Setiba di villa, Adrian menemui Bram memberi kunci mobil, meminta agar diantar kebandara.
"Kok udah rapi, bawa travelbag lagi. Lo mau kemana dri.? Tanya Bram.
"Gue harus nyelesaiin masalah gue ama Veni, Bram." Sedikit emosi.
"Dri, gue tau lo sakit hati. Tapi lo harus tau kenapa Veni begini. Lo coba pikir kesalahan apa yang pernah lo buat ama dia.? Gue bukan ngungkit, tapi setidaknya jangan emosi. Lo harus dengerin Veni juga dri. Jangan egois. Gue akan antar lo, tapi lo janji jangan emosi dan hati-hati." Bram merangkul pundak Adrian.
"Fene mana Bro.?" Kepala Adrian celingak celinguk mencari keberadaan Fene.
"Lagi pergi sama Holi. Mau shoping sekalian jalan-jalan." Jelas Bram.
"Ya udah, anterin gue."
"Ya." Bram menutup pintu kamar, berlalu menuju bandara.
Dibandara Adrian banyak bercerita tentang Veni. Tentang mabuk dia tadi malam, hingga dia agak sedikit mesum pada Holi.
Bram mendengar racauan Adrian hanya terkekeh.
"Nggak usah deh, masak kita nikahin kakak ade. Nggak lucu. Kayak nggak ada keluarga lain aja." Bram mencoba memberi pemahaman pada Adrian.
"Apa gue cari cewek indo aja kali yah." Tawanya.
"Terserah, apa lo bisa jalanin perbedaan kultur.? Kalau bisa lanjut aja." Senyum Bram.
Saat pemberitahuan keberangkatan diumumkan, Adrian memeluk Bram. Pamit, "menunggu Bram dan Fene di Jakarta."
Adrian berlalu meninggalkan Bram, ada rasa sedih melihat adik tirinya murung...
"Ya udahlah... Biar dia selesaikan masalahnya. Toh udah gede." Bisik Bram sambil berjalan meninggalkan bandara.
Jakarta....
Setiba di Jakarta, Adrian bergegas menuju restorant milik Veni, tapi menurut karyawannya Veni sejak tadi belum menampakkan wajahnya.
Adrian meminta sopirnya agar segera menghampiri apartemen Veni.
Setiba di loby mata Adrian tertuju pada Veni sedang bergandengan tangan dengan sosok pria bule, bertubuh tegap yang pernah bertemu dengannya.. 'Marsel' bisiknya. Hmmmmm.... Adrian menarik nafas dalam. Meminta supirnya untuk mengikuti arah mobil Veni.
Mobil terarah menuju bandara. Adrian masih didalam mobil, melihat kemesraan Veni dan Marsel. Beberapa kali Veni merijek panggilan Adrian. 'Apa aku tak berarti bagimu Ven.?' batin Adrian.
Adrian menunggu, hingga Veni meninggalkan Marsel dibandara.
Veni menghubungi Adrian saat meninggalkan bandara.
"Ya." Jawab Adrian.
"Kamu kapan pulang.?"
"Hmmmm... Mungkin lusa. Kenapa.?" Bohong Adrian.
"Oooh... Aku akan menyusulmu sore ini." Jelas Veni.
"Kamu dimana.?" Adrian mengalihkan pembicaraannya.
"Dijalan, menuju resto." Jawab Veni masih belum mengetahui keberadaan Adrian, sejak tadi mengikutinya.
"Hati-hati." Adrian menutup telfonnya.
Menarik nafas dalam, meminta sopirnya untuk segera kerestorant milik Veni.
"Kita ke resto Veni pak."
"Baik tuan."
Pak Sutono melajukan mobilnya menuju restorant Veni.
Tak lama menunggu, mobil Veni memasuki area parkir resto miliknya.
Adrian keluar dari mobil menghampiri Veni yang sangat kaget melihat Adrian sedang berdiri menunggu dia keluar.
'Adri....' bisik Veni, sambil membuka pintu mobilnya.
