Family...

2273 Words
Kevin telah mengkonfirmasi pada Edward dan Bram untuk pertemuan mereka bersama Holi Parker. Disebuah restorant yang telah direserfasi khusus mereka malam ini. Tujuannya hanya satu, mempertemukan Fene dengan keluarga kandungnya Holi. Dua wanita luar biasa, yang sangat berbeda dengan sifat kedua orang tuanya. Bagaimanapun semua harus segera dipertemukan dan diselesaikan, agar mereka dapat menjalani hidup seperti impian mereka. Bram berdandan santai, begitu juga Fene dibalut dres mini. Bram menggandeng erat jemari Fene saat memasuki restorant. Melihat kehadiran sahabatnya yang lebih dulu tiba. Meski sedikit terlambat mereka senantiasa menyambut kehadiran dua insan ini dengan hangat. "Hmmmmm.... Mesum mulu deh otak gue kalau ketemu kalian tu." Tutur Kevin sambil memeluk Bram dan Fene secara bergantian. "Dasar... Omes." Gelak Bram. "Mana Holi.?" Tanya Fene penasaran. "Kata orang seeeh otewe..." Gelak Kevin memanggil waiters untuk memesan beberapa makanan pembuka. Bram membuka kursi untuk Fene agar duduk disampingnya sambil menggengam erat jemari Fene. Mata Fene tertuju pada Adrian yang otaknya berada diluar ruangan ini. "Lo kenapa.?" Tanya Fene lembut. "Veni minta putus." Sedihnya. Menunjukkan percakapannya melalui Ig nya. "Oooogh...." Kejut Fene. "Udah... Nikmati dulu, gue yakin Veni sedang dimabuk rayuan pulau kelapa Petter." Gelak Kevin. Mata Adrian, terutuju pada sosok gadis yang sangat cantik masuk ke resto tempat mereka berkumpul. Disusul mata Bram, Kevin, Fene dan Nichole. "Holi... Is beauty." Batin Adrian. Fene menatap tanpa berkedip. "Wooooow...." "Haiii... Holi..." Panggil Kevin. Holi menghampiri meja mereka. Memeluk Adrian, Bram, Kevin dan Nichole secara bergantian. Terakhir Fene, mereka saling bertatapan menyimpan sejuta tanya kemudian berpelukan erat. Tak terasa mata kedua wanita itu basah, menangis bersama. Ada titik kerinduan di hati masing-masing. "Kenapa kita dipertemukan sekarang.?" Pertanyaan mereka sama, kerinduan mereka juga sama. "You oke.?" Holi melepas pelukannya. Menangkup wajah Fene. Fene mengangguk. Meminta pada para sahabatnya untuk membiarkan mereka berdua. "Guys... Gue dimeja sana yah, ada private sama adik gue." Fene memohon sambil mengusap bahu Bram. "Okee sweety..." Izin Bram. Fene berlalu memasuki satu ruangan privasi yang telah disiapkan oleh pihak restorant sesuai permintaan Kevin. Fene dan Holi masih saling bertatapan sesengukan bak orang yang baru menemukan belahan jiwa. Pada dasarnya dari mereka lahir mereka sudah terpisahkan. Saat ini dipertemukan tanpa perencanaan. Tanpa diduga. Hati mereka sebenarnya rapuh. Ada... tapi menganggap nggak ada selama ini. "Selamat yah Fen, gue seneng banget denger pernikahan lo." Holi menyeka pipinya. "Makasih sayang, gue nggak pernah tau wajah lo. Ternyata kita ada kesamaan." Senyumnya. "Gue tau beberapa bulan lalu dari aunty Marisa menemui gue. Jadi gue merasa kesal ama Papi, kenapa tega misahin kita. Gue ribut ama Papi, Fen. Papi kecewa dengan pilihan lo, Bram. Secara kita kan lumayan deket sama Mami Bram." Jelas Holi sambil menghela nafasnya dalam. "Trus Papi merasa Mark