa dia atasi.
Fene tiba di restorant, meminta pelayan untuk membawanya kemeja yang telah dipesan oleh Mark.
Fene melihat Mark sangat tampan, menarik nafas dalam kemudian menghampiri Mark.
"Papi..." Panggil Fene manja membuat mata Mark bertatapan dengan mata sendu putri angkatnya.
"Heeiiii... How are you sweety." Mark memeluk erat tubuh Fene.
"Sit down... You wanna eat pasta with me.?" Mark mempersilahkan Fene agar duduk didekatnya sembari menggoda Fene layaknya orang saling mencintai.
"Oooh... Yes, Pi... Pasta, I wana it." Senyum Fene manja.
"Hmmmm... I miss you... Very long time no see you sweety." Mark mencium punggung tangan Fene sangat romantis.
"Hmmmm miss you too pi.." Fene sangat nyaman berada didekat Mark.
"Oya, gimana.? Kapan kamu akan kembali ke Jakarta.?" Tanya Mark basa basi.
"Hmmmm... Mungkin besok atau lusa, karena ada beberapa pekerjaan yang akan Fene selesaikan bersama investor disini pi." Jelas Fene berbohong.
Mark tersenyum hangat mendengarkan celoteh putrinya.
Sejujurnya Mark sudah mengetahui Fene dijadikan alat oleh Edward, dan Mark berusaha masuk dalam permainan Edward saat ini.
"Apa kamu akan menginap dirumah Papi.?" Senyum Mark.
"Sepertinya Fene akan disini aja Pi.... Ada temu janji bersama investor."
"Ooooh... Baiklah. Kamu masih ingat rumahkan.?" Sindir Mark.
"Hmmmm... Iya pi... Fene akan pulang, tapi selesaikan pekerjaan dulu yah." Senyum Fene sambil memberikan kecupan pada jari-jari Mark.
"Hmmm..... Mami mana pi.?" Tanya Fene sambil bersandar dibahu Mark.
"Uhuuugh... Uhuuugh... Eeeee..hmmm ada di Swiss fen." Mark tersedak seraya berbohong.
"Ooough.... Mami baik-baik ajakan.?"
"Sure... Yes cours..." Ucap Mark.
Mereka bersenda gurau seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tapi Mark yang licik berniat untuk mengikuti Fene, akan membuat kejutan esok hari. Senyum sinis Mark.
Adrian...
Adrian duduk dicafe seberang tanpa disadari oleh Mark. Adrian tidak lupa memberi informasi kepada Bram dan Kevin melalui telfon.
"Gue sedang menikmati gadis Napoli." Tawa Adrian menggoda Bram dan Kevin.
"Gue sedang menikmati gadis Spanyol.." jawab Kevin ngelantur.
Beberapa kali mata Adrian melihat orang-orang Mark, yang berada diarea restorant.
Adrian mengirim pesan kepada Fene. 'aku akan menunggumu dikamar.'
Berlalu pergi meninggalkan cafe berdiri tidak jauh dari posisi Fene.
Fene...
Mark melihat pesan dihp Fene.
"Apa kamu akan berkencan dengan pria italy.?" Goda Mark.
Fene hanya mengangguk, menatap wajah Mark tersipu malu.
"Secepatnya, Fene akan kenalkan kepada Papi." Fene mengusap punggung Mark sambil tersenyum manja.
"Oke, kebetulan Papi ada janji, Papi akan menunggu kamu dirumah. Ingat... Home sweet home sweety." Mark mengedipkan matanya, sambil mencium mesra kening Fene. Mencium berkali-kali punggung tangan Fene.
'Begitu romantis Papi, pantas aunty sangat mencintai Papi.' Batin Fene.
Mereka berpisah, Fene lebih memilih berjalan sendiri menutup seluruh tubuhnya posisi jacket yang sudah terbalik. Agar tidak diketahui orang-orang Mark.
Fene memasuki sebuah Hotel bintang, memesan kamar conecting.
Adrian berada di luar hotel, menunggu kabar dari Fene melalui hp.
Setiba dikamar Fene mengirim pesan kepada Adrian. '2078'
Tiiiing tooong...
Fene membuka pintu, melihat sosok Adrian.
Memberi kunci kamar Adrian, tapi Adrian melihat wajah Fene sedikit pucat.
