Fene menatap lekat pada cermin. Tersenyum karena beberapa menit lagi akan menjadi istri Bram Lincoln, putra semata wayang Edward Lincoln.
Veni dan Nichole memeluk erat tubuh Fene. Sangat anggun menggunakan gaun pengantin bercorak putih dibalur manik mutiara.
"Cantik banget lo Fen... Gue jadi pengen nyusul." Tangis Veni.
"Sama... Kamu sangat special." Tambah Nichole.
"Udah deh, gue jadi nangis ni..." Fene mengusap sudut matanya.
Tiba-tiba Adrian masuk di ikuti Kevin mendekati Nichole.
Adrian meminta pada Veni dan Nichole agar memberi time mereka berdua.
"Jangan lama, ntar Bram cemburu lagi." Canda Veni.
"Jangan mesum lo yah dri." Sindir Kevin.
"Udah gue mau ngobrol 5 menit ama sahabat gue." Sahut Adrian sambil mendorong tubuh sahabatnya meninggalkan ruangan rias Fene.
Fene hanya memandang Adrian.
Adrian membalikkan badannya, menatap lekat Fene.
"You very beautiful... Cantik banget." Adrian menggengam erat kedua tangan Fene.
"I love you Fen..." Adrian menatap penuh cinta mata Fene sambil memeluk Fene.
"I love you too Adrian." Isak Fene.
"Maafin gue, gue udah ngecewain lo. Lo berhak bahagia. Bram pria yang baik." Pelukan Adrian makin erat.
"Gue seneng lo udah bisa nentuin yang terbaik. Semoga lo bahagia sama Bram, inget kalau Bram macam-macam, lo kasih tau gue. Sampai kita tua, kita tetap sahabat yang saling mencintai." Adrian menangkup wajah fene dengan kedua tangannya.
"Lo cinta..." Senyum Fene.
"Ya, gue cinta ama lo, lo sahabat gue, temen gue, soulmate gue. Lo segalanya buat gue." Adrian mengecup bibir Fene.
Fene hanya menutup matanya, menikmati perlakuan Adrian yang sangat berbeda dihatinya.
Adrian mencium kedua tangan Fene, mencium kening berulang-ulang.
"Gue jadi pendamping lo sampai ke altar. Gue akan menyerahkan lo pada Bram."
Fene hanya mengangguk, memeluk mesra lengan Adrian. Sambil berjalan dengan penuh kebahagian menuju altar.
Pintu terbuka, Bram sangat tampan, menggunakan taxedo putih. Begitu menawan. Menatap kehadiran Fene yang berjalan sesuai alunan music pernikahan.
Disaksikan Edward, Thomas, Katty, Kevin, Petter, Veni, Nichole, dan para tamu undangan prioritas. Dikawal ketat oleh pengawal dan sangat tertutup dari media.
Fene menatap Bram dari kejauhan, dengan perasaan bahagia, grogi, malu.
Adrian menyerahkan Fene pada Bram dalam keharuan.
"Lo jaga sahabat gue. Jangan pernah lo sakiti. Jika Fene tersakiti, lo berurusan ama gue." Ancamnya sambil tersenyum seraya berbisik.
Bram memeluk Adrian.
Di depan altar Fene menatap Bram penuh rona bahagia.
Setelah pemberkatan nikah. Bram menyematkan cincin pernikahan dijari manis Fene, begitu pula sebaliknya. Bram mencium lembut bibir Fene.
Suara tepuk tangan dan ucapan selamat pada kedua pasangan itu sangat semarak.
Adrian menangis, Edward juga menangis haru.
"Semoga kamu segera menyusul Bram, Adrian." Peluk Edward.
"Ya dad..." Adrian memeluk Edward.
Saat pelemparan bunga... Kevin yang mendapatkan berlari ke arah Nichole.
"You wanna maried me.?" Nichole hanya terbawa perasaan mengangguk haru. "Yeees... Next gue nyusul." Serunya.