mempermainkannya. Makanya gue lebih memilih menghindar agar dia nggak nemuin gue. Papi nggak tau gue di Bali. Gue diam-diam pergi. Janjian sama temen gue Marsel. CEO Bank di Paris. Jujur gue kecewa. Sengaja hp gue nggak gue aktifin. Biarin mereka marah." Gerutu Holi. "Lo tau Papi Mark.?" Tanya Fene penasaran. "Tau donk, kan gue beberapa kali jumpa, tapi karena gue lebih sering ngabisin waktu sama Oma, makanya gue nggak begitu deket ama keluarga." Tambahnya. "Ooooogh...." Angguk Fene mengerti kondisi Holi saat ini. "Trus masalah bisnis papi gimana Hol.? Bukannya lo ada saham di Las Vegas." Tanya Fene. "Aaaaagh... Gue nggak pernah tertarik ama bisnis haram itu. Sampai saat ini nggak pernah gue terima uangnya. Haram buat gue. Mending gue urusin karier gue aja. Setidaknya cukup buat gue." Racau Holi kembali terdengar cuek di telinga Fene. "Hmmmmm... Gue juga nggak ngerti, yang penting sekarang gue mau hidup begini aja." Jelas Fene. "Iya, lakukan yang terbaik aja, agar semua menjadi baik Fen. Tutup bisnis haram." Pesannya. "Gue nggak mau pergi dikawal, nggak bebas." Gelaknya. "Oooh yah, bisnis om Edward juga masih sama kan sama Papi.?" Holi sedikit berbisik ketelinga Fene. "Ya." Fene menggigit bibir bawahnya, sembari menunduk. "Bram....? Nerusin.?" Tanya Holi menatap mata Fene. "Ya...." "Ooooogh God.... Kalian harus hati-hati, gue nggak mau kenapa-kenapa ama lo Fen." Sedihnya. "Di Jakarta gue ada garmen, ada rencana gue mau membangun rumah sakit khusus warga kita." "Wooooow... Great... Good idea. Gue dukung lo. Berapa lo butuh dana.?" Holi menggebu. "Hmmmmm.... Udah cukup seeeh." Jawab Fene ragu. "Pentingnya, lo jangan sungkan. Gue akan dukung lo. Gue juga lihat lo makin cantik semenjak jadi istri Bram, lebih cerah dan bahagia. Beda ama gue... Nggak pernah berhasil menjalin relationship." Holi seakan meratapi percintaannya. Fene tertawa. Sambil menunjuk Adrian yang sesekali mencuri pandang pada mereka berdua. "Dia anak Adriana kan.?" Bisik Holi. "Iya, dia sahabat gue." Jelas Fene. "Maminya selingkuhan Mark, males gue. Ntar dia selingkuhin gue mulu deh." Kekehnya. "Adrian beda kali Hol..." Fene sedikit membela. "Siapa bilang, darah mereka kan satu." Jelas Holi. "Beda dong..." "Sama... Percaya deh ama gue." Holi mengedipkan matanya sambil melirik kearah Adrian. "Gue udah tau semua, makanya gue nggak respect ama dia dari awal bertemu." Jelas Holi. "Yaaaah.... Terserah lo aja." Fene sedih melihat nasib Adrian atas penilaian Holi. "Media tau gitu.?" Holi coba mencari tau. "Nggak seeeh... Tapi ntahlah. Gue juga males ikutin ceritanya saat ini." Tunduk Fene. "Yang penting gue selalu dukung lo, lo butuh apa aja lo kasih tau gue... Kita ini Family, keluarga. Gue cuma punya lo." Holi menggenggam erat jari Fene. Tak terasa mata Holi berembun. "Gue mau cari cowok yang bener-bener dari keluarga baik, bukan dari hasil perselingkuhan. Lo beruntung dapat Bram." Lanjutnya. "Tapi Hol, Adrian berbeda. Dia sahabat gue dari kecil." Bela Fene. "Sahabat...?" Holi menaikkan satu alisnya. "Apa dia nggak naksir ama lo.?" Fene menarik nafas dalam menatap mata Holi dalam. "Fen, gue nggak ada maksud buat ngejelekin