"Adrian...?? Kamu kapan dari Bali.?" Wajah panik Veni terlihat jelas dari cara dia menatap Adrian.
"Hmmmm... Penting yah.?" Jawab Adrian dingin menatap mata Veni sedari tadi salah tingkah dihadapan Adrian.
"Hmmmm... Ya... A a akukan bisa jemput kamu kebandara." Alasannya gugup.
"Hmmmm... Aku menemuimu hanya untuk mengembalikan semua ini. Memberikan papperbag besar berisi seluruh baju Veni yang ada diapartemen Adrian. Sebelum Adrian menemui Veni, Adrian terlebih dahulu mampir keapartemennya.
"Mmmm... Mmmm maksud kamu apa dri.?" Tanya Veni.
"Kamu ingin putus, oke kita putus, dan kita propesional saja untuk project Fene, karena aku juga punya saham disana." Adrian berlalu pergi meninggalkan Veni, tapi Veni malah menarik lengan Adrian.
Reflek Adrian menolak untuk disentuh Veni hingga mendorong tubuh Veni membuat Veni.....
BHUUUUUK.....
Veni terjatuh, Adrian tidak memperdulikannya berlalu memasuki mobil dan meninggalkan Veni tanpa membuka kaca, atau pun melihat dari balik kaca. Wajah itu sangat dingin.
"Adriaaaaaaan." Sesal Veni.
Adrian mengirim semua foto-foto Veni saat bersama Marsel, dari apartemennya hingga bandara.
Veni menggenggam hpnya sendiri. Menangis di parkiran menyesali akan perbuatannya. Sebenarnya Veni hanya merasa jenuh dengan hubungannya bersama Adrian, akhir-akhir ini Adrian sangat berubah. 'hmmmm.... Maafkan aku Adrian' Veni mengirim pesan kepada Adrian, tapi Adrian tidak mengacuhkannya.
Diapartemen Adrian meminta maid untuk membersihkan rumahnya, dan memasak beberapa masakan. "Lagi malas keluar..." Batin Adrian.
Drrrrt....drrrrrt...
'Veni' bisik Adrian.
'Dri... Aku akan menjelaskan semua. Kamu merubah paswordmu.? Aku dibawah.'
Adrian hanya membaca, menghapus, melanjutkan santainya tanpa memikirkan Veni.
Drrrrt.... Drrrrt...
'Mami.' batin Adrian.
"Dri, Mami di Jakarta. Kamu dimana.?" Tanya Adriana.
"Hmmmm... Aku diBali Mi." Bohong Adrian.
"Mami tunggu kamu di Jakarta, ada sesuatu yang ingin Mami bicarakan padamu." Jelas Adriana.
"Sesuatu...??" Adrian sudah tau sesuatunya Adriana. "Lewat telfon saja Mi, mungkin aku akan lama disini." Adrian menarik nafas kesal.
"Hmmmm.... Adrian, kamu baik-baik sajakan.?" Tanya Adriana.
"Baik, hanya saja mengalami perubahan cuaca." Jelas Adrian.
"Dri... Mami ingin bertemu... Mami ingin memberitahukan sesuatu." Adriana mengulanginya lagi.
"Sesuatu bahwa aku anak Mark mi.?" Jawab Adrian sangat santai. Membuat Adriana kaget mendengar kata-kata Adrian.
"Dri... Apa yang kamu dengar.?" Tanya Adriana. Ada perasaan sakit didalam lubuk hatinya.
"Udahlah mi, aku hanya ingin menenangkan diriku disini. Apa Mami bersama Mark.?" Tanya Adrian kesal.
"Ya, uncle Mark ingin bertemu kamu dan Fene." Mohon Adriana.
"Hmmmm... Fene sudah menikah dan dia sudah melakukan hal yang baik. Jangan ganggu kami lagi." Tegas Adrian.
"Adrian, Mami menyayangi kamu." Terdengar suara tangis Adriana.
"Mi, aku tidak pernah berniat menyakitimu, aku sangat menyayangimu sampai aku mati. Tapi aku tidak suka dengan perselingkuhanmu. Apa salah Papi ku Lim hingga Mami tega berselingkuh dengan pria yang selama ini sahabat Mami. Apa perlakuan sahabat seperti itu mi.?" Hati Adrian yang sedang berkecamuk mengungkapkan isi hatinya pada Adriana.
"Aku bukan sahabat yang baik untuk Fene, tapi aku selalu berusaha melindungi Fene. Bukan memanfaatkan tubuh sahabat sendiri Mi, aku rasa... Mami Mengerti bagaimana hati ku saat ini. Bram dan Fene saling mencintai. Jangan ganggu mereka. Urusan kalian adalah bisnis, kalian tidak mengerti akan dunia kami anak-anak kalian yang saat ini menanggung dosa kalian." Ketus Adrian.
"Adriiiiiaaan... Jaga bicaramu." Tegas Adriana.
"Mami... Jaga sikapmu. Jangan pernah merusak rumah tangga sahabatmu." Adrian menutup telfonnya. Melempar hpnya kesofa disampingnya.
"Ck.... Kenapa dunia begitu kejam.? Ooooh God..."
Adrian mengacak rambutnya kasar, merebahkan tubuhnya diatas sofa. Mengganti chanel tv secara acak. 'Lebih bagus ngeliat tom&jery.' bisiknya.
Drrrrt....drrrrt....
'private nomber'
"Hmmmm... Halo."
"Gue Holi..... Vc yuk..." Adrian membuka Vidionya.
"Haiiii... Kok ke Jakarta nggak ngomong ama gue.?" Tanya Holi sambil melihatkan kebersamaan mereka di sebuah resto.
"Hmmm... Lo minta nomor gue dari siapa.?" Adrian memeluk bantal yang dipeluknya dari tadi.
"Udah cuci otak lo.?" Holi terkekeh.
"Hmmmm... Males... Besok gue cuci pas ketemu lo..." Adrian masih menekuk wajahnya.
"Come ooon dri... Cinta ku menunggumu." Kekeh Holi.
"Gila lo... Gue mau cari cewek indo aja, males gue ama lo, banyak selingkuh." Adrian balik terkekeh.
"Hmmmm.... Lo belum kenal gue kali dri." Tawa Holi.
"Males deket ama adenya sahabat sendiri. Nggak lucu juga gue jadian ama ade Fene, Sementara Bram abang tiri gue."hahahaha....
Tawa Holi dan Adrian makin hangat. Sekan-akan dengan begini Adrian dapat melepaskan kegundahan hatinya.
"Dri... Move on dong." Teriak Fene dari belakang, memeluk tubuh Holi.
"Males, kalau disuguhin ade lo Fen, ade lo kaku. Cantik doang, mulutnya asal nyablak." Sesal Adrian.
"Lebih bagus, daripada lembut, ternyata setan." Kekeh Holi makin menggemaskan pemandangan Adrian.
"Udah aaaagh... Gue mau istirahat. Capek gue nemenin orang bulan madu mulu." Adrian menutup telfon Holi, tersenyum lumayanlah.
"Pagi ini gue akan menghabiskan waktu diruangan kerja Fene, karena kantor gue di jual Fene. Dasar bocah tengil, dia pikir gue sahabat yang jahat gitu." Bisik Adrian melajukan mobilnya menuju kantor Fene.
"Nggak banyak perubahan, hanya nama yang berganti menandakan perusahaan ini milik Fene pribadi." Adrian tersenyum melihat semua karyawan yang lumayan lama tidak dia temuin.
"Jasmine, kamu di tarik mba Fene ke gedung sini.?" Kaget Adrian saat melihat Jasmine saat ini menjadi Manager keuangan Fene.
"Semua pak, tapi pak Adrian kan di jadikan Direktur utama di sini." Jelas Jasmine menunjukkan semua berkas dihadapannya."
"Jadi ruangan saya yang mana.?" Tanya Adrian.
"Itu pak, sebelah ruangan mba Fene kan ada nama bapak." Tunjuk Jasmine mengarah kesalah satu ruangan yang tertulis nama ADRIAN.
"Ooooh... Kamu tetap melayani saya yah, saya nggak mau ganti secretaris." Tegasnya pada Jasmine.
"Tapi pak..." Ragu Jasmine.
"Nanti saya bicara sama bagian Hrd, kamu balik isi meja secretaris yang kosong itu." Adrian menunjuk meja kosong yang ada di dekat pintu ruangan Adrian.
"Hmmmm.... Gaji saya gimana pak.?" Tanya Jasmine ragu.
"Saya yang atur." Adrian membisikkan ketelinga Jasmine, membuat Jasmine sedikit merinding takut melihat bosnya agak-agak berubah semenjak tour.
"Iiiiigh... Kesel." Sesal Jasmine di pantry sedang menyeduh kopi untuk sedikit menenangkan otaknya atas permintaan Adrian.
"Kenapa...?" Tiba-tiba telinga Jasmine mendengar dan melihat sosok Adrian yang berdiri dihadapannya."
"Bapak... Sejaaaaaak..." Jasmine sedikit berfikir.
"Buat kan saya kopi kayak biasa. Antar keruangan saya." Adrian berlalu meninggalkan Jasmine tanpak kebingungan.
Tak lama Adrian meeting secara virtual bersama Fene membahas pekerjaan dan perubahan di perusahaannya, Adrian sedikit bernafas lega. Setidaknya Fene tidak mencampakkan Adrian begitu saja. Adrian masih diberi kepercayaan untuk terus bersamanya dalam mengelola bisnis garmen mereka.
"Pak... Ada tamu." Jasmine menghubungi Adrian melalui telfon kantor.
"Siapa.?" Tanya Adrian.
"Mister Mark dan ibu Adriana sudah beberapa kali menyambangi kantor tapi mereka tidak bisa menemui bapak ataupun ibu Fene." Bisik Jasmine.
"Aaaaagh bilang saya sedang tidak ditempat. Lebih baik tunggu Fene pulang dari bulan madu saja. Saya tidak mau menemui mereka." Jelas Adrian tampak kesal.
"Baik pak."
"Setelah menolak mereka, kamu masuk keruangan saya." Pinta Adrian.
"Baik pak."
Tok tok tok....
Jasmine membuka pintu setelah Adrian mempersilahkan masuk.
"Ya pak." Jasmine terlihat gugup saat berdiri di hadapan Adrian.
"Hmmmmm..." Mata Adrian sangat liar hari ini, semenjak kegalauan hatinya melihat Jasmine yang cantik, lugu, indo banget, tubuh sintal berisi, sopan, pintar lagi... Membuat Adrian berpikir sedikit nakal untuk mengerjai gadis lugu ini.
"Pak Adrian." Tanya Jasmine masih bingung melihat bosnya agak-agak aneh.
"Ooooh ya, ya ya... Sory... Hmmmm... Tadi saya udah bicara dengan bu Fene dan Hrd, mereka setuju." Jelas Adrian sambil berdiri menghampiri Jasmine.
"Santai saja, gaji kamu tidak dikurangi, ataupun sama. Gaji kamu saya naikkan." Adrian memegang bahu Jasmine, menatap mata indah Jasmine, tampak sedikit bahagia di raut wajahnya mendengar kenaikkan gajinya.
"Serius pak.?" Tanya Jasmine, tanpa sengaja memeluk tubuh Adrian erat.
"Hmmmm.... Mmmm... Maaf pak, saya senang, jadi nggak sengaja udah berani meluk bapak."
"Oooogh... Ya, ya... Nggak apa-apa, saya senang kalau kamu senang." Jawab Adrian menarik nafasnya sambil mengurut dadanya.
"Sini duduk disofa, ada yang mau saya tanyakan." Ajak Adrian.
"Ya pak." Jasmine duduk disebelah Adrian sambil menunduk.
"Maaf jika saya bertanya agak pribadi." Adrian menghembuskan nafasnya.
"Ya pak. Nggak apa-apa." Jawab Jasmine.
"Kamu kan wanita indo, apakah kalian menyukai pria bule seperti saya.?" Tanya Adrian sambil menelan slavianya.
"Hmmmm... Maksud bapak.?" Jasmine tambah bingung dengan Adrian. Tiba-tiba berubah menjadi lebih akrab dengan semua karyawan indo, dari pada bule.
"Hmmm... Yaaaah, apakah ada peluang saya untuk memiliki kekasih, gadis indo. Saya tanya kamu, kamu pernah berfikir nggak menyukai pria bule seperti saya.?" Jelasnya.
"Hmmm, saya nggak tau pak, karena saya nggak pernah pacaran dan bule juga nggak ada yang suka sama saya." Jelasnya.
"Oooogh..." Bibir Adrian sedikit maju melihat Jasmine dari rambut hingga betisnya. 'not bad' senyum Adrian.
"Gini yah... Saya nggak biasa basa basi. Kira-kira kalau saya jadi pacar kamu gimana.?" Adrian mengangkat satu alisnya sambil tersenyum menatap Jasmine.
Wajah Jasmine seketika tersentak kaget, gimana nggak kaget. Secara Adrian selama ini normal, baik, tiba-tiba hari ini datang meminta dia untuk menjadi pacar. "Pacaran yah pak." Jasmine menggaruk kepala yang tidak terasa gatal.
"Bapak baik-baik ajakan.?" Tanya Jasmine jujur bingung atas permintaan Adrian.
"Of course... Saya sehat." Adrian membuka tangannya sambil menepuk dadanya.
"Tapi kenapa hari ini permintaan bapak aneh.?" Tanya Jasmine yang masih bingung melihat Adrian.
"Jujur saya kecewa ama wanita bule. Nggak ada salahnya saya berteman dekat, memulai pertemanan dengan wanita indo. Seperti sama kamu. Saya lelah mau mengenal lagi dari awal." Adrian tertunduk.
"Ooogh... Bapak putus dari bu Veni.?" Penasaran Jasmine terjawab sudah.
"Ya, dia selingkuh dari saya." Sedihnya.
"Hihihi... Bapak ganteng aja masih diselingkuhin, kaya." Kekeh Jasmine.
"Kamu ngetawain saya.?" Mata Adrian membesar seketika.
"Ng... Nggak pak, saya turut prihatin sama bapak. Cuma saya nggak tau mesti gimana. Buat menghibur bapak." Jelas Jasmine.
"Yaaaah... Kamu mau menemani saya, yaaah jadi asisten pribadi saya. Tenang, saya nggak akan jahat sama kamu." Adrian menunjukkan keseriusannya dengan mengacungkan dua jarinya.
"Saya nggak kaya pak, nggak kayak bu Fene atau bu Veni. Saya justru orang biasa, orang tua saya sudah nggak ada. Saya disini sendiri. Tinggal diapartmen deket kantor. Masih banyak wanita indo yang mau sama bapak." Jasmine sedikit menolak dan menundukkan kepalanya.
"Hmmm... Saya kan nggak bertanya kamu kaya atau tidak, saya hanya bertanya kamu mau nggak jadi pacar saya.?" Adrian menatap mata Jasmine.
"Hmmm... Saya nggak mau pacaran pak, saya mau menikah dan seiman dengan saya." Tunduknya.
"Oooogh... Maaf... Berarti kamu menolak saya.?" Adrian menatap mata Jasmine mencari jawaban pasti.
"Hmmmm... Nggak pak. Saya hanya bingung." Senyumnya sambil menatap mata Adrian.
"Ya sudah, kita jalani dulu. Nanti kamu pulang bareng saya. Kita dinner dulu."
"Baik pak."
Jasmine meninggalkan ruangan Adrian. Menaruh geram dalam hati, sangat kesal kepada bosnya.
'Putus, kok malah aku jadi tumbal. Dasar bule gendeng." Geramnya.
"Uuuuuuugh..."
Tobe continue....