Perjalanan kali ini sangat berbeda, karena membawa seorang gadis indo. Adrian sangat menjaga Jasmine selama penerbangan. Jasmine sangat gugup saat pertama kali menginjakkan kaki kedalam pesawat eksekutif. Sangat dingin dan nyaman. Berkali-kali bersin, membuat Adrian menjadi super protektif.
"Sayang, kamu flu.?" Adrian menggenggam jemari Jasmine agar tetap hangat.
"Nggak beib... Cuma deg degan aja. Baru pertama naik pesawat bagus." Kekehnya polos.
"Udah istirahat dulu, nanti kalau udah bangun kita sampai." Adrian menyelimutkan tubuh Jasmine menggunakan selimut.
Jasmine mengikuti arahan Adrian.
Fene hanya mendengar sembari menyaksikan kebersamaan Adrian yang menurutnya sangat lucu.
Tiiiing... Pesan masuk.
'saya sudah menemukan data mengenai bu Jasmine bu. Orang tuanya di tabrak oleh warga negara Swiss, tapi semua data tidak dapat dibuka. Saya akan segera mencari tau dan memberi informasi pada ibu.'
'hmmmm...' Fene menarik nafas dalam, dan mengirim ulang ke hp Bram dan Adrian.
Fene dan Adrian saling tatap. Semua akan menjadi cerita baru bagi mereka.
"Dri, Bram dan Kevin akan menjemput kita.?" Tanya Fene sembari merebahkan kepalanya.
"Sepertinya iya, karena Bram berapa kali nyinyirin gue tentang keselamatan bininya." Kekehnya.
"Iya donk... Namanya juga bini. Weeeek...." Fene menarik selimut mulai memejamkan mata.
Adrian hanya tersenyum melihat sahabat dan calon istrinya.
"Fen, gue kebelakang yah. Smooking room."
Fene hanya mengacungkan jempolnya.
Adrian mencari data tentang perjalanan Mark dan Adriana selama di Jakarta. Ingin membuka tabir siapa Mark dan Adriana sebenarnya.
Menatap indahnya langit eropa....
"Wooooow... Ya Allah... Indahnya ciptaanMu, terimakasih ya Allah, terimakasih bebeb Adrian, terimakasih mba Fene... Ternyata bener, indahnya langit eropa itu memang nyata." Racauan Jasmine membuat Adrian menggendong lagi tubuh sintal Jasmine. Karena memperlambat perjalanan mereka untuk segera keluar dari bandara.
"Kamu senang sayang." Adrian memeluk Jasmine didalam mobil sangat erat.
"Sangat senang bebeb." Senyumnya sumringah seperti mendapatkan lotre.
Fene hanya fokus pada perjalanan dan terus menghubungi Bram atau Kevin.
"Mister... Apakah sudah dapat kabar dari Bram.?" Tanya Fene agak sedikit cemas.
"Tuan Bram sudah ada di Mandsion nyonya." Jawab Alberth.
"Ooooh... Terimakasih."
Alberth melajukan mobil menuju kediaman Edward.
Jasmine menggenggam erat tangan Adrian. Melihat sebuah rumah clasik sangat mewah seperti di telenovela, 'apakah aku rosalinda.?' batinnya.
"You ready honey.?" Adrian memeluk tubuh Jasmine.
"Ya... Tangan Jasmine bergetar. Ada rasa takut menyeruak didalam hatinya.
"Tenang, keluargamu sudah menanti didalam. Ayooo." Fene mengulurkan tangan pada Jasmine, menuju rumah.
"Welcome home darling."
Sambutan hangat Edward, Bram, Kevin dan Nichole.
Fene berlari memeluk Edward mencium berkali-kali. Mengusap kepala Kevin karena menikah tidak memberitahu.
Adrian melakukan hal yang sama pada Edward, Bram, Kevin dan Nichole.
Jasmine tertunduk, jantungnya berdegub sangat kencang, hadir di tengah hangatnya keluarga yang sangat bahagia.
"Jasmine." Edward membuka tangannya, untuk segera memeluk calon papa mertuanya.
Jasmine menyalami punggung tangan Edward, dan menerima pelukannya.
"Hmmmm... Sangat mempesona." Bisik Kevin pada Nichole.
"Iya dong, jangan mesum lo." Sambil merangkul bahu Kevin.
"Kaget gue, lo naksir ama secretaris sendiri." Kekeh Kevin.
Bram dan Fene malah sibuk sama dunianya sendiri. Berpelukan ngobrol berdua berciuman seakan-akan sahabat dan daddynya hanya numpang pada dunia mereka.
"Hmmmm... Kamar kamu disana sama Adrian yah Jasmine." Edward menunjukkan satu kamar pada Jasmine.
"Hmmm... Saya sendiri aja mister, saya belum menikah sama bebeb Adrian." Tunduk Jasmine.
"Hmmmm... Besok, pernikahan kamu. Untuk kiblatmu, tanya sama asisten saya, karena hanya dia yang muslim." Peluk Edward sembari menjelaskan semua sisi ruangan. "Satu lagi, panggil saya Daddy. Karena saya adalah ayah sambung Adrian." Senyum Edward sangat ramah.
"Baik daddy. Terimakasih. Tapi apakah pernikahan saya.....hmmmm..." Jasmine terlihat bingung.
"Kamu bersih-bersih dulu, nanti susul kami di ruangan keluarga. Asisten saya akan membantu kamu. Jelas Edward.
"Baik daddy." Jasmine berlalu meninggalkan Adrian dan Edward.
Karena Kevin, Nichole, Fene dan Bram lebih dulu meninggalkan mereka.
"Kamu istirahat sama daddy saja, aunty Katty lagi mengurus berkas pernikahanmu hingga besok." Edward merangkul bahu Adrian.
"Apakah kamu mencintainya.?" Tanya Edward penasaran.
"Aku nyaman dad, dia baik, pejuang, dan nggak cengeng." Jelas Adrian penuh semangat.
"Saya sudah menduga, seleramu memang berbeda. Oya, Veni kenapa tidak ikut.? Apakah kalian masih belum baikkan.?" Edward hanya pura-pura bertanya. Bukan Edward namanya jika tidak tau semua tentang anak asuhnya.
"Hmmmm... Saya dikhianati dad, dan saya sudah malas berbasa basi. Saya melihat Jasmine lebih simple, dia wanita mandiri, saya suka cara kerjanya, dan masakan khas nusantaranya. Mamamia lezatoz dad..." Kekehnya, ditemani segelas coctile khas jerman.
"Apa daddy akan menikah dengan aunty Katty.?" Adrian coba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sepertinya. Sama sepertimu, saya sangat nyaman bersamanya." Edward bersandar disofa menonton tv yang memberitakan tentang bisnis keluarga dan rifalnya.
Tok tok tok...
"Bisa saya masuk dad.?" Suara Bram terdengar dari balik pintu kamar Edward.
"Ya."
Bram membuka pintu, dan masuk bersantai bersama.
"Fene kemana Bram." Suara barito Edward mengagetkan Bram yang sedang melamun.
"Oooh... Fene membawa Jasmine, Nichole dan Kevin untuk berbelanja ke Asia market. Jasmine akan mengajarkan asisten daddy untuk memasak menu indo."
"Kenapa Jasmine tidak mengabari gue Bram.?" Adrian mengambil hpnya, menelfon Jasmine, tapi tidak aktif. "Shiiiit, gue lupa kasih nomor." Tawanya.
"Lo telvon Kevin aja." Senyum Bram.
"Sudahlah, Jasmine aman. Dia pergi sama sahabatmu. Cukup buat dia aman." Edward mengalihkan pikiran Adrian.
"Bucin lo..." Kekeh Bram.
"Ya, dia kan wanita polos. Nanti tertangkap media, bisa jadi bulan-bulanan dia. Shook pula minta balik ke Jakarta." Membuat mereka terkekeh.
"Saya sudah menyiapkan mahar kamu untuk menikah besok. Tuuu..." Edward menunjuk satu paket mahar lengkap dengan perhiasan.
"Seperangkat alat sholat dad.?" Tanya Adrian.
"Ya, Jasmine muslim kan.? Kamu harus mengganti duit daddy, karena ini kewajiban kamu." Jelas Edward.
"Daddy yang beli.?" Kejut Adrian.
"Bukan, asisten saya Maya. Dia yang mengerti. Saya hanya menyampaikan." Jelas Edward lagi.
"Terimakasih dad. Semoga Jasmine kuat menjadi istri saya." Tunduk Adrian.
"Apa dia sudah tau kamu.?" Tanya Edward.
"Hmmmm... Aku belum pernah bercerita. Aku hanya mendengar Jasmine dulu dad, dan aku merasa dia memang jodohku. Karena kebetulan kami sedang mencari berita beberapa tahun lalu, tentang kecelakaan orang tua Jasmine." Jelas Adrian.
"Ya... Akan kita usut tuntas semua ini. Saya pernah mendengar Mark dan Chiang Lim berlibur bersama kesana. Tapi masih belum pasti beritanya. Semua informasi akan saya dapatkan segera." Edward menepuk lembut bahu putra keduanya Adrian.
Jasmine di Assia market...
"Mba... Makasih yah." Mata Jasmine berembun saat menggandeng lembut tangan Fene.
"Iya saya juga senang, kamu bisa memahami sahabat saya Adrian." Fene menggenggam jari Jasmine yang menggantung di lengannya.
"Heeeeiii... Secretaris bebeb... Pilih tu apa yang mau lo beli." Tawa Kevin.
"Iya pak Kevin, saya udah membuat list apa saja bahan-bahannya." Jasmine mengeluarkan list yang sangat panjang.
Membuat Kevin, Nichole dan Fene tertawa.
"Hmmmm... Emang dihp kamu nggak ada.?" Tanya Kevin lagi.
"Hp saya tinggal pak. Tadi lowbed... Trus saya lupa mengaktifkan kartu saya." Jelasnya polos.
"Apa Adrian tidak memberi kamu nomor.?" Fene meyakinkan.
"Nggak ada mba." Kekehnya, sambil mengisi penuh trolinya.
Drrrrrt..drrrrrt...
'Holi'
"Ya... Lo di Berlin.?"
"Iya."
"Gue akan ke Berlin karena dapat undangan dari Petter, mengabarkan Adrian akan menikah besok. Bener.?"
"Ya..."
"Aaaaaaa.... Gue seneng denger kabar ini. Kita akan bertemu besok. Bye..."
"Eeeeh tunggu, lo dimana.?"
"Gue besok pagi berangkat. Masih dikantor sister...mmmmuuuuaaach. Gue kangen ama lo. Lo udah hamil.?"
"Sama gue juga kangen. Belum."
"Oke... See you darling."
Holi menutup telfon, dan Fene hanya tersenyum sambil menuju kasir.
"Mba, keluarga mba hangat banget yah. Sangaaaaat humble." Bisik Jasmine.
"Hmmmm.... Yaaah... Semua yang terlihat tidak seperti yang dijalani Jasmine." Senyum Fene.
"Ya... Maaf yah mba. Apapun itu, saya sangat bersyukur bisa deket dengan mba. Bisa mengangkat derajat saya. Semoga kedua orang tua saya senang dengan keputusan saya mba." Jasmine mengusap sudut matanya.
"Hmmmm... Kamu wanita yang hebat. Saya bangga sama kamu." Fene merangkul Jasmine menuju mobil.
"Kevin dan Nichole mana Jasmine.?"
Celingak celinguk mencari Kevin ternyata Kevin asyik makan ice cream sambil bersenda gurau.
"Cepetan... Ntar Adrian nyariin kita."
"Iya..." Kekeh pasangan baru ini, sambil berlari kecil.
Time dinner...
Jasmine membantu Maya menyiapkan dinner mereka. Menunya macam-macam. Udang saos tiram, sapi lada hitam, ayam bakar, sambal kecap, dan salad.
"Hmmmm.... Good." Senyum Adrian sambil memeluk Jasmine.
"Aaaagh... Bebeb, daddy mana beib.?" Tanya Jasmine.
"Lagi siap-siap."
Saat semua berkumpul, Jasmine malah gelisah, takut masakannya nggak sesuai lidah para bule yang ada di hadapannya.
"Hmmm... Kalau nggak enak, mba Maya sudah menyiapkan makanan khusus kalian." Jasmine tertunduk.
Semua tertawa, Adrian menenangkan Jasmine, "ini hidangan pertama kami sangat special dari tangan kamu sayang."
"Hmmmm... Makannya dimulai dari mana.?" Tanya Edward menguji.
Jasmine membuka piring mengambilkan nasi sedikit dan beberapa lauknya.
Fene, Nichole melakukan hal yang sama kepada pasangan mereka.
"Hmmmmm.... Good, is very good." Puji Edward.
Disusul Bram, Kevin dan Adrian. "Hmmmm... Good. I like it." Puji Kevin.
Mereka menikmati hidangan malam ini sangat bahagia. Berbeda, tapi tidak merasakan perbedaan itu. Jasmine disambut hangat oleh Edward dan anak-anaknya.
Pernikahan Adrian....
Jasmine menangis haru setelah ijab kabul. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan menjadi istri Pak Adrian Moreno Lim.
Adrian menghampiri Jasmine, mencium kening istrinya, sembari memeluk tubuh sintal Jasmine.
"Makasih, akhirnya kamu bersedia menjadi istri saya." Senyum Adrian.
Wajah Jasmine memerah, saat Adrian selalu membisikkan kata-kata mesranya.
"Iya beib, saya akan menjadi istri yang baik buat kamu." Jasmine memberanikan diri menangkup wajah Adrian yang sudah resmi menjadi suaminya.
Adrian mencium bibir Jasmine dihadapan para tamu, membuat Jasmine merasakan sesak, karena Adrian sangat tidak tau malu. Menurutnya. Berkali-kali memukul lembut bahu Adrian.
"Bebeb... Ini masih ramai tamu, nanti aja didalam kamar." Racaunya sembari berbisik.
Adrian memeluk tubuh Jasmine, yang menahan malu.
"Selamat yah laki-laki bucin." Holi muncul tiba-tiba dihadapan Adrian.
"Ooooh... Ya, makasih." Adrian memeluk Holi dan Petter yang berada disampingnya. "Lo dan Holi...?" Sambung Adrian.
"Nggak dapat kakaknya, adeknya boleh dong dri." Kekeh Petter.
"Ya... Boleh, lebih bagus justru." Senyum Adrian.
"Selamat yah dri..." Fene menghampiri Adrian dan Jasmine.
"Ya... Makasih. I love you nyonya Bram." Bisik Adrian nakal.
"Udah deh, jangan cinta-cinta lagi ama bini gue." Bram mendorong dada Adrian. Sambil tertawa.
"Siapa yang bucin sekarang." Holi nyeletuk.
"Kita semua jadi bucin semenjak menikah." Kekeh Kevin.
Jasmine hanya mendengar para keluarga barunya bercengkrama hangat, mencoba menghampiri Edward.
"Dad... Makasih yah, sudah mempercayakan saya untuk menjaga Adrian." Ucapnya, menyalami tangan Edward.
"Ya... Jaga Adrian dengan baik. Dan cepat kasih saya cucu." Bisik Edward.
Jasmine hanya tersipu malu mendengar permintaan mertuanya.
'Ternyata keluarga bule ini sangat baik dan ramah.' bisiknya.
Acara pernikahan Adrian tidak luput dari pemberitaan, Kevin telah membuat siaran langsung dan menyebarkannya di media sosial.
Kembali media mencari keberadaan mereka, tapi Edward masih membungkam semua hingga kepergian mereka dari Berlin.
"Bram, jaga semuanya. Amankan sahabatmu. Karena media sedang mencari tau keberadaan kita semua." Pinta Edward lembut.
"Ya dad... Saya, Fene, Adrian, Jasmine, Kevin dan Nichole akan ke Swedia, mungkin lanjut ke Amerika dad. Mengunjungi oma." Jeras Bram.
"Ya... Kamu hati-hati. Daddy akan mengirim pengawal." Tegas Edward.
"Terimakasih dad. Atau kita berjumpa ditempat oma dad.?" Pinta Bram.
"Baik. Daddy akan segera menyusul kalian."
Disela-sela tawa canda anak-anak Edward, menikmati pesta pernikahan Adrian dan Jasmine, pengawal Edward membisikkan bahwa Adriana berada di ruang kerja Edward untuk menemui Adrian.
Edward menghampiri Adriana ke ruangan kerjanya.
"Ada apa kau datang.?" Tatapan Edward membuat Adriana sedikit takut.
"Aku ingin bertemu Adrian, mengucapkan selamat padanya." Mohon Adriana.
"Simpan saja hayalanmu. Biarkan anak-anak bahagia Adriana. Jangan ganggu mereka karena kehadiranmu." Tegas Edward.
"Apa yang kau katakan padanya Edward, hingga dia membenciku seperti ini." Tatap Adriana tajam.
"Aku membicarakan sesuai kenyataan Adriana. Apa ada yang salah.? Buktiku lengkap." Tegas Edward.
"Marisa yang telah menghancurkan semua." Tuduhnya.
"Walau Marisa atau siapapun, kau tidak pantas untuk dihormati Adriana. Karena kelakuanmu seperti wanita murahan, merusak rumah tangga sahabatmu sendiri. Egois kamu Adriana." Bentak Edward.
Adriana hanya menangis. Memohon, agar bertemu Adrian.
"Silahkan pergi Adriana. Aku tidak ada waktu untuk melayanimu." Edward meninggalkan Adriana, meminta pengawal untuk mengeluarkan Adriana dari kediamannya.
"Mari nyonya, kita keluar." Pengawal membawa Adriana keluar dari kediaman Edward.
Jasmine melihat Adriana, dari kejauhan. 'apakah mereka akan membunuh wanita itu.?' bisiknya.
"Heeeeeeiiii... Sayang. Apa yang kamu lihat." Adrian mengejutkan Jasmine.
"Hmmmm... Beib, itu, ehmmm... Aku..." Bibir mungil itu dilumat oleh Adrian tanpa melihat para tamu. Membuat nafas Jasmine terasa sesak. "Beib... Beib." Tolak Jasmine, yang merasa masih jadi pusat perhatian para tamu. "Ini masih rame tamu. Jangan disini." Teriak Jasmine, membuat Adrian gemes membawa Jasmine kekamar mereka.
Bram, Fene, Kevin dan Nichole yang melihat kejadian sahabatnya barusan hanya tersenyum sambil merangkul mesra pasangan masing-masing.
tobe continue