sahabat lo... Bagi gue, jikalau seseorang dilahirkan dari hasil perselingkuhan, pasti menurun ke anaknya." Holi meyakinkan Fene. "Gue....???" Bola mata Fene membulat sambil menunjuk dirinya. "Lo dari Irane dan Hanz... Papi dan Mami kita, tapi tanpa pernikahan. Benerkan?" "Hmmmm... Gue nggak ngerti. Yang penting gue bersyukur punya adik kayak lo, melebihi detektif." Hahahhaa.... Gelak Fene. Mereka tertawa saling berbagi cerita. Sesekali Holi melirik Adrian. "Hmmmm... Kalau dia nemuin gue malam ini dihotel nggak apa-apakan Fen." Kekeh Holi. "Gila lo, ngapain.? Mau test drive.?" Fene terkekeh melihat adiknya yang tersipu malu. "Yaaaa.... Gue colek dikit." Hahahaha.... "Nanti lo ajakin aja. Ceweknya Veni minta putus. Kali aja kalian klop." Jujur Fene. "Hmmm... Gue ni susah Fen, buka hati. Males ribet ama perasaan." "Kok sama.?" Fene menatap Holi. "Listen... Lo bilang ceweknya Veni, Veni Smith bukan.? Anaknya William Smith pengusaha kuliner." "Iya... Lo kenal.?" Tanya Fene penasaran. "Ya kenallah... Dia kan pacarnya Misel, temen gue yang di Paris yang tadi jumpa ama Kevin juga." Jelasnya sangat santai. "Maksud lo.? Mereka masih pacaran.?" Fene makin penasaran. "Udah lama banget kali sayang..." Holi mencari foto kebersamaan Veni dan Marsel di hpnya yang baru dikirim Marsel beberapa bulan lalu. "Inikan orangnya.?" Holi melihatkan foto Veni dan Marsel saat di Paris. Fene menutup bibirnya. Seakan tidak percaya. Sambil menatap Adrian. "Ooooh my God." Fene menyandarkan tubuhnya. Tidak menyangka Veni setega ini pada Adrian. "Heeeeeiiii... Sekarang Marsel di Jakarta menemuinya, sebelum berangkat besok ke Paris." Tambah Holi. "Lo kirimin Foto itu ke gue, nanti gue...hmmmm...." Fene ragu. "Minta aja dia temuin gue. Tenang dia aman, nggak gue pretelin." Kekehnya. "Yuuukz... Kita gabung ama mereka, kasihan mereka dari tadi kita tinggal." Pinta Holi. "Oke." Fene memeluk tubuh Holi lagi, nggak menyangka bahwa Holi sangat welcome padanya, membuat Fene sangat nyaman berada di dekat adiknya setelah sekian lama berpisah. "Heeeeeiiii..." Fene merangkul bahu Bram. "Sory lama." Senyum Fene. "Nggak apa-apa sweety..." Bram memeluk tubuh Fene yang masih berdiri didekatnya. "Adrian, lo bisa anterin gue balik ke hotel nggak.? Gue sendiri, tadi naik taxi." Adrian merasa kaget mendengar permintaan Holi. "Hmmmm... eeeeggh... Sama Kevin aja deh." Tolaknya. "Hmmmm... Nichole cemburu ntar." Kekehnya. "Udah lo aja, kalau gue males, gue mau jalan-jalan aja balik ke villa bareng Bram." Tolak Kevin sambil menatap Bram. "Makan dulu tuh, dari tadi kalian ngobrol tanpa makan." Kevin kembali focus pada hpnya. "Iya... Sebab berfikir itu butuh asupan gizi yang cukup. Apalagi jika tau kekasih selingkuh." Ujar Holi sambil tersenyum. "Uhuuuug.... Uhuuuugh...." Adrian tersedak saat menyeruput expresonya. "Sory gue nggak ada niat nyindir lo kok." Senyum Holi sambil melahap makanan yang sudah dingin. Fene hanya mengedipkan matanya pada Holi. Mengusap bahu Bram sesekali. "Siapa yang selingkuh sweety.?" Bisik Bram. Fene membalikkan tubuhnya sambil merapatkan giginya. "Veni sayang." Bram menutup mulutnya, "spechles gue." Bola