"Fen, lo baik-baik ajakan.?" Tanya Adrian.
"Hmmm... Ya.. I'm oke." Fene berlalu ke tempat tidurnya, menutup tubuhnya menggunakan selimut tebal.
"Fene... Kamu baik-baik saja.?" Wajah Adrian berubah menjadi panik, mendengar gigi Fene menggeretek.
"Fene... Kamu..."
Tubuh Fene menggigil kedinginan, Adrian mencari obat-obatan didalam tas Fene. Mata Adrian tertuju pada satu botol obat.
"Fen, ini obat apa.?" Adrian mencari dihpnya dari merk obat tersebut.
'Hypotermia'
"Ini obat hypotermia. Kamu sakit Fen.?"
Fene mengangguk, meminta Adrian memeluknya.
Adrian memeluk Fene sambil mengusap tubuh Fene agar tetap hangat, wajah Fene sangat pucat. Adrian mengambil air panas mengompres kepala Fene. Memberikan obat kebibir Fene memberikan sebotol air mineral.
Adrian terus mengusap tubuh Fene, sesekali memasukkan tangannya ke punggung Fene.
"Fen... Gue mesti apa.?"
Adrian masih panik mencoba menghubungi Bram. Tapi Bram tidak mengangkat panggilannya.
Kevin.... Kevin... Bisiknya.
"Ya..." Jawab Kevin.
"Fene kena hypotermia, sesak seperti lo, gue mesti gimana.?"
"Usapin aja terus, lo ajakin em el juga boleh." Jawab Kevin tanpa dosa.
"Monyet, serius gue." Sesal Adrian.
"Itu dia kecapean aja dri, nggak apa-apa, obatnya udah diminumkan.?" Tanya Kevin.
"Sudah." Adrian menarik nafas, menatap wajah Fene.
"Fen... Bangun sayang. Gue disini buat lo." Adrian mengecup wajah Fene berkali-kali.
Fene tersenyum membuka matanya, mengelus wajah Adrian yang berada dihadapannya.
"Gue baik-baik aja dri... Dingin doang. Sini lo peluk gue." Fene membuka selimutnya agar Adrian memeluknya.
Tanpa Adrian sadari, hpnya masih On, percakapannya didengar oleh Bram.
Cemburu Bram...
Bram mendengar Fene sakit karena Kevin menyalakan speaker aktif pembicaraannya bersama Adrian.
Emosi Bram memuncak.
"Emang Adrian nggak tau selama ini penyakit Fene.?"
"Aaaaaagh..." Kesal Bram.
"Waktu di Paris Fene mengalami hal yang sama, makanya gue..." Bram terdiam menutup bibirnya memandang Kevin horor membayangkan wajah Adrian yang akan melakukan mesum pada Fene.
"Vin.... Kita ke Napoli sekarang, kita ke Napoli." Teriak Bram menggebu.
"Iya, ini juga lagi menuju Napoli, santai dong... Jangan mesum aja otak lo." Kevin nyolot melihat kepanikan Bram.
"Kenapa-napa lagi sama Fene, gue buang dia dari lantai atas ke bawah." Geram Bram mengepal tinjunya.
"Hmmmmm...." Kevin hanya kesal melihat kekonyolan Bram.
"Bucin amat seeeh lo." Kevin nyolot.
"Gue sama Fene tuh, cinta mati." Senyum Bram.
"Tapi Adrian udah nyuri star deluan." Lanjut Bram dengan kesal.
"Sory.... Gue pikir kemaren lo ke apartmen Fene." Jelas Kevin.
"Gue lihat Adrian di parkiran, menuju rumah Fene. Makanya gue mundur. Gue fikir, Fene nelfon gue malam itu mau ngajakin gue nginap disana. Ternyata Fene....." Bram terdiam, menarik nafas dalam.
"Udah, rasanya sama aja kan." Tawa Kevin.
"Lebih enak lagi, nggak ada teriak-teriaknya." Bram memukul bahu Kevin.
Sebenarnya pekerjaan mereka sudah beres, dan saat ini mereka ke Napoli menyusul Fene dan Adrian.
Bram menerima foto Fene sedang berpelukan.
Bram berusaha menahan amarah dan kecemburuannya. 'sekali ini nggak akan mengalah.' geram Bram dalam hati.
Edward telah mengirim mata-mata untuk Fene dan Adrian.
'Ternyata didalam tubuh Adrian masih ada darah Mark.'
Senyum sinis Edward menyeringai diwajahnya.
Napoli...
Bram mendobrak pintu conecting kamar langsung menghampiri Adrian melayangkan tendangannya tepat didada Adrian yang sedang berdiri tidak jauh dari pintu conecting.
Fene berteriak seketika.
"Braaaaaam...." Fene terkejut dengan kehadiran Bram secara tiba-tiba.
Fene melindungi Adrian dari serangan Bram yang akan melayangkan tinjunya ke wajah Adrian.
Seketika tangannya terhenti, karena dihalangi Fene.
Fene berdiri tepat di depan Bram.
"Ayooo... Pukul aku, pukul...." Emosi Fene mendorong dada Bram, menatap sinis mata Bram.
Bram menarik nafas dalam. Menurunkan tangannya. Memeluk Fene seketika yang ada dihadapannya.
Kevin menghampiri Adrian yang merintih kesakitan karena tendangan Bram tepat diulu hatinya.
"Gila lo yah." Kevin memapah tubuh Adrian keatas kasur.
Fene melepas pelukannya, PLAAK... melayangkan tamparan tepat diwajah Bram.
Wajah Bram terasa panas seketika.
"Lo pikir gue semesum itu Bram.?" Suara Adrian terdengar menyesakkan.
"Lo tau gue hypo. Tapi kenapa lo mikirnya ampe sejauh ini sih.?" Emosi Fene. "Jawab Bram."
"Aku teringat masa di Paris Fen." Bram tertunduk kesal pada dirinya.
"Kamu special Bram, beda dengan Adrian. Adrian sahabat aku. Kamu tau itu. Dari dulu aku tidak menjawab cintamu, karena apa...! Karena aku nggak mau ada komitmen antara kita, tapi setelah di Shanghai, aku tau jawabannya, aku butuh kamu, aku sayang sama kamu, kamu tau Adrian sering menemaniku, di kantor, apartemen, dimana saja. Hingga veni menuduh ku, cemburu... karena telah mengkhianati persahabatan kita, aku kecewa, aku sedih Bram. Kenapa aku tidak memilih Adrian, karena kondisinya sangat berbeda. Perasaanya berbeda Bram." Tangis Fene.
Bram memeluk tubuh Fene erat. Meminta maaf sambil menatap Adrian dan Kevin. Berbicara menggunakan kode mata, Kevin mengerti membawa Adrian beralih ke kamar conecting.
"Maaf Fen, aku terlalu cemburu melihat kamu dan Adrian. Aku mengakui itu." Pujuk Bram sambil mengusap lembut punggung Fene mengecup puncak kepala Fene.
Bram merasa malu, karena tidak mendengarkan wejangan Kevin selama dalam perjalanan.
"Aku mau pergi aja kerumah Papi, aku udah janji." Fene melepaskan pelukan Bram.
Mengambil tas, menuju kamar Adrian.
Saat Fene memasuki kamar Adrian, Adrian ingin menghampiri Fene..
Suara tembakan dari gedung sebelah membuat Adrian terkena peluru, tepat di punggungnya. Adrian jatuh seketika disambut oleh Fene.
"Adriaaaaaan.... Braaaam.... Keviiiin..." Teriakan Fene menggema. Fene menyambut tubuh Adrian berlumuran darah. Kesadaran Adrian masih ada, mendekati kritis.
Kevin berusaha merunduk, menghubungi Edward meminta helikopter agar segera memberi pertolongan pada Adrian.
"Uncle, Adrian terluka. Kami diserang."
Kevin mendekati tubuh Adrian dan Fene.
Bram berjibaku mencari pelaku penembakan.
Edward seketika mengirimkan team unit darurat, agar segera membawa Adrian kerumah sakit.
Fene terus memanggil nama Adrian, "dri, sadar dri... Adrian, gue disini bisik Fene." Adrian dibopong oleh unit medis suruhan Edward.
Fene emosi, "Vin, temani Adrian, gue akan membuat perhitungan dengan Mark."
"Nggak Fen, Fen... Feneeeee." Teriak Kevin, tapi Fene tetap pergi meninggalkan Kevin.
"Braaaaam, Fene pergi." Kevin berteriak pada Bram tapi diindahkannya karena suara tembakan masih menggema.
Kevin berusaha menyelamatkan Adrian. Berteriak memanggil Bram untuk ikut bersama meninggalkan lokasi penembakan.
Home sweet home....
Mark menerima telfon dari orang bayarannya, mereka berhasil telah melumpuh kan orang-orangnya Edward.
Mark tersenyum bahagia. Bisa melumpuhkan Bram atau Kevin.
"Papiiiiiiii... Mark Claire Zurk." Fene berteriak dari luar rumah.
Mark sangat terkejut dengan emosi putrinya.
"Fene... Kamu kenapa.?" Pikiran Mark buyar seketika.
"Kenapa papi tega membunuh Adrian..." Nada Fene berteriak.
"Adrian... A a a adrian mana maksud kamu Fen." Mark tampak bingung.
"Adrian Moreno Lim, anak Chiang Lim. Papi lupa.?" Sinis Fene.
"Apa.... Adrian terluka.?" Mark bersimpuh, dihadapan Fene.
"Ooooh.... Hentikan drama Papi. Aku ingatkan, jangan pernah mencari aku lagi." Fene mengancam.
Mark berdiri menatap mata Fene tajam.
"Begitu besar Edward Lincoln mempengaruhi otak mu fen." Mark menunjuk tepat diwajah Fene.
"Terjadi sesuatu kepada Adrian Moreno Lim, papi berhadapan dengan aku." Fene meninggalkan Mark yang masih shook mendengar bahwa sesungguhnya Adrian lah yang terluka, bukan Kevin atau Bram.
Drama Edward....
Saat di Swiss Edward sengaja meminta orang suruhannya untuk mengikuti Fene dan Adrian. Bahkan Edward merencanakan untuk melukai Adrian, setelah dia mengetahui rencana Mark untuk melukai Bram dan Kevin.
Edward menyiapkan sniper disisi paling atas sniper Mark.
Meminta pada Kevin jika terjadi sesuatu agar menghubunginya segera, bukan 911.
Bram mengetahui semua rencana Edward, agar bisa membawa Adrian ke Amerika.
"Bram, ingat pesan daddy, bermain sebaik mungkin. Saya akan terus mengawasi Fene dan Adrian." Mengingatkan Bram.
Bram hanya terdiam, "apakah Adrian akan terluka parah dad.?" Ada ketakutan yang menyeringai didalam dadanya.
"Semua akan baik-baik saja. Tenanglah." Edward berusaha membuang kepanikan Bram.
"Vin, kamu terus temani Adrian, saya akan memulai perperangan ini melalui Fene dan Adrian." Tegas Edward sambil merangkul Kevin sebelum menuju Napoli.
Edward akan membuat Mark merasa bersalah atas kecelakaan Adrian, dan Adriana mempunyai alasan yang tepat untuk membenci Mark.
Termasuk pengiriman foto Fene dan Adrian saat tidur bersama, tujuannya agar Bram menguatkan hatinya atas pemandangan menyakitkan yang akan terjadi kapan saja. Sesungguhnya Edward tidak mengetahui tentang kondisi Fene memiliki penyakit hypotermia.
Skenario Edward berjalan sesuai rencana. Ditengah kepanikan Bram dan Kevin.
Mark....
Mark meminta orang suruhannya mengikuti Fene setelah pertemuan terakhirnya. Tidak terbesit sedikitpun dikepala Mark bahwa Fene bersama Adrian.
"Awasi terus Fene... Bunuh Bram atau Kevin, jika mereka menemui Fene." Tegas Mark.
Mark, tidak mengetahui bahwa orang Edward lebih dulu berada diatas gedung. Mengsabotase keadaan.
Saat orang suruhannya memberi kabar, Mark lega karena telah melumpuhkan Kevin.
"Semua selesai rencana Mark, tugas saya berhasil melumpuhkan anak Edward." Terdengar sniper Mark memberi kabar, Mark tersenyum sumringah.
'Kau kehilangan satu kaki mu Edward' batin Mark menyeringai diwajah kejamnya.
Tapi..... Kehadiran Fene menghilangkan kebahagiaannya seketika. Meruntuhkan dunianya. Menusuk dalam kejiwanya.
Wajah Mark memerah, mengepal tinjunya menghantam lantai. Tangan Mark terluka.
Menghubungi Jack sniper handalnya.
"Siapa yang melukai putraku.?" Geramnya.
"Saya sudah melukai salahsatu orang Edward Mark, dan saya yakin itu Kevin." Jelas Jack.
"Tapi kenapa putraku yang terluka." Teriakan Mark terdengar menggema.
Mark menarik nafas dalam menghubungi Adriana, untuk mencari informasi dirumah sakit mana Adrian berada.
Adriana...
Adriana menjerit mendengar kabar Adrian terluka. Meluluh lantahkan hatinya.
Menyalahkan Mark, menghina seraya mengancam akan menyakiti Mark dengan tangannya sendiri.
"Apa yang kau lakukan pada putraku Mark.?" Tangis Adriana terdengar sangat memilukan hati Mark.
"Maafkan aku Adriana, aku akan menebus semua kesalahanku pada mu." Pujuk Mark.
"Aku harap kamu bisa menemukan keberadaan Adrian." Mark menutup telfon dengan perasaan frustasi.
Adriana segera menghubungi seluruh pengawalnya, mencari tau dimana keberadaan Adrian.
Tapi semua sia-sia, tangis Adriana makin pecah. Meratapi dirinya sendiri.
Fene....
Fene berulang kali menghubungi Bram, tapi tidak ada hasil.
Fene melihat panggilan tertulis nama Edward.
'Daddy..' bisiknya.
"Ya dad." Suara Fene terdengar serak.
"Bram akan menjemputmu, silahkan pulang bersama Bram. Saya akan mengurus Adrian." Terdengar suara Edward yang berat tapi sangat tenang.
"Tapi dad...." Jawab Fene ragu.
"Tapi apa.?" Tanya Edward.
"Tapi aku ingin disini menemani Adrian dad." Jawab Fene seraya mengagetkan Edward.
"Apa kamu mencintai kedua putraku Fene.?" Pertanyaan Edward sangat dalam.
"Oooogh.... Nggak dad, aku hanya ingin menemani sahabat ku. Bram dan Adrian sangat berbeda dihatiku." Jelas Fene jujur.
"Tapi perlakuanmu sama pada mereka berdua." Suara bariton Edward membuat Fene terdiam.
"Dad, aku memegang teguh komitmen, dan aku sangat mencintai Bram, tapi aku menyayangi Adrian." Fene menjelaskan perasaannya.
"Ikuti perintahku. Turunlah, Bram sudah menunggumu." Edward menutup telfonnya.
Fene mengganti bajunya, melihat seisi kamar yang berantakan memanggil petugas kamar untuk menghitung semua kerugian mereka.
Berlalu menemui Bram.
"Haiiiiii..." Wajah Bram masih belum bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Gimana Adrian.?" Fene menatap Bram sendu.
Bram menarik nafas, mengambil jemari Fene, "kondisi Adrian kritis, semoga semua membaik." Jelas Bram sambil mencium jari Fene yang ada dalam genggamannya.
"Hmmmm... Syukurlah. Aku tenang mendengarnya." Mata Fene masih menyimpan sejuta kesedihan, membayangkan luka Adrian yang sangat dalam. Fene belum siap untuk kehilangan Adrian.
"Kita akan kemana.?" Tanya Fene datar.
"Swedia..." Senyum Bram.
Fene menaikkan bahunya. Mengikuti kemana arah tujuan Bram. Menjeput Kevin agar ikut bersama.
Adriana dan Edward...
Beberapa minggu kemudian Adriana dapat menemukan keberadaan Adrian.
Adriana mencari keseluruh rumah sakit di italy.
"Nyonya, kami menemukan Adrian, kondisinya masih kritis."
"Berapa orang penjaganya.?"
"Saya melihat tuan Edward ada disana nyonya."
"Baik, bawa saya menemui mereka." Adriana memasuki mobil, membawa para pengawalnya.
Adriana sangat berharap bisa melihat Adrian.
Tapi, pengawalan Adrian lebih ketat dari perkiraannya. Adriana mencari keberadaan Edward.
Mata mereka bertemu saling menatap. Edward melangkah cepat menghampiri Adriana.
"Kenapa kau kesini.?" Edward menggenggam lengan Adriana seraya berbisik.
"Aku ingin menemui putraku Edward." Wajah Adriana masih terlihat takut.
"Pergi.... Karena Adrian tanggung jawabku Jalang." Tegas Edward.
"Kau..." Mata Adriana basah seketika menatap sinis Edward.
"Aku sudah mengingatkanmu, jangan ganggu anak-anak ku." Tegas Edward.
"Tapi Adrian putra ku, darah dagingku." Adriana coba melawan Edward.
"Pergi kau.... Atau ku pecahkan kepalamu." Edward mengeluarkan senjatanya meletakkan tepat dikepala Adriana.
Pengawal Adriana mendekat seketika, menatap mata Edward.
"Kita pulang saja nyonya, Adrian akan segera pulih."
Adriana lebih memilih mengikuti perintah pengawalnya, daripada harus menyerahkan nyawanya pada Edward.
Edward menarik nafas dalam, setelah kepergian Adriana. Meminta kepada pihak rumah sakit, untuk segera memindahkan Adrian ke salah satu rumah sakit terbaik di Jerman.
Edward hanya memberi kabar kepada Bram, tentang kondisi Adrian.
Bram bisa bernafas lega, setelah mengetahui Adrian baik-baik saja.
"Vin, gue rindu Adrian." Fene meracau di bahu Kevin.
"Hmmmm... Semoga Adrian baik-baik aja Fen. Nggak usah panik, ada uncle Edward." Kevin berusaha menenangkan Fene.
"Hmmmm... Bram masih lama vin.?" Fene mengalihkan pembicaraannya.
"Kita tunggu aja, Bram masih didalam. Mr.Huang akan memberi uang pada kita." Jelas Kevin tersenyum.
Fene membalas senyuman Kevin.
Sejujurnya... Fene masih mengkhawatirkan Adrian, walau mereka mengatakan Adrian baik-baik saja, tapi dihati Fene Adrian sedang tidak baik-baik saja.
Bram Flasback....
Perkenalan Bram dan Fene bermula, pada saat perjalanannya menuju Swiss. Mereka tak sengaja bertemu disalah satu pusat pemberlanjaan.
Bram sangat tertarik pada pandangan pertama, berusaha mengejar Fene yang sedang menunggu seseorang.
Mata Bram tertuju pada sosok Mark, musuh bebuyutan Daddynya.
Lebih terkejutnya, saat pertemuan kedua, Bram melihat Adrian bersama Fene dibandara untuk terbang bersama menuju Jakarta.
Dipesawat Bram berusaha menegur Adrian yang belum menyadari mereka satu penerbangan.
Mereka bercerita, seolah-olah mereka baru mengenal.
Bram melihat Fene sangat mempesona. Bram sosok pria yang sangat cool. Lebih cool dari Adrian.
Setiba di Jakarta, Bram sengaja mengantarkan Adrian dan Fene ke apartemen mereka.
Adrian dan Bram sangat baik memperlakukan Fene. Diam-diam, Fene dan Bram sering menghabiskan waktu bersama. Bram mengungkapkan perasaannya, saat Bram mengungkapkan hatinya, saat itu Fene menghindar. Tapi Bram bukan pria yang pantang menyerah, Bram menggunakan Kevin, agar membujuk fene menjalin kerja sama dengan mereka.
Fene tertarik karena Kevin menawarkan keuntungan yang sangat menggiurkan.
Adrian dapat merasakan perasaan Bram terhadap Fene. Tapi karena Bram tidak pernah terbuka akan hatinya, Adrian selalu menganggap Bram dekat seperti Kevin. Bram adalah pria melankolis, pria teratur, pria sopan, dan hangat. Tapi rasa cemburunya bisa merobohkan sosok lembutnya.
Jujur Bram sangat kecewa dengan Adrian, karena gagal menjaga Fene. Kevin berkali-kali memohon maaf pada Bram. Baginya ini satu kesalahan besar.
Bram juga sangat kaget mendengar penyakit Fene hypotermia diderita sejak usia 15 tahun.
Fene memilih stay di Jakarta, agar jauh dari cuaca dingin.
Itulah alasannya Bram mencintai Fene, selain Fene wanita tangguh, Fene adalah wanita kaya dan pintar. Pantang menyerah. Bram dan Fene adalah orang yang terus fokus dalam bekerja. Makanya hingga usia dewasa mereka tidak tertarik untuk menjalani sebuah komitmen.
Sangat berbeda dengan Adrian, selalu setia pada Veni.
*****