"Cheeeeers...." Para tamu berpesta bersama, menari bersama. Penuh canda tawa, dan penuh kebahagiaan.
"Selamat Bram... Daddy sangat bahagia atas pernikahan ini." Peluk Edward pada Bram.
"Selamat Fene Lincoln..." Senyum Edward seraya mengecup kening menantunya.
"Makasih dad..." Senyum Fene.
"Kalian mau bulan madu dimana.? Italy, Bali, or...."
"Bali dad... Jawab Bram." Sambil memeluk Fene.
"Oke... Alberth akan mengurus semua untuk kalian berdua."
"Kami nggak diajak dad." Kevin muncul sambil memeluk Adrian dan Bram.
"Terserah..." Edward hanya berlalu meninggalkan anak-anaknya menemui tamu yang lainnya.
Murka Mark dan Hanz....
Melihat berita ditv tentang pernikahan Fene dan Bram, seketika itu juga Hanz Parker mengambil alih seluruh saham bentuk kerja samanya dengan Mark.
Hanz mendatangi Mark ke Italy, membawa bukti pernikahan Bram dan Fene. Wajah Hanz penuh emosi membuat Mark frustasi.
"Apa-apaan ini. Mereka telah menikah Mark. Apa yang kau lakukan.?" Murka Hanz melempar foto-foto pernikahan Fene dan Bram.
"Hanz.... Tolong saya. Saya tidak bisa menemukan keberadaan mereka saat ini." Mohon Mark.
"Aaaaaagh...." Hanz membanting semua barang yang ada di meja kerja Mark.
"Saya akan mencari Fene di Jakarta. Saya rasa mereka menikah disana." Pujuk Mark pada Hanz.
"Cepat lakukan, atau aku akan mengambil alih semuanya." Hanz berlalu.
Meminta para pengawalnya mencari Fene, Bram, Adrian atau Kevin.
"Siap tuan. Kami akan melacak keberadaan mereka semua." Angguk pengawal Hanz.
"Hubungi orang Edward, saya akan menemuinya empat mata. Sebelum semua terlambat." Ancan Hanz.
Bram Lincoln dan Fene Lincoln...
Mereka berpesta hingga malam, tertawa menari bersama. Mengikuti alunan musik penuh bahagia. Bram tak pernah melepaskan genggaman tangannya Fene. Benar-benar pernikahan yang sangat bahagia disiapkan oleh Edward untuk Bram.
"Bram, Oma mengucapkan selamat. Dia meminta kamu untuk segera mengunjunginya." Bisik Edward disela-sela pesta mereka malam itu.
"Tapi dad, oma kan masih LA kan.?" Tanya Bram.
"Ya, kapan kamu ada waktu saja."
"Oke dad."
Bram mendekati Fene menarik tangan Fene menikmati suasana dibalkon gedung menikmati keindahan kota Frankfurt di malam hari.
"I love you Fen." Bram mengecup kening Fene.
"I love you to Bram." Fene memeluk erat tubuh Bram.
"Apakah malam ini kita akan hmmmm..."
Fene membelalakkan matanya menatap gemas pada Bram.
"Kita akan tinggal di apartmen ku yah Fen." Ucap Bram.
"Ya, my hero..." Fene kembali memeluk tubuh Bram.
"Selamat malam Nyonya Bram." Suara Adrian....
"Aaaaaa.... Adrian." Wajah Fene merah merona menatap lesu Adrian dengan panggilan Nyonya Bram.
"Selamat Bram." Adrian memeluk Bram.
"Thanx dri... Gue lega, setidaknya Fene udh aman sama gue." Kekehnya.
"Gue ikut lo Bram." Wajah Kevin muncul di tengah kehangatan mereka.
"Kemana seeeh lo...!!" Jawab Adrian sambil mengacak rambut Kevin.
"Bali lah bro... Bali... Welcome to Bali..." Gelaknya sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur.
"Gue nggak sabaran ngeliat gadis exotik.." tawanya.
"Apa...?" Nichole tiba-tiba muncul.
"Oooogh honey..." Kekehnya sambil merayu Nichole bak pangeran menciumi kedua punggung tangan Nichole.
"Kapan seeh kalian nggak ngerecokin gue." Sesal Bram.
"Hmmmmm...." Kevin menatapkan wajahnya sembari membulatkan matanya.
"Veni mana dri.?" Tanya Fene.
"Dari tadi mepet mulu ama Petter, gue biarin aja." Sesalnya.
"Cemburu...." Ledek Kevin lagi.
"Weeeeek..." Adrian tiba-tiba seperti diledekin Kevin dari tadi.
Fene menatap wajah Adrian. Bram juga menatap Adrian.
"Nikahin dri...." Gelak Kevin.
"Diam lo..." Sesal Adrian.
Kevin malah senyum-senyum melihat wajah Adrian saat ini. Lebih ke cemburu yah guys....hahahaha...
Pesta selesai, Bram menghabiskan waktu bersama Adrian dan Kevin. Bersenda gurau hingga larut malam. Cuaca yang masih belum bersahabat dengan tubuh Fene membuat Fene lebih memilih istirahat dikamar.
Nichole dan Veni ikut menemani mereka.
Disela-sela istirahatnya, Fene mendapat panggilan telfon dari Marisa.
Drrrrt... Drrrt...
"Mami..."
"Selamat sayang, maaf mami tidak bisa hadir menemanimu, kamu bahagia kan.?" Tanya Marisa lembut.
"Sangat bahagia mi. Nggak apa-apa mi, mami kan sibuk juga." Fene berusaha menghibur Marisa.
"Istirahatlah, cuaca malam ini tidak bersahabat dengan tubuhmu." Kenang Marisa.
"Iya mi... Fene lagi di kamar aja. Bram masih berkumpul sama sahabatnya."
"Ingat Fen, Mark akan ke Jakarta dalam waktu dekat. Jaga kesehatan kamu, dan berbahagialah."
"I miss you mi."
"Miss you to sayang."
Marisa menutup telfonnya, sementara Fene mulai memejamkan mata.
Bram menghampiri Fene, memeluk tubuh Fene, penuh kehangatan.
"Aku fikir kamu bakal nginap bareng Adrian." Senyum Fene.
"Ya nggak lah. Istriku disini." Rayu Bram sambil mengelus punggung Fene.
Fene terkekeh geli dibalik selimut.
"Bram... Tidur dulu." Pinta Fene manja.
"Apa kamu nggak kedinginan.?" Rayu bram sangat menggoda menciumi punggung Fene dibalik selimut.
"Hmmmm."
Bram terus mencumbui punggung Fene, dengan lembut. Memberi sedikit rangsangan pada tengkuknya, lanjut ke leher belakang telinga.
Fene berbalik seketika menatap Bram yang sudah berada diatasnya.
"I love you Fen." Bram mencium kening, kedua pipi, berakhir dibibir Fene. Bram memainkan lidahnya didalam mulut Fene, membiarkan Fene merasakan gerakan tangan Bram yang mulai meremas kedua gunung kembar dibalik baju milik Fene secara bergantian.
Fene sedikit membuka bibirnya untuk mengeluarkan desahan lembut. Sambil menyebut nama Bram.
Bram membuka baju Fene, dan branya, melihat kedua payudara Fene begitu menggemaskan. "Indah banget seeh sweety, aku sangat menyukai payudara mu."
"Bram, aaaaagh... Aaaaaagh...." Fene meremas rambut Bram menekan kepalanya agar lebih lama memainkan puting Fene.
Bram begitu bergairah, menciumi perut, membuka kaki Fene dengan penuh kasih sayang, menciumi kaki jenjangnya hingga paha, membuat Fene terus mendesah nikmat. Bram membuka underware Fene melihat bagian intim Fene yang sangat wangi menggoda.
Menyusul Bram membuka celana dan underwarenya. Membiarkan tak sehelai benangpun menutupi tubuh mereka.
Bram mulai menjilati, sedikit menggigit daging kecil didalam sana, membuat Fene mengerang merasakan nikmatnya permainan Bram.
Berkali-kali Fene menyebut nama Bram. "Hold me Bram, i love you.... Aaaaagh Bram...." Tubuh Fene terus menggeliat.
"Sayang, kini aku suami mu, aku akan membuat mu terbang kedunia kita dengan pusaka ku."
Fene menyentuh pusaka Bram, dapat merasakan besar dan panjangnya.
"Aaaaagh Bram..."
Pusaka Bram yang telah ereksi sempurna, berada dipintu liang intim milik Fene, mulai memasuki dunia Fene yang masih terasa sangat sempit. "Sayang... Kok sempit banget..." Bram berbisik sambil menekan pelan hingga masuk jauh kedalam. Fene mendesah hebat, pusaka Bram, melesat dengan sempurna. Perlahan Bram menggoyangkan pinggulnya naik turun semakin lama semakin mempercepat ritmenya.
"Aaaaagh... bram..." Fene terus mendesah menikmati permainan Bram. Menggigit bibir bawahnya, semakin sexi dimata Bram.
Bram membalikkan tubuh Fene meminta fene untuk......."ini akan lebih nikmat sayang." Bram menekuk kedua kaki Fene, memasukkan pusakanya ke bagian intim Fene melalui belakang. Fene berteriak manja, sambil melihat kearah Bram, "bram... Come on baby... I like it... Aaaagh bram..."
Tangan Bram menyentuh payudara fene. Membuat fene mengerang berkali-kali. Sesekali Fene berteriak. "Kita bareng yah sayang." Bisik bram lagi. Membalikkan tubuh fene ke posisi semula.
Menekan pantatnya, memainkan lidahnya ke mulut Fene, meremas payudara, saat bram ingin mencampai puncak klimaks, disusul Fene mendesah menggigit bahu Bram merasakan sesuatu yang terasa nikmat saat mencapai pelepasan secara bersamaan. Meremas tubuh bram, Saat kepala Bram mendaratkan kepalanya di bahu Fene. Fene memeluk kepala Bram yang penuh dengan peluh. Dengan nafas terengah bram menciumi wajah Fene, "you great honey, i love you." Bisik bram.
"I love you to Bram." Balas Fene sambil membalas ciuman Bram.
"Is beautiful." Senyum Fene tampak sumringah.
Bram bergeser ke sebelah tubuh Fene, mengubah posisi letak kepala Fene ke dadanya. Mengelus pelan punggung Fene, mengusap peluh seakan-akan malam ini menjadi malam bersejarah bagi mereka berdua. Frankfurt '21.
Fene memeluk erat tubuh Bram yang berada disampingnya.
"Thanx sweety." Bram membawa Fene masuk kealam mimpi.
Pagi yang cerah....
Fene melihat Bram sudah membuka mata, sambil menatap Fene yang masih memeluknya.
"Kamu udah bangun.?" Tanya Fene sambil mendekatkan bibirnya kewajah Bram.
"Ya, aku melihat kecantikan wajahmu, sangat indah." Rayu Bram pagi itu.
Rona merah terpancar diwajah Fene.
"Mulai deh." Fene tersipu malu.
Honeymoon...
Perjalanan bulan madu Bram dan Fene, membawa Kevin, Nichole dan Adrian tanpa Veni.
Yaaaaah... Veni lebih memilih pulang ke Jakarta, dengan alasan pekerjaannya.
Sepanjang perjalanan Adrian terlalu bermuram durja. Mengingat Veni berubah seketika sejak dekat dengan Petter.
"Udaaah... Hilang satu tumbuh seribu." Ledek Kevin sembari menyuapkan makanan ke mulut Nichole.
"Aaaaagh... Kesel gue, masak dia lebih membela Petter tadi malam. Ampe nggak mau gue peluk. Gerutu Adrian.
Bram melihat kegelisahan sahabatnya seakan mengerti hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.
Fene lebih memilih mendiamkan Adrian. Tanpa bertanya sedikitpun. Karena Fene sangat memahami Adrian, jika dia ditanyain mulu Adrian akan tambah kesal.
Setiba dibandara Ngurahrai Bali, Bram lebih memilih meninggalkan Adrian, Kevin dan Nichole, dengan alasan mau berdua saja menghabiskan waktu bersama Fene.
Mereka sangat memahami kondisi sahabat mereka, karena mereka akan menghabiskan waktu didalam kamar. Bukan jalan-jalan.
Adrian, Kevin dan Nichole memulai perjalanannya menuju seminyak.
Saat berjemur ditepi pantai, mata Kevin tertuju pada Holi Parker yang sedang bergandengan tangan dengan pria bule.
"Dri... Itu Holi Parker deh, anaknya Hanz Parker." Kevin menunjuk kepada pasangan yang sedang menikmati pantai.
"Ooooh... Cantik yah. Mirip Fene. Tapi ini lebih sexi dan elegant." Puji Adrian.
"Gue panggil yah." Bisik Kevin.
"Jangan, ntar mereka tau kita disini." Ujar Adrian. "Emang lo kenal.?" Selidik Adrian.
"Kenallah... Sepupu gue." Jelas Kevin. "Tante Irene itu dulu masih deket ama keluarga, semenjak pertikaian sama Daddy, kita seakan tidak mengenal." Jelas Kevin.
"Kasihan yah, ternyata kita saat ini sedang bermain di masa lalu keluarga. Aaaaaagh.... Semoga semua cepat berakhir." Pasrah Adrian.
Tanpa sengaja Holi mendekati mereka. Dengan alasan Holi melihat Kevin.
"Haiii Vin." Sapa Holi.
"Eeeeh... Lo disini.?" Tanya Kevin seakan cuek.
"Ya lihat lah... Tapi jangan kasih tau gue disini pada siapapun, Papi pasti murka kalau tau gue menghabiskan sisa liburan disini." Jelasnya.
"Oooogh... Lo sendiri.?" Tanya Kevin.
"Ya, gue nyusul temen gue. Ni kenalin Marsel." Senyumnya.
Marsel mengenalkan dirinya pada Kevin, Adrian dan Nichole.
"Kenalin sahabat gue juga Adrian, dan ini kekasih gue Nichole." Senyum Kevin.
"Haaaaiii... Salam kenal." Holi melambaikan tangannya pada Adrian dan Nichole.
Mata Adrian melihat Holi seperti melihat sosok Fene. 'Cantik, tapi ini lebih santai dari Fene. Sepertinya produck Hanz lebih friendly dibanding orang tuanya.' bisik Adrian dalam hati.
"Marsel stay disini.?" Tanya Adrian memulai pembicaraan.
"Hmmmm... Dia hanya berlibur." Jawab Holi.
"Oooh... Emang lo masih di Newyork.?" Tanya Kevin seraya ingin tau.
"Ya, tapi gue jarang bertemu Papi dan Mami. Males, maunya mereka gue ngelanjutin bisnis nggak jelas mereka itu. Gue lebih baik menikmati kesendirian gue vin." Cuhatnya.
"Curhat bu.?" Tawa Kevin sambil memesan sesuatu untuk Holi dan Marsel.
"Ya iyalah, gue pengen hidup tu tenang, tanpa embel-embel Vin." Jelas Holi menggebu.
"Oya, lo kenal ama Fene.?" Kevin mencoba mengingat.
"Tau gue, kakak gue kan.?" Tanya Holi sangat santai tanpa berfikir akan didengar banyak telinga.
"Lo tau cerita itu.?" Penasaran Kevin dan Adrian makin menggebu.
"Tau, tante Marisa menemui gue beberapa bulan lalu. Menceritakan semua. Gue kesel ama mereka vin. Jujur aja. Kecewa. Nggak perlu ditutupin juga kan.? Buktinya sekarang Fene menikahi Bram, pria idaman gue dari dulu."
Wajah Holi sangat polos menceritakan semua pada mereka.
"Idaman.?" Kevin menelan slavianya menatap wajah Holi.
"Ya, dulu gue seneng ngeliat Bram, baik seperti Maminya, lembut. Tapi dia mencintai wanita lain. Gue biarin aja. Toh itu kebahagaiaannya kan.?" Ceritanya.
"Trus Marsel.?" Tanya Kevin lagi.
"Aaaaaah... Ini maaaah temen gue, dia kan stay di Paris kerja di Bank juga. Jadi kita liburan bareng aja. Toh jomblo sejati." Tawanya sangat akrab.
"Oya Vin, Fene dan Bram menikah dimana.?" Tanyanya.
"Hmmmm... Setau gue di Jakarta." Bohong Kevin.
"Sepertinya mereka sedang mencari keberadaan Fene dan Bram, Papi kan marah besar sama Papi Mark. Gue nggak ngerti ama jalan pikiran mereka. Males gue ikut campur." Kesal Holi.
Ucapan Holi memang seperti orang yang penuh menyimpan kekesalan pada keluarganya.
"Lo nggak marah Fene ama Bram.?" Tanya Kevin pura-pura polos.
"Ya elah Vin, mau itu Bram, anak siapapun atau siapalah yang mau jadi pendamping Fene, gue akan senang dengan pilihannya. Siapapun. Gue kesel baca media. Lihat berita, seakan-akan pilihan Fene itu suatu bisnis. Gue nggak pernah berfikir sejauh itu Vin. Bagi gue Fene tuh udah kuat banget dari gue, dia berhak bahagia sama pria pilihannya. Gue rasa om Edward juga baik, tetap setia pada istrinya sampai tutup usia. Gue lihat perjuangan om Edward. Beberapa kali gue pernah bertemu om menemani aunty berobat." Jelasnya panjang lebar.
Kevin, Adrian dan Nichole hanya terdiam mendengar racauan Holi.
"Lo nginap dimana.?" Tanya Holi.
"Hmmmm... Tapi lo bisa di percaya kan.?" Kevin menatap Adrian.
"Tenang, lo bisa cek hp gue kok, gue nggak pernah mau tau urusan Papi dan bisnisnya. Yaaaah... Walau gue ada saham, tapi gue rasa itu bukan milik gue. Gue nggak pernah menerima hasil itu. Karena bagi gue, pekerjaan gue, udah memberi gue karier dan uang yang cukup. Bersyukur aja. Jika sewaktu-waktu itu beralih ke gue, gue akan sumbangkan ke panti jompo atau panti sosial." Jawaban Holi menyentakkan lamunan Kevin dan Adrian.
"Bram dan Fene ada disini, tapi gue berpisah karena mereka lagi inthehooiii..." Jelas Kevin terkekeh.
"Wooooow... Kebetulan donk, gimana nanti malam kita pesta bersama. Dan mulai merencanakan hal yang baik untuk kita semua.?" Ide Holi.
"Good idea. Oke nanti gue kabarin kita ketemu dimana." Kevin penuh semangat.
"Oke."
"Oooh ya, lo bawa temen.?" Tanya Kevin serius.
"Ya nggak lah, gue mau kumpul keluarga. Nggak ada yang boleh ikut, bukan begitu Marsel.?" Tanya Holi serius.
"Ya, kebetulan nanti malam saya sudah balik ke Paris. Kami baru bertemu, karena saya tidak bisa cuti terlalu lama." Senyum Marsel.
"Oke... Deal." Kevin berjabat tangan dengan Holi, sambil memeluk tubuh Holi.
Holi berlalu melanjutkan jalan-jalannya.
"What do you think.?" Tanya Kevin menatap mata Adrian.
"Hmmmmm... I don't think so..." Senyum Adrian terlalu dingin. Karena diotaknya saat ini hanya Veni... Veni Smith.
Tobe continue.....