matanya membesar seraya mengangguk pelan menatap Fene. Fene meletakan tunjuknya pada bibirnya, agar Bram tidak bersuara lagi. "Udah dri, lo antar aja. Pakai mobil gue, gue bareng Kevin aja. Kita kan satu vila tapi beda gedung..." Tawanya. "Hmmmm.... Ntar gue khilaf gimana.? Atau nyasar." Sambil melirik Holi. "Tenang, gue aman. Lo khilaf gue juga suka khilaf kok." Kekehnya. Mata Kevin melirik Adrian dan Holi... "Udah... Jadikan..." Sorot mata kevin tak luput dari hp yang dimainkan bersama Nichole. "Heran deh ama kalian, pacaran gaaaaame mulu. Pusing gue." Sindir Adrian. "Biarin." Ejek Kevin. "Jalan sekarang.?" Adrian mengambil kunci mobil Bram, berlalu meninggalkan sahabatnya. "Besok gue call lo yah sis... I love you." Holi memberi kecupan lewat tangannya yang ditempel pada bibirnya menghembuskan ke udara membawa ke Fene. Fene menerimanya sambil mengedipkan mata indahnya. "Vin, Veni bukan ama Petter melainkan selingkuh ama Marsel." Bisik Fene. "What.... You kidding me.?" Teriak Kevin meletakkan hpnya. "Ya, ternyata Veni selingkuh udah lama dari Adrian. Hmmmmm...." Fene sesaat memikirkan perasaan Adrian. "Jadi ngapain dong Veni nemuin gue nangis-nangis waktu dibandara." Ucab Bram. Mata Fene membesar menatap wajah Bram. "Nggak sayang, kejadian dulu itu lhooo... Yang kamu di racunin pria mobile legend ini." Gelak Bram. "Stop.... Gue nggak mau inget lagi." Tapak tangan Kevin tegas berada diudara. "Dengerin aja dulu. Besok cerita Adrian. Saat ini kita silent dulu." Mengalihkan pembicaraan. "Oke." Sahut mereka berbarengan. Lumayan lama mereka menghabiskan waktu di restorant setelah kepergian Adrian. Wait n see. Adrian dan Holi... "Lo sampai kapan disini.?" Tanya Holi mencoba menghibur Adrian. "Hmmmm... Nggak tau, pengen lama aja." Adrian masih murung. "Otak lo di cuci dulu gih... Biar nggak semek. Males gue lihatnya." Sindir Holi. "Yeeee... Suka-suka gue dong." Adrian mulai nyolot. "Hmmm... Lo aneh yah, cewek lo yang selingkuh lo yang uring-uringan." Jelas Holi. "Maksud lo.? Siapa yang selingkuh.?" Tanya Adrian penasaran. "Yaaaa... Veni lah, Veni Smith." Holi masih santai melihat kiri sepanjang jalan. Chiiiiiiiiiiiit.... Adrian menginjak rem membuat Holi kejedot dasbor. "Axxxx.... Sakit tau dri... Lo bisa nyetir nggak?" Kesal Holi sambil mengusap kepalanya. "Lo ulangi lagi.... Siapa yang selingkuh.?????" Tanya Adrian geram. "Lo hoax kan.???" Dada Adrian bergemuruh seketika. "Hmmmm.... Oke... Kita vc sama Marsel yah." Jelas Holi sambil menekan nomor Marsel, membuka layar video call. "Ngumpet lo." Holi memutar kameranya. "Haaaaiii... Dimana lo.?" Tanya Holi ramah pada Marsel. "Lagi ama V dong..." Tawa Marsel bahagia. Ditunjukkan keberadaannya di sebuah apartemen, Adrian tau pemiliknya. "Syukur deh, salam yah. Buat kekasih lo." Tawa Holi. "Iya... Aku udh denger." Suara Veni dan wajahnya muncul seketika sambil mencium Marsel. "Lo dijalan Hol.?" Tanya Marsel. "Iya... Lagi bete gue, nggak ada cowok." Tawanya. "Ya udah hati-hati, gue lanjut yah Hol. Bye." Telfon tertutup, Holi melihat wajah Adrian yang merah padam mendengar kekasihnya bersama pria lain. "Siapa yang hoax dri.?" Tanya Holi. Adrian tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Memukul-mukul stir mobil sekuat tenaganya. "Anjiiiiing.... Sakit banget gue." Ratapnya. "Santai dong... Jangan bucin gitu. Masih banyak cewek lebih baik dari dia." Holi tersenyum menatap Adrian. Mata Adrian memerah, rahangnya mengeras menatap Holi. "Lo kenal Veni.?" Tanya Adrian. "Waktu dia ke Paris gue vc juga ama Marsel. Makanya gue tau dia di Paris." Jawab Holi sangat santai. "Lo taukan perasaan gue malam ini.?" Tanya Adrian kesal. "Mana gue tau, nggak urusan gue." Kekeh Holi. Makin membuat Adrian kesal. "Lo mau minum wine ama gue.?" Tawaran Holi. "Hmmmm... Gue baru kenal ama lo, males. Lagi nggak mood gue." Jawab Adrian ketus. "Bego lo, marah-marah nggak jelas karena cewek gitu, bagus havefun... Toh doi juga lagi havefun sama Marsel." Sindir Holi. "Oke... Gue nggak tanggung jawab kalau lo gue unyek-unyek malam ini." Sesal Adrian. Holi hanya terkekeh mendengar Adrian. "Kita lihat aja, apa lo punya nyali buat ngunyek gue. Hahahaha...." Holi makin tertawa lebar. 'Ni cewek nekat yah ama gue.' gerutu Adrian dalam hati. Sambil melajukan mobilnya menuju hotel Holi. "Cheeeers... Jomblo ketemu jomblo." Tawa Holi. Adrian meminum tanpa henti. Memesan beberapa botol untuk menghilangkan rasa kecewa, dan marahnya. Terkadang Adrian menangis sendiri, terkadang tertawa dan bicara sendiri. Wajahnya makin memerah seperti udang rebus. Holi meninggalkan Adrian sambil terkekeh. Adrian sendiri di ruang tamu kamar hotelnya meneruskan minumannya. Sementara Holi memilih istirahat karena dia tidak begitu suka minum. Adrian terus berteriak sesekali menyebut nama Fene, Adriana, maratapi nasibnya yang sangat menyedihkan. Bahkan lebih sedih dari film India...hahaha... Hingga Adrian tertidur di sofa tanpa memperdulikan dimana dirinya saat ini. Pagiiii.... Holi bangun menggeliatkan tubuh langsingnya, membuka pintu kamar mendapati Adrian masih tertidur, dengan wajah yang sangat sembab. "Dri... Holi mengusap dan menatap wajah Adrian. 'hmmmm... Tampan.' senyumnya. "Dri... Adrian... Wake up." Holi menepuk lembut pipi Adrian. Adrian membuka matanya sambil mengusap matanya. "Aduuuuh... sakit banget kepala gue." Holi menunjuk lima botol minuman diatas meja tamu sambil geleng-geleng kepala. "Gue balik." Adrian mencoba berdiri, tapi sayang Adrian pitam seketika, disambut oleh tubuh Holi. Mata mereka bertemu, tubuh Adrian ada diatas tubuh Holi yang menyamping menyambut Adrian. Holi menatap Adrian seakan pasrah. Menanti bibir Adrian yang ada dihadapannya. Seketika Adrian menempelkan bibirnya pada bibir Holi, mencium lembut, Holi menyambut ciuman Adrian. Mengalungkan tangannya pada leher Adrian. Beberapa menit mereka terhanyut, tersentak lalu mendorong tubuh Adrian dengan salah tingkah. "Hmmmm... Sory." Holi gugup seketika. "Ya... Sory. Gue terbawa suasana. Gue balik yah. Makasih udah mgebuka mata gue. Gue permisi." Adrian berlalu, sadar seketika bahwa dia harus menyelesaikan hubungannya dengan Veni. "Shiiiiit." Geramnya. "Gue harus balik. Nyelesaikan ini sama Veni." Batinnya. Tobe